NovelToon NovelToon
RATU GEMUK MILIK RAJA BURUK RUPA

RATU GEMUK MILIK RAJA BURUK RUPA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Transmigrasi / Sistem
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tanya Balik

masih up, cuma jarang!


Morline terlempar ke dalam novel sebagai istri gemuk sang antagonis, kehidupannya seharusnya berhenti di sana namun dia tak hidup mengenaskan sebagai karakter figuran. Morline harus bangkit, mengubah hidupnya lebih baik lagi dan lebih baik lagi.


Cedric kini mulai menyadari bahwa gadis gemuk yang selama ini dia anggap remeh ternyata memiliki rahasia yang luar biasa. perlahan dan tanpa Cedric sadari dia mulai terjerat dalam rencananya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tanya Balik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

08. Rencana katanya

Edward tersenyum tipis menatap para tuan bangsawan di hadapannya. "Saya butuh waktu sejenak untuk kebelakang.  Para Tuan silahkan nikmati waktu tanpa saya."

"Oh, tentu. Silahkan pangeran."

Edward melangkah lebar menjauh dari meja bundar tersebut, meninggalkan para tuan bangsawan yang kembali berbincang. Namun alih-alih menuju ruang ganti di mana toilet berada, justru langkah Edward berbelok ke balkon. Tangan kanannya setia mengikuti dari belakang. Begitu Edward sampai di ambang pintu Balkon, sang asisten memberhentikan seorang pelayan yang membawa nampan anggur. Dia mengambil sebotol wine dan gelas, membuat pelayan itu tertegun sejenak.

"Lanjutkan." Perintahnya singkat sebelum si pelayan membungkuk dan pergi.

Dia memberikan sebotol wine dan gelas pada Edward, lalu mundur beberapa langkah dan berdiri di sisi balkon. Matanya lurus  menghadap para tamu yang mulai beranjak dari kursi mereka. Melihat angka di jam besar yang terpajang megah di aula dansa, dia menebak sudah waktunya sesi dansa komunal di mulai.

Para nyonya beranjak dari kursinya, berbaris di tengah aula sambil merapihkan penampilan mereka. Suara tepukan tangan pada kain dan bisik bibir terdengar jelas seiring langkah Morline menuju tengah aula. Dia menatap para tamu di sisi kanan dan kirinya, para tuan tampaknya tak sabar untuk menari sementara para nyonya tampak tenang, meski Morline tahu bahwa sesi menari adalah bagian yang paling mereka nanti-nanti.

Begitu musik mengalun, Morline memberikan seruan yang mempersilakan semua tamu—termasuk dirinya sendiri—untuk mulai menari.

Dalam tradisi Kerajaan Hesperias, tarian dibagi menjadi beberapa bagian tergantung pada esensi perayaannya. Jika pesta dimaksudkan sebagai bentuk syukur, tarian akan dimulai secara bersama-sama dalam lingkaran besar. Namun, jika konteksnya adalah romansa, tarian akan dilakukan berpasangan. Meski peraturan bisa dimodifikasi oleh sang pemilik pesta, ada pakem tradisi yang tetap harus dijaga agar maknanya tidak luntur.

Musik mengalun dengan ritme cepat dan nuansa ceria yang kental. Berkat masa Morline Moralles yang sering bermain bersama anak-anak desa saat kecil, Morline tidak mengalami kesulitan mengikuti langkah-langkah energik tarian ini. Bahkan dia sangat menikmatinya; jiwanya seolah melebur dalam simfoni tawa dan irama musik yang mengundang tubuh untuk terus bergoyang.

Kanan kiri. Kanan kiri hentakkan kaki! Lalu berputar.

Morline tersenyum tipis, menahan tawanya agar tampak bermartabat di mata para bangsawan.

Saat bagian tarian yang mengharuskan setiap orang saling merangkul lengan, Morline berpegangan pada seorang pria tua. Meski gerakan pria itu tampak kaku dan patah-patah, semangatnya luar biasa. Morline tersenyum tulus, sesekali melempar tanya dengan ramah.

Dari kejauhan, Edward yang telah menghabiskan setengah botol wine merasa perutnya agak kembung. Pandangannya tak sengaja terkunci pada sosok Morline yang sedang tertawa bersama pria tua tersebut. Ia mengenali sosok itu: Tuan Hatto dari keluarga Handers. Pria tua yang terkenal genit dan hobi menghadiri pesta hanya demi berburu gadis cantik.

Edward memperhatikan bagaimana tubuh berisi di balik gaun mewah itu terhentak-hentak mengikuti ritme musik yang ceria. Senyuman di bibirnya tak luput dari perhatiannya. Entah pengaruh mabuk atau naluri dalam dirinya, Edward melangkah maju memasuki kerumunan.

Sang tangan kanan terksiap, dia tak menyangka tuannya yang anti terhadap lantai dansa kini justru tampak membelah barisan tamu.

Ketika pola tarian mengharuskan para penari berputar dan berganti posisi, Edward menyelip dengan gesit. Dia menyikut halus seorang pria muda yang seharusnya menggantikan posisi Tuan Hatto di sisi Morline. Detik berikutnya, ia langsung menyambar tangan Morline, membawa tubuhnya ikut berderap mengikuti ritme tarian.

Morline terperanjat. Hanya butuh satu lirik bagi dirinya untuk mengenali Edward. Sementara itu, Edward seolah tak peduli dengan keterkejutan sang Ratu. Sebuah senyum tersungging di bibirnya. "Halo, Yang Mulia Ratu. Mari berdansa bersama."

"Ah, . Pangeran Edward." Morline merasa kaku, kewaspadaannya meningkat, bagaimanapun dia adalah pemimpin pemberontak. Siapa yang tahu rencana di balik sikap ramahnya.

"Pertama kali kita bertemu bukankah saat hari pernikahan anda? Itu sudah cukup lama, sekarang saya melihat anda lagi, anda terlihat cukup berbeda kali ini."

"Mungkin karena aku jadi ratu, makanya berbeda." Kalimat itu meluncur begitu tanpa Morline sadari. Beberapa detik setelahnya dia tersadar dan melotot, tubuhnya yang terus bergerak mengikuti tarian sedikit menegang. "Ah, maksud saya. Karena saya dalam keadaan bahagia dan dipenuhi rasa syukur mungkin saya terlihat berbeda." Morline menampilkan senyum, tapi tak sampai mata.

Edward menatapnya, kemudian tersenyum. Bau alkohol perlahan menguar dari tubuhnya yang dapat Morline tangkap. Tatapan pria itu tampak tak jernih, justru sedikit berkabut.

Pria ini jelas mabuk.

Musik perlahan melambat, menandakan transisi dari ritme ceria ke nada-nada yang lebih megah dan formal. Para tamu mulai menarik diri ke pinggir aula, menyisakan ruang luas di tengah.

Morline menundukkan sedikit kepalanya sebagai bagian dari gerakan penutup lalu mundur bersama para nyonya lain.

Edward menatapnya, bibirnya tersenyum kecil ketika melihat sosok bertubuh gemuk itu berbalik badan dan melangkah lalu menghilangkan dibalik kerumunan para nyonya.

Di ruang ganti setelah bersosialisasi cukup lama dengan para nyonya bangsawan.

Morline duduk dengan kaki yang di luruskan. Kedua tangannya menekan lembut lututnya di balik gaun. Sejenak dia merasa menyesal karena terlalu menikmati pesta. Gerakan tarian yang energik itu membuat lutut dan tumitnya nyeri, rasanya seperti ada batu bara yang membakar dibagian itu.

Morline menghembuskan nafas panjang lalu bersandar pada sofa dengan posisi yang tampak tak elegan bagi seorang ratu. Matanya terpejam menghalangi cahaya dari chandelier di atas wajahnya.

"Sebenarnya aku sudah tau kalau dia pelakunya, hanya saja aku tidak tahu bagaimana cara membuktikan bahwa itu dia." Morline bergumam pelan.

Dalam keheningan itu, derit pintu membuat Morline terkesiap. Dia duduk tegak dan merapatkan kedua kakinya. Namun ketika melihat siapa yang datang, alis tipis itu mengkerut. "Yang mulia raja?"

Meski tanpa jubah malaikat maut yang selalu dia kenakan, tapi Morline cukup hafal proporsi tubuhnya yang jenjang dengan bahu lebar, sekaligus aura misterius yang selalu menyelimutinya.

Pria itu mengenakan setelan berwarna tulang gading yang terlihat kaku dan formal. Potongannya mengikuti siluet tubuh dengan kerah tegak. Memperlihatkan pinggangnya yang ramping dan kokoh.

Di kerahnya memiliki aksen emas yang rumit di bagian tepi, melambangkan status soal yang tinggi. Ada tali emas yang menjuntai dari bahu ke kancing depan.

Di mata Morline pria di depannya terlihat tidak nyata, apalagi ketika dia menatap ke wajahnya yang tertutup topeng perak. Topeng itu mengkilap, memantulkan cahaya lampu yang membuatnya terlihat semakin misterius.

"Ada apa anda repot-repot datang kemari?" Tanpa berdiri dia bertanya pada Cedric yang semakin mendekat. Tubuhnya menjulang tinggi, membuat bayangannya menutupi sebagian tubuh Morline.

"Hasil penyelidikan soal pembunuhan itu, ternyata ada banyak orang di istana yang berkolusi dengan pihak luar. Joseph sudah menyaring semua pekerja istana dan karena hal itu, istana kekurangan pekerja. Kau urus seleksi pekerja yang akan masuk ke istana dan selanjutnya...." Suara Cedric terhenti, dia menatap Morline yang duduk di sofa tanpa ada niat berdiri untuk menjaga sikapnya di depan seorang raja.

Menghiraukan hal kecil itu, Cedric melanjutkan. "Selanjutnya rencana yang kau buat untuk menjebak pelaku apa ada perkembangan?"

Morline tak langsung menjawabnya. Lagi-lagi dia tak bisa mengatakan secara langsung bahwa dia sudah tahu siapa dalangnya. Namun meski begitu, Morline masih mampu memberikan kisi-kisi pada Cedric agar pria itu yang mencari bukti sendiri tanpa Morline harus berusaha. "Sejauh ini tak ada yang mencurigakan. Saya menjalin kerja sama dengan para nyonya bangsawan, tapi sepertinya ada penolakan dari para tuan bangsawan. Mereka cenderung dekat dengan pangeran Edward." Morline berhenti, memeprhatikan Cedric. Namun karena topeng itu menghalangi, Morline tak bisa membaca ekpresinya untuk tahu apa yang pria itu pikirkan.

"Saya juga melihat betapa loyalnys mereka pada pangeran Edward. Sejauh ini, tak ada yang saya bisa katakan. Hanya saja saya masih menyimpan kecurigaan pada pangeran tentang kedekatannya dengan para tuan bangsawan. Apa anda punya informasi lain tentang pangeran Edward?"

Merasa obrolan mereka akan cukup panjang, Cedric menekuk lututnya dan duduk di hadapan Morline. Dari balik topeng, dia menatap wajah bulat dengan pipi kemerahan itu. "Aku menyelidiki riwayat perjalanan Edward. Yang aku temukan justru riwayat sistematis. Dalam dua tahun terkahir, Edward sering bepergian. Banyak tempat yang dia kunjungi, tapi tak terlalu jelas apa alasannya. Hampir setiap bulan dia pergi dan jangka waktunya rata-rata 1 minggu hingga dua minggu."

Morline menekan bibir bawahnya dengan ibu jari dan telunjuk, bola matanya menatap potongan kue vanilla yang tak menarik, tapi pikirannya melayang jauh. "Itu aneh. Pangeran Edward terlihat sangat sibuk, ya. Tadi di pesta setelah dansa kami berbincang tentangnya, para nyonya sebenarnya memiliki banyak informasi tak valid tentang pangeran Edward. Namun sebagian besar mengatakan pangeran Edward sedang mengurus beberapa wilayah yang dia kunjungi.

Seperti di daerah Hanja, sedang krisis padi, pangeran Edward datang dan menyelesaikan masalah, tapi berita itu tak terpublikasi, hanya dari mulut ke mulut. Namun meski itu benar, bukan hak pangeran untuk mengurus semuanya sendiri. Beliau seharusnya tak melakukannya karena bisa memicu keberpihakan rakyat padanya."

Benar apa yang diucapkan Morline. Seharusnya Edward tak melakukan itu jika dia memang tidak berniat merebut kekuasaan darinya. Dia tak boleh mengambil empati rakyat atas namanya sendiri.

Pancingan dari Morline membuat Cedric semakin memperdalam penyelidikan tentang Edward. Pria itu mulai menaruh curiga pada adik tirinya yang selama ini dianggap baik-baik saja, sesuatu yang bukan mengancamnya. Namun kini, Cedric mulai merasa terancam.

────୨ৎ────

1 minggu berlalu setelah pesta.

Seperti janjinya pada Cedric bahwa dia akan mengurus seleksi pekerja yang akan masuk ke istana. Hari ini, Morline sendiri yang melakukan wawancara pada para kandidat terpilih.

Ada tiga lowongan yang kosong, sebagai besar dari divisi pelayan kebersihan. Sementara sisanya pelayan dapur dan pekerja lapangan. Untuk prajurit istana sendiri, akan dilakukan perekrutan terpisah.

Di paviliun miliknya, Morline duduk dengan berbagai lembar kertas yang baru dia rapihkan beberapa menit lalu, menggesernya ke samping dan hanya menyisakan ruang untuk daftar nama pelamar berikut data diri mereka.

Nina membuka pintu, di belakangnya ada seorang perempuan dengan gaun panjang berwarna cerah, dia memakai kalung emas di lehernya yang terekspos.

Melihat data diri tentang perempuan itu, alis Morline mengkerut. Dia adalah anak keluarga Weftlle, ayahnya adalah pemilik pabrik sepatu di ibu koto. Produk yang mereka jual khusus untuk kalangan menengah ke atas.

"Silahkan duduk dan perkenalan diri. Kenapa melamar kerja di sini dan apa alasannya?"

Perempuan bernama Cassie itu duduk di sebrang meja, berhadapan langsung dengan Morline. "Nama saya Cassie dari Weftlle, saya ke sini karena tertarik dengan lowongan pekerjaan sebagai pelayan istana untuk alasannya, saya tidak memiliki alasan apapun, hanya ingin mengabdikan diri di istana."

Morline menatap Cessie dengan intens. Dari jawabannya saja sudah meragukan bahwa perempuan ini dapat bekerja dengan baik di istana, apalagi dengan latar belakang seperti itu. Tentu tak banyak orang yang menginginkan menjadi pelayan meski itu pelayan istana sekalipun, tapi perempuan ini? Dia menawarkan diri dengan suka rela hanya untuk jadi pelayan?

Rasanya tidak bisa dipercaya.

Morline mengangkat satu alisnya, mata hijaunya menatap lurus pada kedua mata Cessie yang tampak tenang. "Mengabdikan diri pada istana? Saya tidak pernah mendengar ada hal yang seperti itu, saya hanya sering dengar orang ingin mengabdikan diri pada kerajaan ini bukan pada istananya. Alasan anda tidak masuk akal, nona Cessie."

Kedua bola mata terlihat Cessie bergetar ringan, bibirnya menipis dengan raut wajah yang perlahan terdistorsi. Perubahan itu terekam jelas di penglihatan Morline. "Saya mengabdikan diri pada kerajaan dengan cara mengabdikan diri saya pada istana juga, bukankah keduanya hal yang tak jauh berbeda? Saya tumbuh besar dengan ajaran patriot yang kental, kakek saya dulu adalah seorang pejuang negeri ini."

Morline tersenyum sambil menatap Cessie untuk beberapa saat sebelum menunduk, meraih pena dan mencoret nama Cessie dari daftar. "Sungguh mengesankan nona. Saya tersanjung dengan pengakuan anda yang berjiwa patriot."

Cessie tersenyum, matanya melirik tangan Morline yang sedang mencoret sesuatu di kertas. Kemudian mengangkat kepalanya tinggi-tinggi.

Morline melanjutkan. "Tapi maaf, di istana ini kami tak bisa menerima orang seperti anda yang berharga. Melihat latar belakang keluarga anda yang memiliki sejarah panjang, saya seakan mencoreng nama baik keluarga anda jika saya menerima anda bekerja di sini, apalagi menjadi pelayan."

"Anda bisa menjadikan saya dayang yang mulia ratu. Saya bersedia."

Cessie dan para pelamar lain memang tak mengetahui ratu mereka. Orang-orang hanya tahu bahwa ratu mereka bertubuh gemuk, tapi tak benar-benar mengenali wajahnya.

Jadi wajar saja jika Cessie tak mengetahui bahwa di depannya adalah ratu Hesperias yang baru saja diangkat.

"Tapi tak ada lowongan untuk menjadi dayang ratu. Jadi saya tak bisa sembarang merekrut orang. Maaf saya harus menolak anda. Jika sudah selesai, mohon anda berkenan untuk memberi kesempatan bagi para pelamar lain."

"Ah!" Wajah Cassie tampak tercenung, seakan lamarannya baru saja ditolak oleh sang kekasih. "Saya....saya."

"Maaf nona, peraturan sudah menetapkan begitu. Saya tak bisa sembarangan menerima orang."

Cessie menunduk, wajahnya tampak sedih.

Morline mengangkat alisnya, heran. Mengapa orang ini terlihat ingin masuk istana? Morline cukup penasaran apa alasan dibalik keinginan kuat Cessie untuk masuk ke istana, sekalipun itu melalui jalur pelayan.

"Namun saya bisa mengirim surat rekomendasi jika anda mau?"

Wajah Cessie langsung terangkat, raut mukanya terlihat cerah dengan senyuman yang lebar. "Benarkah?"

"Ya, nanti saya akan mengirimkan ke alamat rumah anda. Sekarang tolong anda memberi ruang untuk pelamar lain."

"Baiklah, kalau begitu terimakasih." Cessie beranjak, dia sedikit membungkuk pada Morline sebelum berbalik pergi.

Nina kemudian membawa pelamar lain. Morline mewawancarai sekitar 15 orang yang membuat leher dan punggungnya pegal.

Setelah selesai, Morline langsung meminta Chasi menyiapkan air hangat karena dia ingin berendam untuk menyegarkan otot-ototnya yang kaku.

1
Uthie
Wahhh... ternyata Edy baik juga 😍👍👍
Uthie
Selalu setiap menanti kelanjutannya kembali 👍👍👍👍😍
Uthie
ditunggu Lagii 👍👍👍
kiu kiu
lanjut thor..jgn terlalu lama updatenya...
kiu kiu
kpn upnya thor
Tanya Balik
guys aku nulis tiap bab-nya minimal 2000 kata, banyak lho itu. Jadi maklum aja ya lama up-nya. 🙏🙏😄
kiu kiu
morline sangat baik terhadap karel.suatu saat karel akan tumbuh besar dan akan menjadi pelindung utk morlin...cerita ini mengisahkan kasih sayang ibu dan anak.tp berbeda dg apa yg di alami morline.yg sudah menganggapnya keluarga.
Uthie
lagiiii 🤩🔥🔥
kiu kiu
jgn terlalu lama updatenya thor...ak penasaran dg gadis gemuk ini.apa yg akan dia lakukan di daerah targus itu. apa lagi eddy selalu mengawasi.
Uthie
Ditunggu lagiiii 🔥🔥🔥
Uthie
Lanjutttt lagiii...
setia menunggu up berikut nya 😁👍
kiu kiu
lanjut thor...updatenya jgn jarang jarang.
Uthie
Di tunggu lagiii aksi nyata dari Ratu Morline 😍👍

lanjuuttttt lagiiii 💪💞
kiu kiu
masih update nggk thor...
Tanya Balik: masih, tapi up-nya memang jarang2 di tunggu aja ya😄🙏
total 1 replies
Uthie
Wahhhh.... lagi seru-serunya baca soal Morline... malah udahan aja 🤩🤩

Jangan lama-lama up nya lagiiii yaaa Thor 😘🤗🙏
Uthie
Morline ratu yg baik 👍👍😇
Uthie
Sukkkaaa ceritanya 👍👍👍👍👍
Uthie
Sukkkkaaa ceritanya 👍👍👍👍👍👍
lanjut lagiiii 👍👍👍😍
Uthie
Wahhh... ada yg kesengsem sama Morline 😂👍
Uthie
seruuu 👍😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!