Dave yakin guru tk para keponakannya adalah perempuan yang menjadikannya sebagai sasaran kekalahannya dalam permainan true or dare dua malam yang lalu.
Bisa bisanya perempuan yang suka clubbing jadi guru tk. Bagaimana nanti masa depan keponakan keponakannya?
Semoga suka♡♡♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Punya teman baru
Pagi ini Rhea sudah siap dengan dandanannya yang dia rasa cukup meyakinkan sebagai guru tk yang kalem.
Tante Puspa dan keponakannya rupanya sudah memikirkannya saat membeli banyak pakaian untuknya. Dia jadi tidak kesulitan untuk memilih.
Rhea masih belum menghubungi mamanya dan Kak Vidya. Mereka juga masih belum menelponnya. Rhea menganggap situasi di rumah belum aman. Papanya pasti akan mencarinya. Tentu saja tanpa bantuan mamanya.
Membayangkan papanya yang menyeramkan kalo marah tapi bisa takluk dengan mamanya, bibir Rhea jadi menyunggingkan senyum lebarnya.
Dia juga jadi teringat Jani dan Moli yang tidak bisa dia hubungi sampai hari ini karena tidak hapal nomer kontak mereka. Mungkin papanya akan menemui kedua temannya itu. Bahkan mungkin juga Talisha.
Hatinya menggeram membayangkan wajah bahagia Talisha karena sudah mengerjainya seperti ini.
Akan aku balas nanti, tekat Rhea dalam hati
Udah tau Baskara cuma nganggap temannya itu hanya sebatas rekan kerja saja, tapi Talisha terus saja menggantungkan tali pengharapannya.
Talisha bahkan membenci dirinya karena cemburu yang ngga jelas. Mungkin staf kantor Baskara, dibenci semua sama Talisha.
Rhea menghembuskan nafas pelan.
Rhea ogah naksir sama laki laki yang udah jelas ditaksir temannya.
Rhea menunggu jemputan dengan d@da berdebar kencang. Sebentar lagi dia akan menjadi guru tk. Profesi yang Rhea ngga tau sampai berapa lama akan dia jalani.
Dia sudah nyari di gugel, ternyata Grup Airlangga juga bergerak di bidang pendidikan. Salah satunya kindergarten yang akan menjadi tempat kerjanya sekarang.
Dalam hatinya dia heran, kenapa dia ngga kerja di perusahaan mereka aja. Kenapa harus guru tk. Kepala Rhea penuh dengan pikiran pikiran yang terus saja berdebat tanpa henti.
*
*
*
Jani meminta Moli dan Talisha ngumpul di sebuah restoran siang ini.
"Rhea kabur," sentak Jani membuat Moli dan Talisha kaget.
"Kamu tau dari mana?" kaget Moli ngga percaya. Tapi wajah Jani sangat serius.
"Pasti dia lagi buat drama. Sudahlah, biarkan saja," kilah Talisha santai. Dalam hati dia merasa senang karena selama beberapa hari Rhea tidak berada di sekitarnya. Dia heran juga kenapa harus merasa sesenang ini.
"Kamu apaan, sih," kesal Jani kemudian menoleh pada Moli yang sibuk dengan ponselnya.
"Kayaknya dia lupa bawa ponsel," tukas Jani membuat Moli menatap ke arahnya. Dia susah beberapa kali mencoba menelpon Rhea sejak tau kabar ini. Tapi gagal.
'Kamu tau dari mana kalo Rhea kabur?" tanya Moli sambil menyimpan ponselnya. Helaan nafas putus asa dia hembuskan.
"Dari papanya. Papa Rhea nelpon papa aku, nanya Rhea nginap di rumah aku atau engga? Ya, kata papa aku, enggaklah." Papa Jani rekan bisnis papanya Rhea. Rhea juga lebih akrab dengan Jani.
"Papaku nanya lagi. Apa ke Moli? Aku bilang, Moli lagi pergi ke rumah bibinya. Trus nanya lagi, mungkin ke Talisha." Sampai di sini Jani menghentikan ucapannya.
"Dia ngga nginap di rumahku," jawab Talisha cepat.
"Aku juga bilang begitu." Jani menatap Talisha datar. Ngga mungkinlah Rhea ke rumah kamu. Kamu biang masalahya, umpatnya dalam hati.
"Jadi dia kemana?" Moli jadi cemas, karena tadi malam Rhea pulang dalam keadaan kesal.
Jani menggelengkan kepalanya.
"Ngga tau.'
Moli menghembuskan nafas marah.
"Talisha! Ini semua gara gara kamu!" tuding Moli sambil menunjukkan jari telunjuknya di depan wajah Talisha.
"Apaan, sih," tepis Talisha kasar.
Bukan hanya Moli yang sangat marah, wajah Jani juga tampak geram.
"Kenapa foto waktu Rhea ci-um@n, kamu kirimkan ke orang tuanya?" tuduh Jani.
Wajah santai Talisha berubah tegang.
*Kok, bisa?" Moli kaget mendengarnya.
"Gara gara perbuatan kamu itu, Rhea kena marah papanya." Jani sampai menggelengkan kepala, ngga abis pikir dengan Talisha. Mereka sudah lama berteman, tapi teganya berbuat begitu.
"Kamu yang lakuin itu, Lish?" Moli masih berprasangka baik.
"Dialah. Siapa lagi," ketus Jani.
"Enak aja nuduh nuduh." Talisha segera bangkit dari duduknya dengan marah.
"Lebih baik aku pergi kalo.dicurigain kayak gini."
Jani dan Moli saling pandang melihat kepergian Talisha.
"Siapa lagi kalo bukan dia," mangkel Jani tetap yakin dengan tuduhannya.
"Aku lihat waktu dia jepret rRhea dan laki laki itu."
"Bukannya dia bilang hanya mau liatin ke Rhea aja," sanggah Moli tapi juga sangsi. Jangan jangan foto itu mau ditunjukin ke Baskara juga, tuduh batinnya curiga.
"Jangan percaya mulut orang yang masih cemburu itu," pungkas Jani makin mangkel.
Moli menghembuskan nafas. Wajar kalo papanya Rhea marah besar hingga Rhea kabur. Kalo dia di posisi Rhea, mungkin udah dicoret dari KK.
"Kira kira Rhea kemana, ya?" gumamnya pelan dengan nada khawatir.
"Entahlah. Semoga dia baik baik saja," sahut Jani yang masih mendengar gumaman Moli.
"Iya, semoga dia baik baik saja," respon Moli dengan harapan yang sama.
*
*
*
Rhea akhirnya bisa tertawa lepas ketika berada di antara balita balita yang menggemaskan. Memang ada satu dua balita yang agak sulit di atur. Tapi ngga masalah buat dia. Karena dia dulu juga begitu. Bahkan sampai sekarang. Rhea jadi meringis sendiri memgingat kelakuannya.
"Kamu udah biasa, ya, ngajar anak paud begini?" tanya Yana, salah satu rekan mengajarnya tadi.
Mereka lagi membereskan dan merapikan meja anak anak balita itu, di saat waktunya break.
"Baru kali ini," jawabnya jujur.
"Tapi katanya ijazah kamu luar negeri, ya. Kenapa ngga kerja kantoran aja?" tanya Wita ikut menimbrung. Dia sendiri sarjana pendidikan lokal.
Rhea tersenyum. Kali ini dia ngga boleh terlalu jujur, kalo dia anak titipan.
"Gajinya gede, sih." Rhea menyahut asal.
Jawaban ini membuat dua rekannya tergelak.
"Memang, sih. Selain gaji kita gede karena.dua digit, kesejahteraan kita juga terjamin," sahut Yana di sela tawa senangnya.
Beneran sampai dua digit? Rhea hampir melongo, karena Tante.Puspa tidak membicarakan soal gaji untuknya. Tapi kalo kesejahteraan, tidak dia ragukan. Dia aja dapat apartemen yang lengkap dengan isinya.
"Bukan hanya kesejahteraan kita saja, orang tua kita juga diperhatikan. Bulan lalu ayahku operasi usus buntu, dirawat di rumah sakit Airlangga, loh. Gratis. Padahal kalo ngga kerja di sini, ngga mungkin bisalah. Paling ke rumah sakit daerah biar murah," cerocos Yana tanpa jeda.
"Ya, ya. Kita, kan, ikutan jenguk, ya," sambung Wita.
Rhea masih menyimak.
"Kita juga diantar jemput." Wita menambahi jawabannya.
"Iya," angguk Yana.
"Kurang nyaman apa," tawanya.
"Tapi jemputan kamu kenapa dibedain sama kita, ya?" Wita yang tadi melihat mobil yang mengantar Rhea bertanya dengan nada curiga.
Rhea bingung harus menjawab apa. Selagi dia sibuk mencari jawaban yang masuk akal, Yana sudah menjawabnya.
"Wajarlah kalo diistimewakan. Namanya juga lulusan luar negeri."
Rhea lega karena tidak mendengar ada nada iri dalam ucapan Yana.
"Iya, sih." Wita menambah durasi tawanya.
Rhea jadi teringat Jani dan Moli. Baru beberapa hari aja ngga ketemu dan mendengar suara kedua teman akrabnya, dia jadi kangen kumpul dengan mereka lagi.
gimana yah.. rasanya tuh kaya digerogoti rayap hari ke hari yg hidupnya berkoloni utk menumbangkan kayu yg kokoh menunggu kayu itu keropos sampai tumbang..
kalau rayapnya sendirian mah gak ngeri. Yg ngeri itu kalau udah 1 koloni.
sama kayak orang toxic yg ngegennk..
Mereka tuh kuat karena rame.
Satu jd kompor, yg lain kipas-kipas. Targetnya ya "kayu kokoh" = orang yg kerja bener/jujur/gak ikut arus mereka...
Abaikan aja Rhe, anggep aja angin lalu, dia belum tau aja siapa kamu sebenernya..
faktanya kalau mereka tau kamu dr keluarga mana, mungkin mereka seperti kucing basah kena air hujan "Menggigil"
😂🤣
belum tau aja di jidat Rhea itu sudah ada marker nya "Belong to Dave" dan hanya org beriman aja yg bs liat mark itu wkwkkk