Ziva kembali ke keluarga kandungnya setelah dua puluh tahun terpisah, namun ia harus menyembunyikan identitas aslinya sebagai bos mafia yang kejam.
Di sana, ia bertemu Arsen—pria yang dikenal sebagai pengusaha sukses, tapi ada aura bahaya yang tak bisa dibohongi oleh naluri Ziva.
Mereka saling tertarik, tapi sama-sama memakai topeng.
Saat rahasia terbongkar, akankah cinta mereka bertahan... atau justru menjadi alasan untuk saling menghancurkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyanathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batas Kesabaran & Rahasia yang Hampir Terbongkar
Ketenangan yang baru saja tercipta seketika lenyap seketika, digantikan oleh suasana yang berubah menjadi sangat mencekam. Semua perhitungan dan rencana yang telah disusun rapi, seolah runtuh dalam sekejap saja. Salah satu anggota Organisasi Cakrawala yang sedang berpatroli secara tidak sengaja melirik ke arah persembunyian mereka, dan dalam sekejap matanya menangkap sosok Ziva dan Zio yang bersembunyi di balik tumpukan bangku besar.
"ADA MEREKA! DI SANA!" teriak pria itu sekuat tenaga, suaranya menggema ke seluruh penjuru ruangan dan menarik perhatian puluhan orang lainnya.
Zio tersentak kaget hingga hampir menjatuhkan perangkat yang ada di tangannya. Wajahnya seketika memucat, namun naluri pelindungnya langsung bangkit. Ia mendorong tubuh Ziva ke belakang dengan keras sambil berteriak penuh tekanan.
"CEPAT ZIVA! LARI SEJAUH MUNGKIN, CARI TEMPAT YANG LEBIH AMAN! JANGAN BERHENTI SEBELUM AMAN!" perintah Zio dengan nada tinggi dan cemas, matanya sudah melotot melihat puluhan sosok bersenjata yang mulai bergerak mendekat dengan langkah cepat.
Namun Ziva hanya diam mematung, kakinya terpaku di tempatnya dan tidak bergerak sedikit pun. Ia menggeleng tegas, matanya menatap tajam ke arah saudaranya itu. Bagaimana mungkin ia bisa lari meninggalkan Zio sendirian menghadapi ratusan musuh? Meskipun ia harus menyembunyikan jati dirinya, ia tidak akan pernah membiarkan saudaranya terluka.
"Aku tidak akan pergi! Aku tetap di sini bersamamu! Kita hadapi bersama!" jawab Ziva tak kalah lantang, suaranya terdengar bergetar seolah benar-benar ketakutan, padahal di dalam hatinya ia sudah siap meledak kapan saja diperlukan.
Begitu rombongan musuh semakin dekat dan mengepung mereka rapat-rapat, Ziva langsung memainkan perannya. Ia berpura-pura menjadi gadis lemah yang ketakutan, tubuhnya gemetar hebat, dan ia meronta-ronta sekuat tenaga seolah tidak berdaya saat dua orang pria besar itu mencengkeram lengannya dengan kasar.
"Jangan sentuh aku! Lepaskan! Zioooo!" teriak Ziva sekeras mungkin, suaranya terdengar panik dan memohon pertolongan persis seperti gadis biasa yang sedang dalam bahaya.
Melihat adiknya diseret paksa dan terlihat kesakitan, darah Zio seketika mendidih. Segala perhitungan dan rasa takutnya lenyap begitu saja, digantikan oleh amarah yang meluap-luap. Ia langsung melompat maju, menghantamkan tinjunya sekuat tenaga ke arah pria yang memegang Ziva.
"BRENGSEK! LEPASKAN ADIKKU SEKARANG!" teriak Zio dengan rahang mengeras, matanya memerah karena marah.
Suasana semakin kacau dan mencekam. Dari segala penjuru, anggota Organisasi Cakrawala terus berdatangan, mengepung mereka hingga tidak ada celah sedikit pun untuk kabur. Ziva tetap menahan diri, menahan semua kekuatannya, dan terus mengawasi sekelilingnya dengan waspada. Ia masih menahan diri karena satu alasan penting—ia belum melihat sosok pemimpin utama organisasi ini. Selama pemimpin itu belum muncul, ia tidak boleh bertindak sembarangan dan membongkar identitasnya. Ia harus menunggu saat yang tepat untuk menghancurkan mereka semuanya sekaligus.
Di tengah kerumunan itu, Zio berjuang mati-matian melindungi Ziva. Ia menghantam, menendang, dan mendorong siapa saja yang berani mendekat. Namun, seiring berjalannya waktu, kelemahannya mulai terlihat jelas. Zio memang jenius dalam hal teknologi, strategi, dan penyusunan rencana, namun dalam hal fisik dan ilmu bela diri, ia masih jauh tertinggal dibandingkan keahliannya mengutak-atik kode dan perangkat.
Tubuhnya yang sudah kelelahan mulai terasa berat. Serangannya semakin melambat, dan pukulannya tidak lagi sekuat tadi. Sementara lawan yang ia hadapi semuanya adalah orang-orang yang terlatih, kuat, dan kebal terhadap rasa sakit.
Salah satu serangan keras menghantam sisi tubuh Zio, membuatnya terhuyung mundur. Pukulan demi pukulan terus menghantamnya dari berbagai arah. Darah mulai menetes dari sudut bibirnya, napasnya terengah-engah, dan kakinya terasa lemas sekali.
Sementara itu, Ziva didorong hingga tubuhnya terjatuh keras ke lantai semen yang dingin. Belum sempat ia bangkit, sebuah tangan besar langsung mencengkeram lehernya dengan kuat, menekannya hingga ia terjepit di lantai. Tekanan itu semakin kuat hingga membuat napasnya terasa sesak, dan pandangannya sedikit mengabur.
"Kau diam saja di sini! Kalau bergerak sedikit pun lehermu akan kuputuskan sekarang juga!" geram pria itu dengan nada dingin dan kejam.
Melihat pemandangan itu, kesabaran Zio benar-benar habis. Ia seolah menjadi orang yang berbeda, menyerang dengan segenap tenaga yang tersisa tanpa memedulikan dirinya sendiri. Namun, kekuatannya tidak sebanding dengan jumlah lawan yang terlalu banyak. Satu pukulan keras mendarat tepat di dadanya, diikuti dengan hantaman lain di punggungnya.
BRUK!
Tubuh Zio tersungkur jatuh ke lantai, tergeletak lemas. Ia masih berusaha mengangkat kepalanya dan merangkak maju, namun tenaganya sudah habis total. Tubuhnya terasa nyeri di seluruh bagiannya, dan ia hanya bisa memandang Ziva dengan pandangan penuh penyesalan.
"Maafkan aku Ziva... Aku tidak bisa melindungimu... Maafkan aku..." bisiknya pelan, suaranya nyaris tidak terdengar.
Melihat keadaan saudaranya yang terluka parah dan terbaring tak berdaya, sementara lehernya sendiri masih dicengkeram erat hingga rasanya bisa patah kapan saja, hati Ziva mendidih meluap. Kepanikan bercampur rasa marah yang tak terkira memenuhi seluruh dadanya.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar bingung dan ragu.
"Apa yang harus kulakukan? Jika aku bertindak sekarang, semua rahasia yang selama ini kujaga akan terbongkar seketika. Mereka akan tahu siapa aku sebenarnya, dan keluargaku akan terlibat lebih dalam lagi. Tapi jika aku diam saja, Zio bisa terluka lebih parah bahkan nyawanya terancam... Dan leherku ini rasanya tidak akan bertahan lama lagi..."
Jari-jari tangan Ziva sudah mengepal erat hingga kukunya menusuk telapak tangannya sendiri. Matanya mulai menyala dengan cahaya dingin yang mengerikan, tanda bahwa sang Ratu Bayangan di dalam dirinya sudah tidak tahan lagi untuk terus dikurung.
"Tahan sedikit lagi Zio... Tunggu sebentar saja. Kalau ada yang menyakiti rambut kepalamu sedikit saja, aku tidak peduli lagi dengan topeng dan rahasia ini. Aku akan hancurkan tempat ini beserta semua orang di dalamnya dalam hitungan detik!" batin Ziva dengan tekad yang membara, sementara amarahnya terus membakar pertahanan dirinya yang mulai retak.
Di tengah ketegangan itu, langkah kaki berat terdengar mendekat dari belakang kerumunan. Suasana seketika menjadi hening seketika. Semua anggota Organisasi Cakrawala menyingkir memberi jalan, dan dari balik barisan mereka, melangkah keluar sosok tinggi besar dengan jubah hitam dan wajah yang dingin tanpa ekspresi.
Pemimpin utama mereka akhirnya datang juga.