NovelToon NovelToon
Terperangkap Dalam Permainannya

Terperangkap Dalam Permainannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:108
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di malam hujan yang seharusnya biasa saja, hidup Nayra berubah total setelah ia menerima undangan misterius dari aplikasi bernama “The Game Master.” Awalnya hanya permainan tantangan sederhana berhadiah uang. Namun, setiap level yang berhasil diselesaikan justru menyeretnya semakin dalam ke permainan berbahaya yang tak bisa dihentikan.
Aturannya hanya satu: jangan pernah melanggar perintah permainan.Di tengah usahanya mencari jalan keluar, Nayra bertemu dengan Zavian, pria dingin dan penuh teka-teki yang seolah mengetahui lebih banyak tentang permainan itu. Tapi semakin dekat mereka, semakin Nayra curiga bahwa Zavian mungkin bukan korban… melainkan bagian dari permainan itu sendiri.
Ketika cinta, pengkhianatan, dan kematian mulai bercampur dalam satu arena mematikan, Nayra harus memilih: mempercayai hatinya atau bertahan hidup.
Karena di permainan ini, tidak semua orang bisa keluar hidup-hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 — Yang Mereka Sembunyikan

Hening di tangga darurat itu terasa lebih menakutkan daripada teriakan tadi.

Nayra berdiri membeku.

Napasnya tidak beraturan.

Tangannya masih gemetar saat matanya terus menatap foto kecil di tangan Zavian.

Foto dirinya.

Diambil diam-diam.

Dari kejauhan.

Seolah seseorang sudah lama mengawasinya sebelum game ini dimulai.

“Aku… nggak ngerti…” suara Nayra hampir tidak keluar. “Ini kapan diambil?”

Zavian tidak langsung menjawab.

Matanya masih fokus ke bawah tangga.

Ke arah Hunter yang tadi mengejar mereka.

Tapi sekarang… tidak ada suara.

Tidak ada langkah.

Tidak ada napas.

Seolah orang itu sengaja berhenti.

Menunggu.

“Aku nemu ini di file lama,” kata Zavian akhirnya. “Sebelum Level 2 dimulai.”

Nayra menatapnya.

“File siapa?”

Zavian menghela napas pelan.

“Server mereka.”

Kalimat itu bikin kepala Nayra langsung kosong sesaat.

“Server… mereka?”

“Game ini bukan aplikasi biasa, Nayra.”

Suara Zavian lebih pelan sekarang.

“Terlalu rapi. Terlalu terstruktur. Terlalu… hidup.”

Nayra menggenggam railing tangga.

“Jadi aku ini apa? Kenapa aku yang jadi Target?”

Zavian menatapnya lama.

Dan untuk pertama kalinya… ada keraguan di wajahnya.

“Aku belum tahu.”

Jawaban itu lebih jujur dari yang diharapkan Nayra.

Dan lebih menyakitkan.

Dari bawah tangga, suara perlahan muncul lagi.

Tap…

Tap…

Tap…

Langkah pelan.

Tapi pasti.

Hunter itu mulai naik.

Nayra langsung mundur setengah langkah.

“Dia datang lagi…”

Zavian menarik lengannya.

“Ke atas.”

“Ke mana?!”

“Apa aja, asal keluar dari sini.”

Mereka langsung berlari naik.

Tangga itu panjang dan berputar.

Gelap.

Cuma lampu darurat merah yang berkedip seperti denyut jantung.

Di belakang mereka, Hunter mengikuti tanpa terburu-buru.

Seolah sudah yakin akan menang.

Di lantai atas, pintu besi akhirnya terbuka.

Zavian mendorongnya keras.

DUAK!

Mereka masuk ke ruangan besar seperti aula tua.

Debu bertebaran.

Jendela-jendela tinggi retak sebagian.

Dan di tengah ruangan…

terdapat layar besar lagi.

Nayra langsung berhenti.

“Kenapa selalu layar…”

Zavian menutup pintu cepat di belakang mereka.

Klik.

Terkunci lagi.

“Tentu saja,” gumamnya.

Nayra menoleh.

“Kita dikunci lagi?!”

“Ini Level 2.”

“Ini Level 2 gila!”

Zavian tidak membantah.

Karena memang begitu.

Layar di depan mereka menyala.

Kali ini bukan tulisan.

Tapi video.

Rekaman.

Dan yang muncul di sana membuat tubuh Nayra langsung dingin.

Dirinya.

Nayra yang sedang duduk di kontrakan.

Nayra yang sedang minum kopi.

Nayra yang sedang membuka laptop.

Semua terekam.

Semua detail.

Bahkan sudut kamar yang tidak pernah ia sadari.

Nayra langsung mundur.

“Ini… ini rumahku…”

Zavian menatap layar dengan rahang mengeras.

“Mereka sudah lama mengakses hidupmu.”

Nayra menutup mulutnya.

“Jadi ini bukan baru dimulai kemarin?”

Zavian menggeleng kecil.

“Tidak.”

Video di layar berubah.

Sekarang menampilkan seseorang.

Pria.

Memakai jas hitam.

Wajahnya tidak terlihat jelas.

Tapi suaranya terdengar.

“Subjek 07 menunjukkan respons stabil.”

Nayra langsung merinding.

“Subjek…?”

Zavian menatap layar lebih tajam.

“Itu bukan nama pemain.”

Pria di video melanjutkan.

“Target sudah siap untuk fase berikutnya.”

Nayra menoleh cepat ke Zavian.

“Aku… memang target dari awal?”

Zavian tidak langsung menjawab.

Dan itu sudah cukup jadi jawaban.

Suara keras tiba-tiba terdengar dari pintu belakang.

BRAK!

Hunter sudah sampai.

Nayra langsung panik.

“Dia di sini!”

Zavian bergerak cepat.

“Jangan lihat layar. Fokus.”

“Tapi ini tentang aku!”

“Dan kamu masih hidup. Itu yang penting.”

Jawaban itu dingin.

Tapi entah kenapa… bikin Nayra sedikit tenang.

Sedikit.

BRAK!

Pintu besi di belakang mulai penyok.

Hunter mencoba masuk.

Nayra mundur ke tengah ruangan.

“Apa yang harus kita lakukan?!”

Zavian melihat sekeliling.

Lalu matanya berhenti di ventilasi besar di atas.

“Naik.”

“Hah?!”

“Sekarang.”

Tanpa menunggu, Zavian menarik kursi lalu memanjat.

Nayra ikut.

Tangannya gemetar saat naik.

Di bawah, suara pintu makin rusak.

BRAK!

BRAK!

Hunter tidak berhenti.

Saat Zavian berhasil membuka ventilasi, suara di bawah berubah.

Sunyi.

Terlalu sunyi.

Nayra berhenti.

“Dia berhenti?”

Zavian menatap ke bawah.

“Tidak.”

Dan benar saja.

Detik berikutnya…

lampu di ruangan mati total.

Gelap.

Nayra langsung panik.

“Aku nggak bisa lihat apa-apa!”

“Jangan bergerak,” suara Zavian pelan.

Tapi sudah terlambat.

Sesuatu bergerak di bawah.

Cepat.

Sangat cepat.

DUAK!

Suara benturan keras dari bawah.

Nayra menahan napas.

“Apa itu…”

Zavian menunduk sedikit.

“Dia tahu kita di atas.”

Nayra langsung gemetar.

“Gimana dia tahu?!”

“Hunter di Level 2 bukan cuma manusia.”

Kalimat itu membuat Nayra langsung menoleh.

“Apa maksudmu?!”

Zavian belum sempat menjawab…

sesuatu tiba-tiba menabrak lantai di bawah mereka.

DUARR!

Debu naik.

Dan dari celah lantai…

sepasang tangan muncul.

Mencengkeram.

Nayra langsung menjerit kecil.

“Itu dia!”

Zavian menarik Nayra.

“Naik sekarang!”

Mereka merangkak masuk ke ventilasi.

Ventilasi itu sempit.

Gelap.

Dan berdebu.

Mereka merangkak cepat.

Di belakang, suara Hunter mulai masuk ke ruangan.

Nayra hampir tidak bisa bernapas.

“Aku nggak kuat…”

“Bertahan.”

“Aku takut gelap!”

“Bagus. Jangan berhenti.”

Jawaban Zavian terdengar dingin.

Tapi stabil.

Nayra mengikuti di belakangnya.

Tangannya kotor.

Debu masuk ke hidung.

Tapi dia tidak berhenti.

Tiba-tiba—

suara berhenti.

Hening.

Nayra langsung menahan napas.

“Kenapa dia diam?”

Zavian berhenti.

Mendengarkan.

Lalu berkata pelan,

“Dia nggak lagi ngejar kita.”

“Hah?”

Zavian menoleh sedikit.

“Dia menunggu.”

Nayra langsung merinding.

“Menunggu apa?”

Zavian tidak menjawab.

Karena di depan mereka…

ventilasi terbuka ke ruangan lain.

Dan di sana…

terdapat puluhan layar kecil.

Semua menampilkan wajah Nayra.

Dari berbagai sudut.

Rumah.

Jalan.

Sekolah.

Kontrakan.

Semua hidupnya.

Semua terekam.

Nayra langsung lemas.

“Aku… selama ini diawasi sebanyak ini?”

Zavian menatap layar-layar itu.

“Ini bukan cuma game.”

Nayra menoleh.

“Apa lagi?”

Zavian mengucapkan satu kalimat pelan.

“Ini eksperimen.”

BRAK!

Suara dari belakang membuat mereka tersentak.

Ventilasi retak.

Hunter muncul lagi.

Nayra langsung mundur.

“Dia nggak bisa dihentikan?!”

Zavian melihat sekitar cepat.

Lalu matanya berhenti pada panel listrik kecil.

“Kalau ini eksperimen…”

Dia berjalan mendekat.

“…berarti ada kontrol utama.”

Nayra tidak mengerti.

“Tunggu—kamu mau ngapain?!”

Zavian membuka panel itu.

Dan di dalamnya…

ada kabel-kabel yang menyala merah.

Seperti nadi.

“Kalau kita matikan ini,” kata Zavian pelan, “game-nya bisa terganggu.”

Nayra langsung panik.

“Kalau salah gimana?!”

“Kalau benar, kita keluar.”

“Kalau salah?!”

Zavian menatapnya sebentar.

“Hunter masuk.”

Nayra langsung diam.

Itu bukan pilihan.

Itu ancaman.

BRAK!

Ventilasi akhirnya jebol.

Hunter muncul.

Tapi Zavian sudah siap.

Tangannya menyentuh kabel utama.

“Maaf,” katanya pelan.

Lalu—

ZAAAP!

Satu ledakan kecil menyala.

Seluruh ruangan gelap total.

Nayra menjerit.

“ZAVIAN!”

Hening.

Gelap.

Tidak ada suara.

Tidak ada Hunter.

Tidak ada layar.

Nayra terduduk di lantai.

Tangannya gemetar hebat.

“Zavian…?”

Tidak ada jawaban.

“ZAVIAN?!”

Masih hening.

Lalu…

perlahan…

lampu darurat menyala kembali.

Merah.

Dan di depannya…

Zavian berdiri.

Masih hidup.

Tapi wajahnya berbeda.

Lebih serius.

Lebih dingin.

Dan di tangannya…

ada chip kecil berwarna hitam.

“Ini yang mereka sembunyikan,” katanya pelan.

Nayra menatapnya.

“Itu apa?”

Zavian mengangkat chip itu.

“Kontrol utama Level 2.”

Nayra langsung lemas.

“Jadi…”

Zavian menatapnya.

“…kita baru saja membuka sesuatu yang lebih besar.”

Dan dari bawah gedung…

suara sistem kembali menyala.

Sebuah suara baru terdengar.

Lebih dalam.

Lebih berat.

“PROTOKOL AKTIVASI DIMULAI.”

Nayra langsung membeku.

Zavian menatap chip di tangannya.

Untuk pertama kalinya…

dia terlihat tidak yakin.

“Sepertinya kita baru saja membuat mereka marah.”

Dan di kejauhan…

sirine mulai berbunyi.

Bukan sirine polisi.

Tapi sesuatu yang jauh lebih terorganisir.

Lebih dingin.

Seolah seluruh sistem permainan baru saja bangun.

Dan sekarang…

mereka sudah menjadi bagian dari sesuatu yang tidak bisa dihentikan lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!