NovelToon NovelToon
Matahari Tetap Terbit (Kisah Seorang Ibu Pejuang)

Matahari Tetap Terbit (Kisah Seorang Ibu Pejuang)

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Single Mom
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: 🍁ɳɪȩƖɑᷭ🐣N⃟ʲᵃᵃ࿐

Ditinggal pergi oleh suami tercinta tanpa kabar berita, Rania terpaksa memikul seluruh beban rumah tangga sendirian. Di tengah keterbatasan dan rasa sepi yang menghimpit, ia menemukan kekuatan yang tak pernah ia tahu dimilikinya. Demi masa depan Dika dan Naya, Rania belajar menjadi wanita yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Ini adalah kisah tentang pengorbanan, ketabahan, dan kebangkitan seorang ibu yang menolak menyerah pada nasib.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 🍁ɳɪȩƖɑᷭ🐣N⃟ʲᵃᵃ࿐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Warung baru yang semakin rame

Hari itu, matahari bersinar cerah menyinari halaman rumah Rania yang kini beralih fungsi menjadi tempat usaha yang nyaman. Berbeda dengan saat masih berjualan di pasar yang tempat nya agak sempit, kini Rania merasa jauh lebih tenang dan damai dalam menyiapkan segala keperluan dagangannya.

Tempat baru ini sangat istimewa karena lokasinya persis di depan rumah, jadi ia bisa bolak-balik dengan mudah antara dapur, lapak jualan, dan ruang tengah rumah. Jika ada sesuatu yang tertinggal atau ada bahan yang kurang, ia tinggal melangkah beberapa langkah saja untuk mengambilnya. Tidak ada lagi rasa terburu-buru atau khawatir meninggalkan barang dagangan sendirian. Semuanya terasa teratur, dekat, dan sangat menyenangkan hati.

Sejak pagi buta, Rania sudah sibuk menyiapkan berbagai menu masakan andalan. Aroma sedap mulai menyebar ke udara, mengundang siapa saja yang lewat untuk melirik ke arahnya. Kabar bahwa Rania pindah tempat usaha ternyata menyebar sangat cepat ke telinga warga sekitar. Warga yang kemarin sudah mengetahui perpindahan itu, hari ini datang berbondong-bondong kembali untuk membeli lauk pauk maupun nasi bungkus. Bagi ibu-ibu rumah tangga, kehadiran warung ini sangat membantu meringankan tugas mereka. Tanpa harus jauh-jauh berjalan masuk ke dalam pasar yang panas dan berdesak-desakan, mereka sudah bisa mendapatkan masakan lezat untuk makan siang dan malam.

"Bu Rania, minta sayur lodeh sama ikan asin dua bungkus ya! Enak sekali baunya dari rumah sampai ke sini," seru seorang ibu yang datang membawa keranjang belanja kecil.

Rania menyapa dengan senyum khasnya yang ramah. "Siap, Bu! Sebentar ya saya siapkan dulu. Alhamdulillah kalau Ibu suka, silakan mampir lagi kapan saja, sekarang kita sudah dekat sekali ya."

Tidak hanya ibu-ibu, banyak juga bapak-bapak pekerja atau pemuda desa yang datang membeli nasi bungkus untuk dibawa sebagai bekal kerja ke sawah, ke kebun, atau ke tempat kerja lainnya. Mereka merasa sangat terbantu karena sekarang aksesnya jauh lebih mudah. Warung Rania kini menjadi titik perhentian favorit warga, tempat yang selalu dikunjungi sebelum memulai aktivitas harian mereka. Suasana di depan rumah itu menjadi hidup, riuh rendah suara sapaan dan tawa terdengar bersahutan, menciptakan suasana kebersamaan yang hangat.

Mbak Siti pun tidak kalah sibuk, namun wajahnya selalu berseri-seri penuh semangat. Ia bergerak cekatan membantu melayani pesanan, membungkus makanan, hingga menerima pembayaran. Di salah satu sisi meja, ia menempati posisi favoritnya untuk menggoreng. Di sana, wajan besar berisi minyak panas sudah bergolak, dan aroma tahu, tempe, serta bakwan yang sedang digoreng membuat siapa saja yang menciumnya menjadi semakin lapar. Tahu tempe goreng yang sedang digoreng Mbak Siti ini memang selalu menjadi rebutan, rasanya yang gurih dan renyah tak pernah mengecewakan pembeli.

Jam menunjukkan pukul sembilan pagi. Keramaian sedikit berkurang namun masih ada saja orang yang datang dan pergi. Tiba-tiba, dari arah jalan utama, terlihat sosok laki-laki berjalan santai menghampiri warung itu. Penampilannya rapi, kemeja lengan pendek yang sopan, dan senyum ramah yang selalu ia bawa ke mana pun. Itu adalah Pak Sandi. Sudah beberapa hari ia tidak terlihat mampir ke warung Rania, entah karena tugas sekolah yang menumpuk atau ada urusan lain yang menyita waktunya.

Begitu sampai di depan halaman, Pak Sandi berhenti sejenak, menatap sekeliling dengan tatapan takjub, lalu tersenyum lebar. Ia berjalan masuk ke area lapak sambil menggeleng-gelengkan kepala seolah baru menyadari sesuatu yang besar.

"Wah, pantas saja kemarin dan hari-hari sebelumnya saya ke pasar berkali-kali tidak ketemu lapak Ibu Rania. Saya cari ke sana ke mari, tanya sama siapa saja, tidak ada yang tahu. Ternyata bukan hilang, tapi pindah tempat yang jauh lebih bagus dan strategis begini rupanya!" seru Pak Sandi dengan nada suara yang lantang namun penuh canda.

Mbak Siti yang sedang sibuk membolak-balikkan tahu dan tempe di dalam wajan panas itu langsung tertawa mendengar suara akrab itu. Ia mengangkat wajah sedikit, melirik ke arah Pak Sandi sambil tetap fokus pada gorengannya, lalu membalas dengan gurauan yang tak kalah asyik.

"Waduh, Pak Sandi... sampai dicari-cari ke pasar segala ya? Sampai bapak bingung begitu rupanya. Memangnya kalau lapak kami hilang atau pindah, Pak Sandi yang bakal rugi atau kami yang rugi, hehehe?" canda Mbak Siti sambil terkekeh. Ia mengangkat sepotong tahu yang sudah berwarna keemasan, meniriskannya sebentar, lalu melanjutkan ucapannya.

"Kehilangan lapak kami sih tidak apa-apa Pak, mungkin Bapak saja yang bakal kehilangan tempat favorit buat makan siang dan ngobrol. Tapi tenang saja Pak, saya cuma bercanda lho. Justru senang kan sekarang tempatnya jadi lebih luas, lebih bersih, dan lebih sejuk begini," tambah Mbak Siti sambil tertawa renyah.

Pak Sandi pun ikut tertawa mendengar balasan itu. Ia mengakui dalam hati bahwa Mbak Siti memang pandai sekali membawa suasana menjadi cair dan menyenangkan.

Di dekat situ, ada beberapa bapak-bapak warga yang sedang duduk santai di bangku panjang yang disediakan Rania. Mereka sedang menikmati kopi hangat sambil menyantap pisang goreng yang baru saja disajikan. Mendengar percakapan dan candaan antara Pak Sandi dan Mbak Siti itu, mereka pun ikut tersenyum dan tertawa, turut merasakan keakraban yang terjalin di tempat itu.

"Memang benar kata Mbak Siti, Pak. Sekarang tempatnya jauh lebih enak. Kami saja yang rumahnya dekat ini senang sekali, jadi sering mampir ngopi di sini kalau ada waktu luang," sahut salah satu bapak-bapak itu sambil mengaduk kopinya.

Pak Sandi mengangguk setuju, matanya kembali menatap sekeliling warung baru itu dengan pandangan kagum. Ia melihat bagaimana penataan meja yang rapi, kebersihan yang sangat terjaga, hingga suasana yang begitu hangat dan ramah. Ia sangat senang melihat perkembangan ini. Bagi Pak Sandi, kemajuan yang diraih Rania adalah hal yang paling membahagiakan hatinya. Ia selalu mengagumi ketekunan wanita itu, dan melihatnya semakin sukses dan mapan membuat rasa hormat dan kekagumannya semakin bertambah.

Ia lalu melangkah mendekat ke meja tempat masakan disajikan, mencari sosok yang biasanya ada di balik meja itu. Namun, matanya tidak menemukan Rania di sana. Biasanya, wanita itu selalu berdiri di posisi paling depan, melayani pembeli dengan senyum dan sapaan ramah. Hari ini hanya ada Mbak Siti dan beberapa pembeli saja.

Pak Sandi pun kembali berbicara, kali ini dengan nada yang sedikit lebih serius namun tetap bersahabat. "Lho, tapi Bu Rania sendiri ke mana ya, Mbak? Kok dari tadi saya tidak melihat beliau ada di sini? Biasanya beliau yang paling sibuk bergerak ke sana ke mari melayani pembeli. Ada urusan ke luar sebentar ya?" tanyanya sambil memandang ke arah pintu masuk rumah, berharap Rania akan muncul dari sana.

Mbak Siti mengangkat wajah dari wajan penggorengan, lalu menjawab dengan santai sambil tersenyum. "Iya, Pak. Tadi pagi masih ada kok di sini. Tapi sebentar yang lalu beliau pamit pergi sebentar. Katanya, saat menyiapkan bahan-bahan tadi pagi, ada beberapa keperluan belanjaan yang ternyata belum lengkap dan kurang jumlahnya. Jadi beliau sekalian saja mengantar Dika pergi ke sekolah, terus sekalian mampir lewat pasar untuk belanja bahan yang kurang itu."

Pak Sandi mengangguk paham. "Oalah, begitu rupanya. Ya sudah tidak apa-apa deh. Saya kira pindah tempat jadi ikut pindah ke mana saja sampai susah dicari, hahaha."

"Sebentar lagi juga pasti pulang kok, Pak. Beliau tidak akan lama-lama di pasar, cuma ambil yang penting saja terus langsung balik ke sini. Biar bagaimanapun, warung kan harus tetap dijaga," tambah Mbak Siti.

Pak Sandi pun duduk sebentar di bangku kosong, menunggu sekaligus menikmati suasana baru warung Rania. Di dalam hatinya, ia sangat bersyukur melihat semuanya berjalan semakin baik. Perpindahan tempat ini ternyata menjadi keputusan yang sangat tepat. Warungnya semakin dikenal, pembeli semakin nyaman, dan Rania beserta anak-anaknya kini hidup dalam kondisi yang jauh lebih layak dan aman. Sambil menunggu kedatangan Rania, Pak Sandi duduk tenang, berbicara sedikit dengan bapak-bapak warga yang ada di situ, merasa puas dan bahagia melihat keberhasilan wanita yang diam-diam selalu ia kagumi itu.

1
Bahagia Bersama Dirimu😍😍😍🥰
Dika kagum sama pak Sandi ya
Bahagia Bersama Dirimu😍😍😍🥰
Pasti uang hasil jualan Rania di tabung ya
@Me and You Married
Dika ayo semangat kerjakan soal ujian ya supaya naik kelas
@Me and You Married
Rania alhamdulilah warung kamu semakin laris ya beda jauh saat dulu sehari baru buka warung
@Yayang Risa Couple Happy
Dika kamu di beri semangat oleh pak Sandi
@Yayang Risa Couple Happy
Rania pasti punya banyak uang
Ya Ris Tak Terpisahkan
Dika jadi semangat lagi setelah di semangati pak Sandi
Ya Ris Tak Terpisahkan
Enak semua menu buatan Rania pantas laris manis ya
❤️⃟𝐖ᵃ𝐟☘𝓡𝓳♉ᵘᵐᵃsʸ𝐀⃝🥀🤎⒋ⷨ͢⚤
Kamu hidup enak tanpa memikirkan keluarga yg kamu tinggalkan Bara setidaknya kirim lah uang sedikit untuk keperluan mereka sehari-hari bukan keluarga baru mu saja yg kau perhatikan
@ Yayang Risa Selamanya
Pak Sandi anda di kagumi oleh Dika
@ Yayang Risa Selamanya
Rania menu makanan kamu lezat dan enak semua
@Yayang Risa Saling 💖❣️💗💕💞
Pak Sandi menyemangati Dika supaya semangat
@Yayang Risa Saling 💖❣️💗💕💞
Rania memang ramah dalam melayani pembeli makanya banyak pelanggan
Risa Yayang Cinta Sejati
Dika semangat kerjakan soal karena ingat perjuangan ibunya buat Dika dan Naya
Risa Yayang Cinta Sejati
Menu makanannya tambah lagi dong Rania
@Yayang Suami Ris4
Dika merasa ibunya berjuang buat dia dan Naya pasti dia bakal berusaha kerjakan soal
@Yayang Suami Ris4
Semua menu gorengan di warung Rania enak semua ya
Suamiku Paling Sempurna
Ayo Dika semangat kerjakan soal dengan baik
Suamiku Paling Sempurna
Bakwan, tahu isi, tempe mendoan, pisang goreng semua enak banget ya apalagi di tambah teh panas atau kopi
Yayang Lop3♡ Risa
Dika kamu pasti bisa naik kelas deh semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!