NovelToon NovelToon
Istri Kecil Tuan Devano

Istri Kecil Tuan Devano

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikah Kontrak
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: adawiya

Alana Wijaya tidak pernah menduga hidupnya akan berubah menjadi neraka dalam semalam. Demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang diambang kehancuran, ia dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Devano Adhitama—seorang CEO arogan yang dikenal sebagai monster berdarah dingin dan harus duduk di kursi roda akibat kecelakaan misterius.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 sentuhan

Keheningan di dalam mansion keluarga Adhitama malam itu terasa begitu asing. Kamar tidur Nyonya Besar Sandra di sayap barat telah gelap gulita. Sesuai dengan ancaman mutlaknya, Devano tidak menunda bahkan satu jam pun untuk mengirim ibu kandungnya sendiri ke villa terpencil di pinggiran kota menggunakan pengawalan ketat. Kekuasaan sang tirani malam ini terbukti tidak memiliki batas, bahkan ikatan darah sekalipun tidak mampu membendung keputusannya.

Alana duduk di tepi ranjang besar bernuansa abu-abu arang. Gaun beludru hitamnya masih melekat di tubuh, namun kalung safir seharga miliaran rupiah sudah ia lepaskan dan tergeletak di atas nakas.

Ia meringis pelan saat mencoba menggerakkan bahu kirinya. Kain beludru itu bergeser, memperlihatkan kulit bahunya yang kini berubah warna menjadi biru keunguan. Benturan keras dengan dinding marmer ballroom saat pelayan suruhan Sandra menubruknya tadi ternyata meninggalkan cedera yang cukup serius. Rasa nyeri yang berdenyut membuat napas Alana agak tersendat.

Klek.

Pintu kamar terbuka tanpa suara. Devano masuk dengan kursi roda elektriknya. Pria itu sudah menanggalkan tuksedo hitamnya, kini hanya mengenakan kemeja satin abu-abu gelap yang kancing atasnya terbuka bebas. Tatapan matanya yang pekat langsung tertuju pada tangan Alana yang sedang memegangi bahu kirinya sendiri.

"Buka gaunmu," perintah Devano tiba-tiba. Suaranya rendah, memotong sunyinya kamar dengan ketegasan yang mutlak.

Alana tersentak, refleks menarik kembali kain gaunnya untuk menutupi bahunya yang lebam. "T-Tuan Devano... saya bisa mengurusnya sendiri. Ini hanya luka kecil."

Devano tidak membalas ucapan Alana. Pria itu perlahan bangkit berdiri dari kursi rodanya. Langkah kakinya yang panjang dan tegap terdengar mantap di atas lantai kayu, memotong jarak di antara mereka hingga ia berdiri tepat di hadapan Alana yang terduduk lemas. Aura dominasinya yang besar seketika membuat Alana merasa sangat kecil.

Devano membungkuk sedikit, mengulurkan tangannya yang besar untuk menyingkirkan jemari Alana dari bahunya. Dengan gerakan yang tidak bisa dibantah namun anehnya tidak menyakitkan, jemari panjang Devano meraih ritsleting di bagian belakang gaun Alana, lalu menariknya turun hingga batas pinggang.

Kain beludru hitam itu melonggar, merosot jatuh dan mengekspos seluruh punggung mulus Alana serta bahu kirinya yang cedera di bawah pendar lampu kamar yang temaram. Udara dingin pendingin ruangan seketika menyentuh kulit Alana, membuatnya meremang halus.

Devano menarik sebuah kursi kayu kecil, lalu duduk tepat di belakang Alana. Pria itu mengambil sebuah botol salep antiseptik khusus dari laci meja nakas yang tampaknya sudah ia siapkan sejak awal.

"Jangan bergerak," desis Devano saat Alana mencoba memutar tubuhnya karena merasa terlalu malu dengan posisi intim ini.

Alana terpaksa diam mematung, meremas sprei kasur dengan kedua tangannya. Jantungnya berdegup brutal, menghasilkan ritme konstan yang memenuhi rongga dadanya. Ketegangan psikologis di antara mereka malam ini terasa jauh lebih pekat daripada biasanya, bukan karena ancaman kekerasan, melainkan karena keintiman yang dipaksakan ini.

Devano Menuangkan sedikit gel bening ke atas telapak tangannya. Detik berikutnya, telapak tangan Devano yang lebar, hangat, dan sedikit kasar menyentuh langsung kulit bahu Alana yang memar.

"Ah..." Alana mendesis pelan, refeks memajukan tubuhnya karena rasa dingin dari gel dan tekanan dari tangan Devano yang terasa mengejutkan di kulitnya.

"Aku bilang jangan bergerak, Alana," suara Devano berbisik tepat di belakang tengkuk Alana. Embusan napas hangat pria itu yang beraroma maskulin murni bercampur wangi teh hitam mengalir di sepanjang tulang selangka Alana, menciptakan getaran hebat yang membuat seluruh syaraf tubuh wanita itu menegang.

Ibu jari Devano bergerak melingkar, memijat lembut bagian lebam yang keunguan tersebut. Tekanannya sangat pas—cukup kuat untuk melancarkan aliran darah yang menyumbat, namun cukup hati-hati agar tidak menambah rasa sakit. Tindakan merawat yang dilakukan oleh seorang pria yang dikenal sebagai monster berdarah dingin ini terasa begitu kontradiktif, membuat pertahanan emosional Alana perlahan terkikis.

"Kau membiarkan dirimu terluka hanya untuk membuktikan bahwa kau tidak bersalah, Alana?" tanya Devano, suaranya terdengar serak dan sangat rendah di keheningan malam. Jemarinya kini bergerak perlahan dari bahu, menelusuri garis leher jenjang Alana hingga berhenti di bawah rahangnya.

Alana menundukkan kepalanya, mencoba menguasai suaranya yang bergetar. "Saya tidak punya pilihan lain, Tuan. Jika saya tidak menuruti perintah Ibu Anda tadi, keributan akan terjadi di depan umum. Saya hanya mencoba menjaga nama baik Adhitama."

Devano terkekeh rendah, sebuah getaran suara yang terasa langsung di punggung Alana karena dada bidang pria itu kini sengaja ditempelkan rapat pada punggung telanjangnya. Devano mempersempit jarak, melingkarkan lengan kekarnya dari belakang untuk mengunci pinggang ramping Alana, memaksa wanita itu bersandar sepenuhnya pada tubuh tegapnya.

"Nama baik Adhitama adalah urusanku, Alana. Bukan urusanmu," bisik Devano, bibirnya bergerak tepat di atas kulit leher belakang Alana yang sensitif tanpa berniat menciumnya, namun memberikan tekanan intimidasi yang jauh lebih mendebarkan.

"Tugasmu di rumah ini hanyalah satu: memastikan dirimu tetap utuh sebagai milikku. Aku tidak suka melihat barang kepunyaanku memiliki cacat atau luka yang disebabkan oleh kelalaian orang lain. Setiap jengkal kulitmu ini sudah kubayar lunas dengan kehancuran musuh-musuhmu."

Alana memejamkan mata erat, merasakan kehangatan dari telapak tangan Devano yang kini meraba perlahan permukaan kulit perutnya di balik longgarnya gaun malam. Rasa takut yang biasa menguasai dirinya kini perlahan bercampur dengan ketergantungan yang asing. Pria ini mengurungnya dalam sangkar, namun pria ini juga yang menjadi satu-satunya pelindung mutlak dari kejamnya dunia luar.

"Apakah... apakah Anda akan terus mengurung saya seperti ini, Tuan Devano?" tanya Alana lirih, setetes air mata kelelahan lolos membasahi pipinya, jatuh di atas punggung tangan Devano yang mengunci rahangnya dari samping.

Devano menyeka air mata itu menggunakan ibu jarinya dengan gerakan lambat yang penuh klaim kepemilikan. "Sampai aku bosan, Alana. Dan melihat bagaimana kau terus memancing perhatianku... sepertinya waktu itu tidak akan pernah datang."

Devano melepaskan cengkeramannya perlahan, bangkit berdiri dan kembali ke kursi rodanya tanpa memberikan ciuman apa pun, meninggalkan Alana yang terduduk dengan punggung terbuka dan napas yang masih tersengal di atas ranjang.

Ketegangan malam itu ditutup oleh bunyi pintu kamar mandi yang tertutup, menandai bahwa babak baru pembersihan domestik di mansion ini telah selesai, dan Alana kini sepenuhnya terikat tanpa celah untuk mundur lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!