NovelToon NovelToon
Three Princes And The Cat Who Knows Too Much

Three Princes And The Cat Who Knows Too Much

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Epik Petualangan / Keluarga & Kasih Sayang / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:242
Nilai: 5
Nama Author: Rootea

Rumi terlempar ke dunia otome game yang sedang digandrungi. Tapi, dia bukan tokoh utama wanitanya.... Dia cuma seekor kucing!

Berbekal pengetahuan akan seluruh akhir cerita bersama tiga pangeran, Rumi bertekad mengatur jalur romansa agar semuanya berakhir bahagia.

Namun, kehidupan tidak pernah sesederhana permainan game....

Tiga pangeran berarti tiga jalan hidup. Tiga pilihan. Dan hubungan yang perlahan menghancurkan dari dalam.

Apakah yang dia ketahui masih cukup? Ataukah, pada akhirnya Rumi tidak bisa melakukan apa-apa....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rootea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8 - Pangeran Yang Lemah

Seperti yang sering aku lihat di drama televisi, Kaelros rupanya senang mengadakan perburuan di hutan. Semacam jenis olahraga kesukaan para pejabat. Dan Kaisar Kaelros, Lucerian, begitu bersemangat mengundang Jovienne dalam kegiatan berburu kali ini. Bukan hanya keluarga kerajaan, sejumlah bangsawan juga akan turut serta.

Berburu adalah satu-satunya masa di mana mahkota ditanggalkan. Simbolisasi bahwa semua partisipan setara sehingga permainan menjadi adil dan tidak ada yang akan dengan sengaja kalah, katanya sih begitu.

Bagaimanapun, kegiatan berburu ini membuatku teringat permainan golf yang digemari orang-orang kaya itu. Tempat elite sosial untuk ‘mengakrabkan diri’.

Pagi hari selepas sarapan, iring-iringin besar berangkat dari Istana Astryion menuju Hutan Eryndale. Hutan itu terletak sedikit jauh ke arah barat. Begitu memasuki area hutan, pohon-pohon ek besar memayungi jalur berkuda. Dan di antara kanopi pepohonan, terlihat sejumlah menara pengawas.

Buruan utama ialah rusa, babi hutan, dan kelinci. Hewan yang berbeda memberi poin yang berbeda pula. Selain itu ada buruan spesial yang akan menjadi bonus bagi siapa saja yang mendapatkannya. Yaitu kambing tanduk emas. Mereka bilang itu adalah hewan magis langka dan tanduknya adalah emas sungguhan! Menemukannya dianggap membawa keberuntungan dan kesuksesan.

Aku dengar Raien pernah berhasil mendapatkan si kambing tanduk emas. Lalu di tahun itu pula dia mendapat anugrah Kaisar dan posisi Komandan Tinggi.

Terlihat sekali Jovienne semakin bersemangat setelah mendengarnya. Gadis ini memang menyenangi aktivitas fisik.

Sementara itu, mereka menyiapkan keranjang anyam dengan bantalan empuk untukku. Sejumlah pelayan dan beberapa pengawal mengiringi di belakang kuda Jovienne. Sepertinya, bagaimanapun juga, perburuan kerajaan tetaplah perburuan kerajaan; tidak akan sepenuhnya lepas dari kemewahan dan kenyamanan. Yang, jelas saja, aku dukung penuh.

Aku tidak berminat sedikitpun dengan hal merepotkan semacam berburu.

Setelah melewati deret pohon ek, rombongan berhenti di padang rumput luas yang diapit menara pengawas. Di satu sisi lapangan terdapat tenda besar untuk tempat beristirahat Kaisar dan posko keselamatan.

“Berhati-hatilah untuk tidak melewati batas tali merah, Putri Jovienne.” Suara tenang Caelian tiba-tiba terdengar. Ia duduk di atas kuda putih gagah yang melangkah elegan.

Putra Mahkota itu berpakaian lebih ringan dibanding kesehariannya di istana, meski jubah putih bermotif emas tetap terjatuh rapi di belakang punggungnya.

“Hutan Selubung Maut tidak senang melepas tamunya.” Pangeran itu berkata dengan seulas senyum tipis. Sulit menebak apakah ia sedang melempar lelucon atau tengah memberi peringatan.

Jovienne tertawa hambar. “Nama yang sedikit mengerikan untuk wilayah di dekat istana.” Gadis itu berkomentar, separuh bergumam pada diri sendiri.

"Percayalah, setiap nama memiliki maksud tersendiri." Caelian menyahut tanpa kehilangan senyum tipisnya.

“Terima kasih, Pangeran. Saya akan mengingatnya.” Jovienne pun mengangguk dan berkata kemudian.

Setelah itu, Caelian kembali membawa kudanya di samping Kaisar.

Jovienne lalu menoleh ke arah pelayan dan prajurit di dekatnya. “Benarkah tidak ada yang kembali dari hutan itu?” tanyanya. “Bukankah kuil naga pertama Kaelros ada di sekitar sana?”

“Kuil Suci masih berada di perbatasannya, Tuan Putri." Seorang pelayan menyahut.

"Gunung sunyi Vyrion memiliki pelindung kuno yang menjaga jalurnya aman dari gangguan.” Pelayan itu menelan ludah sebelum melanjutkan, “Di luar itu… tidak pernah ada laporan kepulangan…”

“Kabarnya banyak hewan sihir buas di sana. Harimau api hitam hanyalah salah satunya.”

Mereka serentak bergidik. Seakan mendengar nama hewan itu saja sudah membuat ngeri.

Harimau api hitam, seperti namanya, adalah hewan buas dengan cakar dan taring tajam yang mengeluarkan api hitam. Luka darinya menimbulkan derita panjang. Karena ia bukan hanya mengoyak fisik, tapi juga menyiksa mental korbannya. Sampai mati.

Penjelasan itu terdengar seperti dongeng, tapi tak ayal membuat bulu kuduk berdiri.

Mari berdoa kita tidak bertemu hewan mengerikan itu.

“Ada hal lain yang ingin kau katakan?”

Setelah jeda beberapa saat, Jovienne tiba-tiba bertanya. Mata sewarna amber itu terarah pada pelayan yang berdiri di samping Sharla. Perempuan dengan seragam celemek biru itu memang terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu.

“Maafkan kelancangan saya, Yang Mulia…. Saya hanya teringat perkataan Madam Ladriel.”

Mendengar nama yang tidak familiar, Jovienne melirik pelayannya sendiri.

“Ibu dari Pangeran Havren,” Sharla menjawab singkat.

Jovienne mengangguk kecil, memberi gestur pada pelayan Kaelros itu untuk melanjutkan.

“Madam pernah menyebut… ada tumbuhan sihir di hutan itu yang memiliki kekuatan penyembuh luar biasa”

“Informasi seperti itu,” seorang prajurit di samping Jovienne menyela tanpa menatap langsung, “yang seringkali membuat orang-orang melewati batas yang seharusnya tidak dilanggar.” Ekor mata prajurit itu tertuju pada si pelayan, seakan memberitahunya untuk tutup mulut.

Pelayan itu menunduk lebih dalam, tidak lagi berkata-kata.

Perhatian kami pun teralihkan karena di tengah lingkaran, seseorang mulai berbicara. Dunvarn, Master Perburuan Istana, kalau tidak salah namanya. Pria itu mengumumkan kembali aturan bermain seperti sistem poin, hadiah, dan semacamnya.

Lalu, terompet dibunyikan, dan permainan pun dimulai.

...*...

...*...

...*...

Sewaktu mereka bilang yang diburu adalah rusa, yang aku bayangkan jelas rusa seperti yang biasa aku lihat di kebun binatang atau tempat populer seperti Nara. Ternyata, rusa di sini lebih besar, bulunya bermotif bulat-bulat, dan memiliki tanduk berbentuk spiral.

Dan Jovienne dengan mudah melumpuhkan satu.

Patut kuakui, gadis itu terlihat keren.

Sebagai suporter pribadinya, jelas saja aku ikut bersorak. Tidak buruk untuk peserta baru.

Kami sedang mengejar rusa kedua, berlari di antara semak dan akar yang mencuat, ketika kami justru mendapati Havren sedang duduk di bawah pohon.

Dia tidak sendirian. Lebih tepatnya, dia duduk dengan kelinci berbulu putih emas yang bermain di pangkuannya. Sekelompok merpati dengan sayap bercahaya berkerumun, mematuki remah dan biji-bijian di sekitarnya. Di atas kepala berambut perak itu bahkan ada seekor burung kecil seputih salju yang bertengger nyaman seakan-akan sedang bersantai di sarangnya.

Rumput tinggi dan bunga daisy di dekat sana bergoyang-goyang seakan menari—padahal tidak ada angin.

Pemandangan itu seperti berasal dari dunia yang berbeda.

“Pangeran Havren?” Jovienne menurunkan anak panahnya. “Apa itu hasil buruanmu?”

Havren mendongak dan tersenyum cerah.

“Putri Jovienne.” Ia menyahut seraya mengusap bulu lembut si kelinci. “Kuharap anak panah itu bukan ditujukan untuk hewan-hewan lucu ini.”

Jovienne menatapnya dengan alis berkerut rendah. Aku bisa mendengar suara gadis itu mempertanyakan—

‘bukannya itu inti dari kegiatan berburu??’

“Mereka bukan peliharaan, Pangeran Havren.” Alih-alih Jovienne menyahut.

“Hmm, mungkin bukan.” Havren menunduk, membiarkan kelinci di pangkuan memakan apa yang ada di telapak tangannya. “Tapi… kasihan kalau mereka dibuat ketakutan dan dikejar-kejar."

Jovienne mendengus pelan. “Anda tidak menyetujui konsumsi daging hewan?” Nada tuduhan itu sama sekali tidak ditutup-tutupi.

“Saya tidak berkata begitu.” Havren tetap berbicara tenang. “Hanya, mereka tidak perlu mati hari ini, kan?”

Aku memperhatikan raut wajah Jovienne lamat-lamat. Menunggu tanggapan lain dari gadis itu.

Akan tetapi, putri Solmara itu hanya menarik tali kekang dan membawa kudanya berbalik pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi. Lalu berderap menjauhi tempat itu. Cukup jauh dan cukup cepat sampai beberapa pelayan terengah dan hampir tertinggal mengejarnya.

“Laki-laki macam apa malah bermalas-malasan di bawah pohon seperti itu??!"

Setelah yakin kami berada cukup jauh di luar batas pendengaran, gerutuan Jovienne pun terdengar.

“Peralatan berburu dan kudanya bahkan tidak terlihat di manapun. Sebenarnya untuk apa dia di sana? Dasar orang aneh.”

Gadis itu menggerutu dengan berapi-api. Tidak ada seorangpun di sana yang menentang, maupun menyetujui perkataannya. Para pelayan dan prajurit itu hanya berdiri di sana seperti pepohonan bisu—tidak mendengar, tidak melihat.

Aku menghela napas berat.

Jovienne dan Havren sepertinya memang… bertolak-belakang.

….apa mereka bisa bersama??

...*...

...*...

...*...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!