Wang Chan hanyalah pemuda biasa dari Desa Hitam. Berkali-kali ditolak oleh sekte karena bakat rendah dan kekuatan lemah.
Namun saat desa mereka dihancurkan oleh monster iblis, ia tak punya pilihan selain melarikan diri sambil membawa seorang teman wanitanya.
Di tengah dunia kultivasi yang kejam, Wang Chan harus bertahan hidup dengan kekuatan yang nyaris tak berarti. Dari pelarian putus asa itulah, takdirnya mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Menyatakan cinta disaat yang tidak tepat
Wang Chan bergegas untuk kembali. Langkahnya cepat, nyaris setengah berlari, melewati jalanan Kota Jiang yang kini semakin padat.
Pedagang yang tadi menawarkan dagangan dengan ramah kini ia lewati begitu saja.
Seorang pria dengan gerobak sayur hampir menabraknya, tapi Wang Chan melesat menghindar dengan refleks yang tidak disadarinya sendiri.
Pertemuan dengan wanita berambut putih itu membuatnya merasa tidak nyaman.
Rasa aneh yang tidak bisa ia jelaskan, seperti ada ulat dingin merayap di punggungnya, seperti ada telinga yang selalu mendengarkan setiap langkah kakinya.
Senyum wanita itu masih terbayang jelas di benaknya, senyum yang tahu sesuatu yang ia sendiri tidak tahu.
Ia langsung masuk ke dalam kamar penginapan dan menutup pintu. Bunyi geser pintu kayu terdengar kasar, disusul dengan bunyi kunci yang terkunci dari dalam.
Wang Chan bersandar sejenak di pintu, dadanya naik turun, keringat dingin membasahi pelipisnya.
Qing Yi masih tertidur nyenyak. Tubuhnya masih tergolek di ranjang dengan selimut yang mulai tersingkir lagi, mungkin karena geliatnya saat tidur.
Kini pahanya yang mulus kembali terekspos, dan sedikit pusarnya yang putih juga terlihat. Napasnya teratur, tidak terganggu oleh kedatangan Wang Chan yang tergesa-gesa.
Wang Chan tidak memperhatikannya.
"Pandanganku..."
Sebelah matanya, tepatnya mata kirinya, terasa panas. Bukan panas biasa, tapi panas seperti ada bara api yang diletakkan di belakang bola matanya.
Rasa panas itu menjalar ke pelipis, ke pangkal hidung, bahkan ke gusinya.
Ia berkedip beberapa kali, tapi rasa panas itu tidak kunjung reda. Bahkan semakin menjadi-jadi.
"Ada yang aneh."
Wang Chan duduk di lantai. Tidak di ranjang, tidak di kursi, langsung di lantai bambu anyam yang dingin dan keras.
Kaki disilangkan, punggung diluruskan, kedua telapak tangan menghadap ke atas di atas lutut.
Ia memejamkan mata, berusaha menstabilkan kekuatan spiritualnya yang tiba-tiba terasa kacau.
Qi di dalam meridiannya mengalir tidak karuan. Seperti sungai yang jebol tanggulnya. Seperti sekawanan burung yang terbang tanpa arah.
Wang Chan bisa merasakan aliran Qi itu menghantam dinding-dinding meridiannya, menyebabkan rasa sakit yang berdenyut-denyut di sekujur tubuh.
"Sebenarnya apa yang dia lakukan. Tidak saling mengenal tapi tersenyum seperti itu."
HOEKKK!
Darah segar menyembur dari mulut Wang Chan membasahi lantai bambu di depannya.
Darah itu berwarna merah pekat, tapi di tengah-tengahnya ada gumpalan kecil berwarna kehitaman, seperti racun, atau seperti Qi yang terkontaminasi.
Wang Chan terbatuk-batuk, tangannya yang sebelah menekan dada, sementara tangan satunya lagi masih bertumpu di lutut berusaha mempertahankan posisi.
"Sial... tidak perlu berpikir lagi... harus segera menerobos Ranah Nascent Soul."
Suaranya serak, hampir seperti bisikan.
Di bawah Nascent Soul, seorang kultivator bukanlah kultivator sejati.
Itulah yang selalu dikatakan oleh para tetua di setiap sekte. Golden Core hanyalah fondasi. Nascent Soullah yang menentukan apakah seseorang bisa disebut 'hebat' atau tidak.
Tanpa Nascent Soul, seseorang hanya bermain-main di permukaan kultivasi, tidak lebih dari anak kecil yang mengayun-ayunkan pedang kayu.
Tapi peluang untuk mencapai Nascent Soul juga tidak mudah.
Kekuatan spiritual di sekitar Wang Chan menebal. Tidak terlihat oleh mata telanjang, tapi terasa, seperti udara yang menjadi berat, seperti tekanan yang meningkat perlahan.
Energi itu menyelimutinya, membungkus tubuhnya yang duduk bersila di lantai itu, berputar perlahan searah jarum jam.
Rambut Wang Chan yang hitam dan sedikit panjang mulai bergerak tanpa angin.
"Aku... sudah sangat lama sekali..."
Ia sudah bertahun-tahun di Ranah Golden Core.
Bertahun-tahun merasakan bahwa ambang batas Nascent Soul ada di depannya, hanya sejauh satu langkah, tapi langkah itu tidak pernah bisa ia ambil.
Seperti bermimpi berlari di lumpur, kakinya bergerak, tapi tubuhnya tidak maju. Seperti mengejar bayangan sendiri, semakin cepat ia berlari, semakin jauh bayangan itu.
Pandangannya terasa buram. Bukan karena air mata, tapi karena sesuatu yang lain, sesuatu yang menutupi penglihatannya dari dalam.
Mata kirinya, yang terasa panas sejak tadi, kini menyala.
Samar-samar, redup, tapi jelas, cahaya merah menyala di dalam bola mata kirinya, seperti bara api membara.
"Panas... apa yang wanita itu lakukan pada mataku."
Wanita berambut putih. Senyumnya. Matanya yang hijau.
Ada hubungan. Wang Chan yakin. Tapi ia tidak punya waktu untuk menganalisis.
Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya, dari ujung rambut hingga ujung jari kaki, dari kulit terluar hingga sumsum tulang terdalam.
Kekuatan spiritual yang ia tampung di dalam pusat Qi-nya terasa seperti mau meledak. Seperti air di dalam ketel yang mendidih tanpa lubang uap.
Seperti balon yang ditiup terus-menerus sampai kulit karetnya meregang dan meregang dan hampir robek.
Wang Chan menggertakkan giginya. Keringat mengalir deras di sekujur tubuhnya, membasahi pakaiannya.
Wajahnya pucat pasi, bibirnya kebiruan. Jari-jari tangannya yang bertumpu di lutut mulai bergetar hebat.
Kemudian, tangan lembut menyentuh punggungnya.
Sentuhan itu hangat. Bukan hangat seperti api, tapi hangat seperti sinar matahari pagi yang menembus dedaunan.
Hangat seperti teh jahe di malam dingin. Wang Chan menoleh sedikit, gerakan kecil, karena lehernya terasa kaku.
Itu Qing Yi yang terbangun.
Mungkin karena berisik. Atau mungkin karena instingnya sebagai wanita yang selalu peka terhadap keadaan Wang Chan.
Matanya yang tadinya masih sembab karena tidur, kini terbuka lebar.
Wajahnya yang awalnya masih polos karena baru bangun, kini berubah serius dalam sekejap.
Dia sudah turun dari ranjang. Tanpa suara, tanpa kata-kata.
Kini ia berlutut di belakang Wang Chan, kedua telapak tangannya yang mungil dan lembut menempel di punggung Wang Chan, tepat di antara dua tulang belikatnya.
Dari telapak tangan Qing Yi mengalir Qi yang lembut, sejuk, menenangkan. Seperti aliran sungai kecil yang membasahi tanah kering.
"Cobalah untuk tetap sadar, Wang Chan. Aku akan membantumu menahannya, tapi sisanya tergantung padamu sendiri."
Suaranya tenang. Tidak panik, tidak cemas.
Qing Yi menutup matanya, mengatur napasnya, dan mulai menyalurkan Qi-nya secara perlahan ke meridian Wang Chan, bukan untuk mengambil alih, tapi untuk menstabilkan.
Seperti seseorang yang memegang tangan temannya yang sedang menggigil kedinginan, tidak bisa menghentikan gemetarnya sepenuhnya, tapi bisa membuatnya terasa sedikit lebih tertahan.
Wang Chan kembali menutup matanya.
Perlahan-lahan, kekuatannya mulai stabil. Qi yang kacau balau mulai menemukan alirannya lagi.
Rasa panas di mata kirinya mulai mereda, tidak hilang sepenuhnya, tapi berkurang drastis. Matanya mulai mendingin, tidak lagi menyala merah seperti sebelumnya.
Wajahnya yang pucat perlahan mendapatkan sedikit warna kembali.
"Qing Yi... sedikit lagi, aku akan menerobos."
Suaranya masih lemah, tapi ada tekad di dalamnya.
Qing Yi memahaminya.
Kedua tangannya masih menempel di punggung Wang Chan, tapi kini tekanan Qi-ya sedikit berubah, bukan lagi menstabilkan, tapi mendorong.
Memberi dorongan terakhir. Seperti angin yang mengisi layar perahu yang akan berlayar.
"Lakukan, aku akan membantumu."
"Makasih. Aku sungguh mencintaimu."
"Eh...? Ehhhhhhh!?"
Wajah Qing Yi yang tadinya tenang dan serius, tiba-tiba berubah dalam sekejap. Matanya membulat sempurna, mulutnya menganga, bukan marah, bukan bingung, tapi lebih seperti... kaget. Kaget total.
Otaknya berhenti bekerja selama tiga detik penuh.
Pipi Qing Yi memerah. Merah yang menjalar dari pipi ke leher, bahkan ke ujung telinganya yang mungil.
"Ini bukan waktu yang tepat, dasar bodoh!"
Dadanya yang besar naik turun dengan cepat, bukan karena kelelahan menyalurkan Qi, tapi karena jantungnya yang tiba-tiba berdebar tidak karuan.
Seumur hidup ia bergaul dengan Wang Chan, bercanda, tertawa, bahkan mencium pipinya.
Belum pernah sekali pun Wang Chan mengucapkan kata-kata itu. Dan sekarang, di saat yang paling tidak terduga, kata-kata itu keluar.
Begitu saja. Singkat. Padat. Tanpa basa-basi.
Wang Chan tidak menunggu jawaban Qing Yi. Tidak membuka mata. Tidak mengulang ucapannya.
Lantai bambu di bawah Wang Chan mulai retak.
Udara di ruangan itu berputar semakin kencang, membentuk pusaran kecil yang membuat rambut Qing Yi yang panjang berkibar-kibar.
Pakaian tidur krem yang ia kenakan, longgar, tipis, tertiup angin hingga menyempit di tubuhnya, memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhnya yang montok dan sempurna.
Pahanya yang putih, perutnya yang rata, pusarnya yang mungil, dan di atas sana, dua puncak kembar yang besar dengan dua titik merah muda yang menonjol di balik kain tipis, menekan-nekan erang karena angin.
Tapi Qing Yi tidak peduli. Matanya hanya tertuju pada Wang Chan.
Laki-laki bodoh.
Laki-laki yang hari ini, tanpa persiapan, tanpa romantisme, tanpa setting yang indah, mengatakan bahwa ia mencintainya.
Qing Yi tersenyum. Matanya basah. Tapi ia tidak menangis. Bukan sekarang.
Nanti, setelah semuanya selesai.
Sekarang, tugasnya hanya satu, memastikan Wang Chan tetap hidup.
Di luar jendela, awan-awan mulai berkumpul. Langit yang tadinya cerah kini berubah kelabu.
Angin bertiup lebih kencang dari biasanya. Beberapa kultivator di Kota Jiang menengadah ke langit, merasakan perubahan tekanan Qi yang tiba-tiba.
Seseorang sedang menerobos.
Seseorang di ranah yang cukup.
Dering!
Sebuah retakan tipis terdengar dari dalam tubuh Wang Chan.
Golden Core-nya mulai pecah. Dan dari dalam retakan itu, cahaya keemasan yang terang mulai menyembur, cahaya yang tidak hanya menerangi ruangan, tapi juga jiwa Qing Yi.
"Ini dia," bisik Wang Chan dengan suara yang tercekat antara sakit dan sukacita. "Nascent Soul... aku datang."