"Sialan! Kenapa transmigrasiku tidak memberiku kekuatan super?!"
Ye Xuan adalah seorang pemuda dari Bumi yang terbangun di Benua Sembilan Cakrawala, sebuah dunia di mana para kultivator bisa membelah lautan dengan satu tebasan pedang. Sialnya, ia menempati tubuh seorang Tuan Muda Klan Ye yang dibuang karena tidak memiliki bakat kultivasi sedikit pun.
Tanpa energi spiritual, tanpa sistem bela diri, Ye Xuan terpaksa hidup terasing di sebuah puncak gunung terpencil. Untuk bertahan hidup, ia hanya bisa berkebun ubi, menyapu halaman, dan memancing di kolam belakang gubuknya.
Namun, yang tidak Ye Xuan sadari adalah:
Air bekas cucian ubi yang ia buang sebenarnya adalah Cairan Kehidupan Abadi yang diperebutkan para Kaisar.
Sapu lidi tua miliknya adalah Senjata Pemusnah Dao yang ditakuti seluruh iblis.
Dan ubi bakar yang ia anggap "makanan rakyat jelata" sebenarnya adalah Obat Dewa yang bisa membuat seseorang menerobos ranah dalam semalam!
Ketika para dewi sekte suci d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: GADIS PEDANG YANG SOMBONG DAN KAYU BAKAR
Di kaki Puncak Awan Tersembunyi, sebuah kereta kencana yang ditarik oleh empat ekor kuda bersayap perak berhenti dengan anggun. Kereta itu dihiasi dengan lambang pedang bersilang—simbol dari Klan Pedang Surgawi, salah satu kekuatan terbesar di Benua Sembilan Cakrawala.
Seorang gadis turun dari kereta dengan gerakan yang begitu elegan seolah-olah kakinya tidak menyentuh tanah. Namanya adalah Jian Chengyue, putri jenius dari Klan Pedang. Wajahnya dingin, matanya setajam mata pisau, dan aura pedang yang terpancar dari tubuhnya membuat rumput di sekelilingnya terpotong rapi.
"Jadi, di sinilah Jenderal Long mengaku melihat seorang 'Ahli Agung'?" suara Jian Chengyue terdengar seperti dentingan logam yang jernih namun penuh nada meremehkan.
"Benar, Putri," jawab seorang pengawal tua di sampingnya dengan suara gemetar. "Jenderal Long bahkan mengatakan bahwa ahli tersebut menghancurkan kultivasi Penatua Sekte Darah hanya dengan sebatang sapu."
Jian Chengyue mendengus dingin. "Hmph! Jenderal Long sudah tua dan penakut. Menghancurkan kultivasi dengan sapu? Itu hanya trik ilusi tingkat rendah. Dunia ini penuh dengan penipu yang mengaku-ngaku sebagai ahli tersembunyi untuk mendapatkan rasa hormat. Aku akan naik ke sana dan mematahkan kebohongannya dengan satu tebasan pedangku!"
Dengan langkah angkuh, Jian Chengyue mulai mendaki gunung. Ia menolak menggunakan pedang terbangnya karena ingin memberikan "tekanan mental" pada penipu yang ia duga tinggal di puncak tersebut.
Sementara itu, di halaman pondok bambu, Ye Xuan sedang menghadapi masalah besar—setidaknya menurut versinya sendiri.
"Aduh, kayu bakar ini keras sekali!" keluh Ye Xuan sambil menatap tumpukan balok kayu besar di depannya.
Sejak kedatangan Lin Meier, Ye Xuan merasa harus bekerja lebih keras. Ia tidak ingin gadis cantik itu kedinginan atau kelaparan. Namun, tubuhnya yang ia anggap "fana" ini selalu merasa cepat lelah. Ia memegang sebuah kapak tua yang kepalanya sudah sedikit goyang.
"Ayo, Ye Xuan! Kau adalah laki-laki! Masa membelah kayu saja tidak bisa?" ia menyemangati dirinya sendiri.
Ye Xuan mengangkat kapaknya tinggi-tinggi. Ia tidak sadar bahwa saat ia mengangkat kapak itu, seluruh energi pedang di radius seratus mil mendadak sujud ke arahnya. Bagi Ye Xuan, ini hanya gerakan membelah kayu. Namun bagi alam semesta, ini adalah "Pembelahan Arus Takdir".
TAK!
Ye Xuan mengayunkan kapaknya dengan asal-asalan. Kayu itu terbelah menjadi dua bagian yang sangat simetris. Namun, lebih dari itu, sebuah gelombang kejut transparan melesat keluar dari mata kapak, membelah awan di langit menjadi dua jalur panjang yang tidak menyatu kembali.
"Hah... akhirnya terbelah juga," gumam Ye Xuan sambil menyeka keringat. "Tapi kenapa rasanya anginnya agak kencang tadi?"
Tepat saat itu, Jian Chengyue tiba di depan pagar kayu Ye Xuan. Ia baru saja akan berteriak menantang, namun suaranya tercekat di tenggorokan.
Ia melihat seorang pemuda berpakaian compang-camping sedang berdiri di depan tumpukan kayu. Tapi bukan pemuda itu yang membuatnya gemetar, melainkan jalur awan di langit yang baru saja terbelah. Sebagai seorang jenius jalur pedang, ia tahu persis apa artinya itu.
Itu bukan sekadar tebasan... itu adalah 'Pedang Niat' tahap tertinggi! Siapa pun yang melakukan itu telah melampaui batas kedewaan! batin Jian Chengyue, jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa dadanya akan meledak.
Ye Xuan menoleh dan melihat seorang gadis lain berdiri di depan pagarnya. Kali ini, gadis ini terlihat lebih "garang" dengan pedang besar di punggungnya dan zirah ringan yang menonjolkan lekuk tubuhnya yang atletis.
Waduh, ada lagi?! Ye Xuan mulai panik. Kenapa hari ini banyak sekali orang asing? Dan yang ini kelihatannya lebih galak. Lihat matanya, seperti ingin memotongku menjadi dua! Apakah dia penagih utang dari Klan Ye?
Ye Xuan buru-buru meletakkan kapaknya dan memasang senyum paling ramah (dan paling penakut) yang ia punya.
"Selamat siang, Nona Pendekar. Apakah Anda tersesat? Atau... Anda mencari seseorang?" tanya Ye Xuan dengan sopan, sambil tangannya diam-diam memegang gagang kapak, berjaga-jaga jika ia harus lari.
Jian Chengyue menatap kapak di tangan Ye Xuan. Di matanya, kapak berkarat itu bukan lagi alat perkebunan, melainkan Senjata Primal yang memancarkan haus darah yang luar biasa. Ia merasa jika ia bergerak satu inci saja dengan niat jahat, kapak itu akan terbang dan memenggal kepalanya sebelum ia sempat berkedip.
Harga dirinya yang setinggi langit runtuh seketika. "Saya... saya..."
Suaranya yang tadi angkuh kini menciut. Ia melihat Lin Meier keluar dari dalam pondok sambil membawa cangkir teh (yang sebenarnya berisi air cucian ubi yang dianggap Ye Xuan teh hambar).
"Putri Jian?" Lin Meier terkejut. "Apa yang Anda lakukan di kediaman Senior Ye?"
Jian Chengyue menatap Lin Meier dengan iri. Tunggu... Lin Meier dari Sekte Lautan Tenang? Kenapa auranya begitu kuat? Dia sudah menembus ranah Nascent Soul?!
"Aku... aku mendengar ada seorang ahli..." Jian Chengyue tergagap, wajahnya yang dingin kini memerah karena malu. Ia teringat niat awalnya untuk "mematahkan kebohongan" ahli ini. Sekarang, ia merasa seperti badut yang ingin menantang matahari dengan sebatang lilin.
Ye Xuan, melihat kegagapan gadis itu, mengira dia lapar atau kehausan seperti Lin Meier kemarin.
"Ah, kau pasti kelelahan mendaki gunung ini," ucap Ye Xuan dengan nada kasihan. "Nona Lin, tolong ambilkan segelas air lagi. Dan kau, Nona Pendekar... kalau kau tidak keberatan, bisakah kau membantuku sebentar?"
Ye Xuan berpikir: Dari zirahnya, dia kelihatannya kuat. Mungkin dia bisa membantuku membelah sisa kayu bakar ini sebagai bayaran untuk segelas air. Lumayan, tanganku sudah pegal.
"Bantu... membantu Senior?" Jian Chengyue gemetar karena senang dan takut. "Maksud Senior... Senior ingin memberikan petunjuk kultivasi padaku?"
Ye Xuan tertawa canggung. Petunjuk kultivasi apa? Aku saja tidak tahu cara meditasi!
"Bukan, bukan. Maksudku, bisakah kau membantuku memotong kayu-kayu itu? Aku sedang ingin membuat api unggun malam ini," kata Ye Xuan sambil menunjuk ke arah balok kayu yang tersisa.
Lin Meier yang mendengar itu hampir menjatuhkan cangkir tehnya. Senior Ye... Anda meminta Putri dari Klan Pedang Surgawi, yang tangannya hanya untuk memegang pedang suci, untuk menjadi tukang belah kayu?!
Namun, Jian Chengyue justru melihat ini sebagai kesempatan emas.
Memotong kayu? Tidak! Ini pasti ujian! Senior sedang mengujiku apakah aku bisa mengendalikan energi pedangku untuk hal-hal sederhana! Ini adalah cara beliau memberikan warisan ilmunya!
"Saya bersedia! Terima kasih atas bimbingannya, Senior!" Jian Chengyue berlutut, lalu dengan penuh semangat mengambil kapak dari tangan Ye Xuan.
Begitu tangannya menyentuh gagang kapak, Jian Chengyue hampir terjatuh. Berat kapak itu... rasanya seperti memegang seluruh berat gunung!
Ye Xuan menggelengkan kepalanya. Lihatlah, pendekar jaman sekarang. Pegang kapak saja sudah gemetar. Dunia ini memang benar-benar dalam bahaya jika pelindungnya selemah ini.
"Hati-hati, Nona. Kapak itu memang agak berat karena berkarat," pesan Ye Xuan sebelum masuk ke dalam pondok untuk mengambil lebih banyak ubi.
Di halaman, Jian Chengyue mulai berkeringat hebat. Setiap kali ia mengayunkan kapak, ia merasakan pemahamannya tentang "Dao Pedang" meningkat pesat. Ia menyadari bahwa setiap serat kayu yang ia belah adalah representasi dari hambatan dalam kultivasinya.
Luar biasa! Hanya membelah kayu di sini lebih efektif daripada bermeditasi sepuluh tahun di ruang rahasia klan! pikirnya dengan penuh gembira, sambil terus membelah kayu dengan kecepatan gila.
Lin Meier melihat saingan barunya dengan pandangan waspada. Sial, Putri Jian ini sangat pintar mengambil hati Senior. Aku harus melakukan sesuatu agar tidak kalah saing!
Dan begitulah, di halaman gubuk Ye Xuan, dua gadis paling jenius di benua itu kini sedang berebut pekerjaan rumah tangga—yang satu sibuk menyeduh teh, yang lain sibuk membelah kayu—sementara "Sang Ahli Agung" Ye Xuan sedang di dalam gubuk, bingung mencari di mana ia meletakkan garamnya.
Jian Chengyue