NovelToon NovelToon
Mr. Profesor

Mr. Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Cintapertama
Popularitas:236
Nilai: 5
Nama Author: Amabillis.13

Zoya telah jatuh cinta kepada dosennya bernama Arlo. Arlo adalah sosok dosen yang dingin dan tidak ramah... dia kikuk dengan hal asmara.
lalu bagaimana zoya akan meluluhkan hati Mr. profesor?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amabillis.13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 18

Melihat akting Meilan yang seperti ini, jika dia sampai bisa memenuhi standarnya, sepertinya matahari harus terbit dari barat terlebih dahulu.

Rahengga memijat keningnya yang sakit, lalu menghela napas panjang dan bergumam: "Kenapa sesama wanita bisa memiliki perbedaan yang sangat besar ya?"

Zoya dulunya hanyalah seorang food Blogger biasa, yang bahkan tidak pernah syuting sekalipun. tapi begitu bakatnya digali, dia langsung bersinar terang. Sebaliknya, Meilan, yang jelas-jelas sudah pernah membintangi beberapa drama televisi sebelumnya… meskipun drama-drama itu tidak berbobot… setidaknya seharusnya punya sedikit kemampuan akting. Tapi kenapa begitu sampai di tangannya, akting Meilan bahkan lebih buruk dari seorang amatir?

Sekretaris sutradara yang mendengar nada tak berdaya Rahengga tertawa geli: "Sutradara Engga, yang satu itu jenius, yang satunya lagi lewat jalur belakang. Mana bisa dibandingkan?"

"Benar juga," Rahengga mengangguk setuju. "Kasihan Zoya, dia benar-benar dirugikan."

Seharusnya peran Adea adalah milik Zoya sepenuhnya, tapi karena Meilan masuk lewat jalur belakang, peran itu terpaksa dipecah menjadi dua identitas nya menjadi tidak utuh. Mengingat sebagian besar adegan penting dengan Claeton telah direbut oleh Meilan, hati Rahengga merasa sangat tidak senang.

Bagi Rahengga, dia tidak terlalu mendiskriminasi orang yang masuk lewat jalur belakang, asalkan punya akting yang mumpuni. Namun masalahnya, Meilan bukan hanya lewat jalur belakang, tapi juga tidak punya bakat sedikit pun. Adegan yang seharusnya menunjukkan interaksi manis pasangan kekasih, malah ia perankan seperti interaksi dua musuh bebuyutan.

Benar-benar menjengkelkan!

Rahengga sangat menyukai naskah ini. Memikirkan filmnya yang akan cacat karena Meilan, ia rasanya ingin menyeret Meilan dan memukulinya.

Sialan, benar-benar pembawa masalah!

Setelah kembali ke hotel, Meilan semakin merasa cemas. Awalnya ia mengira sikap Tuan Muda Saksomo terhadap semua wanitanya adalah sama. Namun pada akhirnya, ia mulai menyadari sesuatu.

Sikap Tuan Muda Saksomo terhadap Zoya jauh lebih baik daripada sikapnya terhadap wanita-wanita yang telah bersama nya dan juga terhadap dirinya. Ia berfikir dirinya sedikit diperlakukan berbeda daripada wanita-wanita itu.

Meskipun Meilan kadang-kadang berani sedikit meluapkan emosi di depan Tuan Muda Saksomo, tapi ia adalah tipe yang pintar membaca situasi. Saat Tuan Muda Saksomo sedang marah besar, ia sama sekali tidak punya kemampuan untuk menenangkannya. Namun, Zoya bisa.

Zoya bukan hanya berani bicara saat Tuan Muda Saksomo sedang emosi, tapi dia bahkan bisa membuat sikap pria itu melembut. Hal yang paling fatal adalah Tuan Muda Saksomo ternyata bisa menoleransi seorang wanita berjalan di depannya tanpa merasa marah sedikit pun... hal seperti itu seharusnya mustahil terjadi.

Setiap kejadian itu membuat Meilan merasa sangat terkejut dan ketakutan. Jika ini terus berlanjut, mimpinya untuk posisi sebagai istri Tuan Muda Saksomo mungkin tidak akan jatuh ke tangannya.

Memikirkan dirinya tidak akan menjadi istri Tuan Muda Saksomo, ekspresi Meilan berubah menjadi mengerikan. Aku harus menjadi istrinya, harus! Istri Tuan Muda Saksomo hanya boleh aku, hanya boleh aku. Zoya ini harus disingkirkan, harus disingkirkan.

Meilan mengambil ponselnya dan menelepon seorang "kenalan" yang dikenalnya di dunia hitam. Selama Zoya menghilang, sebesar apa pun ketertarikan Tuan Muda Saksomo padanya, ketertarikan itu perlahan-lahan akan memudar.

Keesokan harinya, Meilan berinisiatif mengajukan permintaan untuk mengulang adegan kemarin yang ia rasa kurang bagus.

Meskipun Rahengga sangat tidak puas dengan Meilan, dia juga merasa adegan kemarin memang kurang memuaskan, jadi dia setuju untuk mengulangnya.

Benar saja, kali ini akting Meilan sedikit lebih baik dari kemarin. Melihat perkembangan ini, wajah Rahengga yang masam mulai sedikit melunak.

Adegan berikutnya yang harus diambil adalah duel antara Zoya dan Claeton.

Ini adalah adegan di mana Zoya dikirim sebagai umpan, lalu terjadilah ketegangan saat bertemu dengan psikopat itu. Setelah pertarungan yang sengit, adegan berakhir dengan adegan jatuh dari ketinggian lantai delapan bangunan kosong saat pengintaian.

Saat syuting dimulai, semuanya berjalan sangat lancar. Akting keduanya mengalir alami tanpa hambatan. Karena sudah berlatih sebelumnya, adegan itu hampir selesai hanya dalam satu kali pengambilan.

Sesuai alur naskah, saat tali pengaman perlahan turun, mereka seharusnya mendarat di tanah dan membawa pertarungan menuju klimaks. Namun pada gerakan terakhir, Zoya tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang tidak beres pada tali penyangganya.

Tanpa sempat berpikir panjang, ia langsung mengikuti instingnya. Dengan gerakan gesit, tangannya menghantam bingkai jendela lantai enam dan tubuhnya berayun masuk ke sana.

Hampir di saat yang bersamaan…

Brak!

Tali penyangga yang menopangnya putus seketika.

Jika tadi Zoya tetap mengikuti jalur sesuai naskah dan terus bergelantungan dari lantai delapan, tubuhnya kemungkinan besar sudah jatuh menghantam bawah.

“Talinya putus!” teriak Zoya dari lantai enam.

Perubahan mendadak itu membuat Rahengga terpaku sesaat. Namun begitu sadar dan melihat potongan tali yang melayang di udara, punggungnya langsung dibanjiri keringat dingin.

Kenapa talinya bisa putus?!

Jika Zoya tadi tidak bereaksi cepat, ia mungkin sudah jatuh dari lantai delapan.

Memikirkan kemungkinan itu saja sudah cukup membuat wajah Rahengga pucat pasi.

“Penata properti! PENATA PROPERTI!” teriaknya dengan suara parau.

Seorang penata properti terlihat masih muda segera berlari keluar dengan wajah bingung.

“Ada apa, Sutradara?”

“Apa-apaan ini?!” Rahengga merebut tali putus dari tangan kru, lalu menunjukkannya dengan marah. Bekas serabut yang rusak terlihat jelas… tali itu bukan putus alami, melainkan sengaja dipotong paksa.

Wajah penata properti itu langsung memutih.

Begitu melihat bekas potongan tersebut, tubuhnya mulai gemetar hebat. Bibirnya bergetar saat berkata terbata-bata,

“Ta-tadi saat saya melakukan pengecekan terakhir… talinya masih utuh. Saya tidak tahu…”

“Tidak tahu apa?!” bentak Rahengga dengan wajah gelap. “Kalau Zoya tadi terlambat sedikit saja bereaksi, nyawanya sudah melayang di sini! Pikirkan baik-baik siapa saja yang datang ke area properti hari ini. Kalau kau tidak bisa mengingatnya, bersiaplah menghadapi tuntutan hukum!”

Penata properti itu masih baru di industri hiburan. Mendengar ancaman tuntutan hukum, ia hampir menangis ketakutan.

“Sutradara, saya benar-benar tidak tahu…” katanya dengan suara bergetar. “Kemarin perut saya sakit, hari ini saya bolak-balik ke toilet beberapa kali. Saya benar-benar tidak tahu siapa yang menukar talinya…”

Matanya memerah karena panik, dan tubuhnya terus gemetar. Jelas sekali ia tidak sedang berbohong.

Rahengga akhirnya menyadari bahwa terus menanyainya tidak akan menghasilkan apa-apa. Ia segera memerintahkan orang untuk menyelidiki kejadian itu, lalu menyuruh kru memasang ulang tali pengaman sambil mengawasinya dengan ketat.

Barulah setelah semuanya dipastikan aman, Zoya dan Claeton diizinkan melanjutkan pengambilan adegan berikutnya.

Kali ini, syuting selesai dengan sangat cepat.

Belum sempat Zoya meletakkan pistolnya, Tuan Muda Saksomo tiba-tiba datang berlari dengan wajah penuh kecemasan.

Begitu melihat Zoya baik-baik saja, pria itu akhirnya bisa mengembuskan napas lega.

Ia langsung menghampiri Zoya, memegang bahunya, lalu memeriksanya dari atas sampai bawah dengan cermat. Setelah memastikan adiknya itu tidak terluka sedikit pun, barulah ia menoleh kepada orang-orang di sekitar.

Namun tatapan Tuan Muda Saksomo kepada mereka sama sekali tidak selembut saat menatap Zoya.

Sorot matanya dipenuhi hawa dingin yang menekan.

Dengan wajah gelap, ia menatap Rahengga tajam dan bertanya dengan suara rendah penuh amarah,

“Apa sebenarnya yang terjadi di sini?!”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!