NovelToon NovelToon
Cegilnya Mas Ajudan

Cegilnya Mas Ajudan

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Menikahi tentara / Duniahiburan
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Sebagai putri anggota DPR sekaligus model papan atas, Aurora Widjaja punya segalanya. Namun, hatinya justru jatuh pada Langit Ardiansyah, ajudan sang ayah yang kaku, dingin, dan sangat terikat protokol.
Bagi Langit, Aurora adalah tanggung jawab yang harus dijaga. Bagi keluarga Widjaja, hubungan dengan ajudan adalah skandal yang harus dihindari. Namun bagi Aurora, aturan dan kasta hanyalah rintangan yang siap ia tabrak.
Saat dunia melarangnya mendekat, Aurora justru memilih maju. Karena bagi seorang Aurora, mencintai Langit bukan lagi soal status, tapi soal hati yang sudah jatuh sedalam-dalamnya—to the bone.
“Mas Langit nggak usah repot-repot jaga jarak. Mau sejauh apa pun Mas lari, tujuannya tetep cuma satu: Jadi imam aku.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

Bau menyengat disinfektan dan suara detak jam dinding di ruang perawatan VVIP itu terasa menekan. Aurora terbaring lemas dengan pergelangan kaki yang sudah dibalut gips tipis dan beberapa plester menempel di lengan serta dahinya. Wajahnya masih pucat, namun matanya yang sembab memancarkan api pemberontakan yang belum padam.

Pintu ruangan terbuka lebar dengan dentuman yang cukup keras. Anggara Widjaja melangkah masuk dengan wajah merah padam, diikuti oleh Melati yang tampak cemas, serta Elang dan Haura yang masih mengenakan pakaian rumah.

"Aurora! Papa kan sudah bilang jangan berkuda sendirian! Berapa kali Papa harus ingatkan kalau itu bahaya buat kamu?" suara Anggara menggelegar, memenuhi ruangan yang tadinya sunyi. "Kamu itu publik figur, kalau sampai ada luka permanen di wajah atau kaki kamu, bagaimana dengan kontrak-kontrak kamu? Kamu tidak berpikir panjang!"

Aurora memejamkan matanya rapat-rapat, tangannya meremas seprai rumah sakit. "Apa sih, Pa? Berhenti ngomel. Bikin telinga aku makin sakit. Aku baru aja jatuh, bukan habis menang lotre. Bisa nggak tanyain dulu bagian mana yang sakit?"

"Papa tanya karena Papa peduli, Ra!" seru Anggara lagi.

"Peduli sama kontrak aku atau peduli sama aku?" sahut Aurora tajam. Ia mencoba memperbaiki posisi duduknya, namun rintihan kesakitan lolos dari bibirnya saat punggungnya bergesekan dengan sandaran tempat tidur. "Aduh... badan aku sakit semua. Jangan ditambahin sama suara Papa yang kayak toa masjid."

Melati segera mendekat, mengusap dahi Aurora dengan lembut. "Ssh... sudah, jangan bertengkar. Yang penting Aurora sudah ditangani dokter. Tadi untung sekali Langit cepat bertindak."

Haura melangkah maju, duduk di pinggir tempat tidur sambil menatap kakaknya dengan mata bulatnya. "Kak, lo beneran bikin gue panik setengah mati tahu nggak tadi? Pas Kak Mayang telepon sambil nangis-nangis, gue kira lo kenapa-napa. Untung Mas Langit langsung tancap gas bawa lo ke sini. Dia tadi lari-larian lho, Kak, pas bawa lo ke IGD. Mukanya pucat banget, lebih pucat dari lo."

Mendengar nama Langit, dada Aurora terasa sesak. Ia melirik ke arah pintu yang sedikit terbuka, di mana ia tahu Langit pasti sedang berdiri berjaga di luar, kembali ke mode "robot" yang kaku setelah tadi sempat menunjukkan emosi yang nyata.

Aurora menoleh ke arah ayahnya yang masih berdiri tegak di ujung tempat tidur. Sebuah senyum sinis yang getir muncul di wajahnya.

"Kok bukan Papa yang tancap gas waktu aku jatuh?" tanya Aurora, sengaja menyindir dengan nada yang menusuk. "Biasanya kan Papa paling jago soal instruksi dan protokol. Kenapa tadi malah Mas Langit yang lebih dulu nyampe daripada orang tuaku sendiri?"

Anggara mengerutkan kening. "Papa sedang ada rapat penting tadi, Aurora. Begitu dapat kabar, Papa langsung batalkan semua dan ke sini."

"Rapat lebih penting ya dari nyawa anak Papa?" Aurora tertawa hambar, air matanya kembali menggenang. "Atau Papa terlalu sibuk mikirin gimana cara misahin aku sama orang yang beneran peduli sama aku?"

Suasana ruangan mendadak menjadi sangat dingin. Melati mencoba menenangkan, namun Aurora menjauhkan tangannya. Ia menatap lurus ke mata Anggara, menantang wibawa sang anggota DPR tersebut.

"Papa ngomong apa aja sama Mas Langit sampai dia ngejauhin aku? Sampai dia blokir nomor aku?" tanya Aurora dengan suara bergetar. "Papa ancam dia? Papa bilang dia nggak pantes buat aku karena dia cuma ajudan?"

"Aurora, jaga bicaramu di depan Papa!" Elang memperingatkan dengan nada rendah.

"Kenapa? Aku salah? Mas Langit itu orang paling jujur yang pernah aku temui, dan Papa hancurin itu cuma demi 'reputasi' keluarga kita yang diagung-agungkan itu?" Aurora tidak peduli lagi. "Papa pikir dengan ngejauhin dia dari aku, aku bakal jadi anak penurut yang bakal nikah sama pilihan Papa nantinya?"

Anggara menarik napas panjang, mencoba mengontrol emosinya. "Papa melakukan itu untuk kebaikan kamu dan kebaikan Langit. Kamu tidak tahu apa-apa tentang beban yang dia tanggung kalau dia tetap dekat dengan kamu."

"Aku tahu satu hal, Pa," potong Aurora. "Kalau Papa heran kenapa aku bisa sekeras kepala ini... itu karena Papa juga. Sifat kita itu sama, Pa. Karena aku anak Papa. Aku nggak bakal berhenti sampai aku dapetin apa yang aku mau. Papa bisa kunci aku di rumah, Papa bisa blokir komunikasi kami, tapi Papa nggak bisa blokir perasaan aku."

Anggara terdiam. Ia melihat cerminan dirinya sendiri di mata Aurora—keras, pantang menyerah, dan berani menantang siapa pun demi tujuannya. Ada rasa bangga yang aneh sekaligus rasa kesal yang luar biasa di hati Anggara.

"Papa mau aku jadi model papan atas, aku kasih. Papa mau aku jaga nama baik di depan media, aku lakuin. Tapi buat urusan hati... jangan pernah Papa sentuh," ucap Aurora final. Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela, menolak untuk bicara lebih lanjut. "Sekarang tolong semuanya keluar. Aku mau istirahat. Dan bilang sama Mas Langit... jangan pergi dulu sebelum aku izinin."

Anggara menatap putrinya cukup lama sebelum akhirnya berbalik. "Ayo kita keluar. Biarkan dia tenang dulu."

Satu per satu anggota keluarga keluar. Melati mencium kening Aurora sekali lagi sebelum menyusul suaminya. Saat pintu hampir tertutup, Aurora bisa melihat bayangan Langit di luar. Pria itu berdiri diam, menunduk saat Anggara melewatinya.

Begitu ruangan sunyi, Aurora menangis dalam diam. Rasa sakit di tubuhnya tidak sebanding dengan rasa sakit melihat tembok kasta yang dibangun ayahnya begitu tebal. Namun, seperti kata-katanya tadi, ia adalah anak Anggara Widjaja. Ia tidak akan menyerah pada protokol, tidak akan tunduk pada kasta, dan ia akan memastikan bahwa 'Mas Ajudan'-nya kembali padanya, bagaimanapun caranya.

Di luar pintu, Langit menyandarkan punggungnya ke dinding rumah sakit. Ia mendengar setiap kata-kata Aurora tadi. Tangannya terkepal di samping tubuh. Hati sang ajudan yang selama ini ia jaga agar tetap sedingin es, kini mulai mencair oleh keberanian gadis yang sedang terluka di dalam sana.

"Kamu benar-benar anak Papa kamu, Aurora," gumam Langit pelan, sebuah senyum pahit terukir di wajahnya yang lelah.

***

Suasana koridor rumah sakit yang biasanya tenang mendadak pecah oleh suara langkah sepatu pantofel yang beradu cepat dengan lantai marmer. Rio, dengan kemeja yang sedikit berantakan dan napas yang memburu, berlari menyusuri lorong VVIP. Wajahnya menunjukkan kepanikan yang luar biasa; bagi seorang manajer, keselamatan Aurora adalah prioritas utama, baik sebagai sahabat maupun sebagai aset industri hiburan.

Ia berhenti mendadak di depan pintu ruang rawat nomor 101. Di sana, Mayang berdiri menyandarkan punggungnya ke dinding dengan wajah yang tampak sangat lelah. Di samping pintu, berdiri tegak seorang pria dengan setelan hitam yang tampak sangat kontras dengan suasana rumah sakit.

"Gimana Aurora? Dia nggak apa-apa kan? Ada yang patah? Mukanya gimana? Lecet nggak?!" berondong Rio tanpa basa-basi, suaranya naik satu oktav karena cemas.

Mayang menghela napas, mengangkat tangannya untuk memberi isyarat agar Rio merendahkan suaranya. "Pelan-pelan, Yo. Ini rumah sakit, bukan lokasi syuting."

"Ya gimana gue nggak panik! Beritanya udah mulai kecium media kalau mobil keluarga Widjaja masuk IGD!" sahut Rio sambil menyeka keringat di dahinya.

"Kakinya gips ringan, tangannya lecet-lecet kena batu. Untungnya nggak ada yang fatal di bagian wajah," jelas Mayang pelan. Ia melirik ke arah pintu kayu yang tertutup rapat. "Dia sih udah tidur sekarang. Setelah tadi sempat ngoceh panjang lebar sama Pak Anggara, terus nangis sampai sesak napas. Kayaknya dia beneran habis energinya."

Rio menghembuskan napas lega, namun matanya kemudian tertuju pada sosok pria yang berdiri membisu di sebelah Mayang. Pria itu tampak sangat waspada, matanya terus menyapu koridor meski tubuhnya tidak bergerak sedikit pun. Rio menyipitkan matanya, mencoba mengingat-ingat.

"Eh lo... Langit-langit itu ya?" tanya Rio dengan nada yang sedikit tidak bersahabat. Ia melangkah maju, berdiri tepat di depan Langit. "Ajudan barunya Aurora kan? Ngapain lo masih di sini? Kan keluarganya udah ada di dalam tadi?"

Langit menoleh perlahan. Tatapannya datar, namun ada intensitas yang membuat Rio sedikit merasa terintimidasi. "Saya menjalankan perintah untuk tetap berjaga di sini sampai keadaan dinyatakan benar-benar kondusif."

Rio mendengus sinis. "Kondusif? Lo tau nggak, gara-gara lo telat atau gimana tadi, Aurora sampai jatuh kayak gini? Gue denger dari kru di Bogor kemarin, mood-nya dia ancur gara-gara lo."

"Rio, cukup," tegur Mayang, namun Rio tidak mendengarkan.

"Gue nggak tau apa yang lo lakuin ke dia sampai dia jadi 'cegil' yang depresi begini," lanjut Rio sambil menunjuk dada Langit dengan jarinya. "Tapi denger ya, Mas Ajudan. Aurora itu bintang. Dia punya masa depan yang berkilau. Jangan sampai kehadiran lo yang kaku dan penuh aturan protokol ini malah ngerusak dia. Dia itu butuh kebebasan, bukan penjagaan yang bikin dia merasa dipenjara."

Langit tidak menarik diri. Ia tetap berdiri di posisinya, menatap Rio dengan tenang. "Tugas saya adalah memastikan keselamatannya. Jika kebebasan yang Anda maksud justru membahayakan nyawanya, maka saya akan tetap berada di garis depan untuk membatasinya."

"Halah, bahasa lo ketinggian!" Rio berkacak pinggang. "Lo itu cuma staf. Jangan merasa paling tau apa yang terbaik buat Aurora. Dia jatuh dari kuda hari ini itu karena kepalanya penuh sama masalah yang lo buat. Jadi mending sekarang lo pergi deh, biar gue sama Mayang yang jagain dia."

"Saya hanya akan pergi jika Bapak Anggara atau Non Aurora sendiri yang memerintahkannya," balas Langit tenang namun tegas.

"Lo—"

"Sudah! Stop!" Mayang menengahi keduanya, berdiri di tengah-tengah Rio dan Langit. "Rio, lo baru dateng bukannya nanyain detail medis malah berantem sama Langit. Dan Langit, makasih ya buat tadi. Kalau bukan karena lo yang gercep, mungkin Aurora masih tergeletak di tanah."

Rio mendengus, membuang muka. "Gue cuma nggak mau Aurora makin pusing liat muka dia pas bangun nanti."

Tepat saat itu, pintu ruang rawat terbuka sedikit. Haura melongokkan kepalanya keluar. "Sshhh! Berisik banget sih di luar. Kak Aurora kebangun tahu!"

Ketiganya langsung terdiam. Tak lama kemudian, suara serak Aurora terdengar dari dalam. "Siapa sih yang berisik? Kak Rio ya? Suruh masuk!"

Rio segera merapikan jasnya dan masuk dengan wajah yang dibuat seceria mungkin. Mayang menyusul di belakangnya. Langit tetap di luar, namun ia sempat melihat sekilas ke dalam sebelum pintu tertutup kembali. Ia melihat Aurora duduk bersandar, rambutnya berantakan, dan matanya langsung mencari-cari ke arah pintu—mencari sosok yang tidak ikut masuk.

"Aurora sayang! Ya ampun, kok bisa begini sih?" Rio langsung menghambur ke samping tempat tidur.

"Kak Rio... berisik," gumam Aurora lemah. Matanya melirik Mayang. "Mana dia?"

"Siapa? Dokter?" tanya Rio pura-pura tidak tahu.

"Mas Langit. Dia masih di luar?"

Mayang mengangguk kecil. "Masih. Dia nggak mau pergi sebelum lo yang suruh."

Aurora terdiam sejenak, sebuah senyum tipis yang getir muncul di bibirnya. "Baguslah. Biarin dia di situ. Biar dia ngerasain gimana rasanya berdiri kaku di luar pintu sementara hatinya mau masuk ke dalam."

"Ra, udah deh. Jangan pikirin dia dulu," sela Rio. "Pikirin gimana cara kita jelasin ke klien soal jadwal yang berantakan ini."

Aurora mengalihkan pandangannya ke jendela. "Kasih tau mereka, aku lagi belajar kalau kasta itu ternyata lebih keras daripada aspal tempat aku jatuh tadi."

Di luar, Langit mendengar samar suara tawa kecil Aurora yang diiringi ringisan sakit. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding rumah sakit, memejamkan mata. Ia tahu, setiap detik ia berdiri di sana, ia sedang melanggar janjinya pada Anggara. Namun, ia juga tahu, menjauh dari Aurora saat gadis itu terluka adalah hal paling mustahil yang pernah diminta darinya.

"Satu hari lagi, Aurora," bisik Langit dalam hati. "Hanya sampai kamu benar-benar sembuh. Setelah itu, aku akan kembali menjadi tembok yang paling kaku untukmu."

Namun Langit tahu, tembok itu sudah mulai retak, dan tak ada protokol mana pun yang bisa memperbaikinya lagi.

1
apiii
kapan jinaknya ini bapak"🤣
Rita Rita
🤭🤣🤣 Aurora bikin mas ajudan hidup terasa mati tapi mati paling nikmat, AQ aja berasa Jak jek Jak jantung baca aksi nekad Aurora 🤣😍😍
Istrinya _byeonwooseok💃: tungguin gebrakan Aurora selanjutnya ya kak🤣🙏
total 1 replies
Yosi Indah
alur dan penulisannya bagus, lanjut kak 😍
Istrinya _byeonwooseok💃: hehe maaciw😍
total 1 replies
apiii
si cegil makin cegil🤣
Fitri Yama
Mereka ngapain Thor??main kuda2 an kah???
Istrinya _byeonwooseok💃: belom sampe itu padahal 🤣
total 1 replies
Rita Rita
kasihan dengan dua anak manusia yg sama Dimata tuhan tapi sangat berbeda Dimata manusia yg punya pangkat dan jabatan. cinta terhalang kasta dan restu,,
apiii
lebih ganas ternyata dari singa nasution🥲
Istrinya _byeonwooseok💃: no no jangan disamain ya. yang ini diam-diam menghanyutkan 🤭🙏
total 1 replies
apiii
semangat ya cegil dan mas langit💪
apiii
demi apapun kagetttt🤣
Istrinya _byeonwooseok💃: jangan kaget ya sama cegil🤭
total 1 replies
apiii
akhirnya ya
apiii
semangat cegilll🤣
apiii
berhasil gasihh si cegil ini🤣
SuryaDharma S
bagus sich ceritanya...
apiii
kerja bagus kejar terus cegill
English Lesson
😍
English Lesson
bagus👍🏻
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
bapaknya jahat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!