Dibuang dua puluh tahun ke London, Kalea dipaksa pulang hanya untuk menjadi tumbal wasiat kakaknya. Najwa, sang bidadari pesantren yang sedang menjemput ajal, meminta satu hal yang mustahil: Kalea harus menggantikan posisinya sebagai istri Gus Malik.
Kini, si pemberontak berpakaian seksi itu harus terjepit dalam pernikahan "turun ranjang" bersama pria sedingin es yang hanya mencintai kakaknya. Di bawah atap yang sama dengan Najwa yang kian merapuh, sanggupkah Kalea bertahan menjadi bayang-bayang di atas ranjang pria yang menganggapnya penuh dosa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titah yang Menghancurkan
Kepulangan Najwa ke pesantren seharusnya menjadi momen penuh syukur, namun bagi Lea, itu adalah awal dari mimpi buruk yang lebih nyata. Meskipun tubuhnya masih sangat lemah, Najwa tampak memiliki tekad yang kuat untuk memastikan "warisannya" segera berjalan sesuai rencana.
Malam itu, setelah seluruh penghuni pesantren kembali ke asrama masing-masing dan Arkan sudah terlelap di kamar sebelah, Najwa memanggil Malik ke sisinya.
"Mas..." bisik Najwa, jemarinya yang pucat mengusap punggung tangan suaminya. "Malam ini, tidurlah di kamar Lea."
Gus Malik yang sedang merapikan selimut Najwa mendadak membeku. Ia menatap istrinya dengan tatapan tak percaya, seolah baru saja mendengar sebuah kalimat kufur. "Najwa, apa yang kamu bicarakan? Saya tidak mungkin meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini."
"Aku tidak apa-apa, Mas. Ada Mbak pengasuh dan perawat di kamar sebelah yang bisa kupanggil," Najwa tersenyum getir, matanya berkaca-kaca. "Kamu sudah menikahinya. Dia istrimu sekarang. Aku tidak tenang jika kamu terus memperlakukannya seperti orang asing di rumah ini. Pergilah... bimbing dia. Mulailah menjalankan peranmu sebagai suaminya."
"Tapi tidak begini caranya, Humaira," Malik memejamkan mata, rahangnya mengeras. "Status kami masih rahasia, dan kamu... kamu adalah prioritas saya."
"Prioritasku adalah ketenangan sebelum aku pergi, Mas. Dan ketenanganku ada pada kebersamaan kalian," Najwa terbatuk kecil, namun matanya tetap menatap Malik dengan penuh permohonan. "Tidurlah di sana. Hanya malam ini. Berikan dia haknya sebagai istri, meski hanya kehadiranmu di ruangan itu."
Dengan hati yang hancur dan rasa berat yang luar biasa, Malik tak mampu menolak. Ia mencium kening Najwa lama, seolah itu adalah perpisahan, sebelum akhirnya melangkah keluar dari kamar utama dengan langkah yang terasa seberat timah.
Di sisi lain koridor, Lea sedang berada di kamar tamu yang kini menjadi wilayah kekuasaannya. Ia merasa frustrasi, gerah, dan rindu setengah mati pada kebebasannya. Sebagai bentuk pemberontakan diam-diam terhadap aturan pesantren yang menyesakkan, Lea menanggalkan daster panjang yang diberikan kakaknya.
Ia kini hanya mengenakan baju tidur sutra tipis berwarna merah marun dengan potongan *v-neck* yang sangat rendah dan celana pendek yang hanya menutupi separuh paha jenjangnya. Rambut pirangnya ia ikat asal-asalan, menyisakan beberapa helai yang jatuh di lehernya yang putih.
*Brak!*
Pintu kamar diketuk dua kali, lalu terbuka pelan. Lea yang sedang duduk di tepi ranjang sambil mengoleskan lotion ke kakinya tersentak kaget.
Gus Malik melangkah masuk, namun langkahnya langsung terhenti di ambang pintu.
Begitu mata tajamnya yang biasanya selalu tertunduk itu tanpa sengaja menangkap sosok Lea yang nyaris "setengah telanjang" di matanya, Malik langsung memutar tubuhnya membelakangi Lea dengan gerakan kasar.
"Astaghfirullahaladzim! Astaghfirullah!" suara Malik bergetar hebat. Wajahnya memerah hingga ke telinga, bukan karena gairah, melainkan karena rasa syok dan amarah yang meluap.
"Heh! Ngapain lo masuk kamar gue nggak pakai permisi?!" teriak Lea histeris. Ia refleks menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, meski hatinya merasa jengkel karena dipergoki.
"Pakai pakaianmu yang layak, Kalea!" bentak Malik tanpa menoleh sedikit pun. Tangannya mencengkeram kusen pintu hingga buku jarinya memutih. "Najwa yang meminta saya ke sini. Tapi saya tidak menyangka kamu serendah ini, memamerkan aurat di rumah yang penuh dengan kemuliaan!"
"Rendah?!" Lea berdiri, menyampirkan cardigan tipis yang tetap saja tidak menutupi banyak hal. "Ini kamar gue! Gue bebas mau pakai baju apa aja! Dan lo... lo ngapain ke sini? Mau nagih jatah?"
Malik berbalik sedikit, namun matanya tetap terpejam rapat. Ia menarik napas panjang, mencoba menekan emosi yang hampir meledak. "Saya ke sini karena perintah Najwa. Dia ingin saya tidur di sini. Namun, demi Allah... melihatmu seperti ini hanya membuat saya semakin menyesal telah memenuhi keinginannya."
"Kalau nyesel, ya keluar! Gue juga nggak butuh lo di sini!"
"Saya tidak bisa keluar. Itu akan menyakiti hati Najwa," Malik melangkah masuk dengan mata yang masih dipejamkan, lalu ia berjalan menuju sudut kamar, mengambil sejadah dan membentangkannya di lantai kayu, jauh dari ranjang Lea. "Saya akan tidur di sini, di atas lantai. Jangan pernah berpikir untuk mendekat atau berbicara pada saya malam ini."
Malik duduk bersila di atas sejadah, membelakangi ranjang Lea sepenuhnya. Ia mulai berkomat-kamit membaca doa dengan suara rendah yang kaku.
Lea menatap punggung pria itu dengan benci yang amat sangat. "Terserah lo, Gus Suci! Tidur aja lo di sana sampai encok. Gue nggak peduli!"
Lea membanting tubuhnya ke ranjang, memunggungi Malik. Keheningan malam itu terasa sangat panas dan menyesakkan. Di sudut kamar, Malik terus beristighfar, berjuang melawan rasa muak dan guncangan di batinnya karena harus berbagi ruang dengan wanita yang dianggapnya sebagai ujian dari neraka. Sementara Lea menangis tanpa suara di balik bantal, merasa harga dirinya sebagai wanita telah diinjak-idap oleh pria yang bahkan tidak sudi melihat wajahnya.
Malam itu, kamar itu bukan menjadi tempat bersatunya dua insan, melainkan sebuah medan perang dingin yang dipenuhi kebencian dan air mata.