Di sebuah kafe kecil yang tidak pernah benar-benar sepi, dua dunia yang berbeda perlahan saling bersinggungan.
Clay—dingin, tenang, dan terbiasa menjaga jarak.
Nindi—jujur, tegas, dan tidak suka sesuatu yang menggantung tanpa kepastian.
Mereka tidak pernah merencanakan apa pun. Tidak pernah mencari satu sama lain.
Namun setiap hari yang sama, percakapan yang sederhana, dan kebetulan yang berulang, perlahan mengubah batas antara “sekadar bertemu” menjadi “tidak ingin kehilangan”.
Dan ketika akhirnya mereka memilih untuk saling menggenggam, mereka juga harus belajar satu hal:
bahwa mempertahankan seseorang tidak pernah sesederhana memilihnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fadiez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Hati Clay yang sejak semalam sudah terasa panas, kini seperti disiram bensin setelah kedatangan Erik.
Dari tempatnya berdiri, ia melihat cara Nindi bereaksi, kaget, lalu berubah seketika menjadi lebih ringan, lebih hidup. Reaksi yang tidak ia dapatkan sejak percakapan panjang mereka tadi malam.
Tangannya mengepal tanpa ia sadari. Bukan karena Erik ada di sana. Tapi karena perubahan Nindi yang terlalu kontras. Seolah semua beban yang tadi mereka bawa Bersama, bisa hilang hanya karena satu nama lain disebut.
Clay menarik napas pelan, tapi napas itu tidak benar-benar menenangkan apa pun di dalam dadanya. Ia mengalihkan pandangan sebentar, mencoba menahan sesuatu yang mulai naik.
“Kamu serius…” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.
Matanya kembali ke arah Nindi. Dan untuk pertama kalinya malam ini, yang terasa bukan lagi debat, bukan lagi jarak, bukan lagi rencana. Tapi sesuatu yang lebih sederhana, dan lebih menusuk:
bahwa ada bagian dari Nindi yang bisa kembali tersenyum, tanpa dirinya.
Pintu café kembali terbuka. Suara lonceng kecil terdengar seperti biasa, tapi kali ini tidak dihiraukan dengan santai oleh Clay. Seseorang masuk.
Sonya.
Langkah wanita itu ringan, wajahnya langsung mencari target di dalam ruangan, lalu tanpa ragu menghampiri Erik. Barulah Clay bisa tahu apa yang sedang mereka obrolkan.
“Kamu sudah sampai ternyata,” sapa Sonya dengan nada akrab, seolah ini bukan pertemuan pertama mereka. Mereka berpelukan singkat.
Erik tersenyum. “Baru saja.”
“Wow ..” Sonya menatap Erik dari atas ke bawah, lalu tersenyum tipis. “Kamu semakin kelihatan berwibawa sekarang.”
Erik hanya terkekeh pelan. “Masa sih?”
“Serius,” lanjut Sonya santai. “Beda sekali dari terakhir kita ketemu.”
“Terima kasih,” jawabnya tenang. “Kamu juga masih sama seperti dulu, Sonya. Masih ceria dan aawet muda.”
Sonya terkekeh pelan, merasa sedikit dipuji. “Wah, kamu masih ingat ya.”
Erik mengangguk. “Sulit lupa orang yang dulu sering bikin suasana ramai.”
Nada suaranya ringan, tapi matanya sesekali melirik ke sekitar, seperti sedang membaca suasana yang sebenarnya tidak sesederhana itu.
“Erik, kamu sudah memesan sesuatu?” tanya Sonya ramah.
“Belum,” jawab Erik tenang.
“Kamu mau minum apa?” tanyanya.
Erik mengamati sejenak suasana kafe, lalu kembali menatap Sonya. “Yang nggak terlalu manis,” jawabnya pelan. “Kopi saja kalau ada.”
Sonya mengangguk. “Oke, kopi ya.”
Ia kemudian menoleh ke arah Clay yang sudah berada di area bar. “Clay, satu kopi ya.”
Clay tidak langsung menjawab. Tangannya berhenti sejenak di tengah persiapan, lalu ia mengangguk kecil tanpa menoleh.
“Iya.” Nada suaranya datar.
Erik memperhatikan sekilas, lalu kembali bersandar santai di kursinya, seolah tidak ada sesuatu yang perlu dikejar atau dijelaskan.
“Peter gimana kabarnya? Apa dia sedang bekerja?” Erik kembali bertanya.
Sonya langsung mengangguk kecil tanpa ragu. “Iya, dia sedang bekerja. Dan dia baik,” jawabnya. “Sangat baik.”
Erik mengangkat sedikit alis. “Masih protektif?”
Sonya terkekeh pelan. “Masih.”
Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan nada santai, “Cuma sekarang dia agak lebih santai… walaupun tetap aja kebiasaan mikirin orang.”
Erik tersenyum tipis. “Berarti tidak banyak berubah.”
“Tidak terlalu,” jawab Sonya.
Sonya lalu melirik sekilas, seolah teringat sesuatu, lalu menambahkan ringan, “Oh iya… dia sekarang cuma sedikit lebih gemuk. Gara-gara Nindi katanya.”
Erik tertawa pelan, tidak keras, tapi jelas terdengar hangat. “Serius?”
“Padahal sedari tadi aku sudah diam, supaya kalian bisa ngobrol,” suara Nindi akhirnya muncul, , “tetap saja namaku masih disebut.”
Erik dan Sonya terkekeh pelan.
“Jadi apa rencanamu sebentar lagi?” tanya Sonya pada Erik.
Erik baru saja hendak menjawab, tapi Nindi lebih dulu menyela.
“Em, Sonya. Aku sudah punya rencana. Karena Erik ada di sini, aku mau ke rumah Arum.”
Sonya langsung menoleh. “Arum? Bukankah dia di New York?”
“Iya,” jawab Nindi sambil meringis kecil.
Tepat saat itu, Clay datang.
Ia membawa minuman di tangannya, langkahnya berhenti sepersekian detik di ambang percakapan itu. Bukan karena ia tidak tahu harus masuk, tapi karena ia sudah mendengar cukup untuk mengerti arah pembicaraannya.
Rumah Arum. New York. Erik.
Tiga hal yang langsung membuat suasana di kepalanya terasa berbeda dari beberapa menit lalu. Clay tetap melangkah, mendekat tanpa ekspresi berlebihan, lalu meletakkan minuman itu di meja.
“Ini,” katanya singkat.
Tidak ada tambahan. Tapi matanya sempat bergerak, ke Nindi, lalu Erik, lalu Sonya, seolah memastikan ia tidak salah menangkap apa yang baru saja terjadi.
Nindi tidak langsung menatapnya lama. Hanya sekilas, lalu kembali ke arah Erik seperti menahan sesuatu yang tidak ingin terlihat.
Erik sendiri tetap tenang, tapi tatapannya sedikit lebih waspada sekarang, menyadari bahwa ada satu orang lagi yang baru saja masuk ke dalam percakapan yang sudah cukup padat.
Sonya yang pertama memecah keheningan kecil itu.
“Terima kasih, Clay,” ucapnya ringan, mencoba menjaga suasana tetap normal.
Clay mengangguk kecil, tapi tidak langsung pergi. Ia berdiri sebentar di sana, lalu akhirnya berbalik dan berjalan menjauh tanpa banyak kata.
“Ya sudah kalau begitu, kalau itu sudah diputuskan. Jadi kapan kalian mau berangkat?” Sonya kembali bertanya.
“Em, sebentar, aku cek dulu jadwal pesawatnya,” jawab Nindi sambil meraih ponselnya, padahal pikirannya masih tidak benar-benar tenang sejak Clay tadi muncul dan pergi begitu saja.
Erik melirik sekilas ke arah Nindi, tapi tidak berkata apa-apa. Ia memilih tetap diam, memberi ruang.
“Ternyata keberangkatannya dua jam lagi,” ucap Nindi kemudian setelah melihat layar ponselnya.
Sonya mengangguk kecil. “Berarti kamu harus segera siap-siap.”
“Oh, iya,” Nindi mengangguk cepat, tapi pikirannya masih buyar. “Tapi kasirnya?”
“Tidak usah khawatir,” jawab Sonya tenang.
“Ah, oke.” Nindi menghela napas kecil. “Ya sudah kalau begitu, aku pulang dulu dan siap-siap.”
Sonya mengangguk. “Hati-hati.”
Erik ikut tersenyum kecil, lalu bersandar sedikit. “Sayang sekali, aku harus menuruti rencana ini juga. Padahal aku masih ingin mengobrol lebih lama denganmu, Sonya.”
Sonya terkekeh pelan. “Kapan-kapan saja. Kamu sudah tahu rumahku, kan? Kamu bisa mampir kapan saja.”
Erik mengangguk. “Baik.”
Di sisi lain, Nindi baru saja melepas apronnya di pantry saat tiba-tiba Clay meraih lengannya.
Gerakannya cepat, tapi tidak kasar. Cukup untuk menghentikan langkah Nindi di tempat.
Nindi langsung menoleh, terkejut.
“Clay?” ucapnya pelan, tidak langsung menarik diri, tapi jelas tidak menyangka.
Clay tidak langsung menjawab. Tatapannya turun sebentar ke tangan yang ia pegang, lalu kembali ke wajah Nindi, lebih tenang dari sebelumnya, tapi ada sesuatu yang tidak selesai di sana.
“Jadi kamu akan pergi ke New York sekarang?” suaranya lebih pelan dari sebelumnya, tapi justru terdengar lebih berat.
Nindi tidak langsung menjawab. Ia menarik napas kecil, lalu mengangguk.
“Iya.”
Satu kata. Cukup untuk membuat ruang di antara mereka terasa semakin sempit sekaligus semakin jauh.
Clay menghela napas pelan, seperti menahan sesuatu yang sudah tidak bisa ia tahan lagi. “Bahkan setelah semua yang kita bicarakan semalam?”
Nindi mengalihkan pandangan tidak berani menatap Clay.
Clay menatapnya lebih lama, lalu suaranya turun satu tingkat, lebih pelan tapi lebih tajam karena ditahan. “Dan… bersama dia?” ulangnya. “Berdua?”
Nindi menelan napas kecil.
“Iya,” jawabnya akhirnya, hampir seperti bisikan. “Aku pergi bersama Erik.”
Hening.
Clay mengangguk pelan sekali, tapi tidak ada makna setuju di sana, lebih seperti menerima sesuatu yang tidak bisa lagi ia debatkan.
“Jadi semalam itu… tidak mengubah apa pun ya,” katanya pelan.
Nindi langsung menggeleng. “Bukan tidak mengubah.”
Ia berhenti sebentar, lalu menatap Clay sekilas, hanya sebentar.
“Tapi tidak cukup untuk menghentikan ini.”
Kalimat itu jatuh pelan, tapi tegas.
Clay tertawa kecil tanpa suara, lalu mengusap wajahnya sesaat, seperti mencoba merapikan pikirannya yang berantakan.
“Tidak cukup,” ulangnya pelan.
Ia menurunkan tangannya, lalu menatap Nindi lagi.
“Berarti dari awal memang tidak pernah cukup untuk membuatmu meyakininya.”
Nindi diam.
Bukan karena tidak punya jawaban.
Tapi karena di titik itu, apa pun yang ia katakan hanya akan terasa seperti alasan, bukan keputusan.
Clay akhirnya mundur setengah langkah.
Tidak dramatis.
Tapi cukup untuk membuat jarak di antara mereka terasa nyata.
“Kalau begitu,” katanya pelan, suaranya sudah lebih tenang tapi dingin, “pergilah.”
Kali ini tidak ada penahan.
Tidak ada genggaman.
Hanya keputusan yang akhirnya diucapkan keras-keras, meski sebenarnya sudah terasa sejak lama.