kisah ini menceritakan seseorang yang menggunakan santet untuk guna-guna orang lain dengan menggunakan santau.
Siap. Ini narasi yang bisa kamu pake buat sinopsis/blurb Noveltoon _Kutukan Santau_:
---
*NARASI*
Santau. Racun yang dikirim lewat angin, menumpang di makanan, menyelip di tatapan mata.
Katanya tak berbekas, tapi membusukkan tubuh dari dalam dan pada akhirnya orang tu lah yang akan tersakiti
pesan:
*"Santau itu perjanjian. Sekali kau lepas, dia akan pulang menagih nyawa. Kalau bukan nyawa musuhmu... ya nyawamu sendiri."*
_Siapa yang menggunakan santau, pada akhirnya dia yang akan mendapatkan balasannya._
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22
Hampir menyelang isya, yang pertama kali datanga adalah pak Rt."assalamualaikum".
"Wa'alaikumsalam".ucap Kadir yang duduk di ujung tikar, matanya tidak lepas dari pintu depan. Pak RT langsung menyalami kadir dan duduk disampinnya. Tapi tangannya yang menggenggam tasbih tidak berhenti dan tersebut Allahm di balik sarungnya terselip golok kecil warisan ayahnya karsa. Bukan untuk menyerang duluan. Hanya untuk memastikan, kalau malam ini ada yang datang membawa niat buruk, dia tidak akan tinggal diam lagi.
"Kalau mereka datang pas orang-orang lagi baca tahlil," ulang Kadir pelan, "itu artinya mereka tidak takut pada manusia... tapi kita lihat, apakah mereka takut pada Allah." itulah yang sering kadir bacakan.
Pak Rt yang mendengar gumaman kadir hanya mengangguk dan Tasbih di tangannya berputar lebih cepat.
"Allah tidak tidur,,,,Kadir?. Yang tidur itu iman manusia."
Suara azan isya akhirnya pecah dari masjid di ujung kampung. Bergema, bercampur dengan deru petir yang makin dekat. Beberapa tetangga sudah mulai berdatangan, payung di tangan, wajah mereka waspada, takut kejadian pada malam kemarin akan terulang lagi.
Ayu duduk di belakang Kadir, mukena putih menutup tubuhnya yang masih pucat. Napasnya teratur, tapi tangannya dingin. Di pangkuannya buku Yasin yang sudah usang itu terasa berat."Jangan takut," bisik Wati dari samping. "Baca aja bareng kami. Suara kau itu bentengnya juga."
Pintu rumah ditutup rapat. Lampu luar dimatikan, menyisakan cahaya dari dalam dan kilat yang sesekali menyambar langit. Dan di barisan belakang ada Pak Samsul yang juga mengikuti tahlilan, tapi tangannya gemetar saat imam mulai membaca ayat
Imam memulai pembukaan. Suara "Al-fatihah..." mengalir pelan, diikuti jawaban serempak dari tamu yang hadir. Hanya Samsul yang tidak tenang saat imam sedang melakukan doa untuk mendoakan Midah.
Suara "Al-fatihah..." mengalir pelan, diikuti jawaban serempak dari tamu yang hadir.
Untuk sesaat, ruang tengah yang tadinya mencekam berubah tenang. Cahaya lilin menari pelan di dinding, dan setiap kali kilat menyambar, bayangan orang-orang yang duduk berbaris hanya bergoyang sebentar lalu kembali diam.
Ayu menarik napas dalam. Tangannya yang dingin perlahan menghangat saat jari-jarinya menelusuri huruf di buku Yasin yang usang. Suara Imam membaca ayat demi ayat terasa berat, tapi juga menenangkan. Seolah tiap kata menjadi tali yang menariknya keluar dari lubang gelap semalam."Jangan takut," bisik Wati lagi, suaranya pelan tapi pasti. "Kita semua di sini buat jaga kau."
Ayu mengangguk kecil, Ia ikut membaca. Suaranya pelan di awal, hampir tidak terdengar, tapi makin lama makin jelas. Di sampingnya, kadir menutup mata, bibirnya komat-kamit membaca ayat demi ayat untuk mendoakan melindungi anaknya dan ketentraman rumahnya.
Di luar, hujan akhirnya turun. Deras. Mengetuk atap seng dengan suara yang tadinya terdengar mengancam, kini justru seperti peredam. Menenggelamkan suara-suara asing yang sempat mengintip dari luar.
Lampu yang mati tadi tidak kunjung menyala, tapi tak ada yang peduli. Cahaya lilin cukup. Bahkan lebih terang dari biasanya, karena tidak ada satu pun tamu yang berbisik atau menoleh ke belakang. Semua fokus....dan khusyuk.
Saat sampai pada doa tahlil untuk Midah, Kadir mengangkat kedua tangannya. Suaranya bergetar, tapi jelas.
"Ya Allah, ampuni dosa-dosa Midah, istriku. Ringankan siksa kuburnya, lapangkan jalannya. Dan jagalah anak-anak yang kau tinggalkan untukku."
"Al-fatihah..." jawab semua serempak.
Di tengah bacaan itu, bau amis dan kemenyan yang sempat tercium samar sejak sore tadi perlahan memudar. Digantikan wangi melati dari bunga tabur di atas foto Midah.
Tidak ada pintu yang berderit. Tidak ada tawa aneh dari luar. Tidak ada angin dingin yang merayap masuk. Tahlilan berjalan lancar sampai selesai.
Saat doa penutup dibaca, petir terakhir menggelegar jauh di bukit. Lalu hujan reda. Samsul kut menarik napas lega, karena selama pembacaan doa, hidupnya tidak tenang telapak tangannya dingin
Imam menutup mushafnya. "Alhamdulillah, acaranya lancar. Semoga almarhumah diterima di sisi-Nya, dan keluarga diberi ketabahan."
Saat doa penutup dibaca, petir terakhir menggelegar jauh di bukit. Lalu hujan reda.
Samsul menarik napas lega. Selama pembacaan doa tadi, hidupnya tidak tenang. Telapak tangannya dingin, keringatnya tidak berhenti meski udara sudah dingin karena hujan. Baru sekarang bahunya bisa turun sedikit.
Imam menutup mushafnya pelan.
"Alhamdulillah, acaranya lancar. Semoga almarhumah diterima di sisi-Nya, dan keluarga diberi ketabahan."
"Al-fatihah..." jawab tamu-tamu serempak. Suara mereka pelan, tapi penuh.
Begitu selesai, Wati, suami Wati, adiknya dara para ipar langsung bangkit. Mereka sudah menyiapkan makanan sejak sore—nasi tumpeng kecil, ayam goreng, kue apem, dan air putih dalam gelas beling. Biasa untuk tahlilan, tapi malam ini rasanya lebih berarti.
"Mari, Pak, Bu... silakan dimakan dulu sebelum pulang," kata Wati pelan, suaranya masih bergetar sedikit.
"Anggap saja ini dari kami sekeluarga. Biar almarhumah ibu ikut senang lihat tamunya makan dengan tenang."
Tetangga yang tadi khusyuk langsung tersenyum lega. Ada yang mengusap dada, ada yang berbisik, "Alhamdulillah, aman."
Piring-piring dibagikan satu per satu. Bau ayam goreng dan nasi hangat pelan-pelan mengusir sisa hawa dingin yang tadi menempel di ruangan. Anak-anak para tetangga dan cucunya kadir yang yang ikut datang mulai berbisik riuh, senang karena akhirnya boleh makan.
Kadir duduk di pojok, matanya mengawasi. Ia tidak makan dulu. Tangannya masih memegang gelas air putih, sesekali meneguk kecil seolah memastikan tenggorokannya tidak tercekat lagi.
Wati yang duduk di sampingnya, mengambil sepotong apem.
"Makan dulu ayah. Kalau ayah jatuh sakit, siapa yang akan menjaga ayu?"
Kadir menoleh, lalu mengangguk pelan. Ia mengambil sepiring nasi. Tidak banyak, tapi cukup untuk mengembalikan tenaganya.
Di sisi lain, Ayu ikut membantu Wati membagikan kue. Wajahnya masih pucat, tapi langkahnya sudah tidak goyah. Setiap kali ada tetangga yang menepuk bahunya dan berbisik "Syukurlah kau selamat, Dek," Ayu hanya mengangguk kecil.
Makanan habis dalam waktu setengah jam. Tamu-tamu pamit satu per satu, membawa doa dan senyum yang lebih tenang dari saat datang.
"Kalau kamu suka ceritanya sampai sini, bantu aku kasih rating 5 bintang ya. 1 bintang dari kamu \= semangat buat aku nulis chapter besok!"
> "Jujur ya, rating kamu ngebantu banget biar cerita ini bisa dibaca lebih banyak orang. Kalau suka, ketuk bintangnya ya 🙏"
*Ajak Share Cerita*
> "Rasain seramnya sendirian itu nggak enak. Share cerita ini ke temen yang suka horor biar kita takut bareng-bareng!"
> "Bantu aku sebarkan 'Kutukan Santau' ya. Makin banyak yang baca, makin cepat misterinya kebongkar."
*Bikin Pembaca Nunggu Update*
> "Chapter besok bakal jawab 1 pertanyaan besar: Siapa dalang sebenarnya. Jangan lupa follow biar nggak ketinggalan!"
> "Update selanjutnya ya in syaa Allah akan setiap hari. Komen 'Hadir' kalau kamu nunggu!"
*Minta Kritik & Saran*
> "Aku masih belajar nulis. Kalau ada bagian yang kurang pas atau bikin bingung, komen aja ya. Masukan kamu penting banget buat aku."