NovelToon NovelToon
SATU -SATUNYA BUANGA DI TENGAH HUTAN.

SATU -SATUNYA BUANGA DI TENGAH HUTAN.

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Karir / Persahabatan
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Komiatun Atun

hidup ini seringkali begitu kejam dan Mestrius. ada yang lah dalam kemewahan, ada yang tumbuh dalam hangatan kasih sayang. namun, takdir berkata lain bagiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komiatun Atun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN" BAB 24: NILAI TINGGI TAPI HATI RENDAH

 

"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN"

BAB 24: NILAI TINGGI TAPI HATI RENDAH

Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa masa belajar di kelas 2 SMP hampir selesai. Tibalah saat akhir semester, saat semua murid menantikan pembagian rapor dan kepastian apakah mereka bisa naik ke jenjang Kelas 3 SMP atau harus tinggal di kelas lagi. Suasana di sekolah terasa makin tegang dan ramai. Ada yang wajahnya cerah penuh harap, ada yang duduk gelisah takut nilainya jelek, ada pula yang saling berbisik menebak-nebak siapa yang bakal jadi juara, dan siapa yang kemungkinan besar tidak akan naik kelas.

Di pojok depan kelas, di tempat duduknya yang biasa, Ria duduk tenang sekali. Ia sudah merapikan kembali ujung hijabnya, memastikan tertutup rapat dan sopan seperti biasa, kebiasaan yang tak pernah ia tinggalkan sejak kecil. Wajahnya tenang, tak ada raut cemas, tak ada pula raut sombong meski ia tahu betul hasil belajarnya selama ini sangat jauh di atas teman-temannya. Ia diam saja, menunduk memain-mainkan ujung bukunya, tak mau banyak bicara.

Ria sadar betul posisinya. Ia tahu teman-temannya banyak yang tidak suka padanya, masih sering memanggilnya anak gembel, anak miskin, dan menjauhinya. Karena itu, Ria bertekad dalam hati: Aku harus makin hati-hati. Aku harus makin pendiam. Kalau ada yang tanya, jawab seperlunya saja, seadanya saja. Aku takut salah ngomong, takut salah kata, nanti dikira aku sombong atau aku mau membesar-besarkan diri. Biarpun aku pintar, biarpun aku juara, aku tetaplah anak miskin, anak yang makan sehari-hari cuma hasil kebun. Aku gak boleh merasa lebih hebat dari mereka, aku gak boleh mengolok siapa pun, apalagi teman yang nilainya jelek atau gak naik kelas.

Pintu kelas terbuka, Pak Guru masuk dengan membawa tumpukan buku rapor tebal di tangan. Wajah beliau tampak serius namun ada senyum bangga yang samar-samar, terutama saat matanya menatap ke arah Ria. Beliau meletakkan berkas itu di meja, lalu menatap seluruh murid satu per satu.

"Anak-anak," suara Pak Guru terdengar tegas dan jelas, membuat seisi kelas hening seketika. "Hasil belajar kalian selama satu semester ini sudah Bapak rangkum semua di sini. Hari ini kita akan tahu siapa saja yang lulus dan naik ke kelas 3 SMP, dan siapa saja yang masih harus berjuang lagi di kelas ini. Ingat pesan Bapak baik-baik: Jangan sombong kalau nilaimu tinggi, dan jangan meremehkan atau mengolok teman yang nilainya rendah atau tidak naik kelas. Keberuntungan dan kepintaran itu titipan Tuhan, bisa berubah kapan saja. Yang paling mulia itu yang pintar otaknya, tapi makin pintar makin rendah hatinya."

Beliau mulai memanggil nama satu per satu. Suasana kelas berubah jadi riuh rendah campur aduk rasa. Ada yang berjalan cepat dengan senyum lebar karena dinyatakan naik kelas dengan nilai bagus. Ada yang berjalan pelan, kepalanya tertunduk dalam, wajahnya muram dan sedih luar biasa, karena namanya disebut sebagai murid yang tidak naik kelas, harus mengulang lagi di kelas 2 SMP.

Yang menyakitkan hati Ria, anak-anak yang naik kelas dengan nilai biasa saja itu malah ada yang berbisik-bisik keras, menunjuk-nunjuk teman yang sedih itu sambil tertawa mengejek.

"Hahaha... dasar bodoh, sekolah aja gak bisa, sia-sia baju bagus, uang jajan banyak tapi otak kosong..."

"Kasihan deh, ketinggalan kita semua nih, tinggal sendiri dia di sini... dasar lambat tangkapnya."

Ria mendengar itu semua, hatinya ikut sedih dan perih. Ia menatap teman-temannya yang sedang menangis tertunduk itu dengan rasa iba yang besar. Dalam hati Ria, ia bicara: Kasihan sekali mereka... Pasti sedih banget rasanya. Sudah gak naik, malah diejek lagi. Padahal kalau aku di posisi mereka, pasti aku hancur hati. Untung aku diam saja, untung aku gak pernah bicara kasar, aku gak pernah mau ikut-ikutan jahat begini.

Akhirnya tibalah saat nama yang paling ditunggu itu disebut.

"Dan untuk nilai tertinggi, Juara Pertama, yang nilainya sempurna hampir di semua mata pelajaran, dan berhak naik ke kelas 3 SMP dengan predikat paling memuaskan adalah... RIA!"

Suasana kelas langsung hening seketika. Semua mata langsung tertuju tajam ke arah Ria. Ada yang wajahnya merah padam menahan iri hati, ada yang mendengus kesal, ada yang berbisik sinis, ada pula yang hanya diam terpaku tak percaya.

Ria bangun perlahan, berjalan dengan langkah pelan dan sangat sopan menuju meja guru. Ia menundukkan pandangan, tak berani menatap teman-temannya, tak ada senyum kemenangan sedikit pun di wajahnya. Ia menerima buku rapor itu dengan dua tangan, mengucapkan terima kasih dengan suara lirih dan halus, lalu berjalan kembali ke tempat duduknya dengan tenang, sama persis seperti saat ia berjalan ke sana tadi. Tak ada perubahan sikap sedikit pun.

Pak Guru yang melihat itu, hatinya makin kagum dan bangga luar biasa. Beliau tahu benar, murid ini bukan cuma pintar akalnya, tapi paling mulia hatinya.

Setelah pembagian selesai, jam istirahat pun tiba. Biasanya teman-teman akan berkumpul berkerumun membahas nilai masing-masing. Kali ini pun sama. Beberapa anak, meski tadinya benci dan sinis, tapi karena penasaran dan takjub, akhirnya ada juga yang memberanikan diri mendekati meja Ria. Mereka ingin tahu, bagaimana caranya anak yang makan cuma daun-daunan, yang gak punya biaya les, yang gak punya buku lengkap, bisa sehebat itu nilainya?

Seorang teman bernama Siti mendekat, berdiri agak jauh sedikit, lalu bertanya pelan.

"Ria... eh Ria... boleh nanya gak? Kok kamu bisa pintar banget sih? Kamu belajarnya jam berapa sih di rumah? Emangnya kamu diajarin siapa? Padahal kan kamu... kamu..." Siti terdiam, takut salah ngomong, takut menyebut kata miskin atau gembel.

Ria mengangkat wajahnya pelan, menatap Siti dengan pandangan teduh dan sopan. Ia merapikan ujung hijabnya sebentar, lalu menjawab dengan suara lembut, singkat, seperlunya saja, jawaban seadanya seperti yang biasa ia lakukan.

"Gak apa-apa Siti... Aku cuma belajar biasa saja kok. Di rumah aku baca buku sebentar, habis itu istirahat. Gak ada yang ngajarin siapa-siapa, aku baca sendiri saja. Mungkin aku cuma lebih rajin dikit saja sama lebih sering baca ulang pelajaran, itu saja kok. Gak ada apa-apanya."

Jawaban itu sederhana sekali, rendah hati sekali, tak ada pamer sedikit pun. Padahal kenyataannya, Ria belajar mati-matian sampai malam, mengingat semua yang didengar di sekolah, berjuang sekuat tenaga meski cuma pakai lampu minyak redup. Tapi ia gak mau cerita itu semua, ia gak mau dianggap hebat.

Teman yang lain, yang tadinya mau bertanya panjang lebar, jadi ikut bicara.

"Terus... kamu sedih gak sih kalau ada teman yang gak naik kelas? Kamu pikir mereka bodoh gak Ria?" tanya teman yang lain penasaran.

Ria langsung menggeleng kuat-kuat, wajahnya tampak serius dan tulus.

"Jangan bilang begitu ya... Jangan dibilang bodoh. Setiap orang kan kemampuannya beda-beda. Mungkin mereka gak naik bukan karena bodoh, tapi mungkin ada halangan, ada kesusahan, atau belum rezekinya. Kasihan kalau dikatain begitu. Kita harus doakan saja supaya tahun depan mereka lebih mudah pelajarannya dan bisa naik kelas. Aku sedih kok kalau ada teman yang sedih, aku gak pernah mau ngolok atau merasa lebih hebat dari siapa pun. Kita sama saja kok, sama-sama murid, sama-sama manusia."

Jawaban itu membuat mereka semua terdiam dan takjub. Anak yang selama ini mereka anggap rendah, anak yang sering mereka panggil nama jelek, ternyata hatinya jauh lebih mulia, jauh lebih dewasa, dan jauh lebih baik dari mereka semua. Ria yang pintar justru merendah, sedangkan mereka yang biasa saja malah sombong dan jahat mulut.

Ria pun kembali diam, kembali menunduk, membuka bukunya lagi. Ia berjanji dalam hati, masuk ke kelas 3 SMP nanti pun ia akan tetap begini. Tetap jadi anak yang pendiam, tetap menjaga tutur kata, takut salah bicara, tetap rendah hati meski otaknya cerdas, tetap tidak mau membalas kejahatan dengan kejahatan.

Baginya, kepintaran dan juara itu hanyalah jalan untuk mengubah nasib keluarga, bukan alat untuk meninggikan diri atau menghina orang lain. Dan diamnya, serta rendah hatinya itulah yang membuat siapa pun yang melihatnya akhirnya sadar: Ria bukan anak gembel, bukan anak miskin yang bisa diremehkan. Ria adalah permata indah yang berkilau bukan saja di otaknya, tapi lebih indah lagi di hatinya.

Siang itu, saat pulang sekolah, Ria berjalan keluar gerbang dengan tenang. Di sana sudah menunggu ketiga kakaknya, Bang Hamza, Bang Arefin, dan Bang Ardiansyah, yang sama sekali belum tahu bahwa adiknya kembali juara 1 dan siap masuk kelas 3 SMP dengan nilai sempurna. Mereka pun belum tahu betapa mulia dan rendahnya hati adik mereka itu di tengah pujian dan keberhasilannya.

"Gimana hari ini Dik? Aman? Mau masuk kelas 3 SMP kan?" tanya Bang Hamza santai sambil mengambil tas Ria.

"Iya Bang... Alhamdulillah aman, mau masuk kelas 3 nanti," jawab Ria singkat dan sederhana, senyumnya lembut, rahasia besar kepintarannya masih tersimpan manis di hatinya, menunggu saat yang tepat untuk dibanggakan di depan Bunda dan Abang-abangnya nanti.

1
KOMIATUN
"alhamdulillah,.... terimakasih banyak ya kak atas dukungan nya senang banget deh ada yang mampir dan kasih saya semangat, rasanya capek pulang kerja jadi hilang seketika lho, nanti kalau ada waktu luang pasti saya kunjungi profil nya kakak ya. sihat selalu dan sukses terus buat kakak. 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!