NovelToon NovelToon
FALLING IN LOVE WITH THE PLAYER OF HEARTS

FALLING IN LOVE WITH THE PLAYER OF HEARTS

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: elfin hati

Malam di kota metropolitan itu tidak pernah benar-benar tidur. Lampu-lampu neon berkilauan memantul di aspal basah sisa hujan sore tadi, menciptakan kilauan warna-warni yang mempesona namun juga menyembunyikan banyak rahasia di baliknya. Di tengah hiruk-pikuk itu, di salah satu klub malam paling eksklusif dan terkenal berbahaya di pusat kota, Grey Cha Lavian sedang menikmati malamnya seperti biasa.

Bagi banyak orang, Grey adalah definisi sempurna dari seorang play girl. Cantik, cerdas, berani, dan memiliki pesona yang mampu membuat hampir semua pria berlutut di hadapannya. Rambut panjang berwarna cokelat gelap dengan sedikit sentuhan pirang, mata abu-abu yang tajam dan penuh misteri, serta senyum menggoda yang selalu terukir di bibir merahnya. Dia tidak pernah terikat pada satu orang pun. Baginya, hubungan hanyalah permainan, dan dia adalah pemenang yang selalu berkuasa. Dia mendekat saat dia mau, pergi saat dia bosan, dan tidak pernah meninggalkan jejak perasaan di belakangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elfin hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Tuduhan Kejam dan Kepulangan yang Pahit

Beberapa hari setelah pernikahan sakral itu, kebahagiaan Grey terasa begitu lengkap. Davian memperlakukannya bagai ratu, memenuhi setiap keinginannya, dan menutupi hidupnya dengan kasih sayang yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Namun, takdir seolah belum puas menguji ketabahan hati wanita itu. Pagi itu, sebuah surat undangan resmi tiba di kediaman Argantha, dikirim langsung oleh ayahnya, Tuan Haris Lavian. Isinya singkat namun tegas: ayahnya memanggilnya pulang ke rumah lama mereka, mengatakan ada hal penting yang harus dibicarakan, dan menyatakan bahwa dia sudah terlalu lama tidak pulang.

Grey sempat ragu. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi menginjakkan kaki di rumah itu, tempat di mana dia tumbuh dalam dinginnya perlakuan ayah dan kejamnya ibu tiri. Namun, di dalam surat itu, nada tulisan ayahnya terdengar lembut, jauh berbeda dari biasanya. Ada kalimat yang membuat hati Grey sedikit tersentuh: "Ayah merindukanmu, Nak. Pulanglah sebentar. Ada banyak hal yang ingin Ayah sampaikan."

Grey yang hatinya kini sudah jauh lebih lunak dan penuh kasih sayang, mulai berpikir bahwa mungkin, mungkin saja ayahnya mulai sadar. Mungkin usia dan kesepian membuat ayahnya mulai ingin memperbaiki hubungan. Dia berniat menceritakan semuanya pada Davian, ingin membawa suaminya itu bersamanya sebagai tanda bahwa dia kini sudah memiliki pelindung dan kedudukan yang tinggi. Namun, saat dia mencari keberadaan Davian, sekretaris pribadi suaminya memberitahu bahwa Davian terpaksa berangkat mendadak ke kantor pusat perusahaannya yang berada di luar kota. Ada masalah besar yang muncul, perselisihan saham yang rumit dan serangan dari pesaing bisnis yang harus ditangani langsung oleh Davian sendiri.

"Maafkan aku, Sayang," begitu pesan singkat yang dikirimkan Davian lewat pesan suara, nadanya terdengar lelah namun tetap penuh perhatian. "Urusan ini mendadak dan berbahaya, aku harus pergi sekarang. Tunggulah aku di rumah, atau jika kau ada keperluan, beritahu pengawalku untuk menemanimu. Jangan ke mana-mana sendirian, ingat janjimu padaku. Aku akan kembali secepat mungkin, dan aku sangat merindukanmu."

Grey tersenyum tipis mendengar pesan itu. Dia tidak ingin menyusahkan suaminya yang sedang sibuk dan penuh tekanan. Dia berpikir, rumah orang tuanya hanya berjarak sekitar satu jam perjalanan, itu bukan tempat asing, dan ayahnya sendiri yang memanggilnya dengan nada baik. Dia berpikir dia hanya akan pergi sebentar, mendengarkan apa yang dikatakan ayahnya, lalu kembali lagi ke pelukan Davian. Dengan keyakinan itu, Grey berangkat sendirian, hanya ditemani satu orang pengawal yang menunggu di luar gerbang rumah orang tuanya, sesuai permintaan Grey agar terlihat sopan dan tidak berlebihan.

Saat mobilnya melaju memasuki gerbang besar rumah masa kecilnya, hati Grey berdebar kencang. Bangunan itu masih sama, megah, besar, dan tampak mewah dari luar, namun bagi Grey, tempat ini menyimpan ribuan kenangan pahit. Dia turun dari mobil, mengenakan gaun sederhana namun elegan pemberian Davian, wajahnya bersinar cantik dengan kebahagiaan yang dia bawa sejak menikah.

Saat dia melangkah masuk ke ruang tamu yang luas, ayahnya langsung berdiri menyambutnya. Tuan Haris Lavian tersenyum, senyum yang jarang sekali Grey lihat seumur hidupnya. Dia bahkan berjalan mendekat dan menepuk bahu putrinya itu dengan lembut.

"Grey… Nak, akhirnya kau pulang. Sudah lama sekali Ayah tidak melihatmu," ucap Tuan Haris dengan nada suara yang hangat, membuat mata Grey sedikit berkaca-kaca. Apakah benar? Apakah ayahnya benar-benar berubah?

"Iya, Yah. Grey di sini. Grey rindu Ayah," jawab Grey pelan, tersenyum tulus, luluh seketika oleh sambutan yang tidak terduga itu. Dia sama sekali tidak menyadari kilatan licik yang melintas di sudut mata ayahnya, atau sosok wanita yang berdiri di sudut ruangan, menatapnya dengan senyum penuh kemenangan yang tersembunyi—ibu tirinya, Nyonya Selvi.

"Duduklah, Nak. Minumlah. Kita harus banyak bicara," kata Tuan Haris, mempersilakan Grey duduk di sofa. Selvi, ibu tirinya, berjalan mendekat, wajahnya dipenuhi senyum manis yang palsu.

"Benar sekali, Sayang. Kami sangat merindukanmu. Kau terlihat jauh lebih cantik dan bersinar sekarang. Pasti hidupmu di luar sana sangat menyenangkan ya?" ucap Selvi, suaranya terdengar lembut namun ada pisau tersembunyi di baliknya.

Grey mengangguk pelan, merasa sedikit lega. Mungkin benar, mereka berubah. Mungkin rasa benci itu sudah hilang. Namun, kebahagiaan itu hanya berlangsung singkat. Begitu Grey duduk dan merasa sedikit rileks, ekspresi wajah ayahnya perlahan berubah. Senyum itu hilang, digantikan oleh kerutan kening yang keras dan tatapan kecewa yang tajam.

Tuan Haris menarik sebuah map besar berwarna cokelat dari meja di sampingnya, meletakkannya dengan keras di atas meja kaca di depan Grey. Suara benturan itu terdengar nyaring dan mengerikan di telinga Grey.

"Ayah memanggilmu pulang bukan hanya untuk bertemu, Grey," ucap Tuan Haris, nadanya berubah drastis menjadi dingin dan penuh kemarahan, persis seperti ayah yang dia kenal dulu. "Ayah memanggilmu pulang untuk menanyakan kebenaran tentang semua hal kotor yang kau lakukan di luar sana."

Hati Grey mencelos ke dasar perutnya. Dia menatap ayahnya bingung, lalu menatap map itu. "Apa maksud Ayah? Hal kotor apa? Grey tidak mengerti…"

Selvi yang duduk di sebelah suaminya itu langsung menyela, nada suaranya berubah menjadi tajam dan penuh tuduhan, topeng manisnya sudah terlepas sepenuhnya.

"Jangan berpura-pura tidak tahu, Grey! Kami sudah tahu segalanya! Kau gadis tidak tahu diri! Sudah diberi makan, diberi tempat tinggal, disekolahkan dengan biaya mahal, tapi apa balasanmu? Kau malah mempermalukan nama baik keluarga Lavian kami!" seru Selvi, matanya melotot penuh kebencian yang selama ini dia sembunyikan.

"Apa maksud Ibu? Aku tidak mengerti! Apa yang telah aku lakukan?" seru Grey, suaranya mulai bergetar. Dia merasa ada jebakan di sini, dia merasa ada sesuatu yang buruk sedang disiapkan untuknya.

Tuan Haris membuka map itu dengan kasar, lalu menumpahkan isinya ke atas meja. Puluhan lembar foto berhamburan, berserakan tepat di depan mata Grey. Saat Grey melihat isi foto-foto itu, darahnya seolah berhenti mengalir.

Itu adalah foto-foto dirinya. Foto-foto yang diambil diam-diam saat dia masih menjadi play girl, saat dia sering berada di klub malam—tempat di mana dia dan Davian pertama kali bertemu. Di sana terlihat dia sedang tertawa, sedang memegang gelas minuman, sedang mengobrol dengan beberapa pria, atau sedang berdiri di dekat meja bar. Foto-foto itu diambil dari sudut pandang yang salah, diambil sedemikian rupa sehingga terlihat buruk, terlihat seolah-olah dia sedang menggoda, sedang menjajakan diri, atau sedang melakukan hal-hal kotor.

"Lihatlah ini! Lihatlah aibmu ini!" bentak Tuan Haris, jarinya menunjuk kasar ke arah foto-foto itu. "Selvi mendapat foto-foto ini dari seseorang yang melihatmu. Kau pikir Ayah tidak tahu? Kau pikir kau bisa bermain-main sembarangan di luar sana tanpa ada yang tahu? Kau berani-beraninya menjual dirimu, menghabiskan waktu di tempat-tempat murahan, dan bermain dengan laki-laki sembarangan? Apakah ini cara kau membalas kebaikan Ayah membesarkanmu?"

Grey merasa dunianya runtuh seketika. Dia menatap foto-foto itu dengan pandangan kabur karena air mata yang mulai menggenang. Dia ingat masa lalu itu, dia ingat kenapa dia melakukan hal itu. Itu semua karena mereka. Karena dinginnya ayahnya, karena kejamnya wanita di depannya ini. Itu semua hanya pelarian, hanya topeng untuk menutupi rasa sakit. Tapi melihat semuanya dipajang di depan ayahnya, dan ditafsirkan seburuk itu… rasanya seperti ditusuk berulang kali di luka yang sama.

"Bukan begitu, Yah… Tolong dengarkan aku…" suara Grey tercekat, air mata mulai menetes membasahi pipinya. "Foto-foto itu… itu masa lalu Grey. Grey memang sering ke sana, tapi bukan untuk hal buruk… Grey hanya… Grey hanya kesepian. Grey hanya ingin diperhatikan. Ayah tidak pernah ada untuk Grey… Ibu tiri selalu membenci Grey… Grey hanya mencari cara untuk tidak merasa sendirian…"

"Alasan! Semua itu hanya alasanmu yang murahan!" potong Selvi dengan keras, wajahnya memerah penuh kemarahan palsu. Wanita itu mendekat, menatap Grey dengan pandangan merendahkan yang paling menyakitkan. "Jangan berani-berani menyalahkan kami! Kami sudah memberimu segalanya! Kau memang dasarnya wanita murah, tidak tahu malu. Kau pikir kau gadis baik-baik? Lihatlah kelakuanmu! Berkelana ke sana ke mari, mendekati banyak laki-laki… kau pikir kami tidak tahu? Kau menjual dirimu kan? Kau menjadi wanita bayaran demi uang, demi kemewahan? Kau mempermalukan seluruh keturunan Lavian!"

"TIDAK! ITU TIDAK BENAR!" teriak Grey, tangisnya sudah pecah total. Dia menatap ayahnya yang duduk diam dengan wajah sangat kecewa dan marah, percaya begitu saja pada setiap kata yang keluar dari mulut wanita jahat itu, sama persis seperti dulu. "Ayah! Tolong lihat Grey! Grey tidak pernah melakukan hal itu! Grey sudah berubah! Grey sudah menikah! Grey sudah menjadi istri orang yang sangat dihormati! Grey tidak seperti apa yang Ibu katakan!"

Tuan Haris mendengus kasar, dia berdiri dari kursinya, berjalan mondar-mandir dengan tangan di belakang punggung. Dia sama sekali tidak terkejut mendengar kata menikah, seolah dia sudah tahu atau tidak peduli.

"Menikah? Ha! Kau bilang kau menikah? Dengan siapa? Dengan laki-laki yang kau temui di tempat sampah itu? Kau pikir Ayah percaya? Mana suamimu? Kenapa dia tidak datang bersamamu? Kenapa kau datang sendirian? Karena dia pasti tahu betapa rendahnya dirimu dan dia malu mengakuimu!" ucap Tuan Haris dengan nada penuh penghinaan yang menusuk langsung ke ulu hati Grey.

Grey terdiam. Rasanya sakit sekali. Sakit lebih dari apa pun. Dia ingin berteriak bahwa suaminya adalah Davian Argantha, pria paling berkuasa, paling ditakuti, dan paling kaya di kota ini. Dia ingin bilang bahwa Davian rela menghancurkan dunia demi dia. Tapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya. Dia sadar, jika dia mengatakannya sekarang, ayahnya dan ibu tirinya pasti akan memanfaatkannya. Mereka pasti akan memeras Davian, meminta uang, atau menggunakan hubungan itu untuk keuntungan bisnis mereka. Grey tidak ingin membawa nama suaminya yang mulia ini ke dalam lumpur kejahatan keluarganya.

Dan yang paling menyedihkan, dia datang sendirian karena Davian sedang ada urusan mendadak. Dia datang sendirian karena dia ingin membuktikan bahwa dia masih berharga di mata keluarganya. Dan sekarang, di saat dia paling butuh perlindungan, di saat dia dituduh seburuk-buruknya, suaminya tidak ada di sisinya. Dia kembali menjadi gadis kecil yang lemah, yang berdiri sendirian menghadapi dua orang yang seharusnya menyayanginya tapi justru menjadi musuh terbesarnya.

"Kau diam saja… berarti semua yang kami dengar itu benar," kata Selvi sambil tersenyum sinis, merasa menang telak. Dia duduk kembali di sebelah suaminya dan berbisik dengan suara yang cukup keras agar Grey mendengarnya. "Lihatlah, Haris. Dia tidak bisa membela diri. Memang benar dia wanita murah. Mungkin saja dia menikah hanya untuk menutupi aibnya. Siapa yang mau menerima wanita yang sudah bermain dengan banyak laki-laki seperti dia? Hanya laki-laki rendahan sama sepertinya."

"DIAM! DIAM KALIAN SEMUA!" Grey akhirnya berteriak sekuat tenaga, tubuhnya gemetar hebat menahan rasa sakit dan amarah yang meluap. Dia menatap ayahnya dengan pandangan kecewa yang mendalam. "Ayah… Ayah benar-benar percaya semua omongan wanita ini? Ayah benar-benar percaya foto-foto yang diambil secara sembarangan ini? Setelah bertahun-tahun, Ayah tetap saja sama. Ayah tidak pernah mau tahu kebenaran. Ayah tidak pernah mau melihat betapa sakitnya Grey. Ayah hanya percaya apa yang Ayah ingin percayai saja!"

Air mata Grey mengalir deras tak terbendung. Dia merasa hancur lebur. Kebahagiaannya, perubahannya, cintanya dengan Davian… semuanya terasa sia-sia di mata ayahnya sendiri. Di mata keluarganya sendiri, dia tetaplah sampah, tetaplah aib, tetaplah gadis buruk yang tidak berharga.

"Aku pikir Ayah memanggilku pulang karena rindu… aku pikir Ayah ingin berdamai… ternyata ini semua hanya jebakan," lirih Grey, suaranya pecah. Dia mengusap kasar air matanya, berusaha berdiri tegak meski kakinya terasa lemas. "Grey tidak akan meminta apa pun dari Ayah. Grey tidak akan minta maaf untuk sesuatu yang tidak Grey lakukan. Grey pergi. Mulai hari ini, Grey tidak akan pernah menginjakkan kaki di tempat ini lagi. Biarkan kalian bahagia dengan kebencian kalian itu."

Grey berbalik hendak pergi, ingin lari sejauh mungkin dari rumah yang bagus seperti istana tapi berisi neraka ini. Namun suara ayahnya menghentikan langkahnya dari belakang, suara yang dingin dan penuh penolakan yang paling menyakitkan.

"Pergilah! Dan ingat satu hal, Grey Cha Lavian! Mulai detik ini, kau bukan lagi anakku. Aku malu memiliki anak yang kelakuannya sama seperti pelacur jalanan. Kau sudah menghancurkan nama baik keluarga ini. Jangan pernah kau tunjukkan wajahmu di sini lagi, dan jangan pernah berani mengaku bahwa kau anakku!"

Kalimat itu menghantam dada Grey lebih keras daripada pukulan fisik apa pun. Dia berhenti sejenak, punggungnya bergetar hebat menahan isak tangis yang tertahan. Dia tidak menoleh lagi. Dia tidak menjawab lagi. Dengan sisa kekuatan yang dia miliki, Grey melangkah keluar, meninggalkan rumah itu, meninggalkan ayahnya yang buta, meninggalkan ibu tirinya yang jahat yang tersenyum puas telah berhasil menghancurkan hati gadis itu sekali lagi.

Di luar rumah, saat dia masuk kembali ke dalam mobil dan pintu tertutup rapat, Grey akhirnya menjatuhkan dirinya ke kursi dan menangis sejadi-jadinya. Rasa sakit masa lalu kembali datang, rasa sakit penolakan dari darah dagingnya sendiri kembali menyiksa. Dan di tengah kepedihan itu, satu-satunya nama yang bisa dia ucapkan di sela-sela tangisnya hanyalah nama suaminya.

"Davian… Davian… tolong aku… di mana kau… aku butuh kau…"

Dia tidak tahu, bahwa saat itu juga, di kantor pusat perusahaannya yang jauh di sana, Davian tiba-tiba merasakan dada kirinya berdenyut sangat sakit, seolah ada sesuatu yang buruk sedang menimpa nyawanya. Rasa gelisah yang hebat melandanya, membuatnya langsung membatalkan semua pertemuannya, mengambil kunci mobilnya, dan bergegas pulang secepat mungkin. Naluri seorang suami dan seorang pelindung memberitahunya: wanitanya sedang terluka, dan dia harus ada di sana sekarang juga.

 

(Lanjut ke Bab 9)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!