NovelToon NovelToon
Datang Tanpa Dicari

Datang Tanpa Dicari

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / GXG
Popularitas:574
Nilai: 5
Nama Author: Benrycia_

Area GxG ya~
******
Satu sekolah, beda kelas, tapi ributnya bisa tiap hari. Kara dan Narisa, dua anak SMA yang sepertinya lahir tanpa kemampuan berdamai.
Awalnya semua biasa saja. Sampai suatu hari... mereka menikah.
Iya. Menikah.
Kok bisa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Keesokan paginya, Narisa diantar ke sekolah dengan mobil.

Sebenarnya dia sudah menolak setengah mati. Selama ini Taslim selalu mengantarnya dengan motor, dan itu jauh lebih aman secara sosial. Tapi Nuri bersikeras. Mobil sudah ada, ya dipakai.

Mendekati sekolah, Narisa langsung merosot di jok, hampir hilang dari jendela.

"Kamu kenapa sih?" tanya Taslim heran.

"Majuin lagi, pa," Narisa menunjuk ke depan tanpa mengangkat badan. "Majuuu terus."

"Kejauhan. Nanti kamu telat-"

"Gak apa-apa, pa. Plis. Daripada masa sekolahku hancur. "

Taslim melirik sekilas, jelas bingung. Tapi tetap menambah gas melewati gerbang sekolah.

"Emang kenapa gak mau turun di sana?"

Narisa mendesah pelan. "Aku takut dikatain OKB, pa. Malu banget."

Taslim ikut menghela napas. Jujur, dia pun tidak nyaman. Tapi ucapan Nuri masih terngiang: ada mobil kok gak dipake.

Begitu sampai di belokan agak jauh dari sekolah, Narisa baru minta berhenti. Bagi Taslim itu sudah terlalu jauh, tapi dia juga tidak punya energi untuk debat pagi-pagi.

Narisa melepas sabuk pengaman, lalu mengecup pipi ayahnya sekilas.

"Makasih, pa. Bye."

Dia turun, menutup pintu, lalu berjalan santai seolah tidak ada yang terjadi.

Bel sekolah baru berbunyi, tapi gerbang masih ramai. Beberapa siswa berdiri di depan, tertahan karena telat. Anggota 0SIS sibuk mencatat nama dengan wajah sok tegas.

Narisa mendekat dengan gaya andalannya. Santai, songong, tanpa rasa bersalah,

"Lagi tugas, dek?" sapanya ke salah satu yang paling galak.

Sikap anak itu langsung berubah. "Iya, kak-"

"Naga Bonar pesek."

Suara itu lewat begitu saja seperti angin yang menyenggol harga diri.

Narisa langsung menoleh tajam, "Anjir, Santen. Masih pagi udah cari perkara."

Kara jalan santai, tas disampirkan asal, muka datar seperti biasa.

"Kak," si ketua 0SIS buru-buru menyusul Kara. "Namanya dicatat dulu,"

Kara berhenti, lalu menoleh pelan. "Lo fans gw apa gimana?"

Si ketua langsung mendekat, suaranya turun. "Formalitas aja, kak."

Kara menyipit. "Lo gak tau nama gw?"

"Cuma tau nama depan aj-"

"Namanya Kara Santen," potong Narisa dari samping tanpa dosa. "Lo catet nama gw, awas aja."

Dia langsung jalan masuk, meninggalkan masalah di belakang. Si ketua OSIS cuma bisa menelan ludah. Terlalu fokus ke Narisa sampai lupa tugasnya.

Kara memperhatikan itu. Tatapannya datar, tapi nadanya cukup buat bikin orang mikir dua kali.

"Mata lo kondisiin," katanya pelan, "Gw colok juga tuh biji."

Si ketua langsung refleks meluruskan badan. Kara pun lanjut jalan, menyusul Narisa yang sudah duluan masuk.

Di belakang, anggota 0SIS cuma. bisa saling pandang. Satu napas panjang keluar hampir bersamaan.

Dua orang itu beda level. Jangankan mereka, guru Bk saja sering kalah.

~

Jam istirahat, Kara dan Harum tidak ke kantin seperti biasa. Mereka justru berpatroli, menyusuri kelas- kelas junior, mencari target yang lagi santai di dalam.

Begitu dapat -tiga murid perempuan duduk makan roti di kelas- keduanya langsung masuk dengan wajah tenang. Terlalu tenang sampai terlihat mencurigakan.

Tap.

Satu lembar HVS diletakkan di meja. Satu orang satu.

"Tulis 'saya tidak akan bolos lagi'. Full. Bolak-balik," kata Kara pelan. "Bisa kan?"

Tiga murid itu langsung tegang. Yang pegang roti sampai lupa mengunyah.

"0-oke, kak."

Harum ikut maju, menaruh setumpuk HVS tambahan.

"Ini buat cadangan. Bagiin ke temen lo juga. Pokoknya jam pulang harus udah kelar."

Ketiganya langsung mengangguk cepat. Takutnya terlihat jelas. Kara dan Harum saling bertukar senyum puas.

"Lo pada dibully kan?" tanya Kara santai.

Tiga murid itu saling pandang, lalu mengangguk lagi.

"Sebutin namanya. Biar kita yang urus," kata Harum, nada suaranya berubah lebih serius.

"Gengnya kak Sasa, kak," jawab salah satu dari mereka.

"Kalau kakak bales mereka, takutnya malah makin jadi," tambah yang lain ragu.

Kara yang dari tadi mikir tiba-tiba melipat tangan. Alisnya menyatu. "Sasa itu siapa sih?"

Harum langsung menoleh. "Lah, itu loh, yang katanya primadona sekolah,"

Kara mikir sebentar.

"Oooh.." matanya sedikit menyipit. "Helma?"

Harum beserta tiga murid itu langsung mengangguk bersamaan.

Kara mengernyit. "Sasa dari mana sih? Jauh amat loncatnya."

"Iya juga ya," gumam Harum, "Namanya Helma Ranita... gak ada Sasanya."

Kara mengibaskan tangan, malas lanjut mikir.

"Gak penting. Pokoknya kalian kerjain itu. Si Helma biar urusan gw."

Tanpa menunggu jawaban, Kara dan Harum langsung keluar kelas. Begitu di lorong, Harum melirik ke belakang.

"Kasian juga ya mereka. Sampai gak berani ke kantin."

"Ya bego aja bisa kena bully," sahut Kara datar.

"Padahal si Helma itu apaan sih?"

"Katanya cantik,"

Kara mendecak. "Mending Cantika."

" Cantikan Narisa

Kara langsung menoleh. "Wah, lo ada apa-apa sama calon bini gw ya?"

"Anjir, posesif."

Kara hanya tertawa, jelas bercanda.

~

Sementara itu, Narisa mainnya beda. Dia tidak menyasar adik kelas. Dia hantam satu kelas sendiri.

Begitu istirahat selesai, dia berdiri di depan kelas dengan wajah memelas yang terlalu dibuat-buat. Di tangannya, sepuluh lembar HVS masih polos.

"Kita ini kan solidaritasnya tinggi," katanya membuka pidato. "Saling lindungin kalau ada yang bolos. Saling bantu kalau kena masalah."

Kelas langsung curiga.

"Nah, sekarang giliran gw," lanjut Narisa tanpa dosa.

"Tolong tuliskan 'saya tidak akan bolos lagi'. Sepuluh lembar. Bolak-balik. Full. Nanti pada gantian ya."

"Buset. Banyak amat?" celetuk salah satu cowok."

"Gw kemarin cuma tiga lembar."

"Udah lah, bantu aja,"

Narisa mulai membagi-bagikan kertas. "Pulang sekolah harus udah jadi."

Lesti menerima satu lembar sambil menyipitkan mata. "Tumben lo nurut. Biasanya lo cuek aja sama hukuman,"

Narisa memutar mata. "Soalnya gw mau bolos lagi dalam waktu dekat."

Beberapa orang langsung mengangguk paham.

"Pas jam Bu Rina pasti," sahut seseorang.

"Yoi," Narisa nyengir. "Males banget bikin rangkuman perang dunia.'"

Teman-temannya saling pandang. Kesimpulannya sama: mereka nakal, iya. Tapi level Narisa.. beda liga.

Fahri yang dari tadi diam akhirnya buka suara.

"Gw baru mau ajak bolos, lo malah bagi-bagi hukuman."

Narisa meringis. "Tahan dulu, bro. Kelar ini baru kita cabut."

Dia memang bilang begitu. Tapi begitu pelajaran dimulai, kantuk datang tanpa permisi. Pelan, lalu ganas. Narisa berusaha menahan kelopak matanya yang mulai berat.

Gagal.

Akhirnya dia mengangkat tangan.

"Pak, saya izin ke toilet."

"Tidak bisa, Risa. Tahan saja."

"Yaelah, pak. Masa nahan penyakit. Bentar doang kok. Boleh ya, pak."

Sang guru menghela napas panjang. Dia tahu persis, memberi izin sama saja membuka gerbang kabur selebar- lebarnya.

"Tahan saja."

Narisa mulai gelisah di kursinya. "Jangan gitu dong, pak. Udah mules banget ini."

"Pak," Putri ikut mengangkat tangan, wajahnya sok serius. "Saya juga kebelet. Tenang aja, bakal saya jagain ini anak."

Guru itu menatap keduanya datar. Dua-duanya pelanggan tetap rung BK. Tingkat kepercayaan: minus. Namun karena mereka terus mendesak tanpa rasa malu, akhirnya ia menyerah.

"Lima menit. Tidak lebih."

"Iya, pak!" jawab keduanya kompak, terlalu cepat untuk orang yang katanya mules.

~

Beberapa saat sebelumnya.

Bel masuk sudah berbunyi, tapi Harum dan Kara justru berdiri santai di depan kelas II IPS 2. Tidak ada niat masuk. Mereka sedang menunggu target.

Begitu lima cewek dengan gaya penuh percaya diri

muncul di ujung lorong, Kara langsung mendorong dagunya sedikit ke depan.

"Itu dia."

Helma alias Sasa, lengkap dengan empat pengikut setianya.

"Hei," Kara menyapa santai. "Sibuk gak?"

Helma yang memang sudah lama ingin dekat dengan senior populer langsung tersenyum lebar.

"Enggak, kak."

Tanpa banyak basa-basi, mereka digiring ke taman belakang.

Harum melipat tangan, sementara Kara menatap kelimanya tanpa ekspresi.

"Gw gak suka muter- muter, " kata Kara tenang.

"Jadi langsung aja. Kenapa sih kalian hobi nge bully junior?"

Helma masih mencoba santai. "Cuma bercanda kok, kak. Yang kita bully juga yang songong doang."

"Songong gimana.?" tanya Harum.

Helma mulai berapi-api. "Ya sok cantik, sok berbakat, sok akrab, sok kaya-"

Harum mengerutkan dahi. "Itu... alasan?"

"Iya dong. Biar mereka sadar diri,"

Kara dan Harum saling pandang. Logika macam apa ini? Belum sempat membalas, suara lain menyusup dari belakang.

"Wah, bolos lagi si peak."

Narisa datang bersama Putri, langkahnya santai, auranya sudah siap ribut. Begitu melihat Helma dan gengnya, matanya langsung menyipit.

"Ngapain lima ondel-ondel nongkrong di sini?" katanya, lalu menoleh ke Kara. "Kalian dibully?"

Kara melongo. "Dibully? Lo ngigo ya?"

"Gw emang ngantuk," jawab Narisa tanpa dosa. Lalu kembali menatap Helma. "Tapi serius, kalian ini nyari masalah mulu. Empet gw liatnya."

"Iya," timpal Putri. "Ke sekolah tuh buat belajar, bukan latihan jadi antagonis sinetron."

Harum hampir ketawa. Ironi hidup berdiri di depan mata. Ngenes.

Helma tetap berani. "Kita cuma main-main aja, kak. Lagian kita kan ngebully junior, bukan senior."

Narisa langsung mendelik. "Wah, enak banget logikanya. Itu mulut mau gw pindahin ke jidat?"

Takut situasi memanas, Kara langsung maju setengah langkah. Harum ikut berdiri di tengah.

"Oke, stop," Kara mengangkat tangan, "Gini aja."

Semua menoleh.

"Nanti pulang sekolah kita nongkrong bareng."

Helma mengerjap. "Serius?"

"Seru kan?" lanjut Kara. "Kita ngobrol santai. Biar clear."

Harum langsung menangkap maksudnya. "Iya. Kita traktir." Padahal isi dompetnya cuma dua puluh ribu dan selembar harapan.

Helma dan gengnya saling pandang, lalu mengangguk. Mereka pikir ini kesempatan emas agar bisa lebih dekat.

Begitu mereka pergi, Narisa langsung menarik Kara menjauh.

"Pulang sekolah kita jual aja," bisiknya cepat.

Kara mengangguk tanpa ragu. "Sip. Lo bawa?"

"Ketinggalan."

"Pinter banget."

"Ya tinggal jemput. Emang lo mau ke sana pake seragam?"

"Nggak juga."

Percakapan berhenti di situ. Tapi di kepala mereka, rencana mulai terbentuk.

.

1
Suka GL
Seru deh
Zye Rava
Aduh knp bos bramantyo kepo nikah segender ya mana anak orang lgi yang dinikahkan. agak lain ini orang 🤣
Inayah🥰
Ceritax ga kalah seru sm yg satux thor 😍 yg ini dua2x bar2
Felafel
Ceritamu seru semua thor next ya💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!