Menikah muda terdengar indah di mata banyak orang—tentang cinta, perhatian, dan hidup bahagia bersama pasangan. Namun, bagi Elvara Naomi Wijaya, kenyataannya jauh berbeda. Setelah resmi menjadi istri Arsen Rafael Mahardika, pria dingin dan ambisius yang sangat ia cintai, Elvara mulai menyadari bahwa pernikahan bukan hanya soal rasa cinta.
Di balik rumah mewah dan status sebagai pasangan sempurna, mereka perlahan terjebak dalam kesalahpahaman, ego, luka batin, dan rahasia yang tidak pernah terungkap sebelumnya. Arsen yang sulit mengekspresikan perasaan membuat Elvara merasa sendirian di dalam hubungan mereka sendiri.
Saat masalah demi masalah datang menghancurkan ketenangan rumah tangga mereka, Elvara harus memilih—bertahan demi cinta yang masih ia perjuangkan, atau melepaskan semuanya sebelum dirinya hancur lebih dalam.
Karena terkadang, realita menikah tidak seindah janji di hari akad.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cattygril, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 (Sisi Gelap Sebuah Dilema)
...HAPPY READING...
...🧸💕...
Sementara itu, di dalam apartemen yang mendadak terasa begitu luas dan hampa, Arsen duduk termenung di tepi ranjang. Kedua tangannya menangkup wajah, menyembunyikan gurat frustrasi yang tercetak jelas di sana. Kepalanya berdenyut pening, seolah siap pecah memikirkan badai rumah tangganya yang meledak begitu cepat pagi ini.
Arsen benar-benar tengah dilanda kebingungan yang luar biasa.
Di satu sisi, ia tidak ingin bercerai dari Elvara. Bagaimanapun, Elvara adalah istrinya yang sah, wanita baik-baik yang selalu melayaninya dengan tulus, penuh kesabaran, dan mencintainya tanpa syarat. Arsen tahu dia akan menjadi pria paling bodoh jika melepaskan sosok seideal Elvara dari hidupnya.
Namun di sisi lain, Arsen juga tidak pernah bisa kehilangan Vivian. Wanita itu adalah cinta pertamanya, masa lalunya yang belum selesai, dan sosok yang selalu berhasil membolak-balikkan emosinya.
Dan yang paling membuat Arsen terkunci dalam dilema mematikan ini adalah fakta krusial yang ia sembunyikan rapat-rapat dari dunia. Fakta yang menjadi alasan utamanya kembali mendatangi apartemen itu semalam.
Vivian tengah mengandung anaknya.
Janin yang ada di dalam kandungan Vivian mengikat Arsen dengan rantai rasa bersalah dan tanggung jawab yang tidak bisa ia putus begitu saja. Arsen tidak mungkin mencampakkan Vivian yang sedang berbadan dua, namun ia juga tidak sanggup membayangkan hidupnya hancur jika Elvara benar-benar melayangkan gugatan cerai ke pengadilan.
"Sial! Kenapa bisa jadi sekacau ini?!" umpat Arsen frustrasi, meremas rambutnya sendiri dengan kasar.
Keegoisannya kini berbalik menjadi bumerang. Arsen terjebak di tengah-tengah jaring kebohongannya sendiri. Ia ingin mempertahankan Elvara demi status dan kenyamanan rumah tangganya, namun ia juga terikat pada Vivian demi darah dagingnya sendiri. Dan kini, dengan kepergian Elvara yang membawa koper, Arsen sadar waktu untuk bermain aman telah habis. Ia harus segera menentukan pilihan sebelum takdir yang merebut paksa semuanya dari tangannya.
Di tengah kepalanya yang nyaris pecah memikirkan pelarian Elvara, ponsel Arsen yang tergeletak di atas ranjang tiba-tiba bergetar nyaring. Layarnya menyala, menampilkan nama Vivian di sana.
Arsen mendesah frustrasi. Rasanya ia sedang tidak memiliki energi untuk berbicara dengan siapa pun saat ini. Namun, mengingat kondisi Vivian yang sedang berbadan dua, Arsen akhirnya menyambar ponsel itu dan menggeser tombol hijau ke telinganya.
"Halo, Vi? Aku baru sampai di—"
"Arsen... hiks..."
Kalimat Arsen seketika terputus saat mendengar suara isak tangis yang tertahan di seberang telepon. Suara Vivian terdengar sangat lemah, tersengal-sengal, dan dipenuhi oleh nada kesakitan yang amat sangat.
"Vi? Kamu kenapa?!" Tanya Arsen, rasa was-was kembali menyergap dadanya.
"Arsen, sakit... Perutku sakit banget," rintih Vivian di sela tangisnya. "Aku... aku nggak kuat, Sen. Tolong aku... hiks... badanku lemas banget."
Deg.
Jantung Arsen serasa melompat keluar dari tempatnya. Mendengar rintihan kesakitan dari wanita yang sedang mengandung anaknya itu seketika meruntuhkan sisa-sisa fokusnya untuk mencari Elvara. Bayangan buruk tentang keselamatan janin di rahim Vivian langsung memenuhi isi kepalanya.
"Vi, kamu tenang ya! Jangan banyak bergerak! Aku ke sana sekarang!" seru Arsen panik.
Tanpa membuang waktu lagi, Arsen menyambar kunci mobilnya di atas meja. Rasa bersalahnya pada Elvara mendadak tergeser oleh situasi darurat yang mengancam darah dagingnya sendiri. Dengan langkah seribu, ia kembali berlari menuju lift, mengabaikan fakta bahwa keputusan yang diambilnya pagi ini mungkin akan membawa rumah tangganya dengan Elvara ke titik yang benar-benar mustahil untuk diselamatkan.
Arsen mengendarai mobilnya membelah jalanan dengan kecepatan tinggi, mencengkeram kemudi dengan satu tangan sementara pikiran buruk tentang kondisi kandungan Vivian terus membayangi kepalanya. Namun, di sebuah persimpangan jalan menuju area apartemen Vivian, netranya tidak sengaja menangkap sebuah mobil sport hitam yang sangat ia kenali.
Itu mobil Kael.
Arsen mengernyitkan dahi. Sorot matanya berubah tajam dan penuh curiga saat melihat mobil Kael bergerak memutari area tersebut seperti orang yang sedang kebingungan mencari sesuatu. Rasa penasaran dan amarah Arsen seketika tersulut.
Kenapa pria itu ada di sekitar sini? Apa Kael sedang memata-mataiku? Atau dia tahu sesuatu tentang Vivian?
Di tengah kepanikan karena Vivian yang sedang kesakitan di apartemen, keegoisan dan rasa tidak mau kalah Arsen justru bangkit. Tanpa pikir panjang, Arsen langsung memutar kemudinya, memutuskan untuk membuntuti mobil Kael dari jarak aman. Ia ingin memastikan apa yang sebenarnya direncanakan oleh pria yang telah membongkar rahasianya pada Elvara itu.
Namun, tindakan Arsen ini justru memicu pertanyaan besar: jika situasi Vivian di dalam apartemen sedang darurat dan membutuhkan pertolongan medis secepatnya, apakah Arsen masih punya nyali untuk mementingkan egonya dan membuntuti Kael? Ataukah ia justru sedang menuntun Kael menuju rahasia terbesarnya bersama Vivian yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat?
Kael adalah pria yang peka. Melalui kaca spion tengahnya, ia menyadari ada sebuah mobil sedan hitam yang terus menjaga jarak konstan di belakangnya sejak beberapa blok lalu. Begitu melihat plat nomor kendaraan tersebut, rahang Kael seketika mengeras.
Arsen.
Kael mendengus geram. Pria berengsek itu bukannya mencari Elvara yang sedang hancur, malah keluyuran dan sekarang justru membuntutinya. Kael tidak sudi urusannya diganggu, apalagi ia harus segera menemukan Elvara sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Tanpa memberi aba-aba, Kael langsung menginjak pedal gas mobil sport-nya sedalam mungkin. Deru mesin menderu kencang membelah keheningan jalanan. Dengan kelincahan kendaraannya, Kael melesat zig-zag menyalip dua mobil di depannya, lalu memotong tikungan tajam tepat saat lampu lalu lintas di persimpangan berubah menjadi merah.
Sementara itu, di belakangnya, Arsen tersentak kaget. "Sial! Dia sadar," umpat Arsen panik.
Arsen mencoba menambah kecepatan untuk mengejar, namun kendaraannya terlambat. Mobil Kael sudah melesat jauh bagai anak panah, terhalang oleh barisan mobil lain yang berhenti karena lampu merah serta sebuah bus besar yang menutup jalur pandangnya.
Arsen memukul setir dengan frustrasi saat menyadari ia telah kehilangan jejak Kael sepenuhnya. Di tengah kepungan lampu merah yang menahannya, ponsel di saku jas Arsen kembali bergetar hebat—sebuah pengingat darurat bahwa Vivian masih kesakitan di apartemen dan sedang mempertaruhkan keselamatan anak mereka. Egonya untuk mengejar Kael terpaksa runtuh, digantikan kepanikan baru yang mendesaknya untuk segera berbalik arah.
Bersambung…..