Di Benua Langit Biru, hukum kultivasi berlaku mutlak: fokus pada satu elemen murni adalah satu-satunya jalan pintas menuju keabadian. Mereka yang lahir dengan banyak elemen justru dianggap memiliki meridian cacat—sebuah wadah bocor yang hanya akan memperlambat kultivasi dan berakhir sebagai sampah masyarakat.
Namun, takdir justru menertawakan Ling Yun. Ia lahir dengan kutukan terjahat: memeluk empat elemen utama bumi sekaligus—Tanah, Air, Api, dan Udara—di dalam satu tubuh. Dicaci, dikhianati, dan dibuang oleh dunianya, ia menolak untuk berlutut pasrah pada nasib. Dengan tekad seteguh karang, ia merayap dari titik terendah demi membalikkan takdir langit.
Menggenggam bara api, membelah samudra, menggoncang bumi, dan memotong badai, Ling Yun menantang dunia:
"Siapa bilang empat elemen adalah sampah? Dengan empat elemen ini, aku akan menghancurkan para dewa yang angkuh, membakar kesombongan langit, dan menulis ulang hukum alam semesta!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blizzardauthor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Licik dan Kemarahan Dua Tetua
BRAAAKKK!
Meja kayu cendana merah yang kokoh di ruang utama Aula Pengawas hancur berkeping-keping, menyebarkan serpihan kayu dan dokumen ke segala arah. Tetua Mo berdiri dengan napas memburu, wajahnya yang keriput kini memerah padam akibat amarah yang membakar dada. Di hadapannya, Gao Yuan terbaring lemah di atas tandu dengan kedua lutut yang dibalut kain kasa tebal, sementara dua murid senior lainnya bersujud dengan tubuh gemetar hebat.
"Kalian pecundang tidak berguna!" raung Tetua Mo, suaranya menggelegar hingga membuat debu di langit-langit ruangan berguguran. "Empat murid senior sekte luar, salah satunya berada di Tahap Akhir, dikalahkan oleh dua orang yang bahkan belum genap tiga hari menjadi murid?! Di mana kalian menaruh muka Aula Pengawas?!"
Gao Yuan menelan ludah dengan susah payah, menahan rasa sakit yang menusuk di kakinya. "M-Mohon ampun, Tetua... Lu Han si pelayan itu... dia tiba-tiba memiliki kekuatan elemen elemen tanah yang sangat kokoh. Serangan Feng bahkan tidak bisa menggesernya setapak pun. Dan Ling Yun... bocah itu... dia bahkan tidak menyentuh saya. Dia hanya melepaskan tekanan auranya, dan lutut saya langsung retak. Tekanan itu... terlalu mengerikan untuk ukuran murid baru."
Tetua Mo mengepalkan tinjunya hingga terdengar suara sendi yang berderit berat. ‘Sialan! Bagaimana mungkin dalam waktu singkat mereka berdua bisa bangkit sedramatis itu? Kematian Zhao Hu tiga bulan lalu akibat Serigala Pemakaman Jiwa di Hutan Kabut Hitam murni karena bajingan kecil itu memancing mereka ke sana! Dan sekarang, dia bahkan berani mempermalukan bawahanku di kaki bukit Divisi Alkimia!’ batin Tetua Mo dengan frustrasi yang memuncak.
Duka kehilangan keponakan satu-satunya kini telah bercampur aduk dengan rasa gengsi yang terkoyak. Sebagai penguasa Aula Pengawas Sekte Luar, dia tidak pernah diremehkan seperti ini oleh seorang anak ingusan.
"Tetua... jika kita tidak bisa menyentuhnya di Puncak Alkimia karena lencana dekret Tetua Liu, apa yang harus kita lakukan?" tanya salah satu murid yang bersujud dengan ragu.
Tetua Mo menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gejolak amarahnya dan mengembalikan akal sehatnya. Sepasang matanya yang licik menyipit, memancarkan kilatan dingin yang mematikan.
"Jika kita tidak bisa naik ke bukit itu, maka kita hanya perlu memaksa mereka berdua untuk turun dengan sukarela," ucap Tetua Mo dengan senyuman sinis yang kejam. "Aula Pengawas memegang otoritas penuh atas administrasi murid sekte luar. Ambil gulungan Misi Wajib Bulanan. Masukkan nama Ling Yun dan Lu Han ke dalam misi tingkat tinggi untuk mengamankan wilayah perbatasan Lembah Tulang Putih."
Murid yang bersujud mendongak dengan wajah terkejut. "L-Lembah Tulang Putih? Tetua, itu adalah wilayah monster tingkat menengah! Murid baru biasanya hanya diberi misi membersihkan taman atau patroli perimeter dalam!"
"Justru karena itu!" potong Tetua Mo dengan nada rendah yang penuh ancaman. "Berdasarkan aturan tertulis sekte, tidak ada murid yang bisa menolak Misi Wajib melainkan mereka siap diusir dari sekte dan dianggap sebagai pengkhianat. Begitu mereka keluar dari gerbang sekte dan berada di luar jangkauan hukum Divisi Alkimia... mereka hanyalah daging di atas talenan." Ucap Tetua penuh senyum licik.
...----------------...
Dua Hari Kemudian di Ruang Utama Aula Pengawasan
BUMMM!
"Tetua Mo! Apa maksud dari tindakan mu ini!"
Sebuah teriakan menggelegar memecah kesunyian Aula Pengawas. Tetua Liu dari Divisi Alkimia melangkah masuk dengan jubah apoteker yang berkibar, wajahnya dipenuhi garis-gari kemarahan yang nyata. Di sampingnya, seorang pria bertubuh kekar dengan lengan baju yang digulung hingga memperlihatkan otot-otot sekeras besi berjalan dengan langkah berat yang membuat lantai batu bergetar. Dia adalah Tetua Song, kepala Divisi Penempaan Sekte Luar.
Tetua Mo terkejut melihat kedatangan dua tetua sekte luar ini secara bersamaan, namun dia dengan cepat menyembunyikan ekspresinya dan berdiri dengan angkuh. "Tetua Liu, Tetua Song. Menghancurkan pintu Aula Pengawas... apakah kalian berdua sudah bosan hidup dan ingin menantang hukum sekte?"
"Hukum sekte matamu!" bentak Tetua Song dengan sifatnya yang meledak-ledak. Dia maju selangkah dan menggebrak meja hancur di depan Tetua Mo. "Kau pikir aku tidak tahu dengan rencana licik mu itu hah?! Berani-beraninya kau memasukkan nama Ling Yun ke dalam daftar misi Lembah Tulang Putih! Dia adalah murid yang memegang lencana dekret dari Divisi Penempaanku! Kau ingin membunuh jenius harapan sekte, hah?!"
Tetua Liu ikut menimpali dengan suara yang lebih tenang namun menekan, "Tetua Mo, manipulasi yang kau lakukan terlalu mencolok. Ling Yun baru saja melewati pengujian bakat, dan ini bahkan belum satu Minggu ia menjadi murid. Berdasarkan aturan dasar, seorang murid setidaknya harus mendapatkan perlindungan minimal tiga bulan untuk menstabilkan fondasinya sebelum dikirim ke luar sekte. Tindakanmu ini murni didasari oleh dendam pribadi atas kematian keponakanmu!"
Menghadapi tekanan ganda dari dua tetua divisi besar, keringat dingin sempat menetes di tengkuk Tetua Mo. Namun, mengingat bahwa dia bergerak di dalam koridor hukum yang sah, dia kembali menegakkan punggungnya dan tertawa sinis.
"Hahaha! Dendam pribadi? Jangan memfitnahku, Tetua Liu, Tetua Song!" ucap Tetua Mo sambil mengangkat gulungan misi yang sudah dicap dengan segel resmi Aula Pengawas. "Memang benar ada aturan perlindungan murid baru, tetapi ada juga klausul khusus di dalam Aturan Tertulis Sekte:
‘Aula Pengawas memiliki hak mutlak tanpa intervensi dari divisi lain untuk menentukan penugasan khusus bagi murid yang dianggap memiliki kemampuan di atas rata-rata demi kepentingan sekte.’
Siang kemarin, bukankah Ling Yun sendiri yang memamerkan kekuatannya di ruang pengujian? Aku hanya menilai bahwa kemampuannya sudah layak untuk mengemban misi penting ini!"
"Kau bajing*n licik... kau memutarbalikkan fakta!" wajah Tetua Liu memucat karena amarah.
"Tetua Mo, jangan sampai aku memutus seluruh pasokan senjata spiritual dan alat penempaan untuk Aula Pengawas mu bulan ini!" ancam Tetua Song dengan mata membelalak galak, memancarkan aura panas elemen api dari tubuhnya.
Tetua Mo mendengus dingin, tidak gentar. "Silakan saja, Tetua Song. Jika kau melakukan itu, aku akan langsung melaporkan sabotase antar divisi ini ke penegak hukum Sekte Dalam. Mari kita lihat, siapa yang akan didepak dari posisinya terlebih dahulu. Gulungan misi ini sudah sah. Kecuali ada perintah langsung dari Tetua Agung atau Leluhur Sekte Dalam, tidak ada satu pun dari kalian yang bisa membatalkannya!"
>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara ku.