NovelToon NovelToon
Kupu-Kupu Malam Sang Ceo

Kupu-Kupu Malam Sang Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zenaaa

Di siang hari, Renata adalah seorang gadis biasa yang bekerja sebagai pustakawati polos berkacamata tebal. Namun, saat malam tiba dan lampu kota Jakarta mulai menyala, ia berubah menjadi "Papillon" (Kupu-Kupu)—gadis hostess paling misterius dan mahal di Kupu-Kupu Bar, sebuah kelab malam eksklusif rahasia para konglomerat.
​Renata tidak mencari uang demi kemewahan. Ia menjebak dirinya di dunia malam demi mengungkap misteri kematian kakak perempuannya yang tewas mengenaskan setelah melayani seorang pria berkuasa dari Dirgantara Group.
​Rencananya berjalan mulus hingga malam itu tiba. Adrian Dirgantara, CEO dingin dan pewaris tunggal Dirgantara Group, masuk ke bar dan langsung memilih Papillon. Adrian tidak mencari hiburan, melainkan seorang "istri sewaan" untuk memenuhi wasiat kakeknya demi mempertahankan takhta perusahaan.
​Satu kesepakatan di bawah lampu remang-remang bar mengubah segalanya. Renata melangkah masuk ke sarang musuh sebagai istri Adrian, sementara Adrian tidak pernah t

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zenaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Pesta Perjamuan yang Mematikan

Malam yang dinantikan pun tiba. Gedung Grand Ballroom hotel bintang lima di pusat Jakarta disulap menjadi lautan kemewahan. Karpet merah membentang dari lobi luar hingga ke pintu masuk utama, di mana puluhan fotografer dan wartawan dari berbagai media bisnis serta infotainment telah berbaris rapi. Kilatan lampu flash kamera saling menyambar, mengabadikan kedatangan para elite politik, selebritas papan atas dan jajaran pengusaha kelas kakap.

​Ini adalah Pesta Perjamuan Bisnis Tahunan Dirgantara Group sebuah acara yang bukan hanya sekadar perayaan, melainkan medan perang diplomasi di mana kerja sama miliaran rupiah disepakati atau dihancurkan hanya dalam semalam.

​Di dalam mobil limosin yang bergerak perlahan mengantre menuju lobi Renata duduk dalam diam. Malam ini, penampilannya benar-benar bertransformasi atas perintah khusus dari desainer kepercayaan Adrian, ia mengenakan gaun malam haute couture berwarna merah marun gelap yang terbuat dari bahan beludru premium. Potongannya berkelas dengan kerah sabrina yang mengekspos leher jenjang dan tulang selangkanya yang indah seputih salju. Rambut cokelatnya ditata sanggul modern yang rapi, menyisakan beberapa helai anak rambut yang membingkai wajah cantiknya dengan sempurna.

​Tidak ada lagi kacamata tebal, tidak ada lagi sweter longgar. Malam ini, ia adalah mahakarya yang siap dipamerkan.

​Adrian, yang duduk di sebelahnya dengan setelan tuksedo hitam jahit khusus, sesekali melirik Renata dari sudut matanya. Harus ia akui, wanita ini memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa. Meski tangannya terasa agak dingin saat Adrian menyentuhnya, wajah Renata memancarkan ketenangan yang mutlak. Tidak ada kepanikan, tidak ada binar mata norak yang biasanya diperlihatkan orang miskin saat melihat kemewahan.

​"Begitu pintu mobil ini terbuka, semua kamera akan tertuju padamu," suara berat Adrian memberi peringatan terakhir. "Para wartawan itu seperti hiu yang mencium bau darah. Jika mereka tahu kamu hanya gadis biasa, mereka akan mencecarmu dengan pertanyaan yang menjebak. Tetap tersenyum dan biarkan aku yang menangani pers."

​Renata menoleh menatap mata elang Adrian dengan senyuman tipis yang sangat anggun, senyuman yang mengingatkan Adrian pada sosok misterius Papillon di bar tempo hari. "Jangan khawatir, Tuan Adrian. Di tempat kerja saya yang lama, saya terbiasa menghadapi ratusan buku yang rumit. Menghadapi manusia... rasanya tidak akan jauh berbeda."

​Limosin akhirnya berhenti tepat di depan karpet merah. Pintu dibuka oleh petugas hotel. Adrian turun lebih dulu, lalu berbalik dan mengulurkan lengannya dengan jantan. Renata menyambut lengan itu, melangkah keluar dari mobil dengan keanggunan yang memukau.

​Seketika itu juga, riuh rendah suara jepretan kamera dan kilatan cahaya membutakan pandangan untuk beberapa saat. Bisik-bisik penasaran langsung menjalar di antara kerumunan wartawan.

​"Siapa wanita di sebelah CEO Adrian?"

"Apakah itu kekasih rahasianya? Cantik sekali!"

"Dia tidak terlihat seperti putri dari konglomerat lokal, siapa dia sebenarnya?"

​Adrian menuntun Renata melewati barisan media dengan langkah tegap, mengabaikan segala pertanyaan yang diteriakkan oleh para pemburu berita. Mereka melangkah masuk ke dalam ballroom yang megah, di mana ratusan tamu penting langsung mengalihkan pandangan ke arah mereka.

​Di sudut ruangan dekat panggung utama, Albert Dirgantara berdiri bersama Bram dan Arsen. Pria tua itu memperhatikan kedatangan cucunya dengan tatapan menilai yang tajam. Sementara itu, Arsen, yang malam ini mengenakan setelan jas formal abu-abu, menatap Renata tanpa berkedip. Ada kilat ketertarikan yang berbahaya sekaligus rasa penasaran yang mendalam di matanya.

​"Selamat malam, Kakek, Paman," sapa Adrian begitu mereka tiba di hadapan para petinggi keluarga.

​Albert mengangguk pelan, matanya menyapu penampilan Renata dari atas ke bawah. "Penampilan yang mengesankan, Nona Renata. Kamu membersihkan dirimu dengan sangat baik. Tapi ingat kecantikan luaran tidak akan bertahan lama di ruangan ini jika otakmu kosong."

​Bram tertawa kecil, tawa hambar yang terdengar merendahkan. "Kakekmu benar, Adrian. Di sebelah sana ada Tuan Tanaka, investor utama kita dari Jepang. Dia sengaja datang untuk melihat siapa calon pendamping pria yang memegang kendali Dirgantara Group. Apakah tunanganmu ini bahkan bisa berbahasa asing?"

​Sebelum Adrian sempat membalas sindiran pamannya, seorang pria paruh baya bertubuh agak tambun dengan setelan jas rapi berjalan mendekati mereka bersama asistennya. Pria itu adalah Tuan Tanaka.

​"Ah, Adrian-san!" sapa Tuan Tanaka dalam bahasa Jepang yang fasih, membungkuk sedikit memberikan hormat. "Lama tidak bertemu. Dan... apakah ini wanita beruntung yang menjadi pembicaraan hangat di luar tadi?"

​Adrian hendak memanggil penerjemah yang sudah bersiap di belakangnya, namun Renata tiba-tiba melangkah maju setengah langkah. Dengan gerakan yang sangat natural dan anggun, ia membungkuk hormat dengan sudut kemiringan yang sempurna—persis seperti tata krama tradisional Jepang yang sangat dihargai oleh kaum elite di sana.

​"Selamat malam, Tuan Tanaka. Suatu kehormatan besar bagi saya untuk bisa bertemu dengan Anda malam ini," ucap Renata.

​Kalimat itu meluncur dari bibir Renata dalam bahasa Jepang yang sangat fasih, dengan aksen Keigo yang begitu halus dan sempurna. "Nama saya Renata. Tuan Adrian sering menceritakan tentang kebijaksanaan anda dalam memimpin bisnis, dan saya sangat mengagumi kerja sama yang telah anda bangun bersama Dirgantara Group."

​Seluruh orang di lingkaran itu seketika tertegun. Adrian menoleh ke arah Renata dengan mata yang sedikit melebar karena terkejut. Bram dan Arsen bahkan sampai menghentikan gerakan tangan mereka yang sedang memegang gelas minuman. Mereka tidak pernah menyangka bahwa seorang pustakawati dari rumah susun kumuh bisa menguasai bahasa Jepang formal dengan begitu fasih.

​Tuan Tanaka tertawa lepas, wajahnya memancarkan kepuasan dan rasa kagum yang luar biasa. "Luar biasa! Adrian-san, kamu benar-benar pintar memilih pasangan. Wanita ini bukan hanya cantik, tapi juga memahami budaya dan bahasa kami dengan sangat baik. Jarang sekali saya menemui anak muda zaman sekarang yang bisa menggunakan Keigo sefasih ini!"

​"Terima kasih atas pujian Anda, Tuan Tanaka. Saya hanya mencoba mempelajari hal-hal yang disukai oleh mitra bisnis calon suami saya," jawab Renata merendah, melirik Adrian dengan tatapan "patuh" yang sengaja ia buat-buat.

​Setelah beberapa menit berbincang santai, Tuan Tanaka pamit untuk menemui relasi yang lain. Begitu investor itu menjauh, Albert Dirgantara mengetukkan tongkatnya ke lantai, kali ini dengan senyuman tipis yang sarat akan rasa puas. "Tidak buruk, Renata. Kamu menyelamatkan muka keluarga ini di depan mitra internasional terbesar kita."

​Adrian memanfaatkan momen itu untuk menarik Renata menjauh dari kerumunan keluarga. Mereka berjalan menuju area balkon luar yang lebih sepi, menghirup udara malam yang segar.

​Begitu mereka hanya berdua di bawah temaram lampu balkon, Adrian langsung melepaskan cengkeramannya di pinggang Renata dan menatap gadis itu dengan tatapan mengintimidasi. "Kamu... dari mana kamu belajar bahasa Jepang sefasih itu? Data latar belakangmu mengatakan kamu hanya lulusan sastra lokal yang bekerja di perpustakaan kota."

​Renata membetulkan posisi berdirinya, tersenyum tenang. "Tuan Adrian, perpustakaan kota tempat saya bekerja menyimpan ribuan buku asing, termasuk panduan bahasa dan tata krama bisnis internasional. Di siang hari saat tidak ada pengunjung, saya tidak hanya duduk diam. Saya membaca dan belajar. Lagipula, bukankah Anda menyewa saya karena saya pintar menyimpan rahasia dan bisa berakting? Menguasai satu atau dua bahasa asing adalah bagian dari totalitas kerja saya."

​Adrian menatap Renata dalam-dalam, mencoba mencari celah kebohongan atau konspirasi di balik mata jernih itu. Wanita di depannya ini terlalu misterius. Ia seperti kotak pandora; setiap kali Adrian membukanya, ada kejutan baru yang keluar. Namun, sebelum Adrian sempat bertanya lebih lanjut, sebuah suara langkah kaki terdengar mendekat dari arah dalam.

​"Wah, wah... sungguh pemandangan yang romantis di bawah langit malam."

​Arsen Dirgantara berjalan keluar ke balkon, memegang sebatang rokok yang belum dinyalakan di jarinya. Matanya menatap Renata dengan pandangan yang membuat bulu kuduk Renata meremang karena jijik, namun ia tetap mempertahankan topeng ketenangannya.

​"Adrian, Kakek memanggilmu ke ruang VIP di dalam. Ada beberapa dokumen mendesak dari dewan komisaris yang membutuhkan tanda tanganmu segera," ujar Arsen dengan nada santai.

​Adrian melirik Arsen dengan penuh rasa tidak percaya, lalu beralih menatap Renata. "Tunggu aku di sini jangan pergi ke mana-mana sampai aku kembali."

​"Baik, Tuan Adrian," jawab Renata patuh.

​Begitu Adrian melangkah masuk kembali ke dalam ballroom, menyisakan Renata dan Arsen berdua di balkon yang sunyi, atmosfer di tempat itu seketika berubah drastis. Senyuman ramah di wajah Arsen lenyap, digantikan oleh tatapan berburu seorang predator.

​Arsen melangkah mendekati Renata, menyudutkan gadis itu hingga punggung Renata membentur pagar pembatas balkon yang dingin. Arsen mencondongkan tubuhnya, menghirup aroma parfum melati yang samar dari leher Renata.

​"Kamu tahu, Nona Renata... kamu sungguh aktris yang hebat," bisik Arsen, suaranya terdengar sangat dekat dan berbahaya. "Bahasa Jepang yang hebat, gaun yang mahal, wajah yang polos... tapi matamu tidak bisa berbohong. Tatapan matamu saat melihatku di ruang makan malam itu... penuh dengan kebencian yang mendalam. Mengapa? Apakah kita benar-benar belum pernah bertemu sebelumnya?"

​Jantung Renata berdegup kencang di balik dadanya, namun tangannya yang tersembunyi di balik lipatan gaun beludru itu terkepal begitu kuat hingga kuku-kukunya hampir menembus kulit.

​‘Pria ini... dia sedang memancingku,’ batin Renata.

​Renata tidak mundur. Malahan, ia mendongak dan menatap tepat ke dalam manik mata Arsen dengan senyuman yang sangat manis namun sedingin es sebuah senyuman yang persis sama dengan yang biasa ia berikan pada tamu-tamu nakal di Kupu-Kupu Bar.

​"Tuan Arsen," bisik Renata dengan nada suara yang sengaja dibuat rendah dan menggoda, membuat Arsen sedikit tertegun. "Jika Anda terus menatap saya seperti ini dan berbicara begitu dekat, saya takut sepupu Anda yang kejam itu akan mengira anda sedang mencoba merebut tunangannya dan kita semua tahu... Adrian Dirgantara bukan tipe pria yang suka barang miliknya disentuh oleh orang lain, bukan?"

​Arsen menyipitkan matanya, terkejut dengan keberanian dan perubahan sikap Renata yang tiba-tiba. Sebelum Arsen sempat membalas, Renata dengan anggun menggeser tubuhnya, melepaskan diri dari kungkungan Arsen, dan berjalan masuk kembali ke dalam keramaian ballroom tanpa menoleh lagi.

​Di balik punggung Arsen, Renata menarik napas panjang, menstabilkan detak jantungnya yang berkejaran. Permainan ini semakin berbahaya. Arsen mulai mencium bau yang tidak beres, dan Renata tahu, ia harus melangkah dengan jauh lebih hati-hati jika tidak ingin sayap kupu-kupunya patah sebelum dendamnya terbalaskan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!