NovelToon NovelToon
PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mafia / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Thahara Maulina

Liora William Anderlecht, putri dari keluarga konglomerat terbesar di Italia, tumbuh dalam luka akibat pengkhianatan ibunya sendiri.
Sejak kecil, ia dipaksa menjadi kuat melindungi tiga adik laki-lakinya dan menggantikan peran seorang ibu yang telah pergi.

Dingin. Tegas. Tak tersentuh.
23 tahun berlalu, setelah kematian sang ayah, Liora mengambil alih kekuasaan keluarga. Namun dunia yang ia hadapi bukan hanya tentang bisnis…

Melainkan juga bayang-bayang masa lalu.

Karena ayahnya… adalah mantan ketua mafia.

Kini, Liora bersumpah akan melindungi keluarganya dengan segala cara.
Dan siapa pun yang berani menyentuh mereka…

Akan merasakan balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thahara Maulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Pembalasan Dan Janji Suci

Markas milik Liora William Anderlecht terkenal sebagai tempat yang tidak pernah ingin didatangi siapa pun. Para musuh menyebutnya sebagai pintu gerbang neraka—dingin, sunyi, dan selalu menyimpan aroma kematian. Di sinilah akhir dari perjalanan siapa pun yang berani melukai orang-orang yang menjadi milik Liora.

John, tangan kanan Liora yang paling setia, menyeret Dirangga dan Rian masuk ke ruang interogasi. Keduanya dipaksa berlutut, lalu tangan dan kaki mereka diikat erat tanpa ampun.

Dirangga memaki, napasnya memburu.

“Kenapa aku dibawa ke tempat sialan ini?!”

John hanya menatapnya datar tatapan seorang algojo tanpa rasa.

“Aku hanya menjalankan perintah Nyonya Liora. Dan kalian perlu tahu satu hal... Adrian adalah orang yang sangat dia cintai.”

Ia mendekatkan wajahnya ke Dirangga, suaranya merendah namun penuh tekanan.

“Mungkin bagi kalian dia hanyalah ‘anak sialan’. Tapi bagi Nyonya Liora... Adrian adalah permata yang tidak boleh disentuh siapa pun.”

Dirangga menggeram pelan, ada ketakutan yang mulai merayap.

“Brengsek…”

John menoleh pada anak buahnya.

“Hajar mereka.”

“Baik, Tuan!”

Sejurus kemudian, suara hantaman memenuhi ruangan.

Bugh.!

Tak.!

Cktrak.!

Teriakan Dirangga menggema keras.

“AAARGH!! Ampun! Tolong... aku minta ampun!”

Rian yang lebih lemah hanya bisa merintih, tubuhnya gemetar, hampir tak mampu mengangkat wajahnya.

Beberapa menit berlalu…

Pintu ruangan terbuka perlahan.

Liora masuk dengan langkah yang begitu tenang terlalu tenang. Namun auranya menghantam semua yang ada di ruangan. Aura mematikan. Aura yang membuat semua orang menunduk.

“Bagaimana kondisi mereka, John?” tanyanya tanpa emosi.

“Sedang dalam proses penyiksaan, Nyonya.”

Liora tersenyum tipis senyum yang lebih menakutkan daripada amarah.

“Aku ingin melihat wajah mereka… setelah berani menyakiti orang yang aku sayangi.”

Ia mengenakan sarung tangan hitam, mengambil pisau kecil dari meja, lalu berjalan mendekati korban dengan langkah santai namun penuh ancaman.

“Dirangga…” bisiknya sangat pelan.

Namun bisikan itu cukup untuk membuat pria itu gemetar hebat.

Tanpa menunda, Liora mengayunkan cambuk kecil.

Ctak!

Ctak!

Jeritan kesakitan kembali memenuhi ruangan.

“AAAAAAAAAARGH!!”

Liora menghela napas pelan.

“Ini baru pemanasan.”

Pisau kecilnya melesat ke perut Dirangga.

Sret.

“A—aargh!” Dirangga menjerit sekuat tenaga.

Liora membungkuk sedikit, suaranya halus namun lebih menusuk daripada bilah pisau.

“Bagaimana rasanya? Sakit? Mirip seperti apa yang Adrian rasakan selama bertahun-tahun, kan?”

Mata Liora dipenuhi kebencian yang mendalamnkemarahan yang selama ini ia pendam.

Tanpa ragu, ia mengambil pistol.

Dor.

Dor.

Dor.

Ketiga pelurunya mengakhiri napas kedua pria itu.

Sunyi.

Liora menatap tubuh mereka tanpa sedikit pun perubahan ekspresi.

“Buang tubuh mereka ke kolam buaya.”

“Baik, Nyonya.”

Ia meninggalkan ruangan tanpa menoleh, seolah kematian adalah rutinitas biasa baginya.

Malam Hari Mansion

Setibanya di mansion, aura kejam Liora menghilang digantikan kelembutan yang hanya Adrian bisa lihat. Ia masuk ke kamar pria itu.

Adrian tertidur lelap, wajah polosnya membuat Liora tersenyum tipis.

Ia duduk di sampingnya dan membelai rambut Adrian.

“Adrian… bangun…”

Tak ada respon.

Tatapan Liora berubah nakal. Ia menunduk, lalu memberikan kecupan singkat di bibir pria itu.

Cup.

Adrian langsung tersadar.

“L-Liora?!”

Liora terkekeh pelan.

“Bangun, hubby. Kita keluar. Kita harus lihat baju pengantin kita.”

Adrian memerah.

“Kamu manggil aku apa?”

“Hubby.” jawab Liora santai.

Adrian tertawa kecil.

“Aku suka.”

Liora tersenyum puas.

“Bagus. Aku juga.”

Persiapan Pernikahan

Mereka pergi ke butik perancang ternama. Gaun Liora dirancang dengan detail elegan dan berkelas, melambangkan kekuatan sekaligus kecantikannya. Jas Adrian dibuat khusus untuknya simple namun memancarkan wibawa.

Kemudian mereka memilih cincin.

Cincin itu berukir inisial:

L.A

Liora & Adrian

“Cantik…” gumam Adrian sambil memandangi cincin itu.

Liora meraih tangannya.

“Seperti kita.”

Adrian hanya tersenyum malu.

Hari Pernikahan

Hari besar itu tiba. Tamu undangan, rekan bisnis, dan keluarga berkumpul. Victor, Albert, Sean, dan pamannya Henry hadir, memenuhi ruangan dengan rasa bangga.

Liora melangkah menuju altar ditemani ketiga adiknya. Adrian menunggu dengan tatapan penuh cinta.

Pendeta membacakan janji.

“Adrian Warinata, apakah Anda bersedia menerima Liora William Anderlecht sebagai istri Anda?”

“Saya bersedia.”

“Dan Liora William Anderlecht, apakah Anda bersedia menerima Adrian sebagai suami Anda?”

Liora tersenyum lembut.

“Saya bersedia. Dan aku berjanji akan mencintainya, melindunginya, dan setia sampai akhir hidupku.”

Cincin dipasangkan.

Resmilah mereka menjadi suami dan istri.

Tamu bersorak.

“Cium! Cium!”

Adrian tertawa kecil lalu mencium Liora dengan lembut.

Tepuk tangan bergema memenuhi ruangan.

Setelah Acara

Victor, Albert, dan Sean memeluk Liora dengan mata berkaca-kaca.

“Selamat, Kak… akhirnya kakak menikah.”

Liora tersenyum hangat.

“Terima kasih, boys…”

Ia menatap langit.

“Mungkin... ini jawaban dari doa Ayah selama ini.”

Pamannya, Henry, menepuk bahunya.

“Kau sudah melalui banyak hal, Liora. Sekarang kau berhak mendapatkan kebahagiaanmu.”

Liora menggenggam tangan Adrian erat.

“Aku berjanji menjadi istri yang baik… dan pelindung untuk suamiku.”

Adrian memandangnya dengan cinta mendalam.

Untuk pertama kalinya…

Wanita yang dikenal sebagai ratu iblis itu

menemukan sesuatu yang lebih kuat dari kekuasaan.

Cinta.

1
Meri Nofrita
segampang itu memaafkan wanita yg sudah menyakitinya walau bergelar seorang ibu...
Thahara Maulina: karena anaknya kesabaran dan sifat pemaaf nya lebih besar Dari pada sang ibu kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!