NovelToon NovelToon
Loud Girl, Cold Engine

Loud Girl, Cold Engine

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:787
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Kirana, seorang maba cerewet dan nggak bisa diem, langsung membenci Bima—cowok teknik cuek dan dingin yang nggak mau minta maaf setelah menabraknya di pertemuan pertama mereka. Sejak itu, hidup Kirana dipenuhi omelan tentang si cowok teknik bau oli tersebut bersama gengnya yang hobi bergosip itu. Di tengah hari-hari kuliah yang penuh gebrakan, tingkah absurd teman-teman mereka, sampai pasangan bucin yang bikin geli satu kampus, hadir Danu—kakak tingkat sempurna yang mulai mendekati Kirana. Di sisi lain Bima justru diam-diam mulai jatuh hati dan terus mencuri pandang pada gadis cerewet itu. Lalu, akankah Kirana memilih Danu si pangeran kampus, atau Bima si cowok teknik acak-acakan yang selalu berhasil membuat harinya kacau?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Variabel di Luar Rencana

"Ra, Sabtu ini kamu ada acara nggak? Aku mau minta tolong, kalau kamu nggak keberatan."

Kalimat yang diucapkan Danu melalui sambungan telepon dua hari lalu itu menjadi alasan mengapa siang ini Kirana berakhir di dalam mobil sedan hitam milik kating Tekniknya tersebut. Danu meminta bantuannya dengan sangat sopan dan halus.

Alasan cowok itu sangat kuat dan sulit untuk ditolak: Danu ingin membelikan sesuatu untuk ibunya, dan sebagai anak cowok yang buta soal selera wanita, ia membutuhkan sudut pandang seorang perempuan. Kirana, yang merasa berutang budi atas sup ayam ginseng tempo hari, akhirnya menyanggupi tanpa pikir panjang.

Mobil Danu membelah jalanan kota dengan tenang. Alunan musik jazz instrumental yang mengalun pelan dari pengeras suara mobil membuat suasana di dalam kabin terasa sangat nyaman dan eksklusif. Sangat kontras dengan memori Kirana yang biasanya harus menahan napas melawan deru bising knalpot dan hantaman angin kencang di atas motor tua Bima.

"Kamu suka musiknya, Ra?" tanya Danu lembut, melirik sekilas ke arah Kirana sebelum kembali fokus pada kemudi. Penampilan Danu hari ini, seperti biasa, sangat rapi dengan kemeja kasual yang digulung rapi hingga siku dan aroma parfum yang wangi.

"Eh? Iya, Kak. Enak kok, bikin tenang," jawab Kirana dengan senyum sopan. Tangan kirinya bergerak gelisah di atas pangkuan, secara tidak sadar jemarinya mengusap ibu jarinya sendiri. Plester beruang kecil dari Bima sudah ia lepas semalam karena lukanya sudah kering, namun entah kenapa, ada rasa kosong yang aneh di jarinya.

"Makasih ya, Ra, udah mau meluangkan waktu. Aku bener-bener bingung kalau harus milih sendiri ke butik kain jinjing atau toko syal. Takut seleraku terlalu kaku," kata Danu lagi, terkekeh pelan. Sifatnya yang rendah hati dan tidak pernah memamerkan kapasitasnya membuat Kirana merasa dihargai.

"Santai aja, Kak. Aku juga senang kok bisa bantu. Lagian Ibu Kakak pasti bakal suka apa pun yang Kakak pilih, secara anaknya perhatian begini," balas Kirana tulus. Dalam kamus bahasanya, ia menyesuaikan diri untuk berbicara menggunakan panggilan 'aku-kamu' khusus ketika berhadapan dengan Danu, menghargai pembawaan cowok itu yang selalu santun dan teratur.

Mobil akhirnya berhenti di area parkir sebuah pusat perbelanjaan premium. Danu dengan sigap turun lebih dulu, lalu membukakan pintu mobil untuk Kirana—sebuah perlakuan *gentleman* yang sempat membuat Kirana agak canggung.

Mereka berdua berjalan beriringan memasuki area mal yang sejuk. Kirana mulai menjalankan tugasnya dengan baik. Ia menemani Danu masuk ke beberapa butik, memberikan saran tentang perpaduan warna syal sutra yang cocok untuk wanita paruh baya, hingga memilihkan motif batik tulis yang elegan. Danu mendengarkan setiap penjelasan Kirana dengan saksama, sesekali mengangguk kagum melihat bagaimana gadis Sastra itu menjabarkan nilai estetika dari sebuah warna.

"Aku rasa yang warna *emerald green* ini cocok deh, Kak. Kesannya anggun dan hangat buat Ibu Kakak," ujar Kirana sambil menunjukkan sebuah syal sutra rajut di tangannya.

Danu tersenyum hangat, matanya menatap Kirana dengan binar kompetitif yang bercampur rasa kagum yang dalam. "Oke, kita ambil yang itu. Pilihan kamu nggak pernah salah, Ra."

Saat Danu sedang berjalan ke kasir untuk membayar, Kirana memutuskan untuk menunggu di dekat pintu masuk butik sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Sejak pagi, ia sengaja mengaktifkan mode getar. Begitu layar ponselnya menyala, matanya langsung membelalak melihat sebuah pesan masuk dari nomor yang sangat ia kenal. Pesan itu dikirim tepat lima bles menit yang lalu.

> **Bima Teknik:** *Draf bab tiga lo ada revisi di bagian grafik efisiensi. Gue di perpus pusat sekarang. Lo di mana?*

Jantung Kirana mendadak berdesir aneh. Ada rasa gugup yang tiba-tiba menyergapnya. Ia melirik ke arah kasir, memastikan Danu masih mengantre, lalu dengan jari yang sedikit terburu-buru, ia mengetik balasan.

> **Kirana:** *Aku lagi di luar kampus, Bim. Lagi ada urusan bentar di mal deket stadion.*

Tidak butuh waktu lama, hanya dalam hitungan detik, ponselnya kembali bergetar. Balasan dari Bima kali ini sangat singkat, namun berhasil membuat pasokan oksigen di sekitar Kirana mendadak terasa menipis.

> **Bima Teknik:** *Sama Danu?*

Kirana menggigit bibir bawahnya, menatap layar ponsel dengan bingung. Bagaimana bisa beruang kutub yang katanya hanya peduli pada angka dan mesin itu bisa menebak situasinya dengan seakurat ini? Belum sempat Kirana mengetik jawaban, Danu sudah berjalan menghampirinya sambil membawa *paper bag* belanjaan yang sudah dikemas cantik.

"Yuk, Ra. Udah selesai kok. Sebagai tanda terima kasih, aku traktir kamu makan es krim legendaris di lantai bawah, ya?" ajak Danu dengan senyuman manisnya yang sulit untuk ditolak.

Kirana perlahan memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas tanpa sempat membalas pesan Bima. Ia mengangguk pelan, mencoba tersenyum, namun pikirannya kini mendadak terbagi dua.

Di satu sisi, ia merasa sangat senang karena bisa membantu Danu yang begitu baik dan sopan padanya. Namun di sisi lain, bayangan wajah kaku Bima yang mungkin sedang menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut di sudut perpustakaan kampus, sukses membuat fokus Kirana berantakan.

Kirana berjalan di samping Danu dengan perasaan yang mulai tidak menentu, menyadari bahwa draf hidupnya kini mulai kedatangan variabel-variabel baru yang semakin sulit ia kendalikan.

1
Taro
akhirnya up thor🥹
minttea_: huhu iya nihh kemaren author lagi sibuk, maaf yaa🥺
total 1 replies
Taro
teringat sama film pupus kalau baca novel ini. semangat thor
minttea_: wahhh iya kahhhh, makasihh banyak atas dukungannya🥰✨
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!