Mereka membunuhnya perlahan.
Meracuni hidupnya, mencuri kasih sayangnya, lalu menguburnya sebagai putri yang tak diinginkan.
Ketika tubuhnya membuka mata, jiwa dari dunia modern terbangun di dalam tubuh Arcelia Vareinne putri keluarga duke yang mati secara misterius sebelum hari pernikahannya.
Semua orang menganggap Arcelia lemah.
Ayahnya mengabaikannya.
Ibu tirinya memanipulasinya.
Saudara tirinya merebut seluruh hidupnya sedikit demi sedikit.
Namun kali ini berbeda.
Sebuah sistem misterius muncul, memberinya kesempatan kedua:
mengungkap pengkhianatan, menghancurkan musuh-musuhnya, dan merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Di tengah permainan politik kerajaan, rahasia keluarga bangsawan, dan konspirasi perebutan tahta, Arcelia perlahan berubah menjadi wanita yang ditakuti seluruh kerajaan.
Tetapi semakin dekat ia pada balas dendam, semakin dekat pula dirinya dengan pria paling berbahaya di kerajaan Pangeran Kael Draven. pangeran dingin yang dijuluki monster peran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DRR_LOVE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan Berdarah
Malam turun perlahan di mansion keluarga Vareinne.
Hujan tipis kembali membasahi jendela, menciptakan suara pelan yang menenangkan berlawanan dengan suasana mencekam di dalam ruangan.
Di kamar Arcelia Vareinne, cahaya lilin menari lembut di atas meja. Sementara di depannya, Duke Cedric Vareinne, Leonard Aster, dan Auriel
Mereka sedang membahas situasi dengan wajah serius.
“Kalau Pangeran Kael benar-benar bekerja sama dengan Black Serpent,” ujar Leonard pelan.
“Maka pengawal kerajaan sendiri mungkin sudah tidak bisa dipercaya.” Kata Duke Cedric sambil mengangguk dingin.
“Aku akan membawa pasukan pribadiku ke festival.” Sambung Duke Cedric.
“Itu belum cukup,” jawab Arcelia tenang.
Semua mata langsung tertuju padanya. Arcelia berdiri perlahan lalu berjalan mendekati jendela.
Tatapan merah anggurnya memandang hujan di luar. “Kalau Kael berani bergerak di Festival Kekaisaran maka dia pasti sudah menyiapkan segalanya.” kata Arcelia mengingatkan.
Auriel mengibaskan ekornya kecil. “Benar.” kata Auriel membenarkan Arcelia.
“Dan kemungkinan besar ada pengkhianat di dalam istana.” lanjut Auriel.
Leonard mengepalkan tangannya. “Kalau begitu kita harus memperingatkan Putra Mahkota.” kata Leonard sambil menatap Duke Cedric, Arcelia dan Auriel secara bergantian.
“Sepertinya tidak akan semudah itu.” Kata Duke Cedric langsung menyela.
Tatapannya berubah berat. “Keluarga kerajaan sedang terpecah sekarang.” katanya.
“Kalau kita bicara tanpa bukti cukup, kita justru bisa dianggap pemberontak.” lanjut Duke Cedric.
Ruangan kembali sunyi, karena ucapan Duke Cedric memang benar.
Satu kesalahan saja keluarga Vareinne bisa dihancurkan.
Namun Arcelia justru tersenyum tipis dan itu membuat Leonard mengernyit.
“Kenapa? Sepertinya anda sudah memiliki ide." tanya Leonard.
“Kita tidak perlu memperingatkan seluruh anggota di istana.” kata Arcelia.
Tatapan Arcelia perlahan berubah tajam. “Kita hanya perlu menemukan siapa yang masih bisa dipercaya.” lanjutnya.
Auriel langsung berdiri. “Dan itu adalah bagian tersulitnya.” sambung Auriel.
Tok.
Tok.
Ketukan tiba-tiba terdengar dari pintu membuat semua langsung waspada.
Duke Cedric memberi isyarat pada pengawal kemudian pintu terbuka perlahan.
Seorang pelayan masuk dengan wajah pucat. “Yang Mulia Duke…” katanya, kedua tangannya saling meremas dengan gemetar.
“Ada apa?” tanya Duke Cedric dingin.
Pelayan itu tampak gugup. “Utusan kerajaan datang membawa surat mendadak.” katanya.
Arcelia langsung menyipit. "Cepat sekali, mereka bertindak." batin Arcelia.
Duke Cedric menerima amplop hitam dari pelayan itu. Namun begitu melihat segelnya ekspresinya berubah.
“Itu lambang keluarga kerajaan utama,” gumam Leonard.
Berbeda dari undangan festival sebelumnya, mali ini segelnya berwarna emas tua dengan simbol naga kerajaan. Dan hanya keluarga inti kerajaan yang boleh menggunakannya.
Duke Cedric membuka surat itu perlahan dan tatapannya membaca cepat.
Lalu wajahnya mengeras.
“Apa isinya?” tanya Arcelia ketika melihat ekspresi ayahnya berubah.
Duke Cedric perlahan mengangkat pandangan. “Undangan pribadi.”
“Dari siapa?” tanya Arcelia penasaran.
Karena semua terasa sangat mendadak dan saling terhubung.
Beberapa detik hening berlalu sebelum Duke menjawab "Putra Mahkota Elias Astrael."
Auriel langsung membeku. “…Apa?”
Mata Arcelia sedikit menyipit. "Putra Mahkota sendiri?" gumam Arcelia pelan.
“Kenapa dia mengirim surat?” tanya Arcelia.
Duke Cedric menyerahkan surat itu pada Arcelia. Tulisan elegan memenuhi kertas putih tersebut.
Duke Vareinne,
Saya mendengar beberapa hal menarik mengenai keluarga Anda.
Karena itu, saya berharap Nona Arcelia Vareinne dapat menghadiri jamuan pribadi di Istana Astrael dua hari sebelum Festival Kekaisaran dimulai.
Saya menunggu kedatangannya.
Elias Astrael
Ruangan mendadak sunyi, Leonard langsung mengernyit. “Itu terlalu mendadak.” katanya dan matanya berubah waspada.
Auriel terlihat jauh lebih serius sekarang. “Dalam alur asli Putra Mahkota tidak pernah tertarik pada Arcelia.” Kata Auriel didalam pikiran Arcelia.
"Berarti alur benar-benar berubah besar sekarang." kata Arcelia sambil mengerutkan keningnya.
“Apa ini jebakan?” tanya Lilian pelan secara tiba-tiba karena tidak ada yang bicara.
Duke Cedric berpikir beberapa saat. “Belum tentu ada jebakan.” katanya optimis.
Leonard langsung menatap Duke. “Anda percaya Putra Mahkota?” tanya Leonard.
“Aku percaya dia jauh lebih cerdas dibanding rumor yang beredar.” jawab Duke Cedric.
Arcelia memperhatikan surat itu diam-diam.
Tulisan tangan yang rapi, nada yang formal. Namun ada sesuatu yang terasa aneh yang mengusik perasaan Arcelia.
“Tuan Rumah.” Auriel melompat ke meja. “Ada kemungkinan Putra Mahkota juga menyadari pergerakan Black Serpent.” kata Auriel.
“Itu sebabnya dia memanggilku?” tanya Arcelia.
“Atau…” Auriel menatap Arcelia lekat-lekat. “…dia sudah mengetahui siapa dirimu sebenarnya.” kata Auriel tatapan matanya menajam.
Tatapan Duke Cedric langsung berubah tajam. “Apa maksudmu?” tanya Duke Cedric.
Auriel membeku sesaat karena terkejut telah keceplosan.
Namun sebelum ia sempat menjawab—
[BIB..!!! BIB...!]
[Peringatan.]
[Target penting terdeteksi.]
[Pertemuan dengan Putra Mahkota akan memengaruhi jalur utama cerita.]
Cahaya biru transparan samar muncul di depan Arcelia. Peringatan itu membuat jantung Arcelia berdetak sangat cepat.
Karena instingnya mengatakan satu hal pertemuan di istana nanti akan mengubah segalanya.