Di sebuah kabupaten kecil di provinsi Jawa Barat, di Negara Nusantara, Arkan Wijaya baru saja lulus SMA, namun saat pulang dia mendapati rumahnya kosong, kedua orang tuanya tidak ada, dia mencari kesana kemari namun tidak ada kabar tentang mereka, hanya menemukan secarik kertas bertuliskan "Arkan kamu sudah dewasa, carilah jalanmu sendiri, kami tidak bisa terus menjagamu, dan ada kewajiban yang harus kami lakukan, suatu saat nanti mungkin kamu akan mengerti, maafkan kami Arkan." Dan di samping kertas itu ada cincin emas berbentuk kepala dan permata kecil berkilau di kedua matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suryadharma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Darah di Lembah Emas dan Panggilan Jiwa
Lembah Naga Emas yang hijau subur kini berubah menjadi lautan darah dan reruntuhan. Asap hitam mengepul dari bekas formasi yang hancur, dan mayat-mayat pasukan Kekaisaran Naga Hitam Abadi bergelimpangan di mana-mana. Arkan Wijaya berdiri di tengah medan perang, tubuh kekarnya penuh luka sayat dan darah — sebagian miliknya, sebagian besar milik musuh. Jubah hitam keemasannya robek di beberapa bagian, memperlihatkan otot-otot yang menegang dan sisik emas samar yang muncul akibat Transformasi Naga Emas Sejati.
Napasnya masih berat, tapi matanya menyala seperti api naga yang tak terpadamkan. Nascent Soul Tingkat 5 pertengahan-nya membuat aura di sekitarnya bergetar hebat.
Sela Juanda berlari mendekat dari sayap kanan medan perang. Gaun tempurnya robek di lengan dan pinggul, memperlihatkan kulit mulus yang tergores dan memar. Wajah cantiknya pucat karena kelelahan, tapi matanya penuh kekhawatiran dan kebanggaan saat melihat Arkan masih berdiri.
“Arkan!” Sela memeluknya erat, tak peduli darah yang menempel di tubuh mereka berdua. “Kamu terluka parah… biar aku sembuhkan.”
Arkan membalas pelukan itu dengan satu tangan, tangan satunya masih memegang Pedang Raja Naga yang meneteskan darah hitam. “Aku baik-baik saja. Kamu sendiri?”
Sela menggeleng, air mata menggenang di matanya. “Aku tidak apa-apa. Tapi lihat kamu… hampir saja…”
Arkan mencium kening Sela dalam-dalam, lalu bibirnya, di tengah medan perang yang masih berasap. Ciuman itu penuh kepemilikan, penuh syukur karena masih hidup, dan penuh api yang tak pernah padam di antara mereka. Pasukan Paviliun yang melihatnya bersorak pelan, memberi ruang untuk raja dan ratu mereka.
Juanda Hartono mendekat dengan wajah serius. “Kita menang telak hari ini. Tapi Xiao Zhan melarikan diri dengan sisa pasukannya. Mereka akan kembali dengan kekuatan lebih besar.”
Arkan mengangguk. “Biarkan saja. Kita perlu waktu untuk memperkuat diri juga.”
Malam harinya, di tenda kerajaan darurat yang didirikan di pinggir lembah, Arkan dan Sela membersihkan diri bersama di bak air hangat spiritual. Airnya berubah merah karena darah mereka. Arkan duduk di belakang Sela, tangan kekarnya dengan lembut membersihkan luka-luka kecil di punggung dan bahu istrinya.
“Kamu semakin tangguh,” bisik Arkan sambil mencium bahu Sela. “Aku takut suatu hari nanti kamu tidak butuh perlindunganku lagi.”
Sela berbalik, duduk di pangkuan Arkan di dalam air hangat. Tubuh telanjang mereka saling menempel. “Aku selalu butuh kamu. Bukan sebagai pelindung… tapi sebagai segalanya.”
Mereka berciuman lembut, lalu semakin dalam dan penuh hasrat. Di dalam tenda yang hanya diterangi cahaya lentera spiritual, Arkan mencintai Sela dengan penuh kelembutan sekaligus kekuatan. Gerakan mereka pelan pada awalnya, menikmati setiap sentuhan, setiap desahan, seolah ingin mengingat bahwa mereka masih hidup setelah pertempuran dahsyat. Naga Qi mereka bercampur dengan lembut namun kuat, menyembuhkan luka dan memperkuat jiwa.
Di puncak kenikmatan, Arkan breakthrough ke Nascent Soul Tingkat 5 akhir. Tubuhnya bergetar hebat, cahaya emas memenuhi tenda. Sela juga naik ke Tingkat 4 pertengahan.
Mereka berbaring saling peluk di atas permadani tebal, tubuh masih saling menempel.
“Aku mendapat wahyu lagi dari cincin,” kata Arkan pelan. “Segel terakhir memberiku petunjuk. Di Dunia Tengah ini ada ‘Gerbang Keabadian’ yang tersembunyi. Jika aku bisa mencapainya, aku bisa memanggil kekuatan penuh Naga Emas Agung tanpa mengorbankan nyawa.”
Sela mengusap dada Arkan. “Kita akan cari bersama. Tapi sekarang… istirahatlah dulu.”
Keesokan paginya, pasukan Paviliun membersihkan medan perang dan menguburkan para korban dengan hormat. Arkan memberikan pidato singkat yang membakar semangat semua orang.
“Kekaisaran Naga Hitam Abadi menganggap kita sebagai ancaman. Bagus. Karena kita memang ancaman bagi segala bentuk kegelapan. Kita akan bangun kerajaan yang tak tergoyahkan di Dunia Tengah ini!”
Sorak sorai membahana.
Selama dua minggu berikutnya, Arkan fokus memperkuat pertahanan Kota Naga Emas. Ia membuat formasi raksasa tingkat Nascent Soul, melatih pasukan dengan teknik baru dari warisan cincin, dan memproduksi pil-pil perang secara massal.
Sela menjadi tangan kanannya yang tak tergantikan. Ia memimpin pasukan wanita elit, mengatur logistik, dan menjadi tempat Arkan pulang setiap malam untuk melepas lelah.
Suatu malam, saat Arkan dan Sela sedang berbaring setelah sesi cinta yang intens, sebuah surat darurat datang. Kekaisaran Naga Hitam Abadi mengerahkan 30.000 pasukan besar dan meminta bantuan dari tiga sekte besar lainnya.
Arkan membaca surat itu dengan wajah dingin. “Mereka serius kali ini.”
Ia menarik Sela ke pelukannya. “Kita akan hadapi mereka di Lembah Bintang. Ini akan menjadi pertempuran besar pertama kita di Dunia Tengah.”
Sela mengangguk tegas. “Aku akan bertarung di barisan depan bersamamu.”
Persiapan perang besar dilakukan dengan cepat. Arkan memanggil semua sekutu — Klan Langit Biru, beberapa sekte netral, dan ribuan kultivator liar yang ingin bergabung. Total kekuatan Paviliun dan sekutu mencapai 18.000 orang.
Malam sebelum keberangkatan besar, Arkan dan Sela naik ke puncak menara tertinggi. Angin malam menerpa mereka berdua.
“Apapun yang terjadi di Lembah Bintang nanti,” kata Arkan sambil memeluk Sela dari belakang, “janji kamu akan tetap hidup. Aku tidak bisa bayangkan dunia tanpa kamu.”
Sela berbalik dan mencium bibir Arkan dengan penuh tekad. “Aku janji. Tapi kamu juga harus janji hal yang sama.”
Mereka berciuman lama di bawah langit keunguan Dunia Tengah. Hasrat muncul lagi. Di balkon menara yang tinggi, Arkan mencintai Sela dengan liar dan penuh gairah, seolah ingin meninggalkan kenangan abadi sebelum perang besar.
Pagi harinya, seluruh pasukan bergerak menuju Lembah Bintang. Arkan memimpin di depan dengan Sela di sampingnya. Bendera Naga Emas berkibar gagah di angin.
Di kejauhan, pasukan Kekaisaran Naga Hitam Abadi sudah membentuk formasi raksasa. Kaisar Xiao Tian sendiri turun tangan kali ini, aura Void Realm-nya menekan seluruh lembah.
Arkan tersenyum dominan, Pedang Raja Naga terhunus.
“Mulai,” katanya pelan.
Perang besar yang akan mengguncang Dunia Tengah pun dimulai.
cerita bagus dan menarik, kak.
semangat🐳