Di dunia kultivasi yang kejam dan tak berbelas kasih, takdir mengikat dua jiwa dari dunia yang sepenuhnya berbeda: Zeng Niu, seorang pemuda berdarah dingin dari kelas bawah yang mewarisi Dao Bencana dan Petir Hukuman Langit, serta Zhao Ying, putri dari Tiran Ketiadaan Surga Atas yang jatuh ke dunia fana dengan kultivasi yang tersegel.
Terdampar di Benua Selatan yang dipenuhi kabut dan kutukan, keduanya harus bertahan hidup dari buruan ahli Nascent Soul dari Suku Li Kuno. Perjalanan berdarah melintasi Hutan Seratus Ribu Gunung Siluman hingga ke gelapnya Kota Reruntuhan Tanpa Tuan memaksa Zeng Niu untuk terus mendobrak batas fisiknya demi menjadi perisai bagi sang dewi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Pertemuan di Kota Kabut Merah
Zeng Niu menatap kepingan daun bambu hijau yang tergeletak di atas meja kayu lapuk itu. Daun tersebut memancarkan cahaya hijau zamrud yang sangat lembut, berdenyut pelan seirama dengan napas alam di sekitarnya.
Tanpa ragu, Zeng Niu mengulurkan tangannya yang kasar untuk mengambil daun itu.
"Hei, Bocah Gila! Jangan sembarangan menyentuh barang peninggalan monster yang ranahnya tidak bisa kau lihat!"
Suara melengking Lei Ling menggema di Lautan Kesadarannya. Roh pedang petir itu melipat tangan di depan dada, rambut ungunya berderak memancarkan percikan petir. "Bagaimana jika itu adalah kutukan pelacak jiwa? Kau baru saja keluar dari kandang iblis, jangan langsung masuk ke mulut naga!"
Jika dia ingin membunuh kita, dia sudah melakukannya sejak tadi dengan satu jentikan jari, balas Zeng Niu tenang dalam batinnya.
Ujung jari Zeng Niu menyentuh permukaan daun bambu tersebut. Benda itu terasa dingin, namun seketika mengirimkan seberkas Niat Pedang (Sword Intent) yang luar biasa murni dan tak tertandingi ke dalam telapak tangannya. Niat pedang itu tidak buas seperti Bilah Penebas Tulang, melainkan sangat damai, layaknya aliran sungai yang mampu membelah gunung tanpa suara.
Mata Qian Fugui membelalak lebar hingga nyaris keluar dari rongganya. Pria gemuk itu mencondongkan tubuhnya, hidungnya kembang kempis mengendus daun tersebut.
"D-Daun bambu hijau yang memancarkan Niat Pedang murni... Leluhurku! Jangan bilang ini adalah Daun Pedang Teratai Hijau?!" seru Fugui histeris, suaranya sengaja ditahan agar tidak terdengar ke luar kedai.
"Kau tahu benda ini?" tanya Zhao Ying, alisnya bertaut.
"Tentu saja Daoist ini tahu! Aku mungkin gagal berkultivasi, tapi pengetahuanku menembus langit!" Fugui menepuk dadanya bangga. "Di Benua Utara ini, ada legenda tentang seorang Pengembara Pedang Bebas yang kultivasinya sudah menembus batas Soul Transformation. Dia tidak terikat sekte manapun, dan kemanapun ia pergi, ia meninggalkan sehelai daun bambu. Memegang daun itu sama dengan memiliki perlindungan mutlak dari sang legenda. Pemimpin sekte raksasa pun akan bersujud melihatnya!"
Zeng Niu memutar daun itu di sela-sela jarinya, lalu dengan santai memasukkannya ke dalam saku jubah hitamnya.
"Barang yang berguna. Ayo pergi. Kita tidak bisa duduk di kedai ini selamanya," ucap Zeng Niu seraya berdiri. Ia menyampirkan Bilah Penebas Tulang raksasanya ke punggung, memastikan kain pengikatnya kencang.
Mereka bertiga melangkah keluar dari Kedai Angin Merah.
Udara dingin Benua Utara menyapu wajah mereka. Berbeda dengan Benua Selatan yang lembab dan berbau miasma, udara di sini bersih, tajam, dan Qi spiritual ortodoksnya mengalir deras layaknya sungai yang tak terlihat.
Mereka berada di sebuah kota perbatasan yang cukup besar, dibangun dari susunan batu bata abu-abu yang kokoh. Tembok kotanya menjulang tinggi, dan di luar tembok, terlihat hamparan pepohonan dengan daun berwarna merah darah yang tak pernah gugur.
"Ini adalah Kota Kabut Merah," gumam Fugui, melihat sekeliling dengan wajah tegang. "Kita berada di ujung paling selatan Benua Utara. Hutan di luar sana adalah Hutan Kabut Merah, wilayah anomali yang sering muncul retakan ruang. Pantas saja penjagaannya seketat ini."
Benar saja, jalanan kota itu tidak seramai pasar pada umumnya. Suasananya tegang. Pasukan kultivator yang mengenakan zirah biru berpatroli dalam kelompok-kelompok kecil. Tatapan mereka waspada, menelusuri setiap wajah pendatang baru.
"Tabir benua mulai retak," bisik Zhao Ying, menarik cadar sutra putihnya sedikit lebih tinggi untuk menyembunyikan paras cantiknya. "Faksi-faksi besar di Benua Utara pasti sudah menyadarinya dan mengirim murid elit mereka untuk menjaga perbatasan dari invasi monster Benua Selatan."
"Kalau begitu, kita harus berhati-hati agar tidak terlihat seperti—"
Belum sempat Fugui menyelesaikan kalimatnya, sekelompok patroli yang terdiri dari lima kultivator berzirah biru berhenti tepat di depan mereka.
Pemimpin patroli itu, seorang pria jangkung dengan fluktuasi Qi setara Foundation Establishment Tahap Awal, menatap ketiganya dengan mata menyipit tajam. Pandangannya langsung tertuju pada pedang raksasa berwarna hitam kusam di punggung Zeng Niu, lalu beralih ke wajah datar sang pemuda yang memancarkan aura membunuh terpendam.
Tiga orang aneh: seorang pemuda berjubah hitam dengan pedang barbar, seorang gadis bercadar dengan aura yang tidak bisa dibaca, dan seorang pria gemuk berjubah kuning kotor yang terlihat seperti penipu pasar. Ini adalah kombinasi paling mencurigakan di seluruh perbatasan!
"Berhenti!" bentak kapten patroli itu, tangannya bertumpu pada gagang pedangnya. Keempat bawahannya langsung menyebar, mengepung Zeng Niu dari berbagai sisi. "Keluarkan token identitas kalian! Dari sekte mana kalian berasal? Apa tujuan kalian ke Kota Kabut Merah?!"
Qian Fugui langsung berkeringat dingin. "A-Anu, Tuan Penjaga yang gagah berani! Kami hanya pedagang obat keliling dari... dari desa utara! Ya, pedagang obat! Ini hanya pedang hiasan untuk menakut-nakuti anjing liar!"
Kapten itu mendengus sinis. "Pedang hiasan yang beratnya membuat batu jalanan retak saat kalian melangkah? Jangan menghinaku, Gendut! Kalian berbau seperti darah dari Benua Selatan! Serahkan senjata kalian dan ikut kami ke pos interogasi!"
Mendengar kata 'serahkan senjata', Dantian Zeng Niu langsung berdenyut.
Di dunia kultivasi, menyerahkan senjata pada orang asing sama saja dengan menyerahkan leher untuk digorok. Wajah Zeng Niu mendadak berubah menjadi dingin. Tangan kanannya bergerak pelan menuju gagang Bilah Penebas Tulang.
"Bantai saja mereka, Niu! Bantai!" sorak Lei Ling di dalam kepalanya, roh petir itu jelas mewarisi sifat kejam pedang pembunuh. "Hanya Foundation Establishment awal! Potong kepalanya, lalu kita lari ke hutan!"
Namun, sebelum tangan Zeng Niu menyentuh gagang pedangnya, sebuah tangan yang lembut, hangat, dan sehalus pualam menahan pergelangan tangannya.
Zeng Niu menoleh ke samping. Zhao Ying berdiri di dekatnya, jemarinya menggenggam ringan pergelangan tangan sang algojo. Mata jernih gadis itu menatap Zeng Niu dari balik cadarnya, memberikan isyarat halus berupa gelengan kepala.
Jangan bertindak gegabah. Kita baru tiba. Jangan buat musuh dari sekte ortodoks sebelum kita menemukan sekutu, pesan tatapan Zhao Ying.
Sentuhan lembut itu bagaikan air es yang menyiram bara api Niat Membunuh Zeng Niu. Kecanggungan aneh kembali merayap, membuat Zeng Niu mengendurkan otot lengannya. Ia melepaskan genggamannya dari pedang dan menghela napas pelan, membuat Fugui diam-diam membuang napas lega (ia hampir saja mengencingi celananya melihat Zeng Niu bersiap membantai).
Zeng Niu menatap kapten patroli itu dengan wajah datar. Alih-alih menghunus pedang, ia merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan kepingan daun bambu hijau zamrud tersebut.
Zeng Niu menjepit daun itu di antara dua jarinya dan mengangkatnya ke depan wajah sang kapten.
"Apakah ini cukup sebagai token identitas kami?" tanya Zeng Niu dingin.
Kapten patroli itu awalnya bersiap untuk marah karena merasa dipermainkan. Namun, saat matanya menangkap pendaran cahaya zamrud dan merasakan Niat Pedang Soul Transformation yang sangat murni memancar dari daun kecil itu, wajahnya seketika kehilangan seluruh warna darahnya.
Kapten itu mundur tiga langkah, kakinya gemetar. Pedang di pinggangnya bergetar hebat di dalam sarungnya, seolah bersujud pada Niat Pedang yang lebih tinggi!
"D-Daun Pedang Teratai Hijau..." bisik kapten itu dengan suara tercekat.
Tanpa memedulikan pangkat atau harga dirinya, kapten itu langsung menjatuhkan satu lututnya ke tanah, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Keempat bawahannya yang bingung langsung ikut berlutut melihat atasan mereka ketakutan setengah mati.
"M-Maafkan mata buta junior ini, Tuan! Saya tidak tahu Anda adalah utusan dari Senior Pengembara!" ucap sang kapten, keringat dingin membasahi seragam birunya. "S-Silakan lanjutkan perjalanan Anda. Paviliun Pedang Bayangan tidak akan pernah menghalangi jalan tamu agung!"
Paviliun Pedang Bayangan.
Mendengar nama sekte itu, jantung Zeng Niu sedikit berdesir. Itu adalah sekte tempat kedua sahabat bodohnya, Bao Tu dan Lin Xiaoyu bernaung!
Zeng Niu menyimpan kembali daun bambu itu dengan santai, mengabaikan para penjaga yang masih gemetar, dan melangkah maju membelah barikade mereka.
Fugui buru-buru menyusul di belakangnya, wajahnya kembali tengadah arogan seolah daun bambu itu adalah miliknya. "Hmph! Kalian beruntung Tuan Mudaku sedang berbaik hati hari ini! Ayo, Nona Ying, jalanannya kotor."
Zhao Ying menggelengkan kepalanya pelan, menahan senyum di balik cadarnya melihat tingkah laku pria gemuk itu. Ia melangkah mengikuti Zeng Niu.
Mereka berjalan menyusuri jalanan Kota Kabut Merah yang semakin ramai.
"Ke mana tujuan kita sekarang, Zeng Niu?" tanya Zhao Ying, suaranya halus menembus kebisingan kota fana. "Kau tidak memiliki tujuan pasti di Benua Utara ini, bukan?"
Zeng Niu terdiam sejenak. Ia melihat ke arah ujung jalan raya yang mengarah langsung ke gerbang selatan kota menuju Hutan Kabut Merah.
"Aku punya beberapa urusan lama yang harus kuselesaikan, dan teman-teman yang harus kutemui," gumam Zeng Niu pelan. Ia menoleh menatap Zhao Ying. "Tapi sebelum itu, aku perlu memulihkan kultivasiku ke Foundation Establishment secepat mungkin. Aku tidak bisa terus-terusan melindungimu hanya dengan Qi Tahap 4 dan ancaman dari selembar daun pinjaman."
Mendengar kata-kata 'melindungimu' yang diucapkan dengan sangat natural dan penuh tanggung jawab oleh pemuda itu, jantung Zhao Ying kembali berdetak sedikit lebih cepat. Gadis itu membuang pandangannya ke arah deretan toko lentera di pinggir jalan.
"K-Kau... tidak perlu terburu-buru. Tubuhmu baru sembuh," balas Zhao Ying, suaranya sedikit lebih pelan dari biasanya.
Di belakang mereka, Fugui kembali memutar bola matanya, merasa seperti nyamuk di antara sepasang merpati.
Tiba-tiba, dari kejauhan di luar tembok kota, terdengar sebuah ledakan keras.
BOOOOOOM!
Suara itu diikuti oleh getaran tanah yang cukup kuat hingga membuat debu berjatuhan dari atap-atap rumah. Para penduduk kota mulai panik, sementara para patroli bergegas berlari menuju gerbang selatan.
Zeng Niu menghentikan langkahnya. Matanya yang tajam menatap ke arah kepulan asap merah yang membumbung tinggi di atas Hutan Kabut Merah.
Di antara suara ledakan tersebut, insting Zeng Niu menangkap sebuah suara yang sangat familiar baginya. Sebuah raungan kasar, disusul dengan dentingan logam raksasa yang menghantam tanah.
"RASAKAN INI, MONSTER JELEK! PALU PENGHANCUR GUNUNG BAO TU DATANG!"
Sebuah senyum miring yang liar dan penuh antusiasme tiba-tiba mekar di wajah Zeng Niu. Ia menarik gagang pedangnya perlahan.