Di dunia bawah tanah yang kejam, seorang bos mafia yang tampan namun terkenal bengis tidak pernah ragu untuk melenyapkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Ketika salah satu anak buah level bawahnya terjerat utang besar yang tak mampu dibayar, nyawa pria tua itu berada di ujung tanduk. Demi menyelamatkan diri dari eksekusi mati, sang bapak nekat menawarkan putri cantiknya sebagai penebus utang. Meski awalnya enggan, sang bos mafia akhirnya menerima kesepakatan tersebut dan menikahi si gadis. Dimulailah kehidupan pernikahan yang dingin, penuh tekanan, dan agak kasar di dalam rumah megah sang mafia. Namun, di balik dinding es yang dibangun sang bos, sebuah dinamika baru perlahan mulai menguji batasan kekejamannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan dari Kegelapan
Pintu kayu tebal itu tertutup kembali tanpa suara, mengunci rapat dari luar dan meninggalkan dunia luar yang bising di balik punggung Asher. Di dalam kamar tamu yang luas itu, pencahayaan telah diredupkan, hanya menyisakan pendar temaram dari dua lampu tidur di sisi ranjang yang memancarkan cahaya kekuningan yang lembut. Udara di dalam ruangan terasa hangat, sarat akan aroma murni esensial mawar dan lavender sisa perawatan sore tadi—sebuah aroma yang mendadak terasa asing di indra penciuman Asher yang terbiasa dengan bau anyir darah dan kepulan asap cerutu.
Asher melangkah tanpa suara di atas karpet bulu domba yang tebal, mendekati ranjang raksasa king size di tengah ruangan. Langkah kakinya begitu seringan kucing predator yang sedang mengintai mangsa di kegelapan malam.
Begitu sampai di sisi ranjang, pandangan mata kelabunya langsung terkunci pada sosok yang terbaring di sana.
Chloe sedang tertidur pulas. Gadis itu berbaring miring dengan kedua tangan yang terlipat di dekat dagunya, tampak sangat anggun dan luar biasa cantik di bawah siraman cahaya temaram. Rambut cokelat gelapnya yang panjang dan halus tersebar acak di atas bantal sutra abu-abu, membingkai wajahnya yang mungil dengan sempurna. Kulitnya yang seputih susu tampak bersinar, bersih tanpa noda setelah dibersihkan dan dirawat selama berjam-jam oleh para terapis. Napasnya teratur, naik turun dengan lambat dan konstan, menandakan betapa nyenyaknya tidur gadis itu malam ini.
Asher memperhatikan setiap detail wajah Chloe dengan tatapan menilai yang dingin. Ada kedamaian yang begitu mutlak terpancar dari wajah gadis itu. Sebuah ekspresi yang sangat langka di dalam mansion berdarah ini. Kedamaian itu membuat Chloe seolah-olah sedang berada di dalam kamar rumahnya sendiri, menikmati tidur malam yang tenang, seakan dia sama sekali tidak menyadari fakta bahwa dirinya saat ini sedang ditawan oleh organisasi kriminal paling ditakuti di kota ini.
Menakjubkan, pikir Asher dalam hati. Keberanian ataukah kepolosan bodoh yang membuat gadis ini bisa tidur senyenyak ini di dalam sarang monster?
Perlahan, Asher menarik salah satu sudut bibirnya, membentuk sebuah seringai tipis yang kejam namun sarat akan ketertarikan yang misterius. Pria bertubuh tinggi tegap itu kemudian menurunkan bobot tubuhnya, duduk di tepi ranjang yang empuk tepat di samping posisi Chloe tidur. Kasur sutra itu sedikit amblas di bawah berat tubuh Asher, namun gerakan itu begitu halus hingga tidak langsung mengusik mimpi si gadis.
Asher menopang sikutnya di atas lutut, menundukkan wajahnya sedikit untuk mengamati wajah damai Chloe dari jarak yang lebih dekat. Di bawah cahaya kuning yang hangat, bulu mata Chloe yang lentik dan panjang menciptakan bayangan tipis di pipinya. Bibir merah muda alaminya sedikit terbuka, mengembuskan napas hangat yang lamat-lamat menerpa permukaan kulit tangan Asher yang dingin.
Bagi Asher, kedamaian di wajah Chloe adalah sebuah anomali. Tempat ini adalah neraka bagi orang-orang lemah, dan melihat selembar kertas putih bersih seperti Chloe tampak begitu tenang di dalam wilayah kekuasaannya memicu insting kegelapan di dalam diri Asher untuk mengusik dan menodainya dengan rasa takut.
Mungkin karena merasakan perubahan suhu udara di sekitarnya, atau mungkin karena insting alaminya menyadari kehadiran energi asing yang terlampau kuat dan berbahaya di dekatnya, kelopak mata Chloe bergerak perlahan. Dia melenguh pelan, mengernyitkan dahi mulusnya sebelum akhirnya membuka sepasang matanya.
Saat kesadarannya baru pulih setengah, hal pertama yang tertangkap oleh sepasang mata rusanya yang jernih adalah sosok bayangan hitam besar yang duduk tepat di tepi ranjangnya.
Chloe mengerjapkan matanya beberapa kali, mengira itu adalah bagian dari mimpi buruk atau mungkin Bi Mirna yang datang terlambat. Namun, ketika matanya berhasil menyesuaikan diri dengan cahaya temaram dan menangkap siluet tegas seorang pria asing bertubuh masif dengan kemeja putih yang lengannya digulung, jantung Chloe seolah berhenti berdetak detik itu juga.
"Aah!"
Sebuah pekikan tertahan lolos dari bibir Chloe. Kesadarannya langsung tersentak bangun sepenuhnya, digantikan oleh gelombang kepanikan yang luar biasa.
Secara refleks, Chloe bergerak mundur dengan cepat hingga punggungnya membentur kepala ranjang kayu yang kokoh. Dengan tangan yang gemetar hebat, dia menarik selimut sutra abu-abu tebal itu tinggi-tinggi, mendekapnya erat-erat di depan dada untuk menutupi seluruh tubuhnya. Wajahnya seketika memerah padam karena rasa malu dan takut yang bercampur aduk. Bagaimana tidak, malam ini dia hanya mengenakan gaun malam mini berbahan katun tipis tanpa lengan pemberian Bi Mirna—pakaian tidur yang sangat minim yang membuat kulit paha dan bahu mulusnya terekspos bebas sebelum ditutupi selimut.
"S-Siapa Anda?! Bagaimana bisa Anda masuk ke sini?!" berondong Chloe dengan suara yang melengking panik, napasnya memburu cepat menahan takut. Kedua tangannya mencengkeram erat pinggiran selimut seolah benda itu adalah satu-satunya perisai pelindung nyawanya.
Asher tidak bergeser satu milimeter pun dari posisinya duduk di tepi ranjang. Pria itu perlahan menegakkan punggungnya, memperbaiki posisi duduknya menjadi tegak. Dia tidak menjawab pertanyaan Chloe. Alih-alih berbicara, Asher hanya menatap gadis itu dengan sepasang mata kelabunya yang tajam dan menusuk—sebuah tatapan kosong tanpa emosi namun sarat akan dominasi yang mutlak, layaknya seekor serigala alpha yang sedang mengunci target buruannya.
Tatapan mata Asher yang sedingin es itu sukses membuat bulu kuduk Chloe meremang. Gadis itu bergidik ngeri, merasa hawa dingin yang pekat mendadak menusuk hingga ke tulang sumsumnya. Di bawah intimidasi visual dari pria tampan namun mengerikan di depannya, Chloe merasa suaranya mendadak tercekat di kerongkongan. Pria ini memancarkan aura kematian yang jauh lebih pekat dan berbahaya daripada dua orang berjas hitam yang menculiknya di rumah beberapa hari lalu.
"K-Kau... Kau pemilik rumah ini?" tanya Chloe lagi, kali ini dengan nada suara yang mencicit pelan, keberaniannya menciut drastis di bawah tatapan tajam Asher. "Di mana Ayahku? Apa yang kalian lakukan pada Ayahku?!"
Keheningan kembali meraja selama beberapa saat. Asher tetap membisu, membiarkan ketakutan Chloe berkembang biak di dalam ruangan yang sunyi itu. Dia menikmati bagaimana mata rusa yang tadinya jernih dan damai itu kini bergetar hebat penuh teror, menatapnya seolah-olah dia adalah iblis yang siap mencabut nyawanya. Ini adalah ekspresi yang seharusnya ditunjukkan oleh seorang tawanan, bukan kedamaian bodoh seperti saat dia tertidur tadi.
Setelah merasa kepuasan gelapnya terpenuhi melihat tubuh Chloe yang gemetar di balik selimut, Asher perlahan berdiri dari tepi ranjang. Tubuhnya yang tinggi menjulang menciptakan bayangan besar yang seolah menelan sosok mungil Chloe yang menyudut di kepala ranjang.
Asher merapikan kemeja putihnya sejenak dengan gerakan yang sangat tenang dan elegan. Dia menatap Chloe untuk terakhir kalinya malam itu dari ketinggian tubuhnya, memberikan tatapan merendahkan yang dingin.
"Tidur yang nyenyak, Gadis Tebusan," ucap Asher akhirnya, memecah keheningan dengan suara baritonnya yang berat, rendah, dan bergetar mematikan.
Asher membalikkan tubuhnya, melangkah perlahan menuju pintu ganda kamar tanpa berniat menjawab satu pun pertanyaan tentang ayah Chloe. Namun, tepat sebelum tangannya menyentuh gagang pintu kayu ek yang tebal, Asher menghentikan langkahnya sejenak tanpa menoleh ke belakang.
"Besok pagi, aku akan menemuimu lagi di sini," lanjut Asher, memberikan sebuah pesan pendek yang sarat akan perintah mutlak dan ancaman terselubung. "Pastikan kau sudah membersihkan dirimu dan menghabiskan sarapanmu sebelum aku datang. Jangan buat aku menunggu."
Klik. Cklek.
Pintu besar itu dibuka dan ditutup kembali dengan cepat, diikuti oleh suara mekanis kunci otomatis yang berputar dari luar. Kamar mewah itu kembali mengunci, menyisakan keheningan yang kini terasa jauh lebih mencekam dan menakutkan daripada sebelumnya.
Chloe masih terpaku di posisinya, memeluk selimut sutra tebal itu dengan erat ke dadanya. Tubuhnya masih gemetar, dan air mata ketakutan yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes membasahi pipinya yang pucat. Pesan terakhir dari pria misterius berwajah dingin itu terus bergema di dalam otaknya layaknya sebuah vonis. Chloe tahu, ketenangannya selama beberapa hari ini telah berakhir. Besok pagi, sang pemilik asli dari sangkar emas ini akan kembali datang, dan Chloe harus bersiap menghadapi apa pun kekejaman yang akan dibawa oleh pria sedingin es bernama Asher tersebut.