“Kau itu memang benalu! Mengganggu dan menempel seperti parasit. Gagal mendapatkan kakaknya, sekarang adiknya yang kau incar? Dasar wanita sampah!”
Hidup Alyra hancur hanya dalam satu malam. Semua bermula saat ia memergoki lelaki yang begitu dicintainya tengah bercumbu dengan wanita lain. Alyra memilih pergi, tetapi pria itu tak terima ditinggalkan. Dalam amarah dan ego yang membabi buta, ia merenggut paksa kehormatan Alyra sehingga gadis itu hamil.
Sejak saat itu, hidup Alyra berubah menjadi mimpi buruk. Alih-alih bertanggung jawab, mantan kekasihnya justru menikahi wanita simpanannya. Sementara Alyra, yang menanggung malu seorang diri, dipaksa menerima keputusan dua keluarga untuk menikah dengan adik dari pria yang telah menghancurkan hidupnya.
Bisakah Alyra bertahan dalam ikatan tanpa dasar cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lylia Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SDUA 35
Erlan menatap tanpa berkedip pada netra indah yang masih membara. Ada sorot amarah di sana, yang langsung ditafsirkan sebagai kecemburuan oleh benaknya.
Ia mengalihkan pandang, berusaha menyembunyikan ekspresinya yang berubah, senyum tipisnya nyaris lepas.
"Kamu tersenyum, Erlando Pradana?" Alyra masih menatap tajam, samar ia melihat ujung bibir suaminya terangkat.
Segera sosok berwajah tampan itu menggelengkan kepala, rautnya kembali teduh, lembut dan tenang.
"Alyra ...." ia raih pergelangan tangan istrinya, menariknya pelan agar duduk di kasur tepat di sebelahnya. "Aku sama Fani nggak ada hubungan apa-apa, cuma kenalan lama, bersekolah dan mengejar pendidikan tinggi di kampus yang sama."
Akhirnya wanita hamil itu menurut, duduk dengan ekspresi terpaksa, enggan menatap balik suaminya.
"Aku nggak bohong. Kamu bisa tanya Andi, dia tau semuanya," ujarnya lagi.
"Kenapa aku harus repot-repot bertanya," gerutu Alyra.
"Aku tau kamu dan Fani terlibat kasus serius. Aku cuma nggak mau kamu mikir aneh-aneh dan berprasangka buruk tentang hubunganku dan dia." Erlan masih menggenggam erat tangan istrinya.
"Emangnya aku mikirin apa? Tau apa kamu soal isi kepalaku? Jangan sok tau!" ketusnya lagi.
"Ya, mungkin saja kamu berpikiran lain, kayak ... Fani adalah mantan pacar—"
"Kalian beneran ada hubungan di masa lalu?" potongnya cepat.
Erlan tercengang sesaat. Ia tak menyangka sang istri benar-benar memikirkan hal yang selama ini mengusik isi kepalanya. "Kamu ... beneran mikir aku sama Fani punya hubungan kayak gitu?"
"Barusan kamu bilang gitu." Suaranya dibuat tenang, meski dalam hatinya setengah mati menahan rasa penasaran.
Erlan menarik napas dalam, tak memutuskan pandangan, semakin menatap lekat wajah ayu seorang Alyra. "Percaya sama aku. Aku sama sekali nggak pernah ada rasa apapun sama Fani, dari dulu sampai sekarang aku cuma menganggap dia teman biasa, satu alumni, satu almamater. Pacaran? Itu nggak pernah terjadi," akunya jujur.
Alyra menunduk, terlihat jelas bibir ranumnya masih mengerucut.
"Kamu marah? Kamu nggak percaya sama suamimu ini, hm?" Erlan mendekatkan diri, mengikis jarak.
"Bukannya nggak percaya, aku cuma ...." Alyra menghela napas lesu, kemudian kembali menunduk, terdiam beberapa detik. "Aku cuma ngerasa ucapan Fani barusan ada benarnya, entah kenapa aku kesel aja mendengar fakta yang memang begitu adanya," katanya lirih.
"Maksud kamu apa? Ucapan Fani? Tentang apa?" Erlan tak memberi jeda, rentetan tanya ia lontarkan.
"Aku istrimu, tapi banyak yang nggak kuketahui tentang dirimu. Bahkan soal insomnia yang kamu derita, alergi terhadap obat, trauma masa lalu, semua tentang kamu aku belum banyak tahu," ungkapnya berterus terang.
Erlan menelan ludah, menatap nanar, lidahnya mendadak terasa kelu.
"Tahu dari mana soal insomnia? Alergi dan trauma?" ia memandang teduh, namun berusaha menerka isi kepala melalui tatapan mata.
"Ah, pasti dokter Ridho yang ngasih tau. Iya, 'kan?" tebakannya tidak meleset.
"Iya," sahutnya pelan seolah tak bertenaga. Alyra merasa telah menjadi istri yang gagal, tak mengetahui penderitaan suaminya sendiri. "Gadis itu benar, aku istri yang egois. Hanya memikirkan diri sendiri tanpa melihat luka orang lain, suamiku sendiri—"
"Alyra," sela Erlan pelan. "Orang luar tahu apa tentang kita? Kita hanya belum menemukan kesempatan untuk saling berbagi. Bukan cuma kamu, aku pun belum tau banyak tentang dirimu, kita bisa melakukannya perlahan. Bercerita, berbagi, melewati masalah bersama, kita bisa memulainya pelan-pelan, oke?"
"Tapi, Mas Erlan ...."
"Hubungan kita memang masih ambigu." Erlan menarik napas dalam, melepas genggaman.
"Ambigu?" Ada sorot kecewa yang tak dapat dijelaskan dengan kata.
'Dia ... Belum memutuskan mau dibawa kemana hubungan ini?'
.
.
.
Sore itu, setelah menemani Erlan di rumah sakit, Alyra menyempatkan diri untuk menemui sang sahabat yang pasti dirundung khawatir menunggu kabar darinya. Seminggu berlalu dirinya menghilang tanpa memberi kabar apapun.
"Lo dari mana aja sih, Al?" Annika menodong tanya begitu Alyra tiba di sebuah cafe milik keluarganya, ia menarik kursi, membiarkan sahabatnya duduk terlebih dahulu. Meski terlihat kecewa, gadis berparas cantik itu masih menunjukan kepeduliannya.
Alyra tersenyum kikuk, dia tahu bila tindakannya membuat Annika kecewa.
"Maaf, Ann ...."
Annika menghela napas, kemudian merebahkan bokong di kursi seberang Alyra. "Gue tau Lo lagi terpuruk. Tapi, ya, nggak ngilang gitu juga. Lo masih anggep temen nggak, sih?"
"Ann, pikiran gue buntu sesaat. Yang ada di kepala gue waktu itu cuma gimana caranya buat kabur, menghindari hujatan netizen." Ia menunduk, tatapannya meredup.
"Hibernasi di mana, Lo?" Raut wajah Annika belum melunak, ia masih menatap tajam.
"Ke desa Kemuning Caya," sahutnya lirih.
"Kenapa nggak ngasih tau gue, sih, Al? Kalau tau Lo bakal nemuin Oma, gue nggak bakal sekhawatir itu, nyariin Lo kayak orang linglung keliling kota!" intonasinya naik satu oktaf, hatinya merasa lega namun ekspresinya masih menyimpan kecewa.
Dia tahu, Kemuning Caya adalah kampung halaman sahabatnya.
Alyra mengangkat wajah perlahan, menatap mengiba, kelopak mata mengedip pelan. "Sorry." ia mengatupkan kedua telapak tangan, tanda permohonan.
Annika memutar bola mata, dia sama sekali tak bisa menyimpan amarah bila telah mendapat permohonan tulus dari seorang Alyra.
"Ini bukan pertama kalinya gue selalu memaklumi dan sabar, kalau bukan sahabat ... udah gue biarin Lo, nggak bakal peduli gue," katanya jengkel.
"Iya, Ann. Gue janji, ini terkahir kalinya gue bertindak dan menyimpan semuanya sendiri. Gue baru sadar ... Cuma Lo satu-satunya orang yang bisa jadi sandaran." Ia genggam lembut tangan sahabatnya, ucapannya terdengar sepenuh hati.
"Lo kenapa? Berantem sama Erlan?" ia menelisik wajah Alyra, berusaha menangkap ekspresi kecil yang terlihat janggal. "Gue kira Lo udah jatuh cinta sama suami kontrak Lo itu, punya tempat bersandar, jadi udah nggak butuh gue lagi."
Kini Alyra menatap dalam diam, tak ada jawaban, hanya sorot mata berkaca-kaca, pelupuknya mulai berair.
Ia kembali menunduk. "Kayaknya ... Gue udah berharap berlebihan, baper tanpa alasan."
"Maksud Lo apa?"
"Gue pikir, selama ini tindakan dia karena beneran peduli. Tapi ... Barusan dia bilang kalau hubungan kami berdua masih ambigu, dia belum memutuskan arah hubungan ini, Ann." Suaranya terdengar lirih. "Gue ngerasa dia melakukan itu cuma buat formalitas sebagai seorang suami—" Roboh sudah dinding pertahanan, air matanya mengucur begitu deras. Bibirnya kembali diam, ia menangis tanpa suara.
"Apa?" Annika menatap tak percaya. "Setelah dia berlari ke kantor sok mau jadi pahlawan waktu itu, terus pergi ngejar Lo. Saat itu wajahnya keliatan marah banget, campur khawatir, takut, gue juga sempat berpikir dia bener-bener peduli dan sayang sama Lo, Al," ungkapnya apa adanya.
"Tapi apa? Formalitas?" Alisnya terangkat penuh amarah. "Bener-bener, ya, laki-laki!" lanjutnya kesal.
Sementara dua sahabat tengah berbincang serius, sosok berpakaian rapi duduk di kursi sebelah — berjarak dua meja, ia membuka telinga lebar-lebar, dapat didengar jelas obrolan Alyra dan Annika.
Sudut bibirnya terangkat samar. 'Jadi ... Tindakan Erlan selama hanya sebuah formalitas? Hubungan mereka tidak seharmonis itu? Hihihi!'
*
*
Bersambung.