NovelToon NovelToon
SERIBU JARUM EMAS

SERIBU JARUM EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: putra ilham

Di dunia persilatan yang luas, pedang dan tombak dianggap sebagai raja senjata.

Namun, bagi Mo Fei, benda terkecillah yang paling mematikan.

Tidak menggunakan golok raksasa, tidak mengandalkan kekuatan otot. Senjatanya hanyalah jarum-jarum emas seukuran biji padi.

Siapa pun yang ditandanya... pasti mati sebelum sempat berkedip.

Dikenal sebagai Pengamat Malam, ia datang tanpa suara, pergi tanpa jejak, hanya meninggalkan kilatan cahaya emas dan mayat yang tertancap jarum di titik vital.

"Pedang hanya bisa memotong daging. Tapi jarumku... bisa menusuk jiwa."

Ketika ia ditugaskan melindungi putri cantik yang keras kepala dan terjerat dalam intrik istana, Mo Fei harus menghadapi sekte jahat dan pendekar-pendekar legendaris.

Bisakah seribu jarum emas ini mengubah takdir dunia?

Siap-siap terpukau dengan aksi bela diri tercepat dan paling elegan yang pernah ada! .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: JEJAK DI TANAH TERLARANG

Perjalanan menuju Menara Pengetahuan Abadi bukanlah perjalanan yang mudah dan bisa ditempuh dalam waktu singkat. Berdasarkan keterangan dan catatan yang pernah Mo Fei baca di masa lalu, serta cerita dari para tetua di dunia persilatan, lokasi tempat itu terletak jauh di bagian tengah benua, berada di tengah dataran luas yang dikenal dengan nama Dataran Kabut Abadi. Seperti namanya, wilayah itu selalu diselimuti kabut tebal sepanjang tahun, membuat siapa pun yang masuk ke sana akan sulit melihat jalan di hadapannya lebih dari beberapa langkah saja. Bukan hanya itu, di sana juga terdapat banyak arus udara aneh, medan yang berubah-ubah bentuknya secara tiba-tiba, serta banyak makhluk buas yang memiliki kekuatan luar biasa dan sangat berbahaya bagi siapa pun yang melintas di wilayah kekuasaannya.

Namun di balik segala bahaya dan kesulitan itu, tempat itu tetap menjadi tujuan dan impian bagi ribuan ahli ilmu dan pendekar di seluruh penjuru dunia, karena di sanalah tersimpan segala rahasia, sejarah, dan ilmu tertinggi yang sudah dikumpulkan dan disimpan oleh para leluhur selama ribuan tahun lamanya. Hanya mereka yang memiliki tekad baja, kemampuan hebat, dan nasib yang baiklah yang bisa masuk dan keluar dari sana dengan selamat serta membawa pulang pengetahuan yang mampu mengubah nasib dan kekuatannya sepenuhnya.

Selama perjalanan mereka, Mo Fei dan Bai Yue melewati berbagai macam tempat, mulai dari hutan lebat, sungai luas, pegunungan tinggi, hingga kota-kota besar yang ramai dan makmur. Sepanjang jalan itu mereka melihat sendiri betapa luasnya dunia ini, betapa banyaknya orang yang hidup dengan berbagai cara dan nasib yang berbeda-beda. Namun semakin jauh mereka berjalan dan semakin banyak hal yang mereka lihat, semakin jelas pula terlihat di mata mereka betapa banyaknya ketidakadilan, penindasan, dan penderitaan yang dialami oleh rakyat kecil di mana-mana. Di banyak tempat, orang-orang hidup dalam ketakutan, dipaksa menyerahkan sebagian besar harta dan hasil kerja keras mereka kepada para penguasa atau kelompok kuat yang bertindak sewenang-wenang tanpa ada yang berani melawan atau menghentikan mereka.

Melihat pemandangan itu, hati Mo Fei semakin terasa berat dan gelisah. Selama ini ia berpikir bahwa perjuangannya hanyalah urusan pribadi, yaitu membalas dendam, melindungi orang yang dicintainya, dan membebaskan dirinya dari belenggu nasib yang diatur oleh pihak lain. Tapi kenyataan yang dilihatnya di sepanjang perjalanan membuka matanya lebar-lebar dan membuatnya sadar bahwa apa yang terjadi padanya dan orang-orang yang dikenalnya hanyalah bagian kecil dari penderitaan besar yang dialami oleh jutaan orang lain di seluruh penjuru dunia ini. Semua ini ternyata merupakan akibat langsung dari sistem kekuasaan yang dijalankan dan diatur oleh Istana Surga Gelap selama ribuan tahun lamanya. Mereka yang diam-diam mengatur segalanya, menempatkan orang-orang yang kejam dan serakah di posisi berkuasa, membiarkan kejahatan merajalela, dan membuat rakyat biasa hidup dalam kesengsaraan serta ketidaktahuan selamanya.

"Selama ini aku berpikir bahwa masalahku hanyalah urusanku sendiri," bisik Mo Fei perlahan saat mereka sedang beristirahat di pinggir jalan di salah satu desa kecil yang terlihat miskin dan sepi penduduknya. Matanya menatap lurus ke arah sekelompok anak kecil yang kurus dan tampak lemah sedang bermain di tanah berdebu di kejauhan. "Tapi ternyata aku salah besar. Apa yang menimpaku, apa yang menimpa guruku, dan apa yang menimpa jutaan orang lain di seluruh tempat ini semuanya berasal dari sumber yang sama. Seluruh dunia ini sebenarnya telah terperangkap dalam jaring besar yang mereka buat dan atur sedemikian rupa, di mana sebagian kecil orang menikmati kekayaan dan kekuasaan yang tidak terbatas, sementara sebagian besar lainnya harus hidup dalam penderitaan dan keterbatasan seumur hidupnya."

Ia menoleh menatap Bai Yue yang duduk di sampingnya, wajahnya tampak serius dan matanya memancarkan tekad yang jauh lebih dalam dan lebih kuat daripada sebelumnya.

"Kalau begitu tujuanku tidak hanya sekadar menyelamatkan diriku dan orang-orang yang kusayangi saja, Bai Yue. Tujuanku jauh lebih besar dan lebih luas dari itu. Aku ingin meruntuhkan seluruh sistem jahat dan tidak adil ini sampai ke akar-akarnya. Aku ingin menciptakan dunia di mana setiap orang bisa hidup dengan tenang, adil, dan bebas dari rasa takut serta penindasan siapapun juga. Dan untuk mewujudkan hal itu, aku rela menempuh jalan seberat apa pun dan mempertaruhkan nyawaku sendiri sampai titik darah penghabisan sekalipun."

Bai Yue menatap wajah pemuda di sampingnya dengan pandangan yang penuh rasa kagum dan bangga yang mendalam. Ia mengangguk perlahan lalu meletakkan tangannya di atas tangan Mo Fei yang tergenggam erat di atas lututnya.

"Kau benar, Mo Fei," jawabnya dengan suara lembut namun tegas dan mantap. "Aku ikut denganmu, dan aku mendukung sepenuhnya tujuan mulia itu. Sejak awal aku sudah memilih untuk berjalan di sampingmu, ke mana pun kau pergi dan apa pun yang kau perjuangkan. Kalau kau ingin mengubah nasibmu sendiri, aku ikut mengubahnya bersamamu. Dan kalau kau ingin mengubah nasib seluruh dunia ini menjadi lebih baik dan adil, aku akan tetap berdiri di sampingmu dan membantumu mewujudkannya sampai hari terakhir dalam hidupku."

Kata-kata Bai Yue membuat hati Mo Fei terasa hangat dan kuat kembali. Ia sadar betul bahwa beban yang dipikulnya saat ini memang sangat berat dan menakutkan, namun selama ada orang yang percaya dan mendukungnya sepenuhnya seperti Bai Yue, ia merasa seolah memiliki kekuatan yang tak terbatas dan takkan pernah merasa takut atau putus asa lagi menghadapi apa pun di masa depan.

Setelah melakukan perjalanan selama lebih dari sebulan lamanya, akhirnya mereka tiba di perbatasan wilayah yang menjadi pintu masuk menuju Dataran Kabut Abadi. Di depan mata mereka terbentanglah pemandangan yang sangat aneh dan mengagumkan sekaligus menakutkan. Di hadapan mereka terlihat dinding kabut tebal yang sangat tinggi dan lebar, tampak seolah tak berujung di kedua sisinya, memisahkan wilayah di luar dan di dalam dengan sangat jelas. Kabut itu berwarna putih kelabu, terus bergerak dan berputar perlahan seolah bernyawa sendiri, dan dari kejauhan terlihat seakan ada ribuan bayangan samar yang terus bergerak di baliknya tanpa henti. Udara di sekitar sana terasa sangat dingin dan lembap, serta memancarkan tekanan yang berat dan menekan hati siapa saja yang mendekat, seolah ada kekuatan tak terlihat yang memperingatkan mereka untuk tidak melangkah masuk lebih jauh lagi.

"Jadi di sanalah letaknya," ucap Mo Fei perlahan sambil menatap tajam ke arah dinding kabut raksasa di hadapannya. "Di balik lapisan kabut ini tersimpan segala rahasia kuno yang kita cari selama ini, dan di sanalah awal mula segala jawaban yang akan menuntun kita menuju tujuan akhir kita nanti."

"Namun kita tahu betul bahaya yang ada di dalamnya, Mo Fei," tambah Bai Yue dengan wajah serius dan waspada. "Menurut cerita orang-orang yang pernah masuk dan selamat keluar, di dalam sana ruang dan waktu tidak berjalan seperti di tempat lain. Arah mata angin bisa berubah, jarak tempat yang sebenarnya dekat bisa terasa sangat jauh, dan sebaliknya, tempat yang jauh bisa tiba-tiba muncul tepat di hadapanmu tanpa peringatan. Selain itu kabut di sana juga memiliki sifat istimewa yang mampu menyembunyikan jejak, mematikan indra penglihatan dan pendengaran, serta mempengaruhi pikiran dan perasaan siapa pun yang ada di dalamnya."

"Aku tahu semuanya itu, Bai Yue," jawab Mo Fei tenang namun matanya tetap menatap tajam ke depan. "Tapi ingat satu hal, di hadapan kita ada satu keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang lain yang pernah masuk ke sana sebelumnya. Kita tidak hanya mengandalkan mata biasa atau perasaan biasa untuk melihat dan menentukan arah perjalanan kita."

Saat ia mengucapkan kalimat itu, perlahan kedua matanya berubah, warnanya berkilau menjadi keemasan yang jernih dan terang, menembus kabut tebal di hadapannya seolah kabut itu hanyalah lapisan uap air yang sangat tipis dan tidak berarti apa-apa. Dengan kemampuan Mata Batin yang sudah berkembang dan matang sempurna itu, ia mampu melihat apa yang tersembunyi di balik lapisan kabut tebal, mampu membedakan jalur yang aman dan berbahaya, serta mampu mendeteksi sumber energi apa pun yang ada di jarak yang sangat jauh sekalipun.

"Dengan kemampuan ini, tidak ada kabut, tidak ada kegelapan, dan tidak ada kekeliruan yang sanggup menyesatkan atau menghalangi langkah kita sedikitpun," ujar Mo Fei dengan suara rendah namun penuh keyakinan yang kuat. "Mata ini diberikan padaku bukan sekadar untuk melihat benda atau orang lain saja, tapi mata ini diciptakan untuk melihat kebenaran yang tersembunyi di balik segala sesuatu, dan menembus segala halangan yang sengaja dibuat untuk menutupinya dari pandangan manusia biasa."

Setelah memastikan segalanya dan bersiap sepenuhnya, keduanya pun mulai melangkah maju perlahan namun pasti menembus dinding kabut raksasa di hadapan mereka. Begitu tubuh mereka melewati batas itu, seketika suasana di sekeliling mereka berubah drastis sepenuhnya. Suasana yang tadinya terang dan bisa dilihat dengan jelas, kini berubah menjadi kelabu dan samar di mana pandangan mata biasa hanya mampu melihat sejauh dua atau tiga langkah saja di depan wajah mereka. Suara angin yang terdengar jelas dan teratur di luar sana, kini berubah menjadi suara dengungan rendah dan samar yang terdengar dari segala penjuru sekaligus, membuat siapa pun yang mendengarnya akan merasa pusing dan sulit berkonsentrasi. Tekanan udara yang menekan tubuh mereka juga menjadi jauh lebih berat dan kuat, seolah seluruh udara di tempat itu terus berusaha mendorong dan menahan mereka agar tidak bisa berjalan maju selangkah pun.

Namun berkat kemampuan mata emas milik Mo Fei, serta kewaspadaan dan ketenangan hati Bai Yue, keduanya tetap mampu berjalan maju terus tanpa terganggu atau tersesat sedikitpun. Mo Fei terus memimpin jalan dengan langkah yang mantap dan pasti, matanya terus bergerak mengamati sekelilingnya, membedakan mana energi yang alami dan mana energi buatan yang sengaja disusun untuk menyesatkan atau menyerang pendatang yang tidak diundang.

Namun perjalanan mereka tidak berjalan begitu saja tanpa gangguan atau rintangan sama sekali. Baru saja mereka berjalan sejauh beberapa ratus langkah ke dalam wilayah kabut itu, tiba-tiba tanah di kiri dan kanan jalan yang mereka lalui berguncang hebat dan terbuka perlahan, lalu dari dalam tanah yang terbuka itu muncul puluhan sosok manusia yang seluruh tubuhnya terbuat dari batu hitam yang keras dan besar. Sosok-sosok itu tingginya mencapai lebih dari dua meter, lengannya panjang dan kuat memegang senjata berupa tongkat batu yang besar dan berat, serta matanya memancarkan cahaya merah redup yang menakutkan.

Mereka tidak mengeluarkan suara atau berbicara sepatah katapun, namun gerakan dan tatapan mereka memperlihatkan dengan jelas bahwa kedatangan Mo Fei dan Bai Yue sama sekali tidak diinginkan dan mereka harus disingkirkan secepat mungkin.

"Penjaga gerbang," bisik Mo Fei perlahan sambil berhenti melangkah dan berdiri tegak di tempatnya, matanya mengamati sosok-sosok di hadapannya dengan tenang dan cermat. "Mereka bukan makhluk hidup, melainkan ciptaan sihir kuno yang dibuat khusus untuk menjaga dan menghalangi siapa pun yang mencoba masuk ke wilayah ini tanpa izin atau persiapan yang cukup. Kekuatan mereka sangat besar dan pertahanan tubuhnya sangat kuat, namun gerakan dan pola serangan mereka tetap berjalan menurut aturan yang sudah ditentukan dan tidak bisa berubah atau berpikir sendiri."

"Kalau begitu tugasku adalah menghentikan dan membatasi gerakan mereka, sementara kau serang bagian inti sumber tenaganya," sambung Bai Yue dengan cepat dan tepat, ia sudah paham betul cara kerja dan strategi bertarung bersama Mo Fei sejak lama sehingga keduanya tidak perlu bicara panjang lebar atau memberikan perintah yang rumit satu sama lain.

"Benar sekali," jawab Mo Fei singkat dan tegas. "Mulailah!"

Segera setelah perintah itu diucapkan, puluhan sosok batu raksasa itu langsung bergerak serentak melesat maju menyerang mereka dengan kecepatan yang jauh lebih cepat daripada yang terlihat dari wujud tubuh mereka yang besar dan berat. Suara langkah kaki mereka menggelegar keras seolah ribuan palu besar dipukulkan bertubi-tubi ke tanah yang keras dan padat.

Namun sebelum sosok batu itu sempat mendekat dan menghantamkan senjatanya, tiba-tiba suhu udara di sekeliling tempat itu turun drastis menjadi sangat dingin dalam sekejap mata. Dari tangan Bai Yue yang sudah mengeluarkan kipas peraknya, ia mengayunkannya perlahan ke arah musuh, dan seketika hembusan angin yang sedingin es abadi melesat keluar menyapu seluruh sosok batu yang sedang bergerak maju itu. Di tempat itu dan saat itu juga, kaki dan bagian bawah tubuh para penjaga itu langsung membeku dan menempel kuat di tanah, membuat gerakan mereka terhenti seketika dan tubuh mereka kaku serta sulit digerakkan dengan leluasa.

Menggunakan celah dan kesempatan emas itu, Mo Fei langsung bergerak cepat, ribuan jarum emas yang kini warnanya tampak lebih cerah dan kuat daripada sebelumnya meluncur keluar dari sekujur tubuhnya, bergerak cepat dan tepat menuju ke arah bagian tengah dada masing-masing sosok batu itu, di mana letak sumber tenaga yang menghidupkan mereka berada.

TING! TING! TING!

Suara benturan logam yang nyaring terdengar bertubi-tubi, diikuti oleh suara gemuruh rendah saat tubuh para penjaga batu itu perlahan retak dan pecah menjadi kepingan-kepingan kecil, lalu akhirnya runtuh dan hancur berserakan di tanah menjadi debu batu yang halus dan tak berbentuk lagi. Dalam waktu yang sangat singkat dan hanya dengan satu kali serangan gabungan, seluruh penjaga gerbang yang begitu kuat dan mengerikan itu sudah berhasil dikalahkan dan dimusnahkan sepenuhnya tanpa ada satu pun yang tersisa atau sempat melukai rambut mereka sedikitpun.

Melihat sisa puing di hadapannya, Mo Fei menghela napas panjang dan menatap lurus terus ke dalam lapisan kabut yang masih tebal dan gelap di depannya.

"Masih baru permulaan saja," ujarnya perlahan namun matanya makin bersinar tajam dan penuh semangat bertempur. "Kalau di gerbang saja penjagaan dan rintangannya sudah sekuat dan sesulit ini, berarti di bagian dalam sana jauh lebih berat dan berbahaya lagi. Tapi tidak apa-apa, semakin sulit jalannya, semakin besar dan berharga apa yang menanti kita di ujungnya nanti."

Ia menoleh menatap Bai Yue yang sedang mengembalikan kipasnya ke tempat semula dan tersenyum tenang padanya.

"Siap untuk terus melangkah lebih jauh lagi?"

Bai Yue tersenyum lebar dan mengangguk mantap, matanya bersinar cerah penuh tekad yang sama persis dengan miliknya.

"Selalu siap, kapan saja dan di mana saja."

Keduanya pun kembali melangkah maju menembus kabut tebal yang semakin lama semakin pekat dan gelap di hadapan mereka, menyadari betul bahwa rintangan dan bahaya yang baru saja mereka lewati hanyalah bagian terkecil dan teringan dari segala ujian berat yang masih menanti mereka di sepanjang perjalanan panjang menuju Menara Pengetahuan Abadi yang tersembunyi di bagian paling dalam wilayah terlarang ini.

1
anggita
Mo Fei...👌 ikut ng👍like aja, ☝iklan. moga novelnya lancar.
putra ilham: ​"Amin! Terima kasih banyak atas dukungannya dan sudah kasih 'like'. Doa seperti ini sangat berarti buat saya sebagai penulis. Stay tuned terus ya!"
total 1 replies
Fwyz
ih apalah nih judul ngerii amatt, btw ceritanya epick sih, thc thor
putra ilham: ​"Hehe, judulnya memang sengaja dibuat bikin penasaran. Makasih ya sudah bilang epik! Tunggu saja bab-bab selanjutnya, bakal lebih seru lagi!"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!