NovelToon NovelToon
BANGKITNYA SANG SATRIA PININGIT

BANGKITNYA SANG SATRIA PININGIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Kebangkitan pecundang / Ahli Bela Diri Kuno / Balas Dendam
Popularitas:804
Nilai: 5
Nama Author: Dedik Januari Purnomo

"Dulu aku adalah debu di bawah kakimu, kini aku adalah badai yang akan menghancurkan istanamu!"

Arka Nirwana hanyalah menantu "sampah" yang dihina dan dipaksa mencuci sepatu keluarga Adiningrat. Kehilangan anak, dikhianati istri, dan dianggap gila adalah makanan sehari-harinya. Namun, mereka tidak tahu bahwa selama empat tahun, Arka sedang melakukan tirakat suci untuk membuka Segel Nusantara.

Saat guntur menyambar dan Jenderal tertinggi bersujud di kakinya, dunia sadar bahwa Sang Satria Piningit telah bangkit. Masa perbudakan telah usai, kini saatnya Arka menjemput kembali miliknya dan meratakan siapa pun yang menghalanginya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: MANDI DARAH DI LERENG PANDERMAN

Hujan deras yang mengguyur Kota Batu malam itu tidak sanggup memadamkan hawa panas yang memancar dari tubuh Arka Nirwana.

Di halaman rumah aman yang kini hancur separuh, Arka berdiri tegak. Air hujan yang menyentuh pundaknya langsung berubah menjadi uap putih, menciptakan efek mistis seolah ia baru saja turun dari kawah candradimuka.

SSSSSSHHHHH!

Di depannya, ratusan agen The Sovereign dengan armor taktis bionik dan pasukan elit Black Order yang membawa pusaka-pusaka hitam mulai merapat.

Mereka membentuk formasi setengah lingkaran, mengunci setiap sudut pelarian.

"Arka Nirwana!" teriak seorang komandan lapangan dari The Sovereign melalui pelantang suara helikopter yang meraung di atas kepala. DRRRRRRRRRR....

"Serahkan diri Anda dan serahkan aset 'D-01' (Dafa). Anda telah melanggar hukum internasional dan protokol ghaib regional!"

Arka tidak menjawab. Ia hanya melirik ke belakang, ke arah Reyna yang sedang memeluk Dafa dan Siska di sudut reruntuhan.

"Reyna," panggil Arka pelan, namun suaranya membelah suara guntur. GLAAAARRRR!

"Bawa mereka masuk ke rubanah. Aktifkan segel perlindungan Aksara Jawa yang pernah aku ajarkan. Jangan keluar sampai fajar menyingsing."

"Arka, jumlah mereka terlalu banyak! Mereka bawa unit peredam energi!" Reyna berteriak cemas.

"Biarkan saja," Arka memutar Keris Kyai Sangga Buwana di tangannya. Bilah hijau itu kini berpendar liar, menyerap listrik dari petir yang menyambar-nyambar.

"Mereka lupa, di tanah ini, aku tidak butuh energi luar. Aku adalah tanah ini sendiri."

Setelah Reyna menarik Dafa dan Siska ke bawah tanah, Arka melangkah maju. Satu langkah. DHUMMM!

Tanah di bawah kakinya meledak, menciptakan gelombang kejut yang meruntuhkan aspal jalanan.

"SERANG!" teriak komandan musuh. RATATATATATAT! 

Ratusan senapan otomatis menyalak serentak. Peluru-peluru kaliber tinggi yang dilapisi tungsten, dirancang khusus untuk menembus kulit pengguna ilmu kebal melesat ke arah Arka.

Arka tidak menghindar. Ia hanya mengangkat tangan kirinya secara horizontal.

“Segel Bumi: Densitas Absolut!” DENGGG!

Udara di depan Arka mendadak memadat, menjadi sekeras dinding baja sedalam satu meter.

Peluru-peluru itu tidak memantul, mereka berhenti seketika di udara, terjepit oleh molekul udara yang dipaksa menjadi benda padat oleh kekuatan Arka. KLING-KLING-KLING.

Ribuan peluru menggantung di depan Arka, membentuk dinding logam yang mengerikan.

"Kembali," bisik Arka. Ia menghentakkan telapak tangannya ke depan. WHUUTSH!

Ribuan peluru itu melesat balik ke arah pengirimnya dengan kecepatan dua kali lipat. Teriakan histeris dan suara daging yang terkoyak memenuhi halaman. JLEG-JLEG-JLEG!

Pasukan baris depan The Sovereign tumbang seketika, armor bionik mereka hancur berkeping-keping oleh peluru mereka sendiri.

"Gunakan senjata ghaib! Sekarang!" raung si raksasa bertato Banaspati yang tadi terluka, kini ia dibantu oleh dua dukun hitam dari Black Order.

Kedua dukun itu mulai merapal mantra. Dari kegelapan hutan pinus di lereng Panderman, muncul ratusan sosok Gendruwo dan Banaspati ghaib yang matanya menyala merah. WREEEEEUMMM...

Makhluk-makhluk ini bukan sekadar ilusi, mereka adalah entitas pemangsa sukma yang dikontrak dengan darah.

Arka melihat gelombang makhluk astral itu mendekat. Ia merasakan suhu udara turun drastis, bercampur dengan bau busuk mayat.

"Kalian membawa lelembut ke hadapanku?" Arka tertawa dingin. Suaranya berubah menjadi bariton yang dalam, bergetar dengan wibawa raja.

Arka menghujamkan kerisnya ke tanah. JLEB!

“Panggil Naga Hijau: Ruwat Bumi!”

Rajah Naga di lengan Arka berpendar terang. Dari dalam retakan tanah, keluar uap hijau zamrud yang membentuk naga raksasa transparan. ROOOOAAAAARRRR!

Naga itu meliuk di udara, lalu menghantam gelombang lelembut tersebut. CRAAAASH!

Setiap kali naga itu menyentuh Gendruwo, makhluk ghaib itu langsung terbakar habis, kembali menjadi energi murni yang diserap oleh tanah Batu.

Arka tidak berhenti di situ. Ia melesat maju, kecepatannya kini benar-benar tak terlihat. ZLAP! ZLAP!  Ia muncul di tengah-tengah kerumunan pasukan Black Order.

SLASH! SLASH!

Setiap ayunan keris Arka tidak hanya memotong raga, tapi juga memutuskan jalur meridian musuhnya. Mereka yang terkena sabetan Arka tidak akan pernah bisa menggunakan ilmu batin lagi seumur hidup.

"Tahan dia! Gunakan Jaring The Sovereign!"

Empat buah drone raksasa terbang di atas Arka, menembakkan jaring-jaring energi laser yang dirancang untuk mengikat frekuensi otak manusia. Jaring itu jatuh, membungkus tubuh Arka. DZZZZT-BZAAT!

Arka terhenti sejenak. Tubuhnya terikat oleh cahaya ungu yang menyakitkan.

"Hahaha! Akhirnya kau kena, Arka! Ini adalah teknologi penekan partikel dewa!" si komandan The Sovereign turun dari helikopter, memegang pedang plasma.

Arka menundukkan kepala. Rambutnya menutupi matanya. "Teknologi... kalian terlalu sombong dengan benda mati."

Arka memusatkan 25% Elemen Air ke dalam pembuluh darahnya. Ia memaksa suhu tubuhnya turun hingga ke titik nol mutlak. KRETEK... KRETEK...

Seketika, jaring laser itu retak karena perubahan suhu yang ekstrem, lalu hancur seperti kaca. PYARRRR!  Arka mendongak. Matanya kini benar-benar biru tanpa putih mata.

"Sekarang giliranku."

Arka merentangkan kedua tangannya.

“Aji Samudera Sewu: Banjir Darat!”

Air hujan yang turun dari langit mendadak berhenti di udara. Jutaan tetes air itu berubah menjadi jarum-jarum es yang tajam. ZING-ZING-ZING!

Dengan satu lambaian tangan, Arka mengarahkan jutaan jarum es itu ke seluruh penjuru halaman. STAB! STAB! STAB!

Halaman itu berubah menjadi ladang pembantaian. Pasukan elit yang tadinya sombong kini merangkak ketakutan, mencari perlindungan di bawah kendaraan taktis yang justru dihancurkan oleh tekanan air yang diciptakan Arka.

Di tengah pembantaian itu, sebuah mobil mewah Rolls-Royce hitam melaju pelan, menembus kekacauan seolah-olah serangan Arka tidak bisa menyentuhnya. Mobil itu berhenti tepat sepuluh meter di depan Arka.

Pintunya terbuka. Rendra Adiningrat keluar dengan setelan jas rapi, tanpa setetes air pun menyentuh bajunya.

Di tangannya, ia memegang sebuah jantung mekanik yang kini sudah menyatu dengan Prasasti Api Abadi, kepingan keempat yang dicuri dari dasar Gunung Merapi.

"Hebat, Arka. Benar-benar hebat," ucap Rendra sambil bertepuk tangan pelan. "Kau sudah membuka tiga elemen. Tapi kau lupa satu hal... api selalu menguapkan air, dan api selalu menghanguskan bumi."

Rendra mengangkat tangannya. Sebuah bola api hitam seukuran kepalan tangan muncul, namun hawa panasnya membuat aspal di bawah mobilnya meleleh dalam hitungan detik. HUUUUUMMM...

"Kau pikir kau bisa melindunginya, Arka? Lihat ke atas," Rendra menunjuk ke langit.

Arka mendongak. Di sela-sela awan mendung, ia melihat sebuah satelit militer milik The Sovereign sedang mengunci koordinat Kota Batu. TIIIIIIIT...

"Jika kau tidak menyerahkan Dafa dan Keris itu dalam sepuluh menit, satelit ini akan menembakkan Rod from God, batang tungsten kinetik yang akan meratakan kota ini dari peta."

"Ribuan warga sipil akan mati hanya karena keegoisanmu," Rendra tersenyum licik.

Arka terdiam. Rahangnya mengeras. GRRR...Inilah dilema yang selalu ia takuti. Ia bisa menang bertarung, tapi ia tidak bisa melawan kehancuran dari langit yang ditargetkan pada orang-orang tak berdosa.

"Arka... jangan dengarkan dia!" teriakan Reyna terdengar dari arah rubanah, namun suaranya langsung teredam oleh ledakan kecil yang diciptakan Rendra.

"Pilihan ada di tanganmu, Sang Ksatria Piningit," ucap Rendra. "Menjadi pahlawan yang kehilangan segalanya, atau menjadi pengecut yang menyerah dan membiarkan dunia ini diatur oleh kami."

Tiba-tiba, dari arah saku celana Arka, terdengar suara bip dari ponsel satelit kuno pemberian Eyang Jugo. BIP. BIP.

Arka mengangkatnya.

"Arka... jangan menyerah pada gertakan mereka," suara Eyang Jugo terdengar tenang di tengah badai. "Ingatlah pilar keempat."

"Ruang bukan hanya jarak... ruang adalah tempat di mana semua kemungkinan bersatu. Gunakan keris itu untuk membelah langit."

Arka menatap Keris Kyai Sangga Buwana. Ia baru sadar, selama ini ia hanya menggunakan keris itu sebagai senjata. Ia belum menggunakannya sebagai Kunci.

"Rendra," ucap Arka dingin. "Kau bicara soal menghapus kota ini?"

Arka memegang gagang keris dengan kedua tangannya, lalu mengangkatnya lurus ke arah satelit di langit.

"Maka aku akan menghapus langit kalian!"

WUUUUUUUNNNNGGGGG! (Bilah keris memanjang menjadi pilar cahaya raksasa yang menembus awan).

***

Dukung perjalanan Arka Nirwana dengan Like & Komen. Update setiap hari. Terima kasih.

1
anggita
ikut like👍iklan☝aja thor.
Dedik Januari: Terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!