Rara Wijaya, seorang perawat muda berbakat di RS Bunda, hidup dengan luka yang dalam akibat kehilangan kedua orang tuanya. Ibu yang berhati lembut meninggal karena penyakit langka, sementara ayahnya, seorang dokter, tewas dalam kecelakaan mobil saat menolong korban tabrakan. Meskipun penuh dendam, Rara tumbuh menjadi perawat yang sangat berdedikasi.
Namun, kehidupannya berubah total ketika RS Bunda mendatangkan dokter spesialis bedah baru, dr. Arkan Pratama. Dokter muda ini dikenal dingin dan perfeksionis, yang sering meremehkan perawat. Awalnya, Rara dan Arkan selalu bertikai, sampai suatu hari Rara mengetahui bahwa Arkan adalah putra dari dokter yang menyebabkan kematian ayahnya 15 tahun lalu.
Konflik mereka memuncak ketika mereka harus bekerja sama menangani pasien kritis. Di tengah badai, mereka terjebak di rumah sakit tua yang sudah tidak terpakai - tempat yang sama di mana ayah Rara terakhir kali bekerja. Di sana, rahasia keluarga mereka terbongkar satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 : Kesalahan yang Tak Termaafkan
Tiga hari setelah operasi besar itu, Rara masih merasa lemah namun sudah diizinkan pulang dari rumah sakit. Pasien kecil mereka—Raisa—sudah sepenuhnya sadar dan kondisi kesehatannya membaik dengan stabil.
Rara sedang duduk di kantin rumah sakit, menikmati teh hangat ketika Arkan mendatanginya dengan ekspresi serius.
"Kita perlu berbicara," katanya dengan suara pelan sambil duduk di depannya. "Tentang buku harian ayahmu."
Rara mengangguk perlahan. "Aku sudah membaca beberapa halaman."
"Apa yang kamu dapatkan?"
"Bermacam-macam hal," Rara menghela napas panjang. "Namun, yang terpenting... ayahmu tidak bersalah atas meninggalnya ayahku."
Arkan menundukkan kepala. "Aku selalu yakin ayah saya bukan orang jahat."
"Namun, saya tidak mengetahui hal itu," Rara berkata dengan suara bergetar. "Aku telah menyimpan kebencian pada ayahmu—dan juga kamu—selama bertahun-tahun tanpa alasan yang valid."
"Kamu belum mengetahui fakta yang sebenarnya," Arkan berusaha menenangkannya.
"Namun seharusnya aku menyelidikinya," Rara menegaskan. "Aku telah melakukan kekeliruan yang amat serius."
"Setiap orang bisa melakukan kesalahan," Arkan menanggapi dengan bijak. "Yang terpenting adalah bagaimana kita mengatasinya."
"Aku merasa perlu menyampaikan permintaan maaf kepadamu," Rara memandang Arkan dengan pandangan mantap. "Maafkan aku, Arkan. Saya minta maaf karena telah menyalahkan mu atas sesuatu yang tidak kamu lakukan."
Arkan terdiam sesaat sebelum menjulurkan tangannya. "Tidak ada yang perlu dimaafkan. Sekarang kita sudah mengetahui kebenarannya, dan kita bisa melanjutkan hidup kita."
Rara menggenggam tangannya erat. "Kita harus melaporkan apa yang terjadi pada dr. Fahri."
Arkan mengangguk, "Aku sudah menghubungi pihak kepolisian. Mereka menemukan jenazahnya di bangunan rumah sakit lama pagi tadi."
"Bagaimana penjelasan yang akan kita sampaikan?"
"Kita akan menyatakan bahwa kita menemukan buku harian itu secara kebetulan saat menjelajahi bangunan rumah sakit lama," Arkan menjelaskan. "Kemudian, Dokter Fahri muncul, mengakui tanggung jawab atas kematian ayahmu, lalu mengancam kami. Dalam insiden perkelahian itu, ia secara tidak sengaja menembak dirinya sendiri."
"Apakah mereka akan memercayainya?"
"Dengan bukti buku harian itu, mereka seharusnya yakin," Arkan menegaskan. "Selain itu, aku menyimpan rekaman suara dari ponsel saat ia membuat pengakuan tersebut."
Rara menarik napas lega. "Jadi, pada akhirnya... semua masalah ini telah usai."
"Benar," Arkan mengiyakan. "Sekarang kita dapat memulai lembaran baru."
"Lembaran baru?" Rara memandangnya dengan rasa ingin tahu.
"Ya," Arkan tersenyum tipis—senyuman yang kian sering terlihat semenjak peristiwa di rumah sakit tua itu. "Ada sesuatu untukmu."
Ia mengeluarkan sebuah amplop dari saku bajunya, lalu menyerahkannya kepada Rara. "Ayahmu meninggalkan ini untukmu," ujarnya. "Aku menemukannya di antara berkas-berkas peninggalannya."
Rara membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya terdapat sepucuk surat tulisan tangan dari ayahnya sebelum wafat.
"Putriku yang tercinta," Rara membaca dengan suara agak gemetar. "Jika kamu membaca surat ini, itu berarti saya sudah meninggal dunia. Saya ingin kamu tahu bahwa saya sangat mencintaimu..."
Air mata mulai membasahi pipi Rara saat ia terus membaca surat penuh kasih sayang dari ayahnya yang telah lama meninggal. Di bagian akhir surat, ada satu kalimat yang membuatnya meneteskan air mata:
"...Dan ayah mohon, jangan menyalahkan siapa pun atas kepergian ayah. Ini adalah keputusan saya untuk membantu orang lain, meskipun harus mengorbankan nyawaku sendiri."
Rara mengakhiri surat itu dengan perasaan haru. "Ayah..."
"Beliau adalah seorang pahlawan," Arkan menyatakan dengan penuh penghormatan. "Layaknya putrinya."
Rara mengangkat wajahnya yang berlinang air mata. "Terima kasih, Arkan. Terima kasih atas segalanya."
"Tidak perlu mengucapkan terima kasih," Arkan tersenyum. "Kini kita bersaudara."
"Saudara?" Rara terperanjat.
"Tentu saja," Arkan mengangguk. "Mengingat ayahmu adalah sahabat karib ayahku, dan kini kita telah bersama-sama menguak realitas, hal tersebut membentuk ikatan yang menyerupai kekeluargaan."
Rara mengulas senyum di sela-sela linangan air matanya. "Saya sangat menyukai gagasan tersebut."
"Aku pun demikian," Arkan mengangguk. "Dan pada saat ini, saya memiliki sebuah pertanyaan yang ingin saya sampaikan kepadamu."
"Pertanyaan apa?"
"Maukah kamu makan malam denganku besok malam?" tanya Arkan dengan intonasi yang tidak seperti biasanya, menunjukkan keseriusan. "Bukan sebagai dokter dan perawat, bukan pula sebagai 'saudara', namun sebagai Arkan dan Rara."
Rara terdiam sesaat, sebelum akhirnya membalas dengan senyuman lebar. "Ya, aku mau."
"Bagus," ujar Arkan sembari berdiri, wajahnya tampak sedikit bersemu merah. "Aku akan menjemputmu pada pukul delapan."
Setelah Arkan beranjak pergi, Rara kembali menatap surat ayahnya dengan perasaan hangat. Untuk pertama kalinya dalam waktu bertahun-tahun, ia merasakan ketenangan. Ia telah menemukan kebenaran, memperoleh pengampunan, dan barangkali... menemukan cinta.
Ketika ia menyentuh tulisan tinta yang telah pudar di atas lembaran kertas usang itu—tinta yang ditorehkan oleh tangan ayahnya puluhan tahun silam—Rara menyadari bahwa inilah warisan paling berharga yang dapat ia terima: bukan kebencian, bukan pula dendam, melainkan kasih sayang yang melampaui segala kekhilafan manusia.
Dan saat ia melipat surat tersebut dengan cermat dan menyimpannya kembali ke dalam wadah bersama foto-foto lawas—termasuk salah satu foto ayah kandungnya dan ayah Arkan tersenyum bersama—Rara tersenyum tipis
Mereka telah melakukan kesilapan besar, namun mereka juga telah berupaya keras memperbaikinya semaksimal mungkin. Kini, estafet tanggung jawab beralih kepada Rara dan Arkan untuk meneruskan apa yang telah dirintis sebelumnya—bukan sebagai musuh yang terbelenggu oleh dendam warisan, melainkan sebagai dwi-tunggal yang bertekad melampaui cengkeraman masa lalu secara bersama-sama.
Bersambung....