“Aku tidak sudi menghabiskan sisa hidupku menjadi pengasuh pria cacat yang membosankan. Jika Papa ingin menjual anak, jual saja Alesha. Dia sudah terbiasa hidup susah.”
Darah Alesha mendidih. Ia meremas kertas itu hingga hancur dalam kepalannya. "Si brengsek itu..." desisnya. Ia tidak terkejut Kiara kabur; kakaknya itu memang egois. Namun, menyebut pria yang akan dinikahinya sebagai 'pria cacat yang membosankan' adalah penghinaan yang rendah, bahkan untuk standar Kiara.
"Alesha, tolong... Papa mohon," Bramasta tiba-tiba menjatuhkan dirinya. Ia berlutut di atas lantai marmer dingin, memegang ujung jubah Alesha. "Keluarga Matteo Al-Ricci bukan orang sembarangan. Mereka adalah penguasa bisnis di Roma. Utang Papa pada mereka... Papa menggunakan seluruh aset perusahaan sebagai jaminan. Jika pernikahan ini batal, Papa akan dipenjara, dan kita akan gelandangan dalam semalam!"
Alesha menatap ayahnya dengan pandangan jijik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: PESAN BERDARAH DI BALIK GAUN
Pagi itu, distrik San Lorenzo diselimuti kabut tipis yang membuat bangunan-bangunan tua tampak seperti siluet hantu.
Di dalam L'Atelier, Alesha sedang berlutut di lantai, dikelilingi oleh pola-pola kertas yang berserakan.
Keberhasilannya di Palazzo Farnese semalam telah membuahkan hasil, telepon butiknya terus berdering dengan permintaan janji temu dari para sosialita yang penasaran dengan "Nyonya Al-Ricci yang berani".
Namun, kegembiraan itu menguap saat Giulia masuk dengan sebuah kotak kayu kecil yang dibalut kertas perkamen kusam.
"Nyonya, seseorang meninggalkan ini di depan pintu sebelum aku membuka butik," ucap Giulia, wajahnya tampak bingung.
"Tidak ada nama pengirim, hanya tertulis 'Untuk Nyonya Al-Ricci'."
Alesha berdiri, membersihkan debu dari lututnya. Ia menerima kotak itu. Bobotnya sangat ringan, hampir terasa kosong.
Namun, ada bau yang samar bukan bau parfum, melainkan bau apek yang lembap, seperti sesuatu yang telah lama disimpan di tempat yang tidak terkena matahari.
Ia membawa kotak itu ke meja kerjanya yang diterangi lampu sorot. Dengan hati-hati, Alesha membuka tutup kayu tersebut.
Napasnya tertahan. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.
Di dalam kotak itu terdapat sepotong kain satin putih premium. Alesha tidak perlu merabanya untuk tahu jenis kain itu.
Ia yang menjahitkan payet-payet kecil di pinggirannya. Itu adalah potongan dari bagian bawah gaun pengantin Kiara, gaun yang seharusnya dikenakan kakaknya di hari pernikahannya dengan Matteo sebelum ia menghilang tanpa jejak.
Namun, kain itu tidak lagi putih bersih.
Sebuah noda besar berwarna merah kecokelatan yang sudah mengering merusak keindahan satin tersebut.
Warna itu terlalu gelap untuk disebut cat, itu adalah noda darah yang sudah lama meresap ke dalam serat kain. Di tengah noda itu, terdapat secarik kertas kecil yang ditulis dengan tinta hitam yang tebal dan berantakan.
"Jangan terlalu nyaman di kursi itu, Alesha. Giliranmu akan segera datang."
Alesha merasakan dingin yang ekstrem merayap dari ujung jarinya ke seluruh tubuh. Ia segera menutup kotak itu, namun bayangan noda darah di atas gaun Kiara tetap melekat di matanya.
Selama ini, ayahnya selalu mengatakan bahwa Kiara kabur karena takut menikah dengan pria lumpuh.
Namun, potongan kain ini menceritakan kisah yang berbeda.
Kiara tidak kabur. Seseorang telah mengambilnya. Seseorang telah menyakitinya. Dan darah itu... darah itu adalah bukti bahwa pernikahan dengan keluarga Al-Ricci bukanlah sebuah dongeng, melainkan sebuah kontrak kematian.
Siapa yang mengirim ini? Dan apa hubungannya dengan rahasia yang disimpan Matteo di ruang bawah tanah?
Alesha menyadari bahwa ia tidak bisa lagi berdiam diri.
Jika Kiara terjebak dalam sesuatu yang jauh lebih berbahaya yang melibatkan keluarga Matteo, maka keberadaannya di Villa Al-Ricci sekarang adalah seperti berdiri di atas sumbu bom yang sedang terbakar.
Alesha kembali ke Villa dengan perasaan waswas. Ia tidak pergi ke kamarnya, melainkan langsung menuju perpustakaan tempat Matteo biasanya menghabiskan waktu sore harinya.
Tanpa mengetuk, Alesha masuk.
Matteo sedang menatap ke luar jendela besar yang menghadap ke arah taman labirin. Kursi rodanya diposisikan membelakangi pintu.
"Aku sedang tidak ingin diganggu, Alesha," ucap Matteo tanpa menoleh.
"Aku tidak peduli," balas Alesha, suaranya bergetar namun penuh tekad.
Ia melangkah maju dan meletakkan kotak kayu itu di atas meja kerja di samping Matteo.
"Buka ini."
Matteo perlahan memutar kursi rodanya. Ia menatap kotak itu dengan dahi berkerut, lalu beralih ke wajah Alesha yang pucat. Dengan gerakan lambat, ia membuka tutupnya.
Mata kelabu Matteo tidak menunjukkan keterkejutan.
Ada kilatan pengenalan yang sangat cepat lewat di matanya hanya sepersekian detik sebelum ia kembali ke wajah topengnya yang tanpa emosi.
Ia meraih potongan kain berdarah itu dengan dua jari, memeriksanya seolah-olah itu hanyalah sampah yang tidak sengaja masuk ke rumahnya.
"Satin yang bagus. Namun selera pengirimnya sangat buruk," komentar Matteo dingin.
"Itu bagian dari gaun pengantin Kiara, Matteo! Ada darah di sana!" Alesha memukul meja dengan tangannya.
"Seseorang mengancamku. Mereka bilang giliranku akan segera datang. Apa yang sebenarnya terjadi pada Kiara? Mengapa kau tidak terkejut melihat darah kakaku di sana?!"
Matteo tidak menjawab.
Ia justru mengambil pemantik api perak dari laci mejanya.
Klik. Api biru kecil menyala.
Dengan ketenangan yang mengerikan, Matteo menyulut ujung potongan kain satin itu.
"Apa yang kau lakukan?! Itu bukti!" teriak Alesha, mencoba merebut kain itu.
Namun Matteo menepis tangan Alesha dengan satu gerakan yang kuat. Ia membiarkan api melahap kain berdarah tersebut hingga hanya menyisakan abu yang jatuh ke asbak kristal di atas meja.
Pesan ancaman itu pun ikut terbakar, berubah menjadi serpihan hitam yang tak terbaca.
"Bukti?" Matteo mendongak, menatap Alesha dengan pandangan yang membuat bulu kuduknya berdiri.
"Di Roma, tidak ada yang namanya bukti. Yang ada hanyalah pesan. Dan pesan ini hanya sampah yang dikirim oleh seseorang yang ingin melihatmu gemetar."
"Kau tahu siapa yang mengirimnya, bukan?" desis Alesha.
"Kau tahu sesuatu tentang Kiara yang tidak kau katakan padaku. Apakah dia dibunuh? Apakah keluarga Al-Ricci melenyapkannya?!"
Matteo menyandarkan punggungnya, menatap abu yang masih mengepul.
"Dunia ini jauh lebih kotor daripada yang bisa dibayangkan oleh otak desainermu, Alesha. Kau bertanya apa yang terjadi pada Kiara? Kiara membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya, dia merasa terlalu nyaman di rumah ini. Dia berpikir kecantikannya bisa melindunginya dari monster."
Matteo mencondongkan tubuhnya, menatap Alesha dengan tatapan yang sangat jujur namun mematikan.
"Sudah kubilang sejak awal, jangan pernah percaya pada siapa pun di disi. Jangan percaya pada ayahmu, jangan percaya pada pelayan di rumah ini, dan yang paling penting..."
Matteo menjeda kalimatnya, suaranya merendah menjadi bisikan yang sangat dingin.
"...jangan pernah percaya padaku."
Alesha mundur selangkah, napasnya memburu. Ia melihat pria di hadapannya bukan lagi sebagai suami kontrak atau sekutu bisnis, melainkan sebagai pusat dari teka-teki berdarah yang baru saja ia masuki.
"Kau membakarnya karena kau ingin melindungiku, atau karena kau ingin menghapus jejak?" tanya Alesha dengan suara lirih.
Matteo tidak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya kembali memutar kursi rodanya menghadap jendela, membelakangi Alesha sekali lagi.
"Pergilah ke kamarmu, Alesha. Kunci pintumu dari dalam. Dan jangan pernah membuka paket apa pun lagi tanpa pengawasan Marcello."
Alesha berdiri di tengah perpustakaan yang sunyi itu, menyadari bahwa ia baru saja kehilangan satu-satunya bukti fisik tentang hilangnya kakaknya.
Namun, di saat yang sama, ia mendapatkan sebuah kepastian, Kiara tidak lari. Kiara adalah korban dari sebuah permainan kekuasaan yang kini sedang menjerat leher Alesha.
Dan pria yang duduk di kursi roda itu, pria yang baru saja membakar pesan kematian di depan matanya, adalah satu-satunya orang yang memegang kunci kebenaran sekaligus menjadi ancaman terbesar bagi nyawanya sendiri.
Alesha berbalik dan keluar dari ruangan itu dengan tangan yang mengepal. Ia tidak takut pada ancaman itu. Ia justru merasa api kemarahannya mulai menyala.
Jika keluarga Al-Ricci adalah sarang monster, maka mereka belum tahu bahwa mereka baru saja memasukkan seekor serigala ke dalam kandang mereka.
Malam itu, di bawah cahaya bulan yang masuk lewat celah gorden, Alesha tidak tidur. Ia duduk di kursi kerjanya, memegang kunci kecil milik Matteo yang masih ia simpan.
Ia bersumpah, jika dia adalah "giliran selanjutnya", maka dialah yang akan memastikan seluruh Villa Al-Ricci ikut terbakar bersamanya sebelum dia jatuh.