NovelToon NovelToon
Kuali Penelan Bintang

Kuali Penelan Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Starlope

Di Alam Fana yang kejam, bakat adalah segalanya. Lin Ye, seorang pemuda dengan meridian cacat, ditakdirkan menjadi pelayan seumur hidupnya. Namun, nasibnya berubah ketika darahnya tak sengaja membangkitkan sebuah relik berkarat: Kuali Penelan Bintang.

Kuali kuno ini bukan sekadar alat pelebur pil, melainkan artefak primordial yang mampu melahap esensi langit dan bumi, bahkan menelan energi bintang-bintang. Dalam perjalanan kultivasi yang lambat, penuh perhitungan, dan berdarah, Lin Ye perlahan mengubah fisik fananya, menembus kemustahilan, dan melangkah ke jalan keabadian.

Ini bukan kisah pahlawan instan, melainkan seorang pemuda biasa yang merangkak dari debu, menentang takdir surga, dan pada akhirnya, melahap seluruh kosmos untuk melindungi apa yang ia hargai. Langit kesembilan pun akan gemetar di bawah kualinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starlope, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sutra Kekosongan Penelan Bintang

Kesadaran Lin Ye terombang-ambing di tengah lautan kehampaan. Di sekelilingnya, bintang-bintang raksasa meledak dan terlahir kembali dalam siklus diam yang memakan waktu jutaan tahun. Di tempat ini, konsep waktu dan ruang terasa kehilangan maknanya. Ia hanyalah setitik debu yang mengambang di hadapan keagungan jagat raya.

Namun, suara bergemuruh yang baru saja menggetarkan jiwanya menariknya kembali pada satu kenyataan: dia belum mati.

"Siapa... siapa di sana?" Lin Ye mencoba berteriak, namun di ruang hampa ini, suaranya hanya bergema di dalam pikirannya sendiri.

“Aku adalah gema dari era yang telah lama terlupakan oleh surga,” suara kuno itu kembali terdengar. Kali ini, suaranya tidak datang dari segala arah, melainkan langsung dari kedalaman inti jiwa Lin Ye. “Orang-orang fana di duniamu menyebut pusaka ini dengan berbagai nama yang menggelikan. Namun di Alam Primordial, benda ini dikenal sebagai Kuali Penelan Bintang. Pusaka yang diciptakan untuk melahap Hukum Langit dan Bumi.”

Di depan mata Lin Ye, debu bintang tiba-tiba berputar, membentuk bayangan sebuah wajah raksasa yang kabur dan tak berwujud. Sepasang mata yang terbuat dari pusaran kabut bintang menatap tajam ke arah jiwa Lin Ye, seolah mampu menguliti segala rahasia, ingatan, dan ketakutannya.

“Selama jutaan tahun aku tertidur di dunia bawah yang miskin energi ini. Banyak kultivator kuat yang kebetulan menemukanku, mencoba memurnikanku dengan api roh mereka yang menyedihkan. Namun mereka semua mati berkeping-keping. Kau tahu kenapa, Bocah Fana?”

Lin Ye menelan ludah imajinernya. Mentalnya yang telah ditempa oleh siksaan selama sepuluh tahun membuatnya mampu mempertahankan kewarasannya di bawah tekanan aura mematikan itu. "Karena... kekuatan mereka tidak cukup?" tanyanya hati-hati.

Tawa besar yang terdengar seperti benturan dua bintang raksasa bergemuruh. “Bukan! Karena mereka memiliki meridian! Energi bintang yang dikandung kuali ini terlalu purba, terlalu berat, dan terlalu liar. Meridian kultivator biasa, tak peduli sejenius apa pun mereka, akan meledak saat bersentuhan dengan satu tetes pun energi kuali ini. Mereka mencoba menampung samudra menggunakan cangkir teh yang terbuat dari kertas!”

Bayangan wajah purba itu menunduk, menatap Lin Ye dengan ketertarikan yang mengerikan. “Namun kau... Surga mengutukmu dengan Sembilan Nadi Tersekat. Meridianmu tersumbat total, padat seperti batu, menolak semua Energi Spiritual duniawi. Di mata sekte kecilmu, kau adalah sampah terendah. Namun di mataku, kau adalah wadah alami yang paling sempurna. Tubuhmu tidak perlu menyerap energi melalui meridian; tubuhmu akan menjadi kuali itu sendiri!”

Sebelum Lin Ye sempat mencerna arti dari kata-kata tersebut, bayangan wajah itu hancur menjadi triliunan titik cahaya hitam keunguan. Cahaya-cahaya itu melesat seperti hujan meteor, menembus langsung ke dalam dahi kesadaran Lin Ye.

BZZZTTT!

Rasa sakit yang jauh melampaui cambukan seribu kali lipat meledak di kepalanya. Informasi yang tak terbatas, aksara-aksara purba yang berkedip dengan cahaya bintang, dan diagram aliran energi paksa dimasukkan ke dalam lautan kesadarannya yang sempit.

Jika bukan karena kemauannya yang setajam pedang, jiwa Lin Ye pasti sudah hancur menjadi debu. Ia menggertakkan giginya dalam kehampaan, menahan rasa sakit yang seolah merobek jiwanya menjadi dua.

Di antara lautan aksara kosmik yang membakar benaknya, empat kata raksasa terbentuk:

[Sutra Kekosongan Penelan Bintang]

“Ingatlah, Bocah Fana! Jalan ini menentang tatanan surga. Kau tidak akan menyerap Qi alam dengan damai seperti kultivator lain. Kau akan merampas, melahap, dan memurnikan segalanya. Rasa sakit ini hanyalah permulaan. Jika kau gagal, kau akan lenyap tanpa sisa!”

Suara kuno itu perlahan memudar, ditelan oleh keheningan jagat raya. Bersamaan dengan itu, kesadaran Lin Ye ditarik mundur dengan kecepatan yang tak terbayangkan.

Di dalam gubuk kayu yang reyot, tubuh fisik Lin Ye tersentak hebat. Matanya terbuka lebar, napasnya tersengal-sengal, meraup udara sedingin es seolah ia baru saja tenggelam.

Hal pertama yang ia rasakan adalah dadanya terbakar. Kuali berkarat sekepalan tangan bayi yang tadi tergeletak di lantai kini menempel di dadanya, tepat di atas ulu hatinya. Karat hijau di permukaannya telah mengelupas sepenuhnya, menampakkan logam perunggu gelap yang memancarkan cahaya ungu redup.

Dalam hitungan detik, kuali itu meleleh menjadi cairan logam cair yang panas dan langsung menembus kulit, daging, dan tulang rusuk Lin Ye, bersarang tepat di Dantian-nya yang selama ini kosong dan cacat.

"Argh—!"

Jeritan tertahan lolos dari bibir Lin Ye yang berdarah. Ia segera menggigit lengan jubahnya kuat-kuat, menolak untuk mengeluarkan suara keras. Ini adalah sekte luar. Jika ada yang mendengar keributan aneh di kamarnya dan menemukannya dalam keadaan seperti ini, ia akan langsung dibedah hidup-hidup oleh para tetua alkimia.

Proses peleburan itu adalah neraka dunia. Lin Ye merasa seolah-olah ada naga api yang sedang mengamuk di dalam perutnya, menghancurkan organ-organnya dan menyusunnya kembali berulang-ulang. Di saat yang sama, metode Sutra Kekosongan Penelan Bintang mulai berjalan dengan sendirinya di dalam benaknya.

Mengikuti naluri bertahan hidup dan panduan dari ingatan baru tersebut, Lin Ye memaksakan dirinya untuk duduk bersila. Ia memejamkan mata dan mengarahkan sisa kesadarannya ke Dantian.

Di sana, di mana seharusnya tidak ada apa-apa, kini melayang sebuah bayangan Kuali Bintang berukuran mini. Kuali itu berputar pelan, memancarkan setetes—hanya setetes kecil—energi keunguan yang sangat pekat.

Tetesan energi itu menyebar, mengalir tidak melalui jalur meridian yang tersumbat, melainkan langsung meresap ke dalam otot, darah, organ, dan sumsum tulangnya. Ini adalah esensi dari Sutra Kekosongan Penelan Bintang: Menggunakan tubuh fisik sebagai tungku dan Dantian sebagai kuali!

Tulang-tulang Lin Ye berderak keras, menghasilkan suara retakan yang mengerikan. Pori-pori kulitnya terbuka paksa, dan dari sana, cairan hitam kental yang sangat bau mulai merembes keluar. Itu adalah kotoran duniawi, racun dari makanan sisa yang ia makan selama bertahun-tahun, serta penyumbatan bawaan di dalam tubuh fananya.

Proses "Pencucian Sumsum dan Pemotongan Tulang" ini berlangsung selama tiga jam penuh. Selama itu pula, Lin Ye tidak pingsan. Matanya merah, keringat sedingin es bercampur dengan cairan hitam membasahi seluruh tubuhnya. Dia mempertahankan secercah kejernihan akalnya dengan mengingat tawa merendahkan Wang Hao, jeritan keluarganya, dan dinginnya tatapan tetua sekte yang membuangnya.

Aku tidak boleh pingsan. Jika aku gagal di sini, aku akan tetap menjadi debu selamanya!

Ketika sinar matahari pagi mulai mengintip melalui celah-celah dinding gubuknya, getaran di dalam tubuhnya akhirnya mereda. Kuali mini di Dantian-nya kembali diam, hanya berputar sesekali dengan malas.

Lin Ye membuka matanya. Ada kilatan cahaya ungu yang tajam di kedalaman pupil matanya sebelum menghilang tanpa jejak, kembali menjadi mata hitam pekat yang tenang.

Ia menarik napas panjang. Bau busuk segera menyerang hidungnya. Lin Ye menunduk dan melihat seluruh tubuhnya terbungkus oleh kerak lumpur hitam yang sangat menjijikkan. Bahkan ranjang jeraminya kini tidak bisa diselamatkan lagi.

Tanpa membuang waktu, Lin Ye melompat turun. Begitu kakinya menyentuh lantai kayu, Brak! Lantai kayu yang lapuk itu langsung hancur, kakinya terperosok sedalam beberapa inci.

Lin Ye tertegun. Ia melihat kakinya, lalu mengepalkan tinjunya. Rasa lelah, berat, dan sakit yang selalu menyiksa otot-ototnya selama sepuluh tahun terakhir telah menguap tanpa sisa. Sebagai gantinya, ia merasakan aliran kekuatan yang luar biasa meronta-ronta di balik kulitnya. Ia merasa bisa menghancurkan batu besar hanya dengan satu pukulan.

Luka cambuk di punggungnya dari kejadian kemarin memang belum sembuh total, tapi lapisan darahnya sudah mengering sempurna, dan kulit serta dagingnya memulihkan diri dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk ukuran manusia fana.

"Ini... apakah ini tingkat pertama dari Alam Pengumpulan Qi?" gumam Lin Ye pelan, suaranya terdengar lebih dalam dan jernih dari sebelumnya.

Ia segera menggeleng. "Tidak. Meridianku masih tersekat. Tidak ada Qi spiritual sedikit pun di dalam tubuhku. Energi dari Kuali ini benar-benar melebur ke dalam dagingku. Aku tidak berlatih Qi, aku melatih Tubuh Fisik murni."

Dalam dunia kultivasi, sangat jarang ada yang memilih jalur Bina Tubuh murni karena prosesnya yang menyiksa dan sangat lambat. Namun, Lin Ye tersenyum. Senyum tipis yang mengandung kelegaan luar biasa. Meskipun jalannya berbeda dan jauh lebih menyakitkan, surga akhirnya memberinya sebuah pintu.

Ia menyelinap keluar dari gubuknya dengan hati-hati. Hari masih sangat pagi, sebagian besar murid luar sedang bermeditasi menyerap intisari matahari terbit. Lin Ye berlari menembus Hutan Bambu Hitam menuju sungai kecil yang mengalir dari air terjun sekte.

Kecepatannya mengejutkannya sendiri. Angin berdesir di telinganya. Beban yang selama ini ia rasakan hilang, membuatnya merasa ringan bagai daun, namun langkahnya kokoh bagai gunung.

Sesampainya di sungai yang sebagian permukaannya masih membeku, Lin Ye langsung melompat masuk. Air yang sedingin es itu nyaris tidak memengaruhinya lagi. Dia menggosok tubuhnya dengan keras menggunakan pasir sungai, membersihkan semua kotoran hitam dari proses Pencucian Sumsum.

Kulitnya yang tadinya kusam, pucat, dan kekurangan gizi, kini terlihat lebih sehat dengan rona perunggu samar, meskipun tubuhnya masih tetap kurus. Otot-ototnya terbentuk dengan garis yang ramping namun menyimpan daya ledak yang tersembunyi.

Setelah mengenakan kembali jubah abu-abunya yang compang-camping, Lin Ye berjalan kembali menuju area pekerja sekuler. Wajahnya kembali memakai topeng tanpa ekspresi. Kekuatan adalah pedang bermata dua; jika ia mengekspos kekuatannya saat ini, murid sekte luar atau para Pengawas Pelayan pasti akan menginterogasinya, menyiksanya untuk merampas "harta karun" yang mereka anggap telah ia temukan.

Ia baru melangkah ke wilayah pelataran luar ketika sesosok tubuh gemuk menghalangi jalannya.

Itu adalah Pengawas Zhao, pria paruh baya yang bertanggung jawab atas pendistribusian tugas para pelayan. Wajah pria gemuk itu berkerut penuh kemarahan saat melihat Lin Ye.

"Dasar babi malas! Kemana saja kau?!" bentak Pengawas Zhao sambil mengayunkan tongkat kayunya ke arah bahu Lin Ye.

Di masa lalu, Lin Ye hanya bisa pasrah menerima pukulan itu hingga bahunya memar. Namun kali ini, waktu seolah berjalan lebih lambat di mata Lin Ye. Ia bisa melihat lintasan tongkat itu dengan sangat jelas.

Dengan sedikit menggeser bahunya satu inci ke belakang, tongkat kayu itu hanya menyerempet udara kosong.

Pengawas Zhao hampir tersandung ke depan karena pukulannya meleset. Ia menatap Lin Ye dengan bingung dan sedikit marah. "Beraninya kau menghindar! Tungku nomor tiga di Paviliun Alkimia Barat baru saja meledak karena hawa panas yang berlebih. Asap beracun memenuhi ruangan. Kepala Paviliun memerintahkan pelayan rendahan untuk membersihkannya."

Pengawas Zhao tersenyum kejam. "Kebanyakan pelayan fana mati keracunan sebelum mereka bisa membersihkan setengah ruangan. Karena kau suka menghindar, kau yang akan pergi ke sana sekarang. Bersihkan ruangan itu sebelum tengah hari, atau aku akan mematahkan kedua kakimu dan melemparkanmu ke jurang!"

Tugas yang jelas-jelas adalah hukuman mati bagi manusia biasa. Namun, di dalam Dantian Lin Ye, Kuali Penelan Bintang tiba-tiba bergetar pelan, seolah mencium aroma makanan yang lezat.

Sutra Kekosongan Penelan Bintang... melahap semua energi, termasuk racun.

Mata hitam Lin Ye menatap lurus ke arah Pengawas Zhao yang sombong. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan kilatan tajam di matanya, dan menjawab dengan suara serak yang tenang.

"Baik, Pengawas Zhao. Pelayan ini mengerti."

1
Aman Wijaya
gaaas pooolll Thor menarik ceritanya semoga sampai tamat ceritanya
Aman Wijaya
lanjut terus gaaas njeduk Thor semangat
Aman Wijaya
jadilah kuat su Yue
Imam Abiyu Dzaky
teruss lanjutkan
Andira
mmm
Aman Wijaya
mantab Thor lanjut terus
Wy Pereret
lanjut
SENJA
waaah
Andira
👍
Aman Wijaya
markotop top top lanjut terus
Aman Wijaya
gaaas terus Thor semangat semangat semangat
Aman Wijaya
mantab su Yue
Aman Wijaya
mantab Lin Ye
Aman Wijaya
lanjut terus Thor tambah lagi updatenya 💪💪💪
Aman Wijaya
gaaas njeduk terus Thor
Aman Wijaya
mantab Thor semangat semangat
Aman Wijaya
mantab Thor lanjut
Aman Wijaya
top top markotop lanjut
Aman Wijaya
lanjut terus semangat semangat terus Thor
Aman Wijaya
gaaas njeduk Thor lanjut terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!