NovelToon NovelToon
Sopirku Seorang Mafia

Sopirku Seorang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: irma rofiah

evelyn mengakhiri hidupnya dimalam ketika supir pribadinya yang ternyata seorang Mafia, memaksa untuk menikahinya. namun setelah matanya terpejam, Tiba-tiba ia kembali ke masa lalu dimana semua kehancuran belum terjadi. Apakah langkah yang akan evelyn ambil agar tidak berakhir dengan kematian yang sia-sia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon irma rofiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cristian Noah Alexander

Malam menyelimuti kota dengan tenang, namun di balik ketenangan itu—ada dunia lain yang bergerak dalam bayangan.

Di sebuah rumah mewah yang berdiri megah, lampu-lampu hangat menyinari ruangan luas dengan interior elegan. Sofa kulit hitam di tengah ruangan menjadi pusat perhatian.

Di sanalah ia duduk.

Cristian Noah Alexander.

Cristian Noah Alexander adalah sosok pria yang mudah menarik perhatian—bukan karena ia berusaha, tapi karena auranya memang kuat sejak awal.

Rambutnya berwarna coklat gelap, tertata rapi namun tetap memberi kesan natural, seolah ia tidak perlu berusaha untuk terlihat menarik. Matanya coklat tajam, dalam dan sulit ditebak—pandangan yang mampu membuat orang merasa diawasi, bahkan tanpa sepatah kata pun.

Kulitnya kuning langsat, bersih dan terawat, kontras dengan aura dingin yang ia miliki. Dengan tinggi sekitar 187 cm, tubuhnya menjulang tegap, memberi kesan dominan setiap kali ia berdiri di antara orang lain.

Garis wajahnya tegas.

Dagu belah yang jelas menambah kesan maskulin, sementara alisnya tebal dan membingkai matanya dengan kuat. Hidungnya mancung, proporsional, mempertegas struktur wajahnya yang sudah sempurna.

Bibirnya berada di tengah—tidak terlalu tipis, tidak terlalu tebal—namun selalu tampak tegas, jarang tersenyum kecuali dalam momen tertentu yang justru terasa lebih mengintimidasi daripada ramah.

Keseluruhan dirinya…

adalah perpaduan antara ketenangan dan bahaya.

Seseorang yang bisa terlihat seperti pria biasa di keramaian—

namun begitu diperhatikan lebih lama…

akan terasa bahwa ada sesuatu dalam dirinya yang tidak bisa dianggap remeh.

Pria berusia 30 tahun itu tampak tenang, satu tangannya memegang segelas red wine yang berkilau di bawah cahaya lampu. Wajahnya tanpa ekspresi, namun aura dingin dan dominan begitu terasa.

Di hadapannya, seorang asisten pribadi berdiri tegap, membacakan laporan dengan suara formal.

“Seluruh aset Alexander Group di sektor energi mengalami peningkatan signifikan bulan ini,” ucapnya. “Dan untuk jalur bisnis lainnya… berjalan sesuai rencana.”

Cristian tidak langsung merespon. Ia hanya memutar pelan gelas di tangannya, menatap cairan merah itu seolah sedang memikirkan sesuatu yang jauh lebih dalam.

Namanya memang tidak sering muncul ke publik. Namun kekayaannya— tidak terbantahkan.

Sebagai pemegang saham terbesar di Alexander Group, ia sudah berada di puncak dunia bisnis resmi.

Namun itu… hanya permukaan.

Di balik layar— ada jaringan lain. Lebih gelap. Lebih menguntungkan. Dan jauh lebih berbahaya. Penghasilannya dari sana bahkan melampaui semua bisnis legal yang ia miliki.

“Bagaimana perkembangan target kita?” tanyanya akhirnya, suaranya rendah dan tenang.

Asisten itu sedikit menunduk. “Masih dalam tahap pengamatan, Tuan. Namun semua berjalan sesuai rencana.”

Cristian mengangkat sedikit sudut bibirnya.

Tipis. Hampir tidak terlihat. Matanya yang tajam menatap lurus ke depan.

“Pastikan tidak ada kesalahan.”

Suaranya tetap datar. Namun cukup untuk membuat suasana ruangan terasa lebih dingin.

Karena bagi pria seperti Cristian Noah Alexander—kesalahan…bukanlah pilihan.

Di dalam ruangan yang tenang itu, suasana berubah sedikit lebih tegang.

“Tuan… haruskah Anda sendiri yang melakukan itu?” tanya Brian hati-hati. “Maksud saya… kenapa Anda harus repot turun tangan sendiri?”

Di hadapannya, Cristian Noah Alexander tetap duduk santai, jemarinya memutar gelas red wine dengan gerakan lambat.

Tatapannya dingin. Namun kali ini, sudut bibirnya terangkat—menyeringai tipis.

“Ini dendam pribadi,” jawabnya pelan.

Nada suaranya tenang, namun mengandung sesuatu yang gelap.

“Bukankah lebih menyenangkan jika ditangani sendiri?”

Ia meneguk sedikit minumannya, lalu melanjutkan dengan suara rendah—

“Dengan begitu… aku akan puas.”

Ruangan kembali hening. Brian tidak berani menanggapi lebih jauh.

Ia sudah terlalu lama bekerja untuk pria itu, untuk itu ia tahu—beberapa keputusan… tidak bisa diganggu gugat.

Cristian meletakkan gelasnya perlahan.

Matanya menatap lurus ke depan, seolah sudah melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Besok…” gumamnya pelan.

Ia akan melangkah masuk ke rumah Alberto Chaplin. Bukan sebagai dirinya yang sebenarnya. Tapi sebagai seseorang yang tak akan dicurigai—seorang calon sopir.

Cristian Noah Alexander meletakkan gelasnya perlahan di atas meja. Suara kecil dari kaca yang menyentuh permukaan kayu terdengar jelas di ruangan yang sunyi.

Ia berdiri. Langkahnya tenang, terarah, hingga berhenti di depan sebuah lukisan besar yang tergantung di dinding.

Pegunungan. Dengan matahari yang baru terbit di baliknya. Cahaya keemasan menyebar, seolah membawa harapan baru di setiap sudut kanvas itu.

Namun bagi Noah—itu bukan sekadar lukisan. Itu adalah kenangan. Dan juga…impian yang tak pernah benar-benar ia capai.

Tangannya terangkat perlahan, menyentuh permukaan lukisan itu. Ujung jarinya meraba garis-garis lembut cat, mengikuti bentuk pegunungan yang tergambar.

Matanya sedikit meredup.

Seolah ia sedang melihat sesuatu yang jauh… jauh sebelum semua ini terjadi.

Namun dalam sekejap— ekspresinya berubah. Tangannya yang semula lembut— mengepal. Kuat.

Urat-urat di tangannya tampak jelas, menegang seolah menahan sesuatu yang hampir meledak.

Tatapannya mengeras. Kenangan itu… tidak lagi terasa hangat. Melainkan pahit.

“Semua itu…” bisiknya pelan.

“...sudah hancur.”

Suasana di ruangan berubah dingin.

Di belakangnya, Brian hanya bisa diam. Ia tahu lebih baik untuk tidak mengatakan apa pun saat tuannya berada dalam kondisi seperti itu.

Karena di balik ketenangan pria itu—tersimpan sesuatu yang jauh lebih dalam. Sesuatu yang menjadi alasan kenapa ia memilih jalan ini.

Dan yang pasti— alasan kenapa ia harus menghancurkan Alberto Chaplin… dengan tangannya sendiri.

“Aku akan menghancurkan orang itu… pelan-pelan.”

Suara Cristian Noah Alexander rendah, namun penuh kepastian. Tidak ada keraguan di dalamnya—hanya tekad yang dingin.

Ia berbalik, menatap Brian. “Besok, semua harus tepat waktu.”

“Baik, Tuan,” jawab Brian singkat, menunduk hormat.

“Jika tidak ada lagi yang Anda butuhkan, saya akan keluar.”

Noah tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangkat tangannya sedikit—sebuah isyarat singkat.

Brian mengerti. Ia segera berbalik dan meninggalkan ruangan, menutup pintu dengan pelan.

Klik.

Kini, hanya tersisa keheningan.

Noah berjalan kembali ke meja, matanya tertuju pada sebuah berkas yang tadi dibawa oleh Brian. Ia mengambilnya, membuka dengan perlahan.

Di dalamnya— sebuah identitas baru. Nama yang berbeda. Riwayat yang disusun rapi. Semuanya tampak sempurna… namun bukan dirinya yang sebenarnya.

Identitas yang tidak mudah dilacak. Cukup untuk membuatnya masuk tanpa kecurigaan.

Noah menatapnya sejenak, lalu tersenyum tipis.

“Cristian Silas…” gumamnya pelan.

Nama yang akan ia gunakan. Nama yang akan membawanya masuk ke dalam rumah Alberto Chaplin.

Permainan ini… akan segera dimulai.

Dan kali ini—ia tidak akan berhenti sebelum semuanya selesai.

1
Gricelda Pereira
💪💪💪💪 semangat truuuuus yaaa ka update nya
Gricelda Pereira
tolongg lanjuuut updateee yaaa kaa sangat baguuus
Gricelda Pereira
sangat bagus tolong dilanjutkan yaaa
Gricelda Pereira
kaaaak tolong updeat lagiiiii yaaa biaaar rameee
irma rofiah: ditunggu ya 🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!