NovelToon NovelToon
Sang Antagonis Cantik

Sang Antagonis Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Ketos
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sunflower_Rose

Kata orang, dia manipulatif. Jahat. Perusak.
Katanya, dia menghancurkan cinta dan kepercayaan dari dua lelaki yang tulus padanya.
Dia dituduh memecah tiga bersaudara.
Dibilang merusak hubungan orang lain tanpa rasa bersalah.

Tapi hanya dia yang tahu bagaimana rasanya menjadi Bianca.
Tak seorang pun benar-benar paham bagaimana luka, keadaan, dan dunia yang kejam perlahan membentuknya menjadi seorang antagonis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sunflower_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20

"BIANCA! BUKA PINTUNYA!"

Gwen sudah tak mempedulikan lagi aturan atau tata krama di apartemen mewah itu. Suara jeritan penuh kepedihan dari dalam tadi, yang kemudian diikuti keheningan yang mencekam, membuat rasa ingin melindunginya meledak begitu saja. Ia mundur dua langkah untuk mengambil ancang-ancang, lalu menghantamkan bahunya sekuat tenaga ke permukaan pintu kayu yang kokoh itu.

BRAK!

Pintu itu berderit keras namun masih tertutup rapat. Gwen tak mau menyerah. Ia menghantamnya lagi dengan mengerahkan seluruh berat badan dan kekuatan yang memuncak karena rasa khawatir yang luar biasa.

DUARR!

Bagian engsel pintu itu akhirnya menyerah dan copot. Pintu terbuka lebar lalu menghantam dinding bagian dalam dengan bunyi dentuman yang keras. Gwen langsung melangkah masuk dengan cepat, matanya menatap liar ke sekeliling ruangan yang remang dan gelap. Ia berlari menuju kamar utama yang pintunya sedikit terbuka.

"Bi...?" suara Gwen bergetar, hampir tak terdengar karena tertahan rasa takut.

Pemandangan di depannya seperti mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Di lantai kamar yang biasanya selalu rapi dan bersih, kini berserakan potongan-potongan rambut hitam panjang, mahkota indah yang selama ini selalu dipuji semua orang. Bianca terduduk lemas di lantai di tengah tumpukan rambutnya sendiri, kepalanya tertunduk dalam, dan bahunya bergerak naik turun karena isakan tangis yang hebat. Gunting perak tergeletak tak jauh dari sampingnya, dan di lengan putihnya, ada garis merah yang masih meneteskan cairan merah ke lantai.

"Ya Tuhan, Bianca! Lo ngapain?!" Gwen berteriak histeris.

Gwen langsung menjatuhkan kantong makanan yang dibawanya di ruang tamu. Ia bergegas mendekat, berlutut di lantai, lalu segera mendekap tubuh Bianca yang terasa sedingin es. Bianca sama sekali tak melawan, ia hanya menyandarkan kepalanya di dada Gwen dengan pandangan mata yang kosong dan hampa, seolah jiwanya sudah pergi meninggalkan raganya.

"Tahan, Bi. Lo harus kuat. Gue di sini," bisik Gwen dengan suara parau.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Gwen mengangkat tubuh Bianca ke dalam gendongannya. Ia bergerak sangat cepat, berjalan keluar dari apartemen itu dengan langkah lebar. Ia tak sempat memikirkan pintu yang rusak parah itu, ia juga tak membawa ponsel atau barang-barang milik Bianca. Yang ada di benaknya saat ini hanyalah satu hal: Bianca harus selamat.

Gwen berhasil membawa Bianca masuk ke dalam mobilnya tanpa terlihat oleh penghuni lain, mengingat di jam-jam seperti itu lorong apartemen biasanya sepi dan sepi saja. Ia mengendarai kendaraannya secepat mungkin, melibas jalanan Jakarta yang mulai padat dengan kecepatan tinggi. Jantungnya berdegup kencang dan penuh kecemasan, ia sama sekali tak paham alasan di balik semua kejadian mengerikan ini. Ia tak tahu apa yang terjadi di taman tadi siang, tak tahu soal kencan Joy, apalagi soal hubungan masa lalu antara Bianca dan Jonathan. Yang ia pahami hanyalah satu hal: Bianca sedang hancur lebur.

Satu jam kemudian, pintu lift di lantai itu berdenting terbuka. Rebecca melangkah keluar dengan wajah ceria, tangannya penuh terisi kantong belanjaan hasil berburu barang diskon bersama Isabella.

"Gila ya, diskonnya nggak masuk akal banget tadi. Puas gue belanja seharian!" seru Isabella sambil tertawa kecil berjalan di sampingnya.

"Iya, untung kita langsung sikat. Kalau nggak, pasti udah ludes," Kalimat Rebecca terhenti seketika saat matanya menangkap pemandangan di depan pintu unit mereka. "Lho? Kok pintunya... terbuka?"

Rebecca menjatuhkan semua kantong belanjaannya begitu saja. Ia berlari mendekat ke arah pintu yang kondisinya sudah rusak parah di bagian engselnya. "Bi? Bianca?!"

Isabella ikut merasa cemas, jantungnya berdegup kencang melihat keadaan pintu itu seolah baru saja didobrak paksa. "Bec, ada apa?! Kok pintu lo kayak habis dihajar?!"

Rebecca tak menjawab sepatah kata pun. Ia langsung melangkah masuk ke dalam apartemen. Ruang tamu itu terasa sunyi dan mati. Namun, saat pandangannya jatuh ke lantai, ia melihat dua kantong plastik berisi makanan yang berserakan, dan di dalamnya terdapat sushi yang sudah mulai mendingin.

"Bianca! Lo di mana?!" Rebecca berteriak histeris, langkahnya terasa berat saat berjalan menuju kamar adiknya.

Begitu sampai di ambang pintu kamar, Rebecca merasa seolah kehilangan pijakan. Ia jatuh terduduk di sana, tangannya menutup mulut rapat-rapat untuk menahan jeritan yang hampir meledak keluar.

"Ya Allah... Bianca..." isak Rebecca dengan rasa pedih yang mendalam.

Isabella yang menyusul di belakangnya langsung terpaku diam. Kamar itu kini berantakan tak karuan. Rambut hitam milik Bianca berserakan di mana-mana, seperti sisa kenangan yang dipotong paksa dan dibuang. Ada tetesan darah kering di dekat meja rias, dan gunting perak yang masih ternoda warna merah itu tergeletak diam di lantai.

"Ini darah... Bec, ini beneran darah!" Isabella berteriak panik, suaranya melengking karena ketakutan. "Bianca mana?! Kenapa dia nggak ada di sini?!"

Rebecca memeriksa seluruh ruangan dengan gerakan yang kacau. Ia mengecek kamar mandi, di balik lemari pakaian, hingga ke balkon, namun hasilnya sama sekali nihil. Apartemen itu kosong melompong. Tak ada jejak siapa yang membawa Bianca pergi atau ke mana gadis itu dibawa.

"Dia nggak ada, Sa! Adek gue hilang!" Rebecca menjambak rambutnya sendiri, tangisannya pecah dan memenuhi ruangan yang sepi itu. "Siapa yang masuk ke sini?! Siapa yang bawa dia dalam kondisi kayak begini?!"

Isabella melihat sekeliling dengan mata yang berkaca-kaca. Ia berusaha mencari petunjuk apa pun, tapi semuanya terasa bersih dan tak berbekas. Tak ada barang yang tertinggal. Tak ada pesan tertulis, tak ada tanda perlawanan selain pintu yang jebol.

"Nggak ada apa-apa di sini, Bec. Cuma makanan ini... tapi kita nggak tau siapa yang beliin," ucap Isabella sambil menunjuk kantong berisi sushi yang ada di ruang tamu. "Gimana kalau dia diculik? Atau gimana kalau dia nekat keluar sendiri?"

"Enggak mungkin dia keluar sendiri kalau sampai potong rambut kayak begini, Sa! Dia pasti hancur banget!" Rebecca memeluk lututnya di tengah tumpukan rambut Bianca yang berserakan. "Gue kakak macam apa... gue malah asyik jalan-jalan pas adek gue lagi sekarat!"

Sementara itu, di sebuah rumah sakit swasta, Gwen berdiri tegak di depan ruang tindakan gawat darurat. Wajahnya yang biasanya terlihat angkuh dan percaya diri kini berubah menjadi pucat pasi. Bajunya kusut dan berantakan, tangannya masih gemetar hebat karena sisa adrenalin yang belum hilang.

Ia baru saja menyerahkan Bianca ke tangan tim medis yang langsung bertindak cepat dan sigap begitu melihat putra dari keluarga Anderson datang membawa pasien dalam kondisi berlumuran darah.

"Mas, tolong tunggu di luar ya. Kami akan tangani segera," ucap salah seorang perawat sebelum pintu geser tertutup rapat.

Gwen menyandarkan punggungnya ke dinding koridor, lalu merosot perlahan sampai terduduk di lantai yang dingin. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang masih terasa dingin mengingat sentuhan tangan Bianca tadi.

'Gue hampir kehilangan dia... tapi kenapa? Kenapa lo sampe nekat gini, Bi?' batin Gwen terasa sesak dan penuh tanda tanya.

Gwen sama sekali tak paham apa yang memicu Bianca bertindak sejauh ini. Ia tak tahu kalau sore tadi Bianca bertemu Jonathan di taman. Ia tak tahu kalau Bianca baru saja melewati momen yang menyakitkan saat melihat mantan kekasihnya bermesraan dengan adik kandungnya sendiri. Di pikiran Gwen, Bianca adalah gadis misterius yang tiba-tiba hancur lebur dalam kesedihan yang akarnya pun tak ia mengerti.

"Gue bakal cari tahu siapa yang bikin lo kayak begini," gumam Gwen pelan, suaranya terdengar pecah di antara keheningan lorong rumah sakit.

Gwen sengaja tak menghubungi siapa pun saat itu. Ia tak ingin Kiyo datang dan memperkeruh keadaan, ia juga tak ingin ayahnya tahu soal kejadian ini sekarang. Gwen hanya ingin diam menunggu di sana, menjadi satu-satunya orang yang melindungi bagi gadis yang kini sedang berjuang dengan kesehatan mentalnya sendiri di balik pintu putih itu.

Tak lama kemudian, pintu ruang tindakan kembali terbuka, seorang dokter keluar dengan ekspresi wajah yang serius. Gwen langsung berdiri tegak seketika, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya.

"Gimana, Dok? Dia selamat, kan?!" tanya Gwen tanpa basa-basi lagi.

Dokter itu menghela napas panjang. "Luka di lengannya sudah kami jahit. Untungnya tidak mengenai pembuluh darah besar. Tapi yang mengkhawatirkan adalah kondisi psikisnya. Dia mengalami depresi akut dan mental breakdown yang sangat hebat. Untuk saat ini, dia sudah kami beri penenang."

Gwen menghembuskan napas panjang, rasa lega yang luar biasa seolah mengangkat beban berat dari pundaknya. "Boleh gue liat dia?"

"Silakan, tapi tolong jangan diganggu dulu. Dia butuh istirahat total," jawab dokter itu.

Gwen melangkah masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi bau obat dan cairan antiseptik itu. Di sana, di atas ranjang beralaskan seprai putih, Bianca terbaring diam dengan perban lebar yang melilit di lengannya. Rambutnya yang kini pendek dan terpotong tak beraturan membuatnya terlihat sangat asing, namun juga terlihat jauh lebih kecil dan tak berdaya dari biasanya.

Gwen duduk di sisi ranjang, menatap wajah tenang Bianca yang kini sedang tertidur pulas karena obat. Ia tak tahu bagaimana caranya menjelaskan kejadian ini nanti pada Rebecca yang pasti sedang kebingungan dan panik setengah mati. Namun untuk saat ini, Gwen hanya ingin duduk diam di sana dan menggenggam tangan Bianca, memastikan bahwa gadis itu masih ada di sini dan masih bernapas.

"Gue di sini, Bi. Gue nggak bakal biarin lo sendirian lagi," bisik Gwen lirih.

1
Tab Adrian
nexttt lahhh... aku kasian sma semuanyaaa
Tab Adrian
dag dig duggg antara apa nihhhh🔥🔥
Tab Adrian
biii.. bales dendam itu sakitt lohhh.. 🥺😐
Tab Adrian
kerasaa bgt centill nya si tuan putri Anderson ituu
Tab Adrian
nyesekk.. semuanya nyesekk.. jiejie ini kalok bikin cerita gk pernah gagal.. selalu bisa bikin pembacaannya masuk ke dalam ceritaaa😍😍😍
Tab Adrian
banyak bgt ya, peluang Bianca buat hancurin keluarga itu
Tab Adrian
jdi semuanya nyakittttt😭
Tab Adrian
😍sakit bgt jdi Bianca banyak beban yg dy tanggung.. pdhl dy cuma pengen bebas hidup kyk remaja biasa pada umumnya tanpa memikirkan dendam dendam dn dendam.. tp aku juga pendendam sihh😅
Tab Adrian
hati hati bi..
Tab Adrian
tuan muda Anderson yg malang ututuru~
Tab Adrian
klok kiyo tau kebenarannya akankah dy terus berjuang demi cintanya atau malah milih untuk berperang
paijo londo
kurang ajar si Jo itu membuat trauma dan dendam banget ayo bec ancurin si Jon tor itu
Reva Reva nia wirlyana putri
wihhh udh lanjut
Reva Reva nia wirlyana putri
bagus kaliii
Reva Reva nia wirlyana putri
kasian biancaaa
Reva Reva nia wirlyana putri
joy tukeran tempet tok atau enggak kan cjm yg jadi pemeran joy, joy nya jdi cwo aja biar pasangan nya sama aku🤭
Reva Reva nia wirlyana putri
agak kasihan sama joy
Kalief Handaru
baru kali ini baca mlnya antagonis khusus ngancurin musuh👍👍 damage banget jos jis
Kalief Handaru
mampir thor kyaknya seru nih
Awe Jaya
lanjut jie
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!