Celina adalah ratu clubbing yang hidupnya cuma soal hura-hura, alkohol, dan gonta-ganti cowok sesuka hati. Baginya, pakaian seksi adalah seragam wajib untuk menaklukkan malam. Dia nggak butuh aturan, apalagi komitmen.
Muak melihat kelakuan Celina yang makin liar, sang Mama akhirnya memberikan ultimatum keras: Menikah dengan seorang santri pilihan Mama, atau angkat kaki dari rumah tanpa sepeser pun uang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Suasana pesantren dihebohkan dengan kedatangan sebuah mobil mewah yang berhenti tepat di depan gerbang utama. Seorang pemuda turun dengan penampilan yang sangat rapi—memakai baju koko mahal bermerek dan peci yang masih tampak kaku, lengkap dengan kacamata hitam.
Zuhair yang baru saja keluar dari rumah Sarah dengan wajah yang tampak sangat lelah dan kurang tidur, mengernyitkan kening melihat tamu tersebut. Begitu juga dengan Abi dan Ummi yang sedang berada di teras.
"Assalamualaikum," ucap Raka dengan nada yang dibuat sedemikian rupa agar terdengar sopan dan berwibawa. "Saya Raka. Saya ke sini berniat untuk mondok dan melanjutkan pendidikan agama saya di bawah bimbingan Kyai."
Celina yang berdiri di lantai dua Ndalem Agung, melihat pemandangan itu dari balik jendela sambil memegang gelas kopi. Ia tersenyum puas melihat Raka yang sangat totalitas dalam penyamarannya.
"Mampus lo, Gus," batin Celina nakal. "Gue bawa hiburan baru ke sini biar gue ga pusing-pusing amat."
Zuhair yang melihat Raka, merasa ada sesuatu yang aneh dari pemuda ini, namun ia tidak bisa menolak niat baik seseorang yang ingin menuntut ilmu. Ia tidak tahu bahwa laki-laki di depannya ini adalah bagian dari rencana gila Celina untuk mengacaukan hari-harinya yang sudah cukup rumit.
Raka ternyata benar-benar totalitas. Dalam waktu singkat, dia sudah bisa membaur dengan para santri, bahkan pura-pura khusyuk saat setoran hafalan di depan pengurus. Tapi ya namanya juga teman "sefrekuensi" Celina, niat aslinya tetap saja bukan buat cari hidayah, tapi buat cari keributan bareng sahabatnya.
Malam harinya, saat suasana pesantren sudah benar-benar sunyi dan para santri sudah terlelap di asrama, Raka mengendap-endap menuju Ndalem Agung. Dengan tas ransel yang ia dekap erat di dada, dia berhasil memanjat lewat jendela kamar belakang yang memang sudah sengaja tidak dikunci oleh Celina.
"Gila lo ya! Penjagaannya ketat bener, gue berasa jadi ninja," bisik Raka sambil mendarat di lantai kamar Celina.
Celina yang sudah menunggu sambil duduk di atas karpet langsung menyeringai. "Mana? Bawa nggak?"
Raka membuka tasnya, dan di sana berjejer beberapa botol beer dingin dan camilan yang sangat tidak ramah "pesantren". "Tenang, gue bawa stok lumayan banyak. Gue tahu lo udah mau mati konyol di sini."
Celina tertawa pelan. "Pinter lo! Sini satu, gue butuh ini buat netralin kuping gue yang tiap malem denger suara orang wleo-wleo di sebelah."
Mereka berdua duduk di pojok kamar, menikmati minuman beralkohol itu di tengah lingkungan yang paling suci. Sambil meneguk beer, mereka berbisik-bisik, menertawakan betapa anehnya hidup Celina sekarang. Suara tawa pelan dan aroma alkohol yang tajam mulai memenuhi ruangan.
"Lo beneran nikah sama Gus itu, Cel?" tanya Raka dengan wajah yang mulai memerah karena pengaruh alkohol.
"Status doang, Rak. Lagian gue juga ga pernah ngapa-ngapain sama dia" sahut Celina sambil menenggak botolnya. "Biarin aja dia sama si Sarah itu sibuk bikin anak, yang penting gue tetep bisa party meskipun kecil-kecilan di kamar begini."
Mereka berdua mabuk diam-diam merayakan kegilaan itu di bawah nama keluarga besar Kyai. Celina merasa bebas sejenak dari belenggu status "Ning" yang menurutnya sangat menyiksa.
Tepat jam tiga pagi, sebelum para santri bangun untuk Tahajud dan sebelum Zuhair keluar dari kamar Sarah, Celina menepuk bahu Raka yang sudah agak teler.
"Woy, bangun! Balik ke asrama lo. Jangan sampe ketahuan, bisa tamat riwayat kita kalau lo ketangkep basah di kamar gue bau alkohol begini," perintah Celina.
Raka yang masih sedikit oleng segera merapikan botol-botol kosong ke dalam tasnya, tidak menyisakan bukti satu pun. "Sip, Boss. Besok malem lagi?"
"Liat nanti. Sana buruan pergi!"
Raka kembali melompati jendela dan menghilang di kegelapan pelataran seolah-olah dia hanyalah bayangan. Celina langsung menyemprotkan parfum mahalnya ke seluruh penjuru ruangan dan mengunyah permen karet untuk menghilangkan aroma alkohol di napasnya.
Pagi harinya, saat Zuhair lewat di depan pintu kamar Celina untuk bersiap memimpin jamaah Subuh, ia sempat berhenti sejenak karena mencium aroma parfum yang sangat menyengat, namun ia hanya menggelengkan kepala, mengira istrinya itu memang sedang ingin "pamer" parfum mahalnya lagi. Ia tidak pernah membayangkan apa yang sebenarnya terjadi di balik pintu itu beberapa jam yang lalu.
Siangnya suasana pesantren yang tadinya membosankan bagi Celina mendadak berubah jadi lebih berwarna. Para santriwati dan pengurus sampai dibuat melongo melihat perubahan drastisnya itu. Celina yang biasanya baru bangun jam 9 pagi, sekarang sudah duduk manis di barisan depan pendopo setiap kali ada jadwal ngaji.
Zuhair, yang melihat perubahan itu, sempat merasa haru dan mengira hidayah mulai menyentuh hati istrinya. Tapi ia tidak tahu saja kalau mata Celina itu bukan fokus ke kitab, melainkan curi-curi pandang ke arah barisan santri putra, tepatnya ke arah Raka yang juga pura-pura khusyuk menyimak penjelasan Kyai.
"Tumben, Ning. Udah tobat?" sindir Sarah suatu sore saat mereka berpapasan di lorong. Sarah yang sekarang sedang "program hamil" itu tampak selalu mencoba tampil sempurna di depan Zuhair.
"Kepo banget sih lo. Gue kan harus pinter juga—jadi apa salahnya?," sahut Celina telak, membuat Sarah langsung terdiam dengan wajah kesal.
Kenyataannya, setiap malam setelah jam santri istirahat, Raka tetap setia memanjat jendela kamar Celina. Intensitas pertemuan mereka yang sering—mulai dari saling lirik saat pengajian sampai ngobrol di kamar saat tengah malam—mulai menumbuhkan benih-benih perasaan yang berbeda.
"Rak, lo betah juga ya di sini?" tanya Celina suatu malam. Mereka duduk bersandar di kaki tempat tidur, hanya ditemani cahaya lampu tidur yang redup. Kali ini tanpa bir, hanya segelas kopi yang dibawa Raka.
Raka menatap Celina cukup lama. "Awalnya sih ogah, Cel. Tapi kalau tiap subuh bisa liat lo pake mukena—meskipun aneh—kok gue ngerasa tempat ini nggak buruk-buruk amat ya?"
Celina tertegun. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. "Gombal lo receh banget, sumpah."
"Gue serius," bisik Raka sambil sedikit mendekat. "Gue kayaknya beneran suka sama lo, bukan cuma sebagai temen lagi."
Celina terdiam, tidak menolak namun juga tidak mengiyakan. Ia merasa jauh lebih nyaman dan "nyambung" dengan Raka dibanding dengan Zuhair yang setiap malam harus ia dengar suara kegiatannya dengan Sarah dari kamar sebelah.
Mereka memang tidak melakukan hal-hal yang melampaui batas, Raka masih menghormati Celina. Mereka hanya duduk berdekatan, berbagi cerita, dan saling menguatkan di tengah kepenatan hidup pesantren. Bagi Celina, kehadiran Raka adalah pelariannya dari kenyataan bahwa suaminya sedang sibuk mencoba mendapatkan keturunan dari wanita lain.