NovelToon NovelToon
Masa Depan Menantimu

Masa Depan Menantimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Anak Genius
Popularitas:171
Nilai: 5
Nama Author: sat*dya

seseorang yang ingin mengubah hidup nya dan ia bekerja keras demi itu semua

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sat*dya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langit Neo Jakarta

Langit Neo Jakarta selalu tampak berbeda setiap pagi. Cahaya matahari yang menembus kubah transparan kota memantulkan warna biru keunguan di antara gedung-gedung tinggi yang menjulang seperti menara tanpa ujung. Drone pengantar paket beterbangan di udara, mobil magnetik meluncur tanpa suara di jalur melayang, dan layar hologram raksasa memenuhi sudut kota dengan iklan teknologi terbaru.

Namun bagi Alya, semua kemewahan itu hanya bisa dipandang dari kejauhan.

Ia berdiri di atas atap rumah kecilnya di kawasan pinggiran sektor timur Neo Jakarta. Angin pagi meniup rambut hitam panjangnya yang diikat sederhana. Di tangannya terdapat secangkir teh hangat yang mulai kehilangan uap.

Dari tempat itu, ia bisa melihat pusat kota yang bercahaya seperti dunia lain.

“Suatu hari nanti… aku akan ke sana,” gumam Alya pelan.

Rumahnya sangat sederhana dibanding bangunan modern lain di Neo Jakarta. Dindingnya masih menggunakan material lama, dan beberapa bagian atap bahkan pernah bocor ketika hujan besar datang. Meski begitu, Alya tetap mencintai rumah kecil itu karena di sanalah ia hidup bersama ibunya dan adik laki-lakinya.

“Alya!” suara ibunya terdengar dari bawah.

“Aku turun, Bu!”

Alya segera menuruni tangga besi kecil menuju dapur.

Ibunya sedang menyiapkan sarapan sederhana berupa nasi sintetis dan telur protein buatan. Di zaman itu, makanan alami sangat mahal. Hanya orang kaya yang bisa membeli sayuran asli atau daging segar.

“Kamu melamun lagi di atas?” tanya ibunya sambil tersenyum tipis.

Alya duduk di kursi kayu kecil.

“Aku cuma melihat pusat kota.”

Ibunya menghela napas.

“Kota itu indah kalau dilihat dari jauh.”

Alya tahu maksud ucapan itu. Neo Jakarta memang menjadi kota paling maju di Asia Tenggara, tetapi tidak semua orang hidup bahagia di dalamnya. Semakin dekat seseorang dengan pusat kota, semakin besar kekuasaan dan uang yang dimiliki.

Sementara orang-orang seperti mereka hidup di sektor pinggiran yang nyaris terlupakan.

“Aku akan mengubah hidup kita, Bu,” kata Alya serius.

Ibunya menatapnya beberapa detik sebelum tersenyum lembut.

“Ibu tahu.”

Saat itulah adiknya, Dito, masuk sambil membawa tablet sekolah.

“Kak, jaringan sekolah error lagi!” keluhnya.

Alya tertawa kecil.

“Bukan error. Kamu saja yang malas belajar.”

Dito menjulurkan lidah.

Suasana rumah kecil itu sederhana, tetapi hangat. Alya selalu merasa bahwa keluarganya adalah alasan terbesar ia harus terus maju.

Setelah sarapan, Alya bersiap pergi bekerja paruh waktu.

Di usia delapan belas tahun, ia sudah terbiasa menjalani dua kehidupan sekaligus: pagi bekerja, malam belajar.

Ia bekerja di sebuah toko perbaikan perangkat elektronik tua di sektor timur. Tempat itu dipenuhi mesin-mesin lama yang tidak lagi digunakan orang kaya.

Pemilik toko, Pak Harun, adalah pria tua yang sudah mengenal Alya sejak kecil.

“Kamu datang lebih pagi hari ini,” katanya sambil memperbaiki robot pembersih rusak.

“Aku tidak bisa tidur,” jawab Alya.

Pak Harun meliriknya.

“Masih memikirkan Akademi Zenith?”

Alya terdiam.

Akademi Zenith.

Sekolah paling bergengsi di Neo Jakarta.

Tempat berkumpulnya anak-anak jenius, ilmuwan muda, dan calon pemimpin masa depan.

Hampir mustahil bagi gadis dari sektor pinggiran seperti Alya untuk masuk ke sana.

Namun ia tetap mencoba.

Tiga bulan lalu, ia mengikuti ujian nasional berbasis AI dengan harapan kecil mendapatkan beasiswa.

Dan sejak itu ia menunggu hasilnya.

“Aku cuma tidak ingin berharap terlalu tinggi,” katanya pelan.

Pak Harun tersenyum kecil.

“Kadang harapan adalah satu-satunya hal yang membuat manusia tetap hidup.”

Ucapan itu membuat Alya diam cukup lama.

Hari itu berjalan seperti biasa. Ia memperbaiki perangkat lama, mengganti chip rusak, dan membantu pelanggan.

Namun menjelang sore, sesuatu terjadi.

Alarm notifikasi di gelang digitalnya tiba-tiba berbunyi.

Ting!

Alya mengangkat pergelangan tangannya.

Sebuah logo berbentuk lingkaran biru muncul di udara hologram kecil.

Logo Akademi Zenith.

Jantung Alya langsung berdegup kencang.

Tangannya gemetar ketika membuka pesan itu.

Selamat.

Anda diterima sebagai penerima beasiswa penuh Akademi Zenith.

Alya membeku.

Ia membaca pesan itu berulang kali.

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Apa?” Pak Harun mendekat.

Alya menutup mulutnya dengan kedua tangan.

“Aku… aku diterima…”

“Di Zenith?”

Alya mengangguk cepat.

Pak Harun tertawa keras.

“Aku sudah bilang! Kamu memang berbeda!”

Alya hampir tidak percaya.

Selama ini, Akademi Zenith hanyalah mimpi yang terlalu jauh untuk disentuh.

Namun kini mimpi itu benar-benar datang.

Ia segera berlari pulang melewati jalan-jalan sempit sektor timur.

Lampu neon mulai menyala ketika malam turun. Hujan tipis turun membasahi jalanan.

Namun Alya tidak peduli.

Ia terus berlari sambil tersenyum dan menangis bersamaan.

Sesampainya di rumah, ia membuka pintu dengan napas terengah.

“Bu!”

Ibunya yang sedang menjahit pakaian langsung berdiri kaget.

“Ada apa?”

Alya menunjukkan hologram penerimaan itu.

“Aku diterima di Akademi Zenith!”

Ruangan kecil itu langsung hening.

Ibunya menatap hologram tersebut lama sekali.

Air mata perlahan jatuh dari matanya.

“Kamu berhasil…” bisiknya.

Dito melompat kegirangan.

“Kak Alya masuk sekolah para jenius!”

Alya tertawa sambil menangis.

Malam itu menjadi malam paling bahagia dalam hidup mereka.

Untuk pertama kalinya, Alya merasa masa depannya benar-benar terbuka.

Namun jauh di pusat kota Neo Jakarta, di sebuah ruangan gelap penuh layar hologram, seseorang sedang memperhatikan data penerimaan siswa baru Akademi Zenith.

Seorang pria muda bermata tajam berdiri di depan layar.

Namanya Reno.

Dan ketika melihat nama Alya muncul di sistem, ekspresinya berubah.

“Jadi… akhirnya dia masuk juga,” gumamnya pelan.

Lampu biru dari layar memantulkan bayangan dingin di wajahnya.

Sementara itu, Alya sama sekali belum menyadari bahwa langkah kecilnya menuju Akademi Zenith akan mengubah hidupnya selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!