"Tuhan!, tidak banyak yang ku pinta, hanya kuatkan hati ku, bimbing langkahku, agar aku selalu sabar dan ikhlas dengan semua kehendak dan ketentuan mu ini".
Kisah perjuangan hidup seorang anak manusia, seorang remaja miskin, putra dari seorang penderita odgj bernama Kaenan.
Hinaan, caci maki, fitnah dan perundungan bahkan kekerasan fisik, sudah menjadi lauk makan sehari hari.
Meskipun hidup dalam kemiskinan dan tak punya siapa siapa, satu hal yang masih di yakini Kaenan, dia masih punya Allah dan doa doa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvinoor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
"Bukankah Kaenan tidak memiliki seorang teman pun di sekolah?" tanya Kiai Nuruddin menatap gadis cantik itu.
"I… iya, eh ti… tidak!" jawab gadis itu.
"Maaf nak, saya tinggalkan dulu ya" ujar Kiai Nuruddin melangkah ke ruang jenazah, memastikan siapa yang meninggal dan siapa yang masih koma.
Sementara gadis itu seperti kebingungan tak tahu apa yang harus di lakukan nya selain berdoa dan berharap.
Setelah melihat siapa yang meninggal, Kiai segera menelpon ustadz Efendi untuk menyiapkan pemakaman di TPU terdekat.
Pintu ruang UGD terbuka, dokter tadi segera keluar lagi dengan wajah letih.
"Nama mu siapa dik?" tanya dokter itu lagi.
"Nama saya Syafea, saya hanya ingin memastikan siapa yang telah mengalami musibah kecelakaan itu!" ujar gadis cantik tadi.
"Baiklah!, ayo masuk, pasien masih koma, jadi tidak bisa dipindahkan ke ruang rawat inap, tolong jangan berisik!" ....
Syafea berjalan mengiringi di belakang dokter itu, masuk kedalam ruang UGD.
Didalam ruangan itu, terlihat seorang anak muda berbaring dengan alat bantu nafas serta berbagai alat monitor terhubung ke tubuh nya.
Meskipun tubuh nya dipenuhi dengan kabel mengabel, tetapi sebagian besar dada nya terlihat dengan jelas.
Syafea berdiri terpaku ditempat nya, seluruh kekuatan nya tiba-tiba terasa sirna entah kemana.
Tanda lahir berwarna merah bergambar seekor Rajawali itu benar benar nyata, bukan rekayasa atau tipuan mata.
Syafea melangkah mendekat, menatap nanar kearah dada anak muda itu, dadanya terasa sesak seketika, tubuh nya pun gemetaran.
"A… apa yang telah ku lakukan?, oh aku membunuh nya, aku pembunuh!" bisik nya.
"Apa adik mengenal nya?" tanya dokter itu pada Syafea.
"I… iya dok!, ia keluarga saya" ujar Syafea gagap.
Didepan ruang UGD, Syafea segera menelpon papah nya, tuan Irfan.
"Halo pah!, papah dimana?" tanya gadis itu dengan suara bergetar menahan tangis nya.
"Papah di kantor Syafea, ada apa?" tanya tuan Irfan.
"Tolong papah segera ke Rumah Sakit Bhayangkara pah, segera!" ....
"Ada apa Syafea?, apa yang terjadi?" tanya tuan Irfan gugup.
"Datanglah secepat nya ke Rumah Sakit Bhayangkara pah, ku tunggu segera!" ....
"Iya!, iya!, iya!, papah segera kesana!" Jawab tuan Irfan buru buru menutup telponnya dengan panik. Dia mengira telah terjadi sesuatu dengan putri nya itu.
Selang sepuluh menitan, tuan Irfan pun muncul di ruang UGD Rumah Sakit Bhayangkara dengan langkah terburu buru. Dia mendapati Syafea duduk di kursi tunggu di depan ruang UGD dengan wajah pucat pasi dan tubuh gemetar.
"Ada apa Syafea?" tanya tuan Irfan dengan nafasnya yang ngos ngosan.
"Papah!, anak itu pah!, anak itu!" tangis Syafea pecah di pelukan papah nya yang bingung dengan ucapan putri nya.
"Anak itu apa?, papah tidak mengerti maksud mu Syafea!, anak siapa yang kau maksud kan?" ....
"Anak papah!, anak itu pah!" ....
"Anak ku?, kau jangan mengada ada Syafea, mamah mu sudah seperti itu, jangan kau tambah masalah lagi, coba bicara yang jelas, pelan pelan saja ayo!" ....
"Anak muda yang papah pukul itu anak papah yang hilang dahulu!" ujar Syafea menangis tersedu-sedu.
"Kau jangan mengada ada Syafea, adik mu sudah tewas sepuluh tahun yang lalu, sadarlah Syafea, papah tahu kau sangat menyayangi adik mu, namun tidak usah seperti mamah mu juga!" bentak tuan Irfan marah.
Syafea memperlihatkan photo Kaenan yang terlentang bersimbah darah yang dia dapat dari Jhonatan tadi.
"Lihat di dada nya pah!, lihatlah!" ....
Tuan Irfan menatap photo itu beberapa saat, hati nya bimbang, akal nya terasa menolak.
"Ah paling orang yang sama yang memiliki tanda lahir persis seperti itu, tidak mungkin adik mu!" ....
"Apa mungkin orang yang sama satu dalam satu milyar manusia pah?, lagi pula, jika benar dia adik, ada kemungkinan mamah bisa sembuh" kata Syafea.
"Iya kalau dia selamat, jika dia tewas, bisa bisa mamah mu tambah stress karena nya" bantah tuan Irfan.
"Kalau papah tidak bersedia, biar Syafea yang tes DNA pah, Syafea perlu kejelasan" tutur gadis itu.
Tuan Irfan terdiam beberapa saat, ragu antara membenarkan atau membantah kata kata putri nya.
"Baiklah Syafea, jika itu mau mu, papah akan tes DNA, dan minta hasil secepat nya" ujar tuan Irfan.
Hari itu juga, tuan Irfan minta tes DNA dengan hasil secepat nya.
Hasil tes tercepat dua hari, dan selama itu pula tuan Irfan bolak balik ke Rumah Sakit Bhayangkara.
Hari itu juga, Kiai Nuruddin memimpin pemakaman Bu Limah yang dimakankan di pemakaman umum di dekat makam almarhum suami nya.
Sudah dua hari Kaenan tidak sadarkan diri, selama itu pula, Aisyah setia menungguinya di depan ruang UGD Rumah Sakit Bhayangkara.
Sementara itu di rumah kediaman tuan Irfan, saat itu tuan Irfan sedang memegang amplop yang dia terima dari Rumah Sakit tadi siang, hasil tes DNA dirinya dan Kaenan.
Di depan nya, duduk sang istri yang hanya diam membisu sambil sesekali tersenyum, lalu bergumam sendiri dengan kata kata yang kurang jelas dimengerti.
Sementara disamping kanan wanita itu, duduk Syafea dengan perasaan yang tidak karuan.
"Ayo pah buka, lihat isi nya positif apa negatif?" tanya Syafea gugup.
Tuan Irfan tiba tiba merasa tidak tenang, jantung nya tiba-tiba bergetar kencang.
Perlahan dibuka nya amplop coklat besar ditangan nya, dan membaca isinya dengan teliti.
"Sembilan puluh delapan persen identik!" suara tuan Irfan bak petir yang menyambar kepala Syafea. Buru buru direbutnya lembaran kertas ditangan papah nya itu, dan dibacanya perlahan.
Saat selesai membaca surat itu, tangis Syafea pecah meraung raung, menjambak rambut nya, serta berusaha membenturkan kepalanya ke tembok.
Tuan Irfan berusaha menahan tindakan Syafea itu, sementara sang istri, diam seolah tidak terpengaruh apapun dengan kejadian itu.
"Stop Syafea!, hentikan nak!, hentikan!, jangan tambah masalah papah lagi!" teriak tuan Irfan dengan mata yang sudah basah.
Kali ini pria ganas yang tidak pernah mau tunduk pada siapapun itu tersedu sedu menangis.
Satu persatu tindakan nya kepada Kae terbayang kembali, bagai mana anak muda itu nyaris tewas ditangan nya sendiri.
"Aku ingin mati saja pah!, aku tidak berguna hidup, adik ku sendiri ku hina, ku rendahkan, ku fitnah, bahkan ku celakai, aku manusia biadab, aku kakak paling jahat!" teriak Syafea menangis meraung raung sambil berguling guling dilantai.
Hati tuan Irfan benar benar hancur saat ini, setelah mengetahui jika anak miskin yang selalu di bully putri nya itu ternyata putra bungsu nya juga. Putra yang terpisah semenjak bayi itu. Putra yang menjadi tumpuan harapan keluarga Hanggada, untuk meneruskan Generasi Hanggada, dan memimpin seluruh perusahaan milik keluarga Hanggada.
Kini sang putra yang sekian lama ditunggu tunggu itu terbujur koma di Rumah Sakit.
Tuan Irfan menarik nafasnya dalam-dalam, ingin membuang jauh kepedihan hati nya saat ini.
Bukan tangan orang lain, tapi tangan nya sendiri yang sudah melakukan kejahatan kepada darah daging nya sendiri.
Namun meratap dan menyesali diri, tidak akan menyelesaikan masalah, tindakan pasti lah yang diperlukan Kae sekarang ini, bukan tangisan penyesalan.
Diangkatnya wajah nya, menatap kearah sang putri, ingin sekali dia menendang gadis itu, tapi pikiran nya berkata, jika kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah nya.
"Persiapkan diri mu!, dandani mamah, sekarang juga kira ke Rumah sakit!, cepat!" suara tegas tuan Irfan menyentak kesadaran Syafea.
Beberapa waktu yang lalu, gadis itu masih berharap jika papah nya benar, itu hanya faktor persamaan belaka, anak itu bukan adik nya.
Tapi sekarang, harapan itu sudah sirna, anak muda yang selalu di jahati nya itu ternyata adik kandung nya sendiri.
Pukul lima sore, tuan Irfan sekeluarga pergi ke Rumah Sakit Bhayangkara.
Kaenan ternyata masih di ruang UGD, belum lagi siuman, masih dalam pemantauan Dokter satu kali dua puluh empat jam.
Di depan ruang UGD, terlihat ummi Nazeha dan Aisyah, duduk termenung dengan mata sembab.
Setiap detik, berjuta doa telah dipanjatkan oleh Aisyah naik ke langit, kepada sang pemilik kehidupan, memohon diberi kesempatan sekali lagi.
Air mata tidak juga mau berhenti, meskipun sekuat daya dia tahan, namun air mata itu tetap saja keluar.
Apa lagi saat Aisyah menatap tubuh terbujur kaku dibantu alat pernafasan dan berpuluh puluh alat monitor, membuat hati nya benar benar hancur luluh.
"Adik!, langit mengabaikan mu, Bumi mempermainkan nasib mu, telah ku ketuk pintu langit dengan doa doa ku, tapi tangis ku seperti tidak didengarkan, malang nasib mu adik!" gumam Aisyah perlahan. Namun tanpa disadari nya, gumaman nya terlalu nyaring, sehingga didengar oleh ummi Nazeha.
Air mata wanita lembut itu jatuh kembali sambil memeluk putri nya, berusaha saling menguatkan.
Tuan Irfan melangkah buru buru, menghampiri kedua orang wanita cantik beda usia itu.
"Kalian siapa?" tanya tuan Irfan.
"Kami saudara angkat pasien, ini umi saya, ummi Nazeha istri Kiai Nuruddin, dan saya Aisyah putri nya, kalian?" Aisyah balik bertanya.
"Saya Irfan Hanggada, orang tua dari si korban, ini istri saya Shanty dan ini Syafea putri saya" sahut tuan Irfan.
Ummi Nazeha melongo mendengar penuturan dari tuan Irfan. Bagai mana mungkin, sedangkan Kaenan yang mereka kenal, putra dari Halimah, seorang wanita penderita gangguan jiwa.
"Bagai mana mungkin pak, yang kami tahu selama ini, Kaenan putra dari ibu Halimah seorang pemulung penderita gangguan jiwa!" ujar ummi Nazeha heran.
"Panjang ceritanya bu, tapi memang benar kami orang tua dari anak itu, kalau ibu ustadzah tidak percaya, ibu bisa membaca hasil tes DNA ini bu" tuan Irfan memperlihatkan surat keterangan hasil tes DNA.
Ummi Nazeha dan Aisyah bergantian membaca keterangan itu, saling pandang tak mengerti.
Syafea duduk didekat Aisyah, mengulurkan tangan nya, berkenalan dengan gadis cantik kakak angkat Kaenan itu.
"Karena usia kita hampir sama, bagai mana jika kau ku panggil Aisyah saja dan kau memanggil aku Syafea saja?" tanya Syafea.
"Terserah kau saja" sahut Aisyah lembut.
"Bagai mana keadaan nya?" tanya Syafea perlahan.
"Masih seperti kemarin kemarin, koma!" sahut Aisyah singkat.
Syafea mengalami dilema, ingin bicara jujur, tetapi takut, terus berdusta, hatinya seperti semakin terasa sakit karena rasa berdosa nya.
...****************...