Zivanna gadis 24 tahun yang sudah lulus kedokteran, praktek di rumah sakit besar menjadi Dokter muda. Menjadi seorang Dokter tidaklah mudah meski sudah berusaha keras. Zivanna mengalami kesulitan dan bahkan segala usahanya selalu tidak pernah terlihat.
Zivanna selalu menjadi bulan-bulanan orang-orang yang bertugas di rumah sakit, dianggap sepele bahkan dia Dokter yang lulus karena uang. Zivanna kerap kali dimarahi senior di depan banyak orang.
Dibalik semua itu tidak ada yang tahu bahwa dirinya adalah putri dari pemilik rumah sakit terbesar di Jakarta tempatnya bertugas.
Bukan hanya itu statusnya sebagai istri tersembunyi yang tidak ada mengetahui bahwa dia adalah istri Dokter senior yang bersikap dingin selama di rumah sakit kepadanya.
Pernikahan Zivanna dengan Dokter Pradikta penuh cerita dalam keterpaksaan pernikahan itu terjadi. Lalu bagaimana keduanya menghadapi pernikahan mereka dengan dunia pekerjaan dan juga rumah tangga mereka.
Jangan lupa untuk terus membaca....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25 Sabotase.
Rumah Sakit.
Dikta sangat sibuk duduk di mejanya dengan membolak-balikkan dokumen.
Tok-tok-tok.
"Masuk....." jawabnya ketika pintu itu diketuk dan tidak lama langsung dibuka.
Dokter Rania berjalan menghampiri Dikta.
"Dokter memanggil saya?" tanya Rania.
"Benar!" jawab Dikta.
"Ada apa Dokter?" tanya Rania.
Dikta memberikan dokumen dengan beberapa lembar kepada Rania. Rania kebingungan mengambil dokumen tersebut.
"Kamu sudah lebih dari 5 tahun berada di rumah sakit ini, memiliki pengalaman yang banyak untuk menjadi seorang Dokter, baik di rumah sakit ini dan di rumah sakit sebelumnya, catatan kamu di rumah sakit sebelumnya sangat baik dan juga berkembang di rumah sakit ini, tetapi kenapa sangat ceroboh menyampaikan terjadinya kematian salah satu pasien kepada keluarga pasien catatan yang salah," ucap Dikta membuat Rania sedikit panik dan membolak-balikkan dokumen tersebut.
"Bagaimana mungkin kamu menyatakan kepada pasien anak kecil yang mengalami kecelakaan itu, kehilangan nyawanya hanya karena obat antibiotik yang telah disuntikkan," lanjut Dikta.
"Rania, Dokter Zivanna menyuntikkan antibiotik kepada anak itu sudah sangat tepat, bahkan menyuntikkan 4 jam sebelum kematiannya, dan bukankah kamu yang menanganinya setelah dia mengalami penurunan pada kesehatannya," lanjut Dikta.
"Ma-maksud Dokter bagaimana?" tanyanya semakin panik.
"Saya masih menunggu hasil tes terakhir dari pasien, dan hal itu baru bisa saya jawab sebenarnya penyebab kematian pasien!" tegas Dikta.
Rania kesulitan menelan ludah, wajahnya yang selalu memperlihatkan keangkuhan ternyata bisa juga panik, takut dan bahkan wajah itu sampai memerah.
"Kamu pelajari kembali hasil medis yang telah saya berikan kepada kamu, dicerna kesalahan kamu, silakan keluar dari ruangan saya!" ucap Dikta tidak basa-basi.
Rania mengangguk-anggukkan kepala dan kemudian langsung pergi.
Rania yang berdiri di depan ruangan Dokter Dikta terlihat panik.
"Bagaimana ini? Kenapa juga Dokter Dikta harus melakukan tes ulang atas kematian pasien itu, bukankah selama ini dia tidak pernah melakukan hal yang membuang waktu seperti itu," ucap Rania dengan ketakutan.
*****
Desa ujung perbatasan.
Zivanna bersama dengan rombongannya dan termasuk temannya Sherina akhirnya sudah sampai di lapangan di mana turunnya helikopter mereka.
Dengan satu koper ditangannya, diiringi suara helikopter yang kembali naik ke udara. Hijabnya menari-nari karena kencangnya angin tiupan helikopter tersebut, sementara rekan-rekannya yang tidak memakai hijab rambutnya juga menari-nari dengan mata mereka melihat ke arah langit bagaimana helikopter itu semakin jauh terbang meninggalkan lokasi tersebut.
Suaranya juga semakin pelan, sampai akhirnya kesunyian kembali muncul dengan angin yang sudah tidak tertiup lagi.
"Huhhhh, akhirnya kita sampai juga," ucap Sherina menghela nafas.
"Cukup panjang perjalanan kita, selama berada di dalam helikopter aku hanya tertidur saja," sahut Rio salah satu Dokter pria yang bertubuh gendut yang hidup bersama mereka.
"Lagi dan lagi dia berhasil menempatkanku di tempat ini, membuangku benar-benar jauh, aku bahkan tidak bisa berada di rumahku sendiri, tidak bisa melanjutkan karirku di rumah sakit orang tuaku, aku tidak bisa melakukan apa yang aku suka dan laki-laki itu menjadi pemenangnya," batin Zivanna tidak menyangka jika dirinya akhirnya berada dalam situasi yang telah dihindari.
"Zivanna kamu baik-baik saja?" tanya Sherina sejak tadi memperhatikan temannya itu tampak murung.
"Iya. Aku baik-baik saja," jawab Zivanna mencoba untuk tersenyum seakan-akan tidak terjadi apapun.
"Baiklah, sebentar lagi kita akan menunggu jemputan, saya berpesan kepada semua dokter dan perawat yang ikut dalam melaksanakan tugas ini harus selalu kompak dan melaksanakan tugas dengan hati yang tulus, pasti banyak sekali hal yang kita alami di tempat ini, hal yang tidak biasa dalam kehidupan kita sehari-hari, tetapi percayalah semua itu akan menjadi pengalaman yang sangat berharga," ucap Dokter Irfan, Dokter senior berkacamata sekitar berusia 50 tahunan yang mendampingi Dokter-Dokter muda tersebut.
"Saya sangat berharap kita bisa menyelesaikan tugas ini dengan baik dan saya berharap kerjasama kalian semua!" lanjut Dokter Irfan.
"Baik Dokter," sahut semuanya dengan serentak.
Tidak lama akhirnya jemputan mereka datang juga, sebuah bus berwarna putih yang membawa dokter-dokter tersebut menuju pemukiman warga.
Perjalanan dari lapangan itu ternyata cukup jauh, setelah melewati perjalanan kurang lebih 4 jam dan akhirnya mereka tiba di pemukiman warga dengan jalanan yang tidak rata, bebatuan yang diinjakkan ban mobil tersebut membuat mereka berada di dalam bus tanpa goyang-goyang.
Zivanna membuka kaca bus tersebut dan melihat bagaimana warga-warga berkeluaran dari rumah mereka masing-masing seperti menyambut kedatangan hal yang sangat penting bagi mereka.
Desa ujung perbatasan memang memiliki kekurangan dalam bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan dan bahkan jauh dari hidup modern.
Rumah-rumah yang ada di sana sebagian masih terbuat dari kayu, rumah sakit kecil di tempat itu juga hanya terbuat dari kayu dengan fasilitas yang pasti kurang memadai.
Tetapi ada bangunan rumah sakit yang saat ini masih dalam tahap pembangunan tak lain adalah rumah sakit orang tua Zivanna.
Bangunan itu cukup mewah dan mungkin setelah sudah berdiri kokoh, mungkin ada sedikit kemajuan di desa tersebut agar orang-orang di sana berobat bisa dengan layak.
Zivanna hanya menghela nafas, dia belum bisa membayangkan bagaimana kehidupannya untuk beberapa bulan ke depan saat berada di desa tersebut, pasti banyak sekali hal baru yang akan dia dapatkan dan butuh penyesuaian di tempat itu.
Akhirnya bus itu berhenti, banyak anak-anak yang mengerumuni bus tersebut, rasa penasaran mereka benar-benar muncul, satu Dokter keluar dari bus tersebut dengan mandiri membawa koper mereka masing-masing.
Terlihat Dokter senior tersebut menyapa salah satu warga desa yang mungkin kepala desa tersebut, mereka menyambut orang-orang dari kota itu dengan baik, terlihat berbincang-bincang dan sementara beberapa perawat mulai menyapa anak-anak kecil. Anak-anak itu benar-benar sangat excited.
Zivanna masih tetap saja murung, tidak seperti rekan-rekannya yang sudah mulai berbaur, dia tetap saja melamun dan merasa tidak harus berada di tempat itu.
Sampai akhirnya Zivanna dan rekan-rekannya mulai mendirikan posko tempat mereka untuk beristirahat. Zivanna bersama rekan-rekannya juga harus mandiri, tanpa disiapkan oleh warga desa dan ketika sampai di desa tersebut hanya tinggal istirahat saja.
Tidak hanya Dokter relawan, di desa tersebut juga ada tentara yang bertugas dan membantu mereka untuk mendirikan posko tersebut.
Zivanna tetap tidak menyukai tempat itu, raut wajahnya sudah menggambarkan bahwa dia tidak seharusnya berada di tempat itu dan orang yang sangat pantas disalahkan adalah Dikta, lagi dan lagi menganggap bahwa Dikta adalah pria yang jahat yang telah menghancurkan semua impian dan merebut semua apa yang telah dia miliki.
Zivanna harus mulai berdamai dengan keadaan, meski marah dan kesel, tetapi saat ini dia sudah berada di tempat itu dan tidak ada yang bisa yang dia lakukan selain menerima semuanya.
Entahlah sampai kapan dia harus menjadi penurut, melakukan semua yang tidak dia inginkan, karena sekeras apapun dia protes dan tetap saja Dikta tidak akan mengubah keputusannya dan lebih parah lagi orang tuanya selalu berpihak kepada Dikta.
Lagi-lagi, Zivanna hanya membuang nafas berat ke depan, melihat di sekitarnya, rekan-rekannya tampak semangat menjalani tugas mulia tersebut.
Bersambung....