NovelToon NovelToon
DIAMNYA MENJAHIT LUKA YANG PERNAH MEREKA ROBEK

DIAMNYA MENJAHIT LUKA YANG PERNAH MEREKA ROBEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:578
Nilai: 5
Nama Author: Rienza27

SINOPSIS

Gretta Alesia Nobara, 18 tahun, pindah ke SMA Binara 2 untuk melarikan diri dari trauma perundungan di sekolah lama. Ia mengubah penampilannya agar lebih percaya diri dan bertekad memulai hidup baru dengan fokus pada pelajaran.
.
Gian Leminzo cowok pemalas di kelas bahkan sering tidur saat guru menerangkan, di snagat tampan dan di sukai banyak cewe tapi dia selalu menghiraukan cewek-cewek yang mendekatinya.

Namun pertemuan Gretta dengan Gian menjadi sebuah hal yang tidak terduga di antara keduanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENCARI KEADILAN YANG DIHIRAUKAN 2

Tanpa memedulikan perintah pamannya lagi, Ema berbalik dan menghentak-hentakkan kakinya dengan kasar ke lantai, berjalan keluar dari ruangan itu. Di koridor, ratusan mata murid langsung tertuju pada wajah Ema yang merah padam dengan bekas tamparan di kedua pipinya. Tatapan mereka tidak lagi penuh ketakutan, melainkan tatapan mengintimidasi dan penuh cemoohan.

Mereka semua telah mendengar percakapan telepon tadi; mereka sekarang tahu bahwa orang tua Ema yang kaya raya itu sebenarnya tidak terlalu peduli pada anaknya dan hanya peduli pada anak yang berperingkat satu. Rasa takut yang samar mulai merayap di dada Ema saat ia berlari meninggalkan koridor sekolah yang penuh bisikan itu.

...----------------...

Di dalam ruangan, kepala sekolah menarik napas dalam-dalam. Ia melangkah ke pintu dan menyuruh semua murid di depan ruangan agar segera bubar dan masuk ke kelas masing-masing. Setelah koridor sepi, ia kembali masuk dan duduk di kursi.

Ia mulai berbicara dengan mama Alesia dengan nada yang melunak, mencoba bernegosiasi. Atas nama keponakannya dan demi nama baik institusi, ia meminta maaf sedalam-dalamnya atas perbuatan Ema.

Namun, kepuasan setelah menampar Ema tidak mengurangi rasa sakit di hati mama Alesia. "Maaf tidak bisa menyembuhkan luka fisik dan mental anak saya, Pak! Saya tetap akan menuntut Ema atas perbuatannya ke jalur hukum. Ini adalah penganiayaan berat!" tegas mama Alesia menolak mentah-mentah.

Kepala sekolah kembali memohon, "Saya mohon, Bu... mari kita selesaikan masalah ini secara kekeluargaan saja. Jika dibawa ke polisi, masa depan Ema akan hancur, dan nama baik sekolah ini juga akan tercoreng. Kami bersedia menanggung semua biaya pengobatan Alesia sampai sembuh total."

"Kekeluargaan? Ke mana rasa kekeluargaan keponakan Anda saat menyiksa anak saya?!" sergah mama Alesia sengit. "Saya tidak butuh uang kalian! Kami akan tetap menuntut!" Sambil berkata demikian, mama Alesia juga meminta hak putrinya.

 "Dan saya minta surat pindah Alesia dari sekolah ini sekarang juga. Anak saya tidak akan sudi belajar di tempat yang di duduki monster seperti Ema."

Kepala sekolah tidak bisa berkutik lagi. Segala kartu as-nya telah patah. Dengan pasrah, ia mengangguk lemah. "Baik, Bu... saya akan menyiapkan surat pindah Alesia sesegera mungkin. Karena butuh proses administrasi, saya sendiri yang akan mengirimkannya ke rumah Ibu langsung sore ini juga."

"Bagus kalau begitu. Saya permisi," ujar mama Alesia dingin. Ia berbalik, menggandeng tangan putrinya yang sejak tadi hanya menundukkan kepala, memeluk trauma yang mendalam. Mereka berjalan keluar meninggalkan ruangan dan gedung sekolah itu untuk terakhir kalinya.

Begitu mereka keluar dari gerbang sekolah dan hawa dingin luar ruangan menyapu wajah mereka, mama Alesia meredakan ketegangannya. Ia menatap Alesia dengan mata yang melembut penuh kasih sayang. "Sudah tidak apa-apa, Sayang... semua sudah selesai di sana," ujar mama Alesia sambil mengusap kepala putrinya yang dibalut perban. "Kamu nanti pasti akan dapat teman yang jauh lebih baik di sekolah barumu nanti. Mama janji."

Mereka kemudian menaiki sebuah taksi yang melintas, bergegas menuju kantor polisi terdekat dengan satu tujuan: mencari keadilan yang sah. Mama Alesia membawa semua bukti fisik; hasil visum dokter rumah sakit, foto memar di sekujur tubuh Alesia, hingga kesaksian lisan dari anaknya sendiri.

Namun, dunia nyatanya tidak seindah cerita dongeng.

Di dalam ruang penyidik kantor polisi yang dingin, laporan mereka disambut dengan sikap yang sangat acuh tak acuh oleh petugas yang berjaga. Polisi itu memeriksa berkas-berkas yang dibawa mama Alesia dengan malas, lalu meletakkannya kembali ke meja.

"Maaf, Bu, tapi bukti-bukti ini kurang kuat untuk menjerat pelaku. Luka-luka seperti ini bisa saja karena jatuh atau kecelakaan mandiri. Kami tidak bisa memprosesnya tanpa ada saksi mata pihak ketiga yang melihat langsung kejadian di tempat kejadian perkara," ujar polisi itu dengan alasan yang dicari-cari.

Mama Alesia terbelalak tidak percaya. "Kurang kuat?! Ini hasil visum resmi dari dokter! Anak saya dipukuli oleh anak bernama Ema! Kenapa tidak bisa diproses?!"

Ternyata Kepala sekolah tadi di ancam Ema agar membantunya supaya mama Alesia tidak bisa memproses kasus perundungan itu dan bahkan melakukan ini karena Ema tidak mau nama sekolah tercemar bahkan tidak mau reputasinya papanya sebagai penjabat sah sekolah itu hancur dan dia tidak mau dicap pembuat onar oleh papanya.

Dan setelah Ema memaksa begitu keras akhirnya. "apa yang di katakan Ema benar, batin kepala sekolah.

Kepala sekolah yang sekaligus paman Ema itu menggunakan jaringan dan kekuasaan finansial yang dimiliki orang tuanya, uang dalam jumlah besar telah ditransfer ke oknum-oknum tertentu di kantor polisi tersebut untuk membungkam dan mengubur kasus pembulian ini dalam-dalam sebelum sempat masuk ke sistem.

Walaupun mama Alesia terus memaksa, berteriak, bahkan menangis memohon keadilan di depan meja penyidik, polisi-polisi di sana tetap bersikeras pada kesimpulan awal mereka: bukti tidak cukup dan laporan tidak dapat diterima.

Melihat ibunya yang mulai kelelahan dan histeris diperlakukan tidak adil, Alesia yang sejak tadi diam akhirnya menarik ujung baju mamanya. Air mata yang baru saja menetes di pipinya.

"Sudahlah, Mama... kita sudahi saja semua ini," bisik Alesia dengan suara yang teramat lelah. "Aku mohon... aku tidak mau berurusan lagi tentang masalah ini. Aku ingin pulang..."

"Tapi Nak... Mama tidak terima! Ini tidak adil untukmu!" Mama Alesia berseru, hatinya hancur berkeping-keping melihat keputusasaan di mata anaknya.

Namun, melihat tubuh Alesia yang mulai gemetar hebat karena serangan panik, mama Alesia akhirnya sadar. Ia menatap tajam ke arah polisi yang duduk di depannya dengan pandangan muak yang mendalam. Ia kini tahu betul alasan menjijikkan di balik penolakan ini. Hukum ternyata bisa dibeli. Orang kaya bisa dengan mudah menebar uang seenaknya untuk menindas dan menginjak-injak hak orang miskin yang tidak punya kuasa apa-apa.

Dengan perasaan marah, kecewa, dan dendam yang tertanam dalam di dada, mama Alesia merenggut kembali berkas-berkasnya. Ia merangkul bahu Alesia, lalu melangkah keluar dari kantor polisi yang korup itu. Mereka pulang ke rumah mereka yang sederhana dengan perasaan kecewa terhadap pihak hukum

1
Miska
semangat terus author, ceritamu keren👍
Nora
ceritanya bagus bnget aku suka
Nora
Ceritanya bagus dan menyentuh hati tapi adegan pertama sungguh kejam , semngat terus author aku menunggu kelanjutannya.💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!