NovelToon NovelToon
WHISPERS OF THE HEART

WHISPERS OF THE HEART

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Duda / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Oviamarashiin

Davika Ovwua Mwohan adalah siswi kelas 3 SMA yang tidak hanya berpenampilan memikat layaknya boneka hidup dengan tubuh *gitar spanyol* yang seksi, tetapi juga memiliki kepribadian paling random dan kocak di antara teman-temannya. Di balik tingkah ajaibnya, Clara adalah koki andalan rumah yang jago menyulap segala jenis masakan mulai dari jajanan pasar hingga kuliner barat menjadi hidangan favorit keluarga, teman, hingga tetangga.

Keseharian Clara dipenuhi dinamika hubungan persaudaraan yang seru dan penuh warna. Ia terlibat hubungan ala "Tom and Jerry" dengan kakak pertamanya, Mas Gara, pria cuek dan berotot yang selalu bersedia menjadi ATM berjalan demi menuruti hobi makan dan tingkah acak Clara. Sementara itu, Mbak Nara, kakak keduanya yang cantik dan manis, turut melengkapi kehangatan dan keseruan lika-liku kehidupan masa muda Clara di dalam keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Labirin Karat Pelabuhan Utara

Brummm... oonggg...

Deru berat mesin 250cc milik Mas Gara mendadak bergema ganda saat Gus Zayyad mengarahkan setang motor memasuki kawasan pelabuhan lama di ujung utara Jakarta. Tempat ini bagai kota mati yang terlupakan; dikelilingi oleh dinding-dinding seng berkarat setinggi tiga meter dan siluet raksasa dari kran-kran pengangkut kontainer tua yang berdiri kaku membelah langit malam yang pekat.

Sisa-sisa air hujan tergenang di atas permukaan tanah yang retak, memantulkan pendar remang dari lampu merkuri yang berjarak ratusan meter satu sama lain. Bau asin air laut yang pekat bercampur dengan aroma solar dan karat langsung menusuk hidung begitu mereka masuk lebih dalam.

"Gus, lurus terus, lalu belok kiri di antara dua kontainer hijau yang sudah karatan itu!" seru Davika dari balik helm balapnya, suaranya yang ceriwis kini terdengar lebih mantap.

Zayyad mematuhi navigasi tersebut dengan presisi yang rapi. Namun, setiap kali roda motor sport itu menghantam gundukan batu atau tergelincir tipis di atas lumpur pelabuhan, tubuh mungil Davika yang padat dan berisi kembali bergeser maju, menekan punggung tegap Zayyad dengan intensitas yang sama sekali tidak berkurang. Keempukan masif dari dada besar Davika yang bergesekan di balik *tweed jacket*-nya terus-menerus menjadi ujian berat bagi fokus berkendara sang CEO yang berwajah *oppa* Korea itu. Zayyad terpaksa menahan napas berkali-kali, mengunci rahangnya rapat-rapat demi menjaga muruah yang tersisa.

Begitu mereka mendekati sebuah gudang tua berpelat baja dengan nomor **04** yang memudar di dindingnya, sebuah keajaiban mekanis terjadi. Tanpa ada seorang pun di sana, gerbang bergulir otomatis dari baja tebal itu tiba-tiba terangkat ke atas dengan bunyi derit hidrolik yang berat, menyisakan celah yang pas untuk satu kendaraan.

"Masuk, Gus! Cepat!" desak Davika.

Zayyad memutar gas pendek, membawa monster besi hitam itu melesat masuk ke dalam kegelapan gudang sebelum gerbang baja itu kembali menutup rapat dengan debuman keras yang menggetarkan lantai beton. *Blar!*

Suasana di dalam gudang nomor empat seketika berubah terang benderang secara bertahap saat deretan lampu LED berdaya tinggi di langit-langit menyala otomatis satusatu. Tempat itu tidak tampak seperti gudang rongsokan; melainkan sebuah bengkel taktis tersembunyi yang sangat rapi dan dipenuhi oleh deretan suku cadang motor balap spek sirkuit, perkakas mekanik premium, dan beberapa layar monitor komputer yang terpasang di dinding beton monokrom.

Di sudut ruangan, sebuah perangkat pemancar satelit cadangan berbentuk piringan hitam kecil tampak berkedip dengan lampu indikator hijau yang stabil—menandakan enkripsi sinyal penuh telah aktif.

*Bzzzt... Bzzzt...*

Belum sempat Davika turun dari jok motor, ponsel pintar di saku jaket *oversized*-nya bergetar dengan pola ketukan yang sangat ia kenal. Sebuah notifikasi panggilan video terenkripsi muncul di layar, menampilkan nama kontak: **"ATM Berjalan / Tom"**.

Davika dengan gesit melepas helm balapnya, membuat rambut hitam lurus barunya terurai jatuh menutupi bahu *tweed jacket*-nya. Wajah dewasanya yang dihiasi riasan *cat-eye* misterius dan perona bibir plum gelap tampak menegang saat ia menekan tombol terima.

Layar ponsel berukuran besar itu seketika menampilkan wajah tampan nan dingin milik Kapten Sagara. Gara saat ini berada di dalam mobil jemputan kru penerbangan yang membelah jalanan malam kota Shanghai yang gemerlap. Seragam putih kaptennya tampak kontras dengan latar belakang lampu kota di balik jendela mobil.

"Jerry," suara bariton Gara mengalun dari speaker ponsel, begitu datar, dingin, namun sarat akan otoritas pelindung utama yang tidak bisa diganggu gugat. "Jelaskan situasinya dalam tiga puluh detik."

Davika langsung mendekatkan ponselnya ke arah wajah Gus Zayyad yang berdiri di samping motor. "Mas Gara! Ini Davik lagi sama Oppa dadakan dari Jombang. Kita baru saja ditembaki sama anak buah Kamil di hotel, lalu dikejar polisi karena Davik belum punya SIM, dan sekarang kita ngumpet di gudang nomor empat milik Mas Gara!"

Gara di seberang sana sempat menyipitkan matanya selama setengah detik saat melihat penampilan baru adiknya yang tampak sangat dewasa, lalu beralih menatap wajah Gus Zayyad yang kini dipenuhi riasan *cushion* tipis dan rona *liptint peach* di bibirnya. Kilat keterkejutan sempat melintas di mata elang sang pilot, namun ia segera menguasai ekspresinya kembali menjadi sedingin es.

"Gus Zayyad," panggil Gara, suaranya memotong ceriwisnya Davika dengan tajam. "Saya hargai usaha Anda melindungi adik-adik saya di Jakarta. Tapi saat ini, SUV hitam yang membawa Nara dan Bapak sedang dijepit oleh dua mobil Kamil di jalan tol lingkar luar. Sistem satelitku mendeteksi mereka bergerak menuju arah pelabuhan timur."

Zayyad melangkah maju, merebut ponsel dari tangan Davika dengan jemari besarnya yang kini kembali stabil. "Kapten Gara, koordinat tepatnya di mana? Saya masih memiliki beberapa unit taktis dari perusahaan logistik saya yang berjaga di dekat pelabuhan timur. Kita bisa memotong jalur mereka sebelum Kamil melakukan tindakan fisik lebih jauh."

"Aku sudah mengirimkan enkripsi koordinat GPS mobil Bapak ke sistem monitor di dinding gudang nomor empat," sahut Gara tenang, tangannya yang terbalut jam tangan penerbangan mewah mengetuk layar tablet taktis di pangkuannya dari Shanghai. "Gus, gunakan aset logistikmu untuk menutup semua gerbang keluar pelabuhan timur. Jangan biarkan satu pun SUV putih itu lolos. Biar saya yang mengurus sisa komplotan Kamil dari langit sini."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Di dalam gudang nomor empat yang terang benderang oleh pendar lampu LED, tiga layar monitor berukuran besar di dinding beton monokrom mendadak berkedip. Barisan kode digital hijau berseliweran sebelum bertransformasi menjadi peta topografi digital tiga dimensi dari area Jakarta Utara secara *real-time*.

Sebuah titik merah berkedip agresif di jalur bebas hambatan, dikepung oleh dua titik kuning yang terus mencoba menekan posisinya. Itu adalah SUV hitam yang membawa Mbak Nara dan Bapak Handoko.

"Koordinat sudah sinkron," ujar Kapten Sagara dari seberang panggilan video, suara baritonnya mengalun dingin dari speaker ponsel yang digenggam Zayyad. Latar belakang di balik jendela mobil Gara kini menampilkan siluet menara pencakar langit Oriental Pearl Tower yang ikonik di Shanghai, menandakan ia makin dekat dengan hotel kru. "Gus Zayyad, Anda punya waktu tujuh menit sebelum mereka keluar dari gerbang tol pelabuhan timur."

Zayyad menatap layar monitor dengan mata hitam kelamnya yang menajam. Penampilan wajahnya boleh saja berubah menjadi *oppa* Korea dadakan akibat riasan *liptint* dan *cushion* dari tangan mungil Davika, namun insting kepemimpinannya sebagai CEO Al-Anwar Logistik kembali bangkit seutuhnya. Aura otoritas yang pekat memancar dari tubuh tegapnya.

"Kapten Gara, sampaikan pada sopir SUV hitam untuk mengambil lajur paling kiri dan jangan kurangi kecepatan saat mendekati gerbang tol," balas Zayyad, suaranya terdengar berat dan penuh perhitungan taktis. "Saya akan menggerakkan tiga armada kontainer hulu yang saat ini sedang mengantre muatan di dekat gerbang keluar pelabuhan timur. Kita akan membuat barikade mati."

Davika yang berdiri di samping motor balap Mas Gara langsung menoleh, mata *green-gray* langka miliknya berbinar penuh antusiasme yang *random*. "Wih, mainnya pakai truk transformer nih, Gus? Davik ikut nonton dong!"

"Kamu tetap di dalam gudang, Davika. Jangan keluar satu inci pun sampai situasi aman," potong Zayyad tegas, memberikan tatapan mata yang tidak menerima bantahan sedikit pun kepada gadis ceriwis itu.

Zayyad beralih menekan tombol pada jam tangan pintar taktis miliknya, mengaktifkan frekuensi radio internal logistik Al-Anwar. "Unit satu, dua, dan tiga di gerbang tol utara-timur. Ini Zayyad. Lakukan manuver penutupan lajur *Alpha* sekarang. Tahan dua SUV putih tanpa plat nomor yang mencoba mengejar aset utama kita. Gunakan bodi kontainer kosong untuk mengunci jalur."

*"Dimengerti, Gus. Unit bergerak,"* sahut sebuah suara serak dari seberang radio.

Di layar monitor gudang, tiga titik biru berukuran besar yang merepresentasikan truk kontainer milik perusahaan Zayyad, terlihat mulai bergeser dari area parkir hulu, bergerak perlahan namun pasti membentuk formasi barikade horizontal tepat di depan lampu merah gerbang tol.

...----------------...

*Ckiiiiiit! Blarrr!*

Suara gesekan ban mobil dengan pembatas jalan tol menggema memecah malam yang kian larut. SUV hitam yang membawa Nara kini benar-benar terdesak. Salah satu SUV putih pengejar sengaja menghantam bagian bumper belakang, mencoba membuat mobil kehilangan kendali di atas aspal yang basah.

Di dalam kabin, Nara mencengkeram sabuk pengamannya erat-erat, matanya terpejam kuat sembari merapikan khimar abu-abunya yang berantakan akibat guncangan. Di sampingnya, Bapak Handoko terus mendekap bahu putrinya, wajah tuanya tampak tegang namun sorot matanya memancarkan kepasrahan seorang ayah yang siap melindunginya hingga titik darah terakhir.

"Mbak Nara, Pak, pegangan! Di depan gerbang tol!" teriak sang sopir logistik.

Begitu SUV hitam melesat keluar dari palang gerbang tol otomatis dengan kecepatan tinggi, dua SUV putih di belakangnya bersiap melakukan akselerasi akhir untuk memotong jalan. Namun, skenario yang disusun oleh Gus Zayyad dan Kapten Sagara dari dua benua berbeda berjalan dengan presisi yang mengerikan.

Dari arah lajur kiri dan kanan jalan arteri pelabuhan, tiga truk kontainer raksasa berbobot belasan ton meluncur masuk secara bersamaan. Dengan manuver yang sangat rapi dan terlatih, ketiga truk tersebut sengaja membanting setir secara horizontal, menutup seluruh sisa lebar jalan arteri dan menciptakan dinding baja setinggi empat meter yang mustahil ditembus.

*Brakkk!*

SUV putih yang memimpin pengejaran tidak sempat menginjak rem dengan sempurna. Moncong mobilnya menghantam bodi baja kontainer nomor dua dengan keras, memercikkan serpihan kaca depan dan menghancurkan kap mesin hingga mengeluarkan asap tebal. Sementara SUV putih satunya lagi terpaksa berputar seratus delapan puluh derajat di atas aspal demi menghindari benturan maut, terperangkap total di dalam ruang sempit di antara ban-ban raksasa armada logistik Al-Anwar.

Sopir SUV hitam yang membawa Nara memanfaatkan momentum emas itu untuk melesat lolos melalui celah kecil di lajur darurat yang sengaja disisakan oleh truk kontainer pertama, membawa pergi dokumen sengketa aset yayasan dua puluh tahun lalu itu menjauh dari cengkeraman Kamil.

Di dalam mobil jemputan kru di Shanghai, Kapten Sagara melihat satu titik merah di tablet taktisnya berhasil keluar dari zona bahaya, sementara dua titik kuning terkunci mati di tempat. Gara menarik sudut bibirnya tipis, lalu menatap lurus ke arah jalanan malam Shanghai yang basah.

"Satu bidak tumbang, Kamil," bisik Gara dingin, suaranya sarat akan ancaman yang kian nyata. Pernikahan adiknya mungkin penuh intrik masa lalu, tetapi selama sang pelindung utama keluarga Mwohan masih bernapas, tidak akan ada satu pun badai yang dibiarkan meruntuhkan atap rumah mereka.

1
Sriati Rahmawati
maaf Thor buku biologi bukan kitab
selalu bilangnya kitab😄😄😄
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
Manman
it so good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!