Merlin percaya bahwa cinta cukup untuk membuat seseorang tetap tinggal disisinya. Sampai suatu hari, ia menyadari bahwa, cinta tidak selalu kalah oleh cinta pada orang ketiga. Melainkan, ia kalah oleh tanggung jawab.
Reyno tidak pernah benar-benar pergi dari sisinya. Dia masih pulang. Masih memanggil nama Merlin seperti biasa.
Tapi perlahan, kehadirannya berubah. Perhatiannya terbagi. Waktunya bukan lagi milik satu hati. Dan tanpa disadari, Merlin mulai kehilangan seseorang yang masih ada di sisinya.
Di antara kewajiban dan perasaan,
siapa yang seharusnya dipilih?
Dan ketika semuanya sudah terlambat,
apakah cinta masih punya tempat untuk kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yhtp *14
"Aku gak bermaksud bikin kamu sendirian atau merasa terabaikan. Aku cuma pengen bantu dia sebisaku. Soalnya aku ngerasa berhutang nyawa sama Lucas."
"Iya. Aku ngerti," jawab Merlin singkat.
Kalimat itu lagi. Jawaban itu lagi. Selalu sama. Selalu mengerti. Selalu memaklumi. Reyno menoleh, ingin menjelaskan lebih jauh, ingin meyakinkan istrinya bahwa dia tetap yang utama. Namun belum sempat ia buka mulut, Merlin lebih dulu berbicara, matanya menatap lurus ke depan, ke arah hamparan cahaya kota yang tak berujung.
"Kadang ... aku jadi mikir, lho," ucapnya pelan, hampir berbisik. Suaranya terdengar tenang, tapi ada getaran halus yang menyelinap di sana.
"Mikir apa?"
"Kadang aku mikir, yang bikin kita merasa sepi itu bukan karena ditinggal sendirian. Bukan karena rumah kosong, bukan karena nggak ada orang di sebelah kita," kata Merlin perlahan, setiap kata keluar dengan berat. Ia menoleh sedikit, menatap profil wajah suaminya.
"Terus apa?" tanya Reyno, hatinya mulai berdebar tidak enak.
"Yang bikin sepi itu, merasa gak ditemenin. Meski orangnya ada di sebelah kamu," jawab Merlin pelan namun tegas. "Yang bikin sakit itu, tau kalau badan kamu ada di sini, tapi pikiran dan hati kamu ada di tempat lain. Ada di orang lain."
Sunyi seketika. Kalimat barusan itu jatuh pelan di udara malam yang dingin, namun terasa begitu berat, begitu tajam, dan begitu menusuk ulu hati. Reyno kehilangan jawaban. Mulutnya terbuka sedikit, tapi tak ada satu kata pun yang mampu keluar. Ia tahu betul apa yang dimaksud istrinya. Ia tahu Merlin sedang bicara tentang dirinya. Tentang mereka. Tentang kenyataan pahit yang ada di antara mereka sekarang.
Dan yang paling menyebalkan, Reyno sadar ia tidak bisa membela diri sepenuhnya. Ia tidak bisa marah atau merasa tersinggung. Karena semua yang dikatakan Merlin itu benar. Semuanya adalah fakta pahit yang ia coba tutupi.
Belum sempat ia membalas atau meminta maaf, ponsel di saku celananya tiba-tiba berbunyi nyaring. Nada dering yang sama. Nada yang sudah terlalu sering ia dengar belakangan ini.
Refleks, tubuh Reyno langsung menegang. Ia merogoh sakunya dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu menatap layar yang menyala terang. Di sana tertulis jelas nama seorang wanita. Yara.
Ia melirik sekilas ke arah Merlin. Wanita itu hanya melirik layar ponselnya sekilas saja. Lirikan datar, tanpa ekspresi, lalu kembali menunduk menatap bukunya seolah tidak ada hal penting yang baru saja terjadi.
"Aku ... aku angkat dulu ya, Mer. Siapa tahu ada hal penting," ucap Reyno dengan suara hati-hati, seolah meminta izin, seolah takut akan reaksi istrinya.
Merlin hanya mengangguk kecil. "Iya. Angkat aja."
Reyno langsung bangkit berdiri, berjalan sedikit menjauh ke sudut balkon agar suaranya tidak terlalu terdengar. Ia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinga.
"Halo?"
Namun baru beberapa detik mendengar suara di seberang sana, wajah Reyno langsung berubah. Kerutan keningnya makin dalam, matanya melebar, dan raut khawatir langsung memenuhi seluruh wajahnya.
"Hah? Sekarang? Apa maksudnya lemas banget?" Suaranya terdengar kaget.
Di belakangnya, Merlin perlahan menundukkan kepala. Jemarinya mencengkeram halaman buku itu sampai kertasnya sedikit terlipat. Entah kenapa, hatinya sudah bisa menebak akhir dari malam ini. Sudah sangat hafal dengan alasan-alasan yang akan keluar selanjutnya.
"Iya, iya ... jangan panik dulu ya, tarik napas. Tenangin diri kamu," suara Reyno terdengar begitu lembut, begitu sabar, begitu perhatian. Perhatian yang rasanya sudah lama sekali tidak ia berikan pada Merlin. "Tunggu di situ aja ya. Jangan kemana-mana. Aku datang sekarang. Aku jalan sekarang juga."
Telepon terputus. Keheningan kembali menyelimuti mereka, namun kali ini jauh lebih berat.
Reyno memasukkan ponselnya kembali ke saku, lalu berbalik badan menghadap istrinya. Wajahnya penuh rasa bersalah, tapi di matanya masih tersisa sisa kekhawatiran yang besar.
"Mer ..." panggilnya pelan.
Merlin menutup bukunya perlahan, rapi sekali, lalu meletakkannya di meja kecil di sampingnya. Ia menatap suaminya dengan tatapan yang sudah tidak terkejut lagi, tidak marah lagi, tidak berharap lagi.
"Yara kenapa lagi?" tanyanya lirih, lebih seperti pernyataan daripada pertanyaan.
"Dia ... dia hampir pingsan lagi. Katanya lemas banget, dari tadi belum makan apa-apa, dan sendirian di apartemen. Katanya dia takut kalau ada apa-apa sama dia, nggak ada yang tau," jelas Reyno cepat, napasnya sedikit terengah karena buru-buru. Ia mengusap wajahnya dengan frustrasi. "Aku harus ke sana, Mer. Aku nggak tenang kalau diem aja di sini."
Merlin mengangguk pelan. Gerakan kepala yang lambat dan berat.
"Aku ke sana bentar ya. Gak lama kok. Cuma nganterin makan, nunggu dia makan, terus aku langsung balik lagi ke sini. Janji deh," ucap Reyno lagi, berusaha meyakinkan, padahal kalimat itu sudah ribuan kali keluar dari mulutnya.
Dan lagi-lagi, kalimat itu terdengar begitu familiar, begitu sering didengar, dan begitu sering dibatalkan janjinya. Merlin tersenyum kecil. Senyum yang kali ini terasa begitu lelah, begitu kosong, dan begitu pasrah.
"Iya. Pergi aja," jawabnya singkat.
Reyno menatapnya beberapa detik lamanya. Ia ingin sekali mengatakan sesuatu. Ingin sekali meminta maaf panjang lebar. Ingin sekali bilang bahwa Merlin tetap yang paling ia cintai. Namun akhirnya ia hanya memilih diam.
Karena bahkan dirinya sendiri sadar, bahwa dia terlalu sering pergi. Ia terlalu sering mendahulukan orang lain. Ia terlalu sering membuat wanita di depannya ini menunggu sia-sia.
"Maaf ya. Makasih udah ngerti terus," ucap Reyno akhirnya, lalu bergegas masuk ke dalam kamar untuk mengambil kunci mobil dan jaketnya.
Suara pintu depan terbuka dan tertutup kembali. Bunyi kunci diputar dari luar. Lalu hening. Sepenuhnya hening.
Setelah Reyno benar-benar pergi, Merlin tetap duduk diam di kursi balkon itu. Sendirian. Seperti malam-malam sebelumnya.
Buku tebal di pangkuannya masih terbuka di halaman yang sama sejak tadi. Namun jujur saja, tidak ada satu kata pun, tidak ada satu kalimat pun yang masuk ke kepalanya. Matanya melihat tulisan itu, tapi pikirannya melayang jauh ke mana-mana.
Angin malam bertiup lagi, kali ini terasa lebih dingin, menusuk sampai ke tulang. Namun tidak sedingin dadanya sendiri. Tidak sedingin perasaannya yang perlahan membeku.
Ia perlahan memeluk lututnya sendiri sambil menundukkan kepala di atas kedua lengannya. Menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah dan berair.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, di tengah dingin dan sepinya apartemen itu, Merlin mulai bertanya dalam hatinya, bertanya hal yang paling ia takutkan. Kalau suatu hari nanti aku benar-benar pergi, benar-benar hilang dari hidupmu, apakah kamu akan sadar kalau aku hilang? Atau justru ... kamu baru menyadarinya saat semuanya sudah terlambat?
🥹🥹