Indry gadis religius yang lembut dan terlalu baik pada semua orang.
Zaki lelaki yang selalu hadir dan memberi namun perbedaan keyakinan selalu menjadi tembok pemisah yang tak terlihat diantara mereka.
pertemuan di stasiun tegal setelah 15 Tahun berpisah, menjadi awal dari kisah yang entah apa ujung nya.
tawa kecil, telfonan larut malam dan rasa nyaman pelan pelan berubah jadi kangen dan terbiasa.
tapi bagaimana jika cinta saja tak cukup?
bagaimana kalau Tuhan punya rencana lain....
dan satu keputusan yang harus dipilih,
melanjutkan.... atau melepaskan....
karna kadang, kangen terbesar adalah kangen yang hanya Tuhan yang tau....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Yuliantina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 20 :Tegal, Kontrakan, dan Batas yang Tertahan
Tegal, Kontrakan, dan Batas yang Tertahan
_Sabtu malam. Jam 11:47 malam. Rumah Mama Zaki, Tegal._
Rumah kecil, lampu kuning remang. Suara jangkrik dari halaman mangga. Bau martabak masih nyangkut di baju.
Indry baru selesai Doa malam di kamar tamu.
Ranjang single, sprei motif bunga, koper kecil di sudut.
Pintu diketuk pelan.
Zaki: “Indry… kamu udah tidur?”
Indry: “Belum, Zaki. Masuk aja.”
Zaki masuk. Pakai kaos oblong, celana pendek.
Rambut masih basah habis wudhu.
Zaki: “Sayang… aku kangen.”
Indry duduk di tepi ranjang. Jarak mereka tinggal setengah meter.
Indry: “Aku juga, Zaki. Tapi…”
Zaki memeluk. Pelan. Hangat. Dari belakang. Dagunya menyandar di pundak Indry.
Zaki: “Aku tahan 15 tahun, Indry. Malam ini aku nggak kuat.”
Indry menutup mata. Nafasnya pelan.
Indry: “Zaki…”
Zaki menunduk. Ciuman mendarat di kening. Pendek. Hangat. Menuntut.
Zaki: “Bentar lagi sah, sayang. Bentar lagi…”
Suara pintu luar berderit.
Mama Zaki: “ZAKIII!!! KAMU NGAPAIN DI KAMAR INDRI!!!”
(galaknya ibu Zaki, suaranya sekenceng Meta)
Zaki langsung mundur. Jantung copot.
Indry buru-buru membetulkan daster.
Mama berdiri di ambang pintu, tangan pinggang.
Mama: “Belum muhrim! Belum nikah! Kalau ketahuan tetangga, malu se-Kampung! Mau Ibu pukul pakai sapu nggak?!”
Zaki: “Ampun Bu! Aku cuma… kangen!”
Mama: “Kangen pulang ke kamar kamu! Sekarang keluar!”
Zaki keluar sambil garuk kepala. Pintu ditutup.
Dari luar terdengar Mama ngomel: “ZAKI! NANTI KALAU UDAH NIKAH, MAU PELUK SAMPAI PAGI JUGA SILAHKAN!”
Indry ketawa pelan sambil tutup mulut. Dadanya hangat. Bukan karena ciuman, tapi karena dijaga.
*Flashback. Sabtu siang di. Tegal. Kontrakan Zaki.*
Kereta dari Jakarta sampai Tegal jam 10 .
Zaki: “Sayang, kita nggak langsung ke rumah Ibu. Mampir kontrakan aku dulu ya. Aku mau ambil baju ganti sama martabak buat Ibu.”
Indry: “Kontrakan kamu? Sendiri?”
Zaki: “Iya. Kontrakan kecil, dekat pasar. Biar nggak ganggu Ibu.”
Kontrakan petak. Dapur cukup luas buat aktifitas Zaki, kasur lipat, kuali kuali Minyak kelapa di sudut, rosario Indry masih di atas meja.
Indry masuk, kaget.
Indry: “Zaki… kamu simpan rosario aku di sini?”
Zaki: “Iya. Aku nggak berani bawa ke rumah Ibu. Takut Ibu salah paham.”
Indry pegang rosario itu. Manik pink masih hangat.
Indry: “Kamu jaga dia baik-baik, ya Zaki.”
Zaki: “Lebih baik dari aku jaga kamu, sayang.”
Mereka ngobrol di kontrakan 2 jam. Sempit, tapi nyaman.
Zaki: “Ini tempat aku nangis kalau rindu kamu, Indry.”
Indry: “Aku juga nangis di kost Karawaci kalau kangen kamu.”
Zaki: “Nanti kalau kita nikah, kita nggak usah nangis sendiri-sendiri lagi ya.”
Indry mengangguk. “Janji.”
Zaki: “Mau lihat aku bikin martabak?”
Indry: “Mau. Ajarin aku ya.”
Zaki ngajarin Indry ngaduk adonan. Tepung berterbangan. Keduanya ketawa sampai hidung putih.
Indry: “Zaki, kalau kita punya anak, kita buka warung martabak ya.”
Zaki: “Boleh. Anak pertama jadi kasir. Anak kedua jadi tukang adon.”
Indry: “Anak ketiga jadi yang makan gratis.”
Zaki ketawa. “Deal.”
Jam 11:00 mereka berangkat ke rumah Mama Zaki. Bawa martabak 2 dus.
*Siang. Jam 1:30 siang. Pasar Pagi Tegal.*
Mama Zaki pegang tangan Indry.
Mama: “Nak, sini Ibu kenalin. Ini Indry, calon menantu Ibu.”
Penjual sayur: “MasyaAllah, cantik ya Bu. Zaki beruntung.”
Indry malu. “Iya, Bu. Salam kenal.”
Mama: “Ini temen Ibu dari kecil, Bu Sari. Anaknya juga kerja di Jakarta.”
Bu Sari: “Oh yang kerja di Klinik itu ya? Sering denger Zaki cerita. Katanya baik, rajin doa.”
Indry: “Iya, Bu. Doa Rosario.”
Bu Sari: “Bagus, Nak. Zaki itu anak baik. walau kerja apa aja, dia rajin, usahanya juga mulai maju, dia nggak pernah lupa sholat.”
Mereka keliling pasar. Beli ikan, tempe, kangkung. Mama Zaki tawar harga. Indry belajar.
Mama: “Indry, kalau udah nikah sama Zaki, kamu mau tinggal di Tegal atau Jakarta?”
Indry: “Tergantung Zaki, Tante. Kalau Zaki mau pindah, aku ikut.”
Mama: “Bagus, Nak. Jangan jadi istri yang menang sendiri.”
Indry: “Siap, Tante.”
Jam 3 sore, mereka mampir ke rumah Bu Sari.
Kenalan sama keluarga besar Zaki. Ada Om, Tante, sepupu.
Sepupu Zaki: “Kak Indry, Kakak Katolik ya? Kak Zaki cerita. Keren sih bisa saling hormat.”
Indry: “Iya, Dek. Asal saling jaga, semua bisa jalan.”
Om Zaki: “Zaki, kalau udah nikah, jangan lupa ajak kami ke pesta. Jangan diam-diam.”
Zaki: “Siap, Om. Pesta martabak gratis.”
Semua ketawa.
*Malam. Jam 9:00 malam. Rumah Mama Zaki.*
Makan malam rame.banyak masakan buatan Indry + martabak buatan Zaki.
Mama: “Indry, kamu Katolik, Zaki Islam. Nanti anak kalian ikut siapa?”
Indry: “Tergantung Tuhan, Tante. Kami akan jelasin dua-duanya. Biar anak kami pilih sendiri saat besar.”
Mama: “Bagus, Nak. Jangan paksa. Yang penting ajar hormat.”
Zaki: “Iya, bu. Aku nggak akan paksa Indry ganti agama. Aku nggak akan paksa anak aku juga.”
Mama: “Bagus, Nak. Itu namanya laki-laki.”
Selesai makan, Mama Zaki peluk Indry.
Mama: “Nak, Ibu suka kamu. Kamu sabar, kamu hormat. Zaki beruntung.”
Indry: “Terima kasih, Tante. Aku juga suka Tante.”
Zaki di sudut dapur senyum lebar. Lega.
*Kembali ke malam. Jam 11:49 malam. Kamar tamu.*
Setelah dimarahin Mama, Zaki dan Indry chat dari kamar masing-masing.
Zaki: “Sayang, maaf ya. Aku nggak tahan.”
Indry: “Aku juga kangen, Zaki. Tapi Ibu benar. Belum muhrim.”
Zaki: “5 hari lagi kita ketemu lagi di Karawaci. Tahan ya?”
Indry: “Tahan, Zaki. Demi yang halal.”
Zaki: “Sayang, aku bahagia banget hari ini. Ibu suka kamu.”
Indry: “Aku juga bahagia, Zaki. Mama kamu baik.”
Zaki: “Tidur ya, sayang. Aku jagain kamu dari jauh.”
Indry: “Iya, Zaki. Selamat malam.”
Zaki: “Selamat malam, calon istriku.”
Indry: “Selamat malam, calon suamiku.”
Di luar, hujan kecil Tegal turun.
Di dalam dua kamar berbeda, dua hati yang hampir kelewatan batas, memilih menunggu yang halal.