Salwa Azzahra, gadis berusia 22 tahun, menikah dengan orang yang sangat dia cintai , dan berharap Salwa bisa keluar dari rumah yang membuathya terluka . namun harapannya hancur seketika di malam pertama pernikahan .
Baru saja akad dilaksanakan, Yogie, suaminya, langsung menjatuhkan talak tiga tepat di malam itu juga, tanpa penjelasan yang masuk akal. Ia mengembalikan Salwa ke rumah orang tuanya seolah gadis itu barang yang tidak berguna. Salwa hancur, merasa harga dirinya diinjak-injak, dan kini harus menanggung malu serta fitnah masyarakat yang menuduhnya bersalah hingga diceraikan secepat itu.
Di balik sikap dingin Yogie, ternyata ada rahasia besar dan alasan tersembunyi yang membuatnya terpaksa melakukan hal menyakitkan itu, meski sebenarnya ia menyimpan rasa peduli. Takdir mempertemukan mereka kembali bertahun-tahun kemudian, saat luka keduanya belum sembuh , apakah Salwa akan kembali pada Yogie?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Tempat tinggal baru
Salwa turun dari mobil dengan langkah pelan, matanya tak lepas dari menatap setiap sudut bangunan itu dengan rasa takjub yang luar biasa. Ia merasa seperti berada di istana dalam dongeng, sangat jauh berbeda dengan kehidupan keras dan miskin yang selama ini ia jalani.
"Ini... rumah siapa?" tanya Salwa lirih, suaranya terdengar kecil di tengah keheningan malam. Ia menoleh ke arah pria misterius itu, matanya penuh rasa ingin tahu sekaligus waspada. "Rumah siapa ini? Kenapa anda membawa saya ke sini?"
Namun, pria itu seolah tak mendengar pertanyaan itu. Ia hanya diam, wajahnya tetap tenang dan dingin tanpa menampakkan sedikit pun ekspresi kaget atau apa pun. Ia hanya berjalan mendekati Salwa, lalu memberi isyarat dengan tangan agar gadis itu mengikutinya masuk ke dalam.
Pria itu berjalan lebih dulu menuju pintu utama yang besar dan berukir indah. Sebelum membukanya, ia berbalik sejenak, menatap tepat ke manik mata Salwa yang masih penuh tanya.
"Masih banyak hal yang harus kau ketahui, Salwa," ucapnya pelan, nada bicaranya datar namun tegas. "Jangan banyak bertanya dulu. Masuklah. Di sinilah tempatmu mulai sekarang."
Salwa menelan ludah, rasa penasaran bercampur rasa takut kembali menyelinap di hatinya. Namun, apa boleh buat? Ia sudah sejauh ini mengikuti pria itu, dan kembali mundur sama saja dengan kembali ke jalanan yang dingin dan kejam itu. Ia menguatkan hatinya, mengangkat kepala tinggi-tinggi sebuah kebiasaan baru yang mulai ia bentuk sejak rasa dendam tumbuh di dadanya lalu melangkah mengikuti pria itu masuk ke dalam rumah mewah tersebut.
Saat pintu besar itu terbuka dan Salwa melangkah masuk melewati ambang pintu, matanya semakin terbelalak. Bagian dalam rumah itu jauh lebih indah dan mewah dibandingkan tampak luarnya. Lantai marmer yang mengkilap, perabotan mahal yang tertata rapi, hiasan-hiasan seni yang terpajang di dinding, dan lampu gantung besar yang bergelantung di ruang tengah membuat suasana terasa begitu megah dan dingin sekaligus.
Salwa berdiri diam di tengah ruangan besar itu, merasa tubuhnya yang kotor, basah, dan lusuh terasa sangat tidak pantas berada di tempat seindah ini. Ia merasa seperti sampah yang diletakkan di atas permata. Namun, ingatan tentang perlakuan Yogie dan keluarganya kembali berputar cepat di kepalanya.
Mereka bilang aku sampah. Mereka bilang aku tidak berharga. Tapi lihatlah sekarang... aku berdiri di tempat yang sepuluh kali lebih mewah dari rumah mereka yang mereka banggakan itu. Suatu saat nanti, aku akan membuat mereka semua tahu, bahwa wanita yang mereka buang ini justru bernilai jauh lebih mahal dari apa pun yang pernah mereka miliki.
Pria misterius itu berhenti di ujung ruangan, lalu berbalik menghadap Salwa. Ia menatap gadis itu lekat-lekat, seolah sedang menilai sesuatu yang sangat berharga di hadapannya.
"Di sini aman," ucapnya singkat. "Di sini kau akan tinggal, kau akan makan, kau akan berpakaian bagus, dan kau akan pulihkan dirimu. Dan saat waktunya tiba... aku akan membantumu melakukan apa pun yang kau inginkan. Termasuk... membalas semua rasa sakit yang pernah kau terima."
Jantung Salwa berdegup kencang. Kata-kata terakhir itu langsung menancap ke dalam hatinya. Membalas...
Mata Salwa menajam, kilatan dingin kembali muncul di sana. Ia menatap lurus ke arah pria misterius itu, untuk pertama kalinya tanpa rasa takut.
"Siapa anda sebenarnya... apa pun tujuan anda membawaku ke sini..." jawab Salwa dengan suara yang masih bergetar namun penuh tekad. "Saya menerima tawaran itu. Karena mulai malam ini, satu-satunya tujuan hidup saya hanyalah satu: membuat mereka yang menyakiti dan membuang ku menyesal seumur hidup mereka."
Pria itu tersenyum lagi senyum dingin yang sama seperti tadi, namun kali ini ada kilatan kepuasan di matanya. Seolah ia telah menemukan kepingan teka-teki yang paling pas untuk rencana besarnya.
"Bagus," jawabnya pelan. "Itulah yang ingin aku dengar. Sekarang, ikut aku. Ada banyak hal yang harus kau pelajari, Salwa. Karena perjalanan panjang menuju pembalasan dendammu baru saja dimulai.
Setelah mengucapkan kalimatnya yang penuh makna itu, pria misterius itu memandang tubuh Salwa yang masih basah, kotor, dan menggigil kedinginan. Wajahnya yang dingin sedikit melunak, meski tidak sampai menghilangkan aura tegas yang selalu menyertai dirinya. Ia sadar, gadis di hadapannya ini baru justru melewati malam paling buruk dalam hidupnya, dan kondisi fisiknya pun sudah sangat lemah.
"Kau harus membersihkan dirimu," ucapnya pelan namun tegas. "Kau tidak bisa berdiri di sini dalam keadaan seperti itu. Segala kotoran dan jejak masa lalu yang menempel padamu, mulai malam ini harus kau tinggalkan."
Pria itu lalu berbalik sedikit, mengangkat tangan dan bertepuk tangan dua kali. Tak lama kemudian, muncul seorang wanita paruh baya yang tampak ramah namun sopan, berjalan dengan langkah tenang mendekat. Wanita itu mengenakan seragam rapi, senyumnya lembut namun ada rasa hormat yang mendalam saat ia menundukkan kepala menyapa tuannya itu.
"Rini," panggil pria itu.
"Ya, Tuan?" jawab wanita itu Rini dengan suara halus.
"Dia adalah Nona Salwa. Mulai detik ini, layani dia sebagaimana kau melayani saya . Penuhi semua kebutuhannya, berikan pakaian bersih, dan pastikan dia merasa nyaman. Dia adalah tamu terpenting di rumah ini, ingat itu baik-baik."
"Baik, Tuan. Saya mengerti," sahut Rini dengan patuh, lalu menoleh menatap Salwa dengan pandangan iba sekaligus ramah.
Pria itu kembali menatap Salwa, matanya tajam dan serius. "Ikuti Rini. Dia akan membawamu ke kamar yang sudah kusiapkan. Bersihkan dirimu, ganti pakaianmu, dan istirahatlah sejenak untuk menenangkan diri. Namun ingat, ini belum berakhir. Setelah kau selesai mandi dan berganti pakaian, suruh Rini mengantarmu menemui ku di ruang kerjaku. Ada banyak hal yang harus kita bicarakan."
Salwa mengangguk pelan. Ia masih merasa asing dengan semua ini, namun rasa lelah dan dingin di tubuhnya membuatnya tak banyak bertanya lagi. Ia menatap Rini yang mengulurkan tangan dengan ramah, lalu dengan langkah gontai, Salwa berjalan mendekat dan menerima uluran tangan wanita itu.
"Ayo, Nona Salwa. Mari saya antar ke kamar," ucap Rini lembut, seolah bisa merasakan beban berat yang sedang dipikul gadis muda itu.
Mereka pun berjalan menaiki tangga besar yang beralaskan karpet tebal dan lembut. Sepanjang lorong yang luas dan megah, Salwa tak henti menatap sekelilingnya dengan takjub. Segala sesuatu di rumah ini tampak begitu mahal dan indah, sangat jauh berbeda dengan gubuk kecil tempat ia dibesarkan, bahkan jauh lebih mewah dibandingkan rumah keluarga Yogie yang dulu sempat ia anggap besar.
Rini membukakan pintu sebuah kamar di ujung lorong. Saat pintu itu terbuka, mata Salwa kembali terbelalak kaget. Kamar ini... bahkan lebih besar dari seluruh rumah tempat ia tinggal bersama ibu dan ayah tirinya. Ruangannya luas, perabotan mewah dengan tempat tidur besar yang empuk dan tertutup kain sutra, lemari kaca yang besar, serta jendela-jendela besar yang tertutup tirai tebal. Di sudut ruangan, ada pintu lain yang ternyata adalah kamar mandi pribadi yang lengkap dengan perlengkapan mandi yang terlihat sangat mahal.
Bersambung ,,,,