Di jantung Kekaisaran Valerieth yang agung, sebuah titah kaisar mengguncang pilar-pilar bangsawan. Lilianne von Eisenhardt, putri tunggal dari penguasa wilayah Utara yang disegani, Duke Kaelric von Eisenhardt, dipaksa memasuki ikatan suci di usianya yang baru menginjak 15 tahun.
Lilianne, yang memiliki kecantikan selembut bunga musim semi namun ketabahan layaknya baja Nordik, dijodohkan dengan sang pewaris takhta yang menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya: Putra Mahkota Arthur Valerius de Valerieth.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 8
***
Terbangun dalam Keheningan yang Asing
Kesadaran Lilianne kembali perlahan, seperti riak air yang tenang namun dingin. Hal pertama yang ia rasakan bukanlah kelembutan bantal sutranya, melainkan aroma besi, debu jalanan, dan wangi kayu cendana yang tajam. Ia mencoba menggerakkan jemarinya, namun ia merasakan genggaman yang begitu erat begitu posesif hingga seolah-olah tulang-tulang tangannya akan remuk.
Lilianne membuka matanya. Ia tidak lagi berada di Istana Mawar Putih yang penuh aroma lili, melainkan di kamar tidurnya sendiri yang kini terasa asing. Cahaya lilin berpijar redup, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding obsidian.
Di samping tempat tidurnya, Arthur Valerius de Valerieth duduk dalam posisi kaku. Ia masih mengenakan baju zirah ringannya, seolah ia baru saja turun dari medan perang dan tidak sudi membuang waktu sedetik pun untuk melepaskannya. Matanya yang biru gelap, yang biasanya sedingin es, kini tampak merah karena amarah dan kelelahan yang memuncak.
"Kau sudah bangun," suara Arthur bukan sebuah pertanyaan, melainkan sebuah geraman rendah yang menggetarkan udara.
Lilianne mencoba menarik tangannya, namun Arthur justru mempererat genggamannya. "Y—Yang Mulia... lepaskan. Sakit."
"Sakit?" Arthur tertawa hambar, suara yang kering dan menakutkan. Ia mencondongkan tubuhnya, wajahnya yang tampan namun keras hanya berjarak beberapa inci dari wajah Lilianne. "Kau bicara soal sakit setelah kau menyeret tubuhmu yang lemah menemui pria tua itu tanpa izinku? Kau membawa ahli waris kekaisaran ini ke tempat terkutuk itu, Lilianne!"
"Kaisar... Kaisar yang memanggil saya, Arthur," bisik Lilianne dengan bibir gemetar. "Saya tidak bisa menolak perintah penguasa tertinggi."
"Di istana ini, AKU adalah penguasamu!" Arthur berteriak, suaranya menggelegar hingga membuat nyala lilin bergoyang. Ia melepaskan tangan Lilianne hanya untuk mencengkeram rahang gadis itu dengan jari-jarinya yang kasar. "Pria tua itu ingin meracuni pikiranmu. Dia ingin menggunakanmu untuk melawanku, sama seperti dia menghancurkan ibuku!"
Lilianne terengah, rasa pusing akibat kehamilannya kembali menyerang, namun ketakutan di matanya kini bercampur dengan sesuatu yang lebih dalam. Ia melihat Arthur tidak lagi sebagai suaminya, melainkan sebagai bayangan dari kegilaan Kaisar yang baru saja ia temui.
"Mulai detik ini," Arthur berkata dengan nada dingin yang mematikan, "istana sayap timur ini adalah duniamu. Kau tidak akan keluar dari pintu itu. Kau tidak akan melihat cahaya matahari kecuali dari jendela ini. Dan tidak akan ada seorang pun seorang pun yang boleh masuk ke sini tanpa izinku. Bahkan Lisa pun akan diawasi oleh sepuluh penjaga elit di depan pintu."
Lilianne membelalak. "Anda... Anda ingin memenjarakan saya? Saya istrimu, Arthur! Saya mengandung anakmu!"
"Justru karena kau mengandung anakku!" Arthur bangkit berdiri, jubah tempurnya menyapu lantai marmer dengan suara seret yang mengancam. "Dunia di luar sana penuh dengan serigala yang menginginkan darahmu karena kau membawa benihku. Ayahku, para menteri, bahkan pelayan-pelayanmu... aku tidak mempercayai siapapun. Hanya aku yang bisa menjagamu. Hanya aku yang berhak menyentuhmu."
Arthur berjalan menuju pintu dan membantingnya tertutup. Lilianne bisa mendengar suara kunci diputar dari luar, disusul dengan derap langkah kaki pasukan bersenjata berat yang berbaris di koridor.
Istana yang megah itu, dengan segala kemewahan emas dan permatanya, dalam sekejap berubah menjadi sangkar paling sunyi di dunia. Lilianne sendirian. Di usianya yang baru lima belas tahun, ia kini terjebak dalam obsesi seorang pria yang mencintainya dengan cara menghancurkannya.
**
Hari-hari berlalu dalam rutinitas yang menyesakkan. Arthur benar-benar menepati janjinya. Setiap pagi, ia sendiri yang membawakan makanan untuk Lilianne. Ia tidak mengizinkan Lisa atau pelayan mana pun menyentuh piring Lilianne. Ia sendiri yang menyuapi Lilianne seolah gadis itu adalah boneka porselen yang tidak memiliki tangan.
Suatu malam, mual hebat kembali menyerang Lilianne. Ia meringkuk di lantai kamar mandi, memuntahkan isi perutnya hingga badannya lemas dan berkeringat dingin. Arthur masuk, tanpa ekspresi, lalu mengangkat tubuh Lilianne yang ringan ke dalam pelukannya.
"Lepaskan saya... kumohon," rintih Lilianne, air mata mengalir di pipinya yang semakin tirus. "Saya butuh udara segar. Saya butuh Lisa. Saya kesepian, Yang mulia.."
Arthur mendudukkan Lilianne di ranjang, lalu ia ikut naik ke atas kasur, memeluk Lilianne dari belakang dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya. "Kau punya aku, Lili. Kau tidak butuh orang lain. Tidakkah kau mengerti? Aku memberimu segalanya. Perlindungan, kemewahan, dan hatiku. Kenapa kau masih ingin pergi?"
Lilianne merasa bulu kuduknya berdiri. Ciuman Arthur di lehernya terasa hangat, namun pelukannya terasa seperti lilitan ular sanca yang siap meremukkan tulangnya. "Ini bukan perlindungan, Yang mulia. Ini penjara. Anda membunuh saya perlahan-lahan dengan kesunyian ini."
Arthur terdiam sejenak. Ia membalik tubuh Lilianne agar menatapnya. Tangannya yang besar perlahan mengelus perut Lilianne yang mulai menunjukkan tonjolan kecil.
"Kau tahu apa yang ayahku katakan padaku saat aku kecil?" bisik Arthur, suaranya bergetar oleh emosi yang tertahan. "Dia bilang, segala sesuatu yang berharga harus dikunci rapat-rapat. Jika kau membiarkan pintu terbuka, angin akan mencurinya, atau tangan kotor orang lain akan merusaknya. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi padamu, Lilianne. Kau adalah satu-satunya hal suci yang tersisa di hidupku yang penuh darah ini."
Lilianne menatap mata Arthur. Di sana, ia melihat seorang anak kecil yang ketakutan kehilangan ibunya, yang kini menjelma menjadi monster posesif. Iba kembali menyusup ke hati Lilianne, namun akalnya berteriak bahwa ini adalah kegilaan.
"Yang mulia... lihat saya," Lilianne menyentuh wajah suaminya, mencoba menggunakan satu-satunya senjata yang ia miliki: kelembutan. "Jika Anda terus melakukan ini, anak kita tidak akan pernah mengenal dunia. Dia hanya akan mengenal dinding batu ini. Apakah itu yang Anda inginkan?"
Arthur menatap mata perak istrinya yang berkaca-kaca. Untuk sesaat, ia tampak ragu. Namun kemudian, tatapannya kembali mengeras. "Dia akan mengenal dunia melalui aku. Aku akan menjadi dunianya. Dan kau... kau akan menjadi ratu di kerajaanku yang paling dalam."
Lilianne akhirnya berhenti melawan. Ia menyadari bahwa setiap bantahan hanya akan membuat Arthur semakin memperketat penjagaannya. Ia mulai menerima setiap suapan, setiap pelukan posesif, dan setiap ciuman yang menuntut dari suaminya tanpa protes. Ia membiarkan Arthur tidur di sampingnya setiap malam, memeluknya seolah-olah Lilianne akan menguap jika ia melepaskan genggamannya.
Namun, di balik kepasrahan itu, otak Lilianne terus bekerja. Setiap kali Arthur tertidur lelap di sampingnya lelaki itu seringkali tertidur karena kelelahan setelah seharian memimpin perang dan malamnya menjaga Lilianne—Lilianne akan meraba kunci emas pemberian Kaisar yang ia sembunyikan di dalam jahitan bantalnya.
Ia tahu, kunci itu bukan sekadar kunci logam. Itu adalah kunci menuju kekuatannya sendiri.
Suatu malam, saat badai salju menderu di luar jendela, Arthur memeluk Lilianne dengan sangat erat, kepalanya bersandar di atas perut Lilianne. "Anak ini... dia menendang, Lili. Dia kuat."
"Dia ingin keluar, Arthur," bisik Lilianne sambil mengusap rambut hitam suaminya. "Dia ingin melihat ayahnya di bawah cahaya matahari, bukan hanya di balik tirai gelap ini."
Arthur tidak menjawab. Ia hanya mengeratkan pelukannya, menghirup aroma lili hutan yang kini melekat permanen di tubuh istrinya. "Tidak sekarang, Lili. Tidak sampai aku menghancurkan semua orang yang berani menatapmu dengan niat buruk."
Lilianne memejamkan matanya. Ia mulai menerima kenyataan bahwa ia adalah objek obsesi paling gelap di kekaisaran ini. Tapi ia juga bersumpah, demi nyawa di dalam rahimnya, ia tidak akan membiarkan sangkar emas ini menjadi kuburannya. Jika Arthur adalah predator yang mengurungnya, maka ia akan menjadi racun manis yang perlahan-lahan mengambil alih kesadaran sang predator.
"Tidurlah, yang mulia," bisik Lilianne manis, suaranya seperti nyanyian siren. "Saya tidak akan ke mana-mana. saya milikmu... sepenuhnya."
Arthur menghela napas lega dan jatuh terlelap, tidak menyadari bahwa di balik kegelapan, mata perak istrinya berkilat dengan tekad yang mengerikan. Perang di medan tempur mungkin milik Arthur, namun perang di dalam kamar ini, perlahan tapi pasti, mulai dimenangkan oleh Lilianne.
***
Bersambung...
Hai haii, i'm back 🤭🤭
Maaf ya baru bisa update cerita ini, untuk selanjutnya author usahain bakal daily updated yaa ..
Semoga kalian menikmati cerita author yang satu ini, dan kalian juga boleh lah mampir ke cerita² author yang lain xixixixix
Loppyuuuu ❤️❤️❤️❤️❤️
entah kenapa
komen ini hilang