Di dunia tempat takdir manusia tercatat dalam sebuah Arsip, seorang pemuda terbangun tanpa data apa pun tentang dirinya.
Saat rahasia dunia mulai terbuka, ia menjadi satu-satunya orang yang tidak seharusnya ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 — Gerbang Kawasan Bayang
Bab 4 — Gerbang Kawasan Bayang
Langkah Ren terasa berat, bukan hanya karena lelah, tapi karena rasa bersalah yang terus menggerogoti. Di belakangnya, suara benturan keras dan retakan es makin menjauh, tertutup oleh lengkingan alarm serta deru mesin Penjaga Arsip yang mengejar. Namun Ren tidak berani menoleh lagi. Ia tahu, jika ia berhenti, pengorbanan Anya akan sia-sia.
Kai berlari di depannya, napasnya juga memburu. Cahaya biru dari layar di lengannya kini redup, seolah alat itu kehabisan tenaga akibat terus-menerus meretas jalur komunikasi musuh.
"Tahan... sedikit lagi..." napas Kai terdengar tersendat, suaranya parau. "Kita hampir sampai."
Lorong sempit itu berakhir mendadak di sebuah dinding beton tebal yang tampak kokoh dan tua. Tidak ada jalan lain, tidak ada celah. Hanya permukaan rata yang tertutup lumut hitam dan debu tebal.
Ren berhenti, matanya membelalak kaget. Ia menoleh ke Kai.
"Kau bawa kami ke jalan buntu?!" serunya berbisik, campuran marah dan panik mulai menyelinap masuk. Suara langkah berat musuh mulai terdengar lagi, makin dekat, makin jelas.
Kai justru tersenyum tipis, meski wajahnya pucat pasi. Ia berlutut, jari-jarinya yang gemetar menyentuh permukaan dinding itu, meraba-raba pola retakan yang tidak terlihat mata biasa.
"Jalan buntu bagi mereka yang percaya pada peta dan data... tapi bukan bagi kami," bisiknya.
Dengan gerakan cepat, Kai menekan urutan tertentu pada celah-celah dinding itu. Terdengar bunyi mekanik rendah, berat, dan perlahan... dinding raksasa itu bergeser ke samping, menciptakan celah gelap yang cukup bagi satu orang untuk lewat.
"Masuk! Cepat!" perintah Kai.
Ren melompat masuk diikuti Kai tepat saat di tikungan belakang, cahaya putih menyilaukan muncul kembali. Sesaat setelah mereka masuk, dinding itu tertutup rapat kembali, meninggalkan kegelapan pekat yang seolah menelan segalanya.
Hening.
Hanya terdengar suara napas mereka berdua yang berat dan teratur. Udara di sini jauh lebih sejuk, berbau tanah basah, besi tua, dan sesuatu yang samar... seperti bau pembakaran serta logam cair.
Kai kembali menyalakan layar kecil di tangannya, kali ini cahayanya berubah menjadi warna keemasan lembut, menerangi ruangan sempit tempat mereka berdiri.
Ren mengamati sekeliling. Dinding-dindingnya bukan lagi beton polos, melainkan tertutup coretan, lukisan kuno, dan kabel-kabel yang disambungkan secara sembarangan. Ada lampu-lampu tua yang berkedip-kedip dengan cahaya redup, menggantung di langit-langit rendah.
"Di mana kita?" tanya Ren pelan, matanya menangkap bayangan-bayangan bergerak di kejauhan, samar namun nyata.
"Di perbatasan," jawab Kai sambil berjalan maju, menuntun Ren melewati lorong batu yang semakin melebar. "Di bawah kaki Elarion, jauh di bawah fondasi gedung-gedung megah itu... ada kota lain. Kota yang tidak tercatat, tidak diakui, tapi tetap hidup dan bernapas. Inilah Kawasan Bayang."
Semakin jauh mereka melangkah, pemandangan di depan makin terbuka.
Ren tertegun.
Di hadapannya terbentang hamparan pemukiman yang aneh namun hidup. Bangunan-bangunan disusun bertingkat-tingkat dari besi bekas, kayu tua, dan sisa-sisa teknologi yang dibuang dari atas. Jalanannya sempit, berkelok, penuh orang-orang yang berlalu-lalang. Mereka berpakaian beraneka ragam, ada yang memakai baju sederhana, ada pula yang mengenakan peralatan teknologi buatan sendiri yang aneh dan rumit.
Di sini tidak ada layar hologram besar yang menampilkan data identitas. Tidak ada cahaya ungu yang mengawasi. Yang ada hanyalah ribuan lampu kecil berwarna keemasan, kuning, dan merah menyala seperti bintang-bintang di dasar bumi. Suara hiruk-pikuk percakapan, bunyi palu memukul besi, dan musik sederhana bercampur menjadi satu irama kehidupan yang kacau namun merdeka.
"Ini... luar biasa," gumam Ren takjub. Selama ini ia pikir di bawah sana hanya ada saluran air dan pipa-pipa mati. Ia tidak pernah membayangkan ada tempat sebesar ini, sekota tersendiri yang tumbuh dan berkembang jauh dari pengetahuan warga Elarion.
"Di sini, tidak ada yang bertanya siapa namamu, berapa umurmu, atau apa takdirmu," kata Kai pelan, nada suaranya berubah lembut, bangga. "Selama kau bisa bertahan dan berguna... kau diterima. Di sinilah berkumpul orang-orang yang tersisih, orang-orang yang mulai meragukan kebenaran Archive, atau orang-orang yang datanya... tiba-tiba hilang."
Kai menoleh, menatap Ren dengan tatapan tajam namun bersahabat.
"Seperti dirimu."
Ren menunduk, memegang lengan kirinya. Di bawah jaket lusuhnya, simbol ungu itu kembali berdenyut pelan, hangat, seolah tempat ini mengenali keberadaannya.
"Tapi... aman kah kita di sini? Apakah Menara Zenith tidak bisa masuk?" tanya Ren.
Kai menggeleng sambil berjalan menuju jembatan gantung yang menghubungkan dua blok bangunan.
"Archive bekerja dengan sinyal, dengan jaringan data yang terhubung ke setiap sudut kota. Tapi Kawasan Bayang dibangun di atas lapisan logam padat dan batu yang memblokir segala jenis gelombang. Di sini, sistem mereka buta. Mereka bisa mengebom tempat ini sampai rata ke tanah... tapi mereka tidak pernah tahu di mana letak persisnya, dan apa yang ada di dalamnya."
Mereka berjalan melewati pasar kecil yang ramai. Penduduk setempat melirik mereka sekilas, terutama pada Ren — mungkin karena wajahnya asing, atau mungkin karena mereka bisa merasakan aura berbeda yang dibawa pemuda itu. Namun tidak ada yang bertanya, tidak ada yang menghalangi. Kehidupan di sini berjalan dengan aturannya sendiri.
"Terus kita mau ke mana sekarang?" tanya Ren, mengikuti langkah Kai menuju bangunan tertinggi di kawasan itu, sebuah menara tua yang dibangun dari besi sisa rel kereta dan pipa raksasa.
"Menemukan pemimpin kami," jawab Kai, nada suaranya kembali serius. "Dia orang pertama yang menduga keberadaan Archive Zero. Dia yang mengirim kami — aku dan Anya — untuk mencarimu di distrik bawah. Dia yang paling paham tentang sejarah lama, tentang asal-usul Archive, dan tentang... apa yang sebenarnya tersimpan di dalam darahmu, Ren."
Jantung Ren berdebar kencang. Darahku?
Selama ini ia hanya mengira simbol itu hanyalah kesalahan sistem, atau semacam penyakit aneh. Tapi mendengar kata-kata Kai, ada sesuatu yang bangkit di dalam dirinya. Sesuatu yang mengatakan bahwa semua ini memang sudah ditakdirkan, bukan sekadar kebetulan.
Sesampainya di depan pintu besar menara tua itu, dua orang penjaga berdiri tegak. Mereka tidak membawa senjata canggih seperti Penjaga Arsip, melainkan pedang dari logam hitam dan senapan buatan sendiri. Namun tatapan mereka tajam, penuh kewaspadaan.
"Kai," sapa salah satu penjaga itu, suara berat dan rendah. "Kau kembali sendirian? Di mana gadis es itu?"
Wajah Kai muram seketika. Ia menggeleng pelan.
"Dia menahan mereka di terowongan. Kami harus terus bergerak. Aku bawa dia," Kai menunjuk ke arah Ren. "Archive Zero sudah ada di sini."
Kedua penjaga itu menatap Ren lekat-lekat. Mata mereka melebar, takjub dan sedikit takut saat mereka melihat samar cahaya ungu yang menyelinap keluar dari sela-sela jari tangan Ren yang mengepal.
Pintu besar itu terbuka perlahan, berderit keras menembus keheningan sejenak.
"Masuk," ucap penjaga itu dengan nada hormat bercampur rasa takjub. "Tuan Menanti."
Ren melangkah masuk diikuti Kai. Di dalam, ruangan itu luas namun remang-remang. Di tengah ruangan, dikelilingi oleh ribuan buku tua, peta kuno, dan layar-layar yang menampilkan data-data kacau dari permukaan kota... duduk seorang sosok di kursi besar yang terbuat dari besi dan kayu.
Sosok itu membelakangi mereka, menatap sebuah kaca jendela kasar yang menghadap ke arah langit-langit bawah tanah.
"Jadi kau akhirnya datang..."
Suara itu terdengar tua, serak, namun penuh wibawa. Suara yang seolah telah mendengar dan melihat segalanya selama berabad-abad.
Sosok itu berputar perlahan.
Ren menahan napas.
Di depannya, duduk seorang wanita tua dengan rambut putih panjang terurai, wajahnya penuh keriput namun matanya masih tajam bagai elang. Di tangannya, ia memegang sebuah benda kuno berbentuk kunci besar dengan ukiran pola yang sangat dikenal Ren.
Pola yang sama persis dengan simbol ungu di tangannya.
Wanita itu tersenyum tipis, matanya berkilat penuh pengetahuan yang mendalam.
"Aku sudah menunggumu sejak lama, Ren. Anak dari rahasia terbesar Elarion."
Ia menunjuk ke arah kursi di depannya.
"Duduk. Karena mulai detik ini, kau akan mengetahui kebenaran yang selama ini dikubur rapat-rapat oleh sistem Archive... kebenaran yang akan membuatmu mempertaruhkan nyawamu, dan nyawa seluruh penduduk kota ini."
Ren melangkah maju perlahan. Rasa takut, penasaran, dan tekad bercampur menjadi satu. Di luar sana, Anya sedang berjuang, Menara Zenith sedang mencari, dan hitungan mundur itu terus berjalan.
Ia duduk, menatap tajam ke arah wanita tua itu.
"Katakan saja," ucap Ren tegas, suaranya tenang namun bergetar karena emosi yang tertahan. "Siapa aku sebenarnya? Dan apa yang harus aku lakukan untuk menghentikan semua ini?"
Wanita tua itu meletakkan kunci besar itu di meja, bunyinya bergema berat di ruangan sunyi.
Ia menunjuk ke arah langit-langit, ke atas sana, tempat Menara Zenith bersinar ungu angkuh.
"Cerita ini dimulai seribu tahun yang lalu... saat dunia hampir hancur, dan manusia membangun penjara terindah yang pernah ada... dengan sebutan Archive."
Dan di ruangan remang itu, di dasar bumi yang terlupakan... Ren mulai mendengarkan kisah yang akan mengubah seluruh pandangannya tentang hidup, dunia, dan dirinya sendiri.
Di luar jendela kecil, jauh di kejauhan, samar-samar terdengar suara ledakan. Tanda bahwa perang baru saja dimulai.
jangan lupa berkunjung ke novelku mas judulnya "Ovrien"