NovelToon NovelToon
Kupu-Kupu Di Kota Batu

Kupu-Kupu Di Kota Batu

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Enemy to Lovers / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:84
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Keadaan berubah ketika Nowi memergoki kekasihnya berselingkuh tepat di atas ranjang mereka sendiri. Baru saat itulah ia menyadari bahwa seluruh kenyamanan yang selama ini dinikmatinya tak lagi miliknya. Padahal sebelumnya Nowi memiliki segalanya. Karier cemerlang, kehidupan berkecukupan, dan pasangan yang berparas tampan.

Kini, semuanya telah sirna. Tak ada lagi tempat tinggal, tak ada lagi sumber penghasilan, dan satu-satunya jalan keluar yang tersisa adalah menjual rumah warisan orang tuanya di kota Batu. Tempat yang sangat dibencinya, sarat akan kenangan pahit, serta menyimpan satu rahasia besar yang telah ia kubur dalam-dalam sejak masa remaja.

Kehancuran hidupnya itu pun memaksanya kembali menghadapi masa lalu yang telah ia tinggalkan sepuluh tahun silam, serta satu-satunya pria yang mencintainya sepenuh hati, sekaligus sosok yang paling menderita karenanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menu Makan Siang

Ponsel Vito berdering, terdapat pesan dari Rowan yang menyatakan mereka telah berada di lokasi gudang kedua.

"Kita harus ketemu Rowan dan Jaylon sebelum makan siang. Ayo ikut, Zaki."

Vito memberi isyarat agar Zaki menyusul, kemudian mereka berjalan keluar gedung menuju lokasi gudang dalam keadaan diam.

"Dia orangnya susah diatur banget, Vito. Kenapa sih kamu mau terima dia kerja di sini?" gerutu Zaki.

"Dia punya kemampuan yang bagus, dasar kamunya aja."

"Kamu salah."

"Aku rasa dia cocok bergabung dengan tim kita."

"Salah lagi."

"Dia orangnya menyenangkan juga."

"Salah besar."

"Sebenarnya aku tahu dia bakal bikin kamu kesal, memang itu tujuanku juga, hahaha."

"Nah, baru itu bener, dasar jahat."

"Zaki, kamu cuma perlu kerja sama dengan dia. Dia mampu kerjain tugasnya dengan baik. Emangnya Kamu gak pernah belajar dari Papa mengenai sopan santun dan sikap profesional?"

"Kamu gak benar benar kenal aku, Vito!"

Mereka tiba di depan bangunan tempat Rowan dan Jaylon telah menunggu. Gudang ini memiliki ukuran yang sangat luas, berfungsi sebagai tempat penyimpanan tong-tong minuman fermentasi selama proses pematangan. Posisi dan letak setiap tong dapat memengaruhi rasa serta kualitas minuman yang dihasilkan. Seluruh bagian di sini menjadi tanggung jawab Rowan.

Segera setelah masuk, hidung Vito mencium aroma khas kayu dan apel yang sangat harum. Ia sangat menyukai bau semacam ini.

Hari ini mereka memeriksa beberapa tong minuman yang memiliki bahan dasar sama, namun dengan lama penyimpanan yang berbeda. Meskipun mereka semua telah terbiasa dengan bisnis ini, hanya Rowan yang benar-benar memahami dan mencintai setiap proses pembuatan minuman. Rowan menjalani hidupnya untuk segala hal yang berhubungan dengan minuman, sedangkan yang lain hanya menikmati hasilnya saja.

Selama satu jam berikutnya mereka berdiskusi dan mencicipi minuman dari dua tong, kemudian berjalan keluar untuk makan siang. Mereka agak terlambat karena telah berjanji makan bersama adik bungsu mereka. Sekolah Astrid libur hari ini, dan mereka telah berjanji akan makan di tempat kesukaannya.

Tiba-tiba semua ponsel mereka berdering bersamaan saat berjalan menuju tempat parkir.

"Dari Astrid ya?" tanya Vito tanpa mengambil ponselnya, karena Jaylon sudah membaca pesannya.

"Iya, dia tulis begini..." Jaylon berdeham lalu membaca dengan nada yang sengaja dibuat mirip suara Astrid. "'Kalian di mana sih? Jangan sampai kalian lupa janji atau pergi tanpa aku, nanti aku balas pas kalian tidur lho!'"

Mereka semua tertawa mendengarnya.

Astrid bertubuh mungil namun memiliki pendirian yang kuat, hal itu memang wajar karena ia tumbuh besar bersama empat kakak laki-laki.

Mereka tidak pernah memperlakukannya secara istimewa hanya karena ia satu-satunya perempuan, dan Astrid pun tidak tumbuh menjadi anak yang manja. Ia mampu menjaga dirinya sendiri dalam situasi apa pun, dan mereka semua merasa bangga karena Astrid dapat memilih jalan hidupnya sendiri dengan penuh percaya diri.

"Lebih baik kita berangkat sebelum dia benar-benar marah dan lakuin apa yang dikatakannya," kata Jaylon sambil berpura-pura gemetar ketakutan.

Mereka semua naik ke mobil milik Vito. Karena Vito hanya mencicipi sedikit minuman, ia yang mengemudikan kendaraan seperti biasanya. Vito lebih suka minum di rumah saja, ia menginginkan segala hal tetap terkontrol. Jika sampai kehilangan kendali, ia harus memastikan tidak akan merusak apa pun atau menyakiti siapa pun.

Sepuluh menit kemudian mereka tiba di tempat makan, dan melihat Astrid telah duduk di meja dengan senyum lebar.

"Kangen banget sama kami kan?" tanya Jaylon sambil mencium pipi Astrid.

Rowan, Zaki, dan Vito melakukan hal yang sama. Meskipun Astrid tidak diperlakukan seperti putri kecil, mereka tetap menyayanginya lebih dari apa pun, meskipun sering saling mengejek atau berselisih pendapat.

"Nggak pernah deh. Tapi bau kalian aneh banget, baru dari gudang ya? Nyicip minuman tanpa aku, jahat banget!"

"Hei, jangan marah. Urusan kerjaan harus jalan terus, meskipun kamu sibuk bersihin ingus anak anak atau nyanyiin lagu bintang kecil," dengus Zaki.

Sesuai dugaan, Astrid langsung mengangkat tangan dan menampar dada Zaki.

"Itu bukan cuma tugasku, dan kamu tahu itu!" katanya, lalu melirik Vito. "Ngomong-ngomong, sebutan 'Zaki Si Bodoh' cocok banget. Kita pakai itu aja mulai sekarang."

Semua orang langsung tertawa setuju.

"Oke, cukup. Sekarang cerita, apa yang terjadi sama kalian?" tanya Astrid dengan semangat.

Mereka mengobrol sebentar sampai pelayan datang mencatat pesanan.

"Hai keluarga Anggoro. Kita mau kasih tahu dulu kalau pilihan menu hari ini terbatas. Jammy ada urusan keluarga mendesak di luar kota, belum tahu kapan balik. Koki kita tetap bisa masak kok, tapi kita harus kurangi pilihan dan hilangkan beberapa hidangan yang prosesnya ribet."

"Nggak masalah, Quinza. Semoga keluarganya baik-baik aja," kata Vito untuk menenangkan.

"Nanti aku sampaikan pesanmu pas ngobrol sama dia. Mau pesan minum apa dulu?"

Mereka memesan makanan, lalu menghabiskan satu jam berikutnya dengan mengobrol sambil makan burger dan kentang goreng. Setelah itu, mereka pamit kepada Astrid dan naik ke kendaraan Vito menuju tempat penyulingan.

...***...

Setelah berpisah dari saudara-saudaranya, Vito kembali duduk di ruang kerjanya. Usulan dari Yessica sudah masuk ke surelnya, sehingga ia membaca seluruh isi dokumen itu dan memutuskan untuk memanggil Zaki serta Yessica datang satu jam lagi.

Ia menghubungi beberapa calon pembeli dan memeriksa rincian biaya produksi tiga bulan terakhir. Waktunya hanya cukup untuk meneguk minuman protein sebelum pertemuan dimulai.

Baru saja ia duduk, Zaki masuk ke ruangan. "Masih kurang puas lihat wajah aku ya hari ini?" tanyanya.

"Duduk. Dan tolong jangan bikin ulah."

Pintu diketuk, lalu Yessica masuk. Zaki langsung menoleh ke arahnya dan mengerang keras dengan nada berlebihan supaya terdengar. Vito memberikan tatapan peringatan, namun seperti biasa, hal itu diabaikan begitu saja.

"Makasih sudah datang, Yessica. Silakan duduk," kata Vito.

"Tentu saja, Vito. Ada yang bisa aku bantu?" jawab Yessica dengan senyum cerah, matanya bersinar, dan sikapnya terlalu antusias untuk situasi seperti ini.

Vito menahan tawanya. Yessica memang selalu bersikap positif dan ceria. Sebaliknya, Zaki cenderung menciptakan suasana tegang dan tidak nyaman. Anehnya, Yessica tetap bersikap tenang dan tidak mundur sedikit pun meski sering mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari Zaki.

"Aku sudah baca usulanmu, Yessica," kata Vito. "Aku setuju kalau rencana ini dijalankan. Menurutku ini menguntungkan dan masuk akal. Kalau kamu bisa buat contoh rancangan beserta rincian biayanya terus kirim ke Zaki, kita bisa mulai kerjakan."

Senyum Yessica makin lebar dan cerah. Sebaliknya, Zaki menyilangkan tangan di dada dan menggelengkan kepala pelan. Vito dapat merasakan bahwa saudaranya sedang menahan emosi. Pria itu hanya menunggu waktu untuk meledak.

"Makasih. Aku bakal kerjain sekarang juga," kata Yessica.

"Ada satu hal lagi," lanjut Vito. "Sepertinya kalian berdua punya masalah saat kerja bareng. Apa perlu HRD aku suruh buat nanganin kalian?"

Zaki langsung mengangkat kepala dan menatap Vito dengan ekspresi kaget dan tidak percaya. Padahal Vito hanya bercanda, namun hal itu tidak perlu diketahui oleh Zaki.

"Jujur aja, minggu pertamaku di sini emang berat," kata Yessica tanpa ragu.

Zaki memutar matanya, namun Vito melihat adanya perubahan kecil pada sikapnya. Ia duduk dengan posisi lebih tegak dari sebelumnya.

"Tapi aku emang pengin banget kerja di sini dan pengin semua yang kita kerjakan berhasil," lanjut Yessica. Ia menggeser posisi duduknya sedikit, lalu berkata lagi, "Aku cuma punya satu permintaan, kalau boleh ya Vito?"

Zaki langsung memiringkan kepalanya pelan. Vito hampir merinding, namun ia menahan reaksinya. Yang mengagumkan, Yessica sama sekali tidak menunjukkan rasa takut atau gugup.

"Kamu merasa, baru kerja seminggu di sini, udah punya hak buat minta sesuatu?" tanya Zaki dengan nada mengancam. "Kamu nganggap dirimu siapa?"

Vito sempat berpikir untuk menyuruh Yessica pergi dulu demi keselamatannya, kemudian memberikan teguran kepada adiknya. Namun akhirnya ia memilih diam, duduk dengan santai, dan mengamati kejadian selanjutnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!