Kesalahpahaman membuat dua remaja seperti Tom & Jery ini terpaksa menikah di usia 18 tahun. Qanita Langit Zoe adalah gadis nakal dengan sejuta ide. Baginya membuat ulah adalah sebuah hobi. Sejak awal sekolah dia dipertemukan dengan Mahendra Ghabumi Adelard, salah seorang bad boy yang hobi membuatnya emosi.
Langit menyukai Albiru, dokter magang tampan yang tinggal tepat di sebelah rumahnya. Namun bagaimana jadinya jika kesalahanpahaman malah membuatnya harus menikah diam-diam dengan Bumi, bukan dengan pria yang dia sukai.
Apalagi begitu menikah Bumi mempunyai sejuta rahasia yang baru Langit ketahui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22
[22] Jatuh Cinta
"Pa, Ma. Langit mau ngadu."
Bumi langsung menoleh cepat pada Langit di sebelahnya. Pagi ini Bumi datang lebih cepat untuk sarapan. Ditolak Langit malah ngespam dan marah-marah. Daripada Diomelin selama seharian, dia menurut sekalian sekolah bareng.
Orlin dan Ezhar yang tengah menikmati makan mereka mendongak dengan raut penasaran.
"Kak Langit mau ngadu apa?"
"Masa Bumi ngajak Langit pacaran. Kan dosa." Langit melirik jengkel Bumi di sebelahnya yang langsung tersedak.
Orlin tertawa sedang Ezhar seketika menutup mulutnya menahan tawa. "Kak Langit ya, apa salahnya?"
"Mama papa bilang dosa. Langit nolak loh. Tapi dipaksa. Marahin Bumi. Jangan Langit."
Bumi meraih gelas minumnya dan meneguknya.
Rasanya ingin dia gendong Langit dan membuangnya ke laut terdekat. Karena di depan mereka ada orang tua Langit, dia hanya tersenyum manis.
"Dibolehin kok tuh."
"Kak Langit jangan aneh-aneh deh pagi-pagi. Cepat makan. Kalian berangkat. Kalau telat papa keluarin dari KK."
"Gak apa Pa. Ntar lagi juga ganti KK hehe. Langit juga bisa kabur ke rumah Bumi." Salah sepertinya Ezhar mengancam. Dia sepertinya lupa anak gadisnya sudah menikah.
"Gak usah khawatir Pa. Bumi yang akan omelin kalau Langit bandel."
Ezhar mengacungkan jempolnya. "Tuh kak Langit. Sekarang papa punya mata-mata ya. Kayaknya Bumi punya cara biar Kak Langit nurut."
"Banyak Pa." Ia mencibir pada Langit. Langit yang tidak mau kalah juga mencibir.
"Papa mah. Bumi nih kalau ngancem, Langit dibuat gak berkutik."
"Loh bagus dong. Mama sama papa gak pusing lagi."
Langit menekuk wajahnya. Ezhar
Terkekeh dan mengusap kepala putrinya. "Turutin kata Bumi selagi itu baik. Papa kemarin bilang apa?"
"Harus patuh kayak mama."
Orlin tersenyum lebar dan melihat Ezhar. "Benar, kayak mama," anguknya senang. Dibilang patuh sama suami gimana gak melayang.
"Kak Bumi kok mau sih sama kak Langit. Langit aja istighfar punya kakak kayak kak Langit." Gea menyelutuk.
Langit menatap datar adiknya. "Jahat banget adek gue."
"Kalau kak Langit bandel karungin aja." Gara ikutan.
Bumi terkekeh dan mengangguk. "Gara bantuin kak Bumi ya karunginnya? Setuju kan?" Bumi mengangkat tangannya untuk bertos. Gara membalasnya.
Langit melotot dan menginjak kaki Bumi di bawah meja makan. Bumi berusaha menahan ekspresinya yang kesakitan dan menatap Langit kesal.
Ezhar dan Orlin geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka. Ketika remaja yang
Gak akur menikah. Begini jadinya. Namun dia cukup bersyukur karena hubungan mereka baik setelah tragedi waktu itu.
***
"Buruan Munah. Ini kita bisa telaat!"
"Bentar. Kaus kaki gue ketinggalan."
"Ya udah cepat ambil." Bumi melirik jam tangannya. Langit membuang tasnya cepat ke arah Bumi lalu berlari menaiki tangga.
Untung saja Bumi sigap menangkap.
"Jangan lamaaa!"
"Iyaaa."
"Loh belum berangkat?" Orlin yang baru keluar kamar menggendong Ibra yang baru bangun. Gara dan Gea bersama Ezhar sudah berangkat sepuluh menit lalu. Langit setelah makan sait perut hingga berakhir ditunggu.
Begitu selesai, kaus kakinya yang ketinggalan.
"Langit sakit perut Ma."
"Aduh anak itu. Kalian gak telat kan?"
"Gak kok Ma," gelangnya tidak yakin. Bumi tersenyum lalu menatap Ibra yang masih mengumpulkan nyawa. Ia cubit pipi
Tembem adik iparnya.
"Bumi, susul aja langit ke atas. Dia suka lama."
Bumi memberi anggukan. Ia menaiki tangga karena Langit juga tidak kunjung turun. Padahal ambil kaus kaki aja.
"Munah. Lo la- astaghfirullah." Bumi yang baru sampai di depan kamar Langit melongo karena kamar cewek itu berantakan. Rasanya dia sebagai cowok tidak seperti ini.
"Ini kamar habis kena ternado?"
"Sembarangan lo. Gue buru-buru." Langit yang duduk di lantai tengah memasang kaus kakinya. "Bumi, tolong ambilin dong celana longgar di lemari gue. Entar duduknya susah pakai motor lo."
Bumi menatap lemari putih yang ada di sudut kamar. Dia lekas membukanya. Pandangannya menyapu isi lemari Langit dari atas ke bawah. Mencari celana yang Langit maksud.
"Yang mana? Gue gak tahu Muk."
Dia menengok. Langit kini lagi sibuk masukkan buku pelajaran ke tasnya. "Ya ampun Maimunah... Siapin buku itu
Semalam bukan baru mau pergi!" ujarnya.
"Ish gue capek semalam. Itu ada di bagian bawah isinya celana semua."
Bumi berdecak. Ia berjongkok untuk mencari bagian celana. Tapi netranya malah melihat pakaian dalam Langit. Wajah Bumi sukses memerah. Ia menutup cepat pintu lemari dengan salah tingkah.
"Udah ketemu?" Langit yang baru menutup tasnya berdiri menatap Bumi. Keningnya mengernyit karena wajah Bumi memerah.
"Kok wajah lo merah?"
Bumi berdehem salah tingkah. "Lo aja yang ambil," dia memberi gelengan dan menujuk lemari. Setelahnya berjalan ke pintu seraya berujar, "gue berdiri di luar. Gak pakai lama."
Langit perhatikan Bumi yang keluar kamar. Dia lalu menatap lemarinya. "Aneh banget," herannya lalu membuka lemari dan berjongkok. Saat mengambil celana longarnya. Matanya membulat kain melihat lain di samping itu.
Astaghfirullah
Dia lupa
Langit buru-buru menutup lemari usai mengambil celana. Dia menutup wajahnya sangat malu.
"Langit lo ish ish." Rasanya dia ingin merutuki dirinya. Harusnya tadi tidak minta tolong Bumi. Ini malah...
Gilaa ... mau taruh di mana mukanya???
***
Sepanjang perjalanan ke sekolah. Langit diam duduk di belakang. Dia sangat malu. Sangat. Dia bahkan tidak mengajak Bumi ngomong saking malunya.
Bumi juga sama. Dia hanya ngomong singkat dan Langit hanya berdehem jika ditanya.
Saat Bumi menyuruh pegangan karena akan ngebut -efek hampir terlambat- Langit hanya memegang pinggang cowok itu tanpa bicara.
Kalau udah turun dari motor. Langit ingin jauh-jauh dulu dari Bumi. Ia mau ditelan laut saja kalau gini. Sayangnya sampai di sekolah, gerbang sudah tutup. Bumi yang hendak belok biar bisa lewat bagian belakang sekolah udah
Keburu dilihat satpam yang membunyikan peluit.
"Heeh kalian. Balik!"
"Mampus!" Bumi menutup kaca helmnya. Saat menoleh ke belakang. Dia malah mendapat pukulan di punggung.
"Bumi! Tuh kan kita telat."
"Heh munah. Gegara lo ya kita telat. Kok nyalahin gue si? "
Langit teringat, dia cengcesan lalu mengusap bekas pukulannya. "Lupa gue!"
"Lupa lupa."
"Gimana dong?"
"Ya turun."
"Tapi mereka pada ngeliatin kita." Arah tatapan Langit tertuju pada siswa yang terlambat. Menatapnya dan Bumi. Pasti heran lihat keduanya yang ribut malah pergi bareng.
Apalagi selama ini Langit tidak pernah boncengan dengan laki-laki.
"Kan dibilang kita pacaran."
Pluit!
"Eh kalian yang telat. Ke sini dan turun!"
Bumi mau tidak mau membawa motornya ke depan gerbang. Langit turun dahulu dengan hati-hati. Sedang Bumi membuka helmnya kemudian.
"Langit lagi?"
"Hehe iya." Dia cengcesan. Lalu berdiri depan gerbang bergabung bersama siswa yang terlambat. Dia lirik Bumi yang baru turun seraya menyugar rambutnya.
"Bisa-bisanya udah telat masih tebar pesona!" ia berdecak.
"Langit. Kok lo bareng Bumi? Kan biasanya ribut mulu?" tanya seorang siswa berambut dikucir kuda.
"Ehehe. Kebetulan ketemu aja."
"Kok lo mau boncengan sama Bumi?"
"Iya Langit. Lo gak lagi dekat sama Bumi kan?" Mereka mendesaknya dengan banyak pertanyaan. Langit memutar bola matanya mencoba cari alasan.
"Yang telat dilarang ngobrol!" teriakan Pak Ego membuat mereka hadap depan semua. Langit cukup lega akan hal itu.
"Bumi, cepat gabung di barisan yang telat." Pak Ego menunjuk Bumi yang tengah
Membuka jaketnya sekarang. Cowok itu lalu berdiri di barisan para cowok. Saat pandangannya dan Langit bertemu. Langit lansung menatap arah lain. Dia lagi gak melihatkan wajahnya dulu. Masih malu.
"Munah," bisik Bumi melihat helm pink masih nangkring di kepala cewek itu.
Langit pura-pura gak dengar.
"Langit."
Cewek itu masih bodo amat.
"Ck."
"Gak senin, gak hari lain. Ada aja yang telat." Pak Ego mulai ceramah di depan. Dia mengedarkan pandang. "Itu yang masih pakai helm siapa? Buka dulu helmya."
Semua mata lalu melihat ke arah belakang. Yang di belakang melihat sekitarnya. termasuk langit. Tapi dia cukup heran kok pada lihat dia ya? Dahinya berkerut. Tangannya lalu naik ke atas kepala.
Helm!
Dia menatap sebal Bumi di sampingnya. "Kok lo gak bilang?"
"Gue panggil ya dari tadi."
Dia mencebik.
"Taruh helmnya di depan sini. Cepat!"
Langit membuka helm seraya keluar dari barisan. Ia taruh helmnya di dekat lobi.
"Langit? Akhir-akhir ini udah gak telat. Kenapa sekarang telat?" Pak Ego berkacak pinggang di tempatnya.
Langit nyengir menampakkan deretan giginya yang rapi. Tangannya melambai. "Langit... kangen banget sama Pak Ego. Udah
lama gak diomelin hehe. Pak Ego sehat?"
Teman-teman menahan tawa akan sikap Langit. Bumi di belakang menghela nafas. "Gak kenal."
***
Setelah dapat ceramah dua puluh menit.
Mereka dikasih hukuman. Dibagi tiga antara sapu lapangan, cabut rumput dan bersihkan mushalla.
Bumi dan Langit kebagian cabut rumput.
Langit masih menghindari Bumi sebisa mungkin. Setelah ambil plastik untuk sampah rumputnya, dia mengambil sisi lain yang jauh dari Bumi. Dia berjongkok dan fokus cabut rumput.
"Gagal jadi siswi baik gue," gerutunya.
"Gue benar-benar penasaran. Kok lo bisa bareng Bumi?" Langit terlonjak kaget karena teman sekolahnya tiga orang sudah duduk aja dekat dia mencabut rumput. Padahal masih banyak bagian lain.
"Langit. Lo kalau berantem sama Bumi masih oke. Kalau sampai dekat gue gak rela." Vioni. Gadis berponi dan suka memakai bando
itu memperlihatkan ketidaksukaannya.
"Kita cewek yang suka Bumi. Garis keras kalau lo rebut Bumi kami." Di sebelahnya ada Mika. Sahabat dekat Vioni.
Langit ingin mual saat mereka bilang Bumi kami. Dia hanya memaksakan senyum. Belum juga dia bilang pacaran. Udah muncul saja netizen. Langit tidak membayangkan fans Bumi auto ngamuk.
"Bumi, gue di sini ya bantuin." Perhatian Langit dan ketiga cewek itu beralih ke tempat di mana Bumi berada. Di sana ada Jessi. Salah satu siswi yang suka Bumi. Juga terlambat dan berdiri depan Bumi.
Dia tersenyum manis seraya menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga.
"Silakan aja." Bumi itu bukan cowok
Dingin. Dia tipe yang ramah banget ke semua cewek. Fans yang dekatin ya di ladeni seperti sekarang.
Senyum Jessi makin lebar saja. Dia bergabung bersama Bumi. Mereka malah ngobrol. Langit mendengus.
"Dih si Jessi caper banget," komentar Vioni.
"Tahu tuh. Sok dekat lagi."
"Ke saja yuk!"
Ketiganya kini malah berdiri dan bergabung di sana. Jessi tampak tidak suka kehadiran mereka. Tapi ketiganya bersikap bodo amat. Terutama Vioni yang kini malah mengeluarkan sapu tangan dari sakunya.
Dia duduk samping Bumi. "Aduh Bumi lo keringatan. Gue bantu lap ya?" Vioni hendak mengulurkan tangannya. Bumi menahan sapu tangan itu dan mengambilnya.
"Thanks, gue sendiri aja Vin."
"Oke deh." Vioni tersenyum dan menarik tangannya kembali.
Langit memutar bola matanya malas. Dia memilih berpindah saja daripada memperhatikan mereka. Walaupun kerjanya
Belum kelar. Bukan apa-apa. Dia geli lihat kelakuan para cewek itu mendekati Bumi.
Bumi tahu Langit berpindah. Cewek itu pergi cukup jauh. Untuk mencabut rumput itu di area parkiran, depan sekolah, taman samping dan belakang. Posisi mereka saat ini di area parkiran. Langit beranjak ke bagian taman belakang.
Dia kemudian berdiri. "Gue ke sana dulu."
"Loh Bumi mau ke mana?"
Bumi menatap keempatnya. "Toilet," jawabnya biar mereka tidak akan mengikutinya. Bumi berlari kecil menyusul Langit. Cewek itu sendiri sudah duduk nyaman di atas rumput.
"Nah gini kan enak. Adem. Ada pohon. Gak nonton mereka caper juga." Langit tersenyum menatap Langit biru.
Jangan anggap dia cemburu karena Langit bukan cemburu walaupun Bumi suaminya. Dia hanya merasa risih. Beda kan?
"Kenapa pindah?" Suara itu membuatnya menoleh. Bumi berdiri di sampingnya.
"Ganti suasana."
"Atau cemburu karena mereka dekatin
Gue?" Dua alis Bumi naik turun. Dia ikut duduk di hadapan Langit.
"Gue cemburunya kalau kak Biru dideketin cewek lain. Eh kak Biru kan masih di jadi dokter di UKS." Langit tersenyum lebar teringat hal itu.
Bumi menjitak dahi Langit. "Baru kemarin ya gue buat peraturan."
"Tangan gue luka deh Bum." Langit memamerkan tangannya yang memang merah mencabut rumput. Mereka memang tidak menggunakan sapu tangan.
"Gak usah alasan."
"Gue pengen nimbang berat badan deh tiba-tiba."
"Nanti gue temenin ke puskesmas."
"UKS ada. Ngapain ke Puskesmas?"
"Tujuan lo kan nyari Biru," jawab Bumi telak. Langit memberikan cengirannya.
"Lihat kak Biru aja boleh gak?"
"Gak."
"Setengah jam."
Bumi menatap datar.
"Lima belas menit?
"Gak ada."
"Lima menit deh."
"Gak ada Munah."
"Ish pelit."
"Pelit pelit. Gue di sini lo nyari cowok lain. Astaghfirullah Istri."
"Ish gak usah sebut istri kenapa. Kalau ada yang dengar gimana?"
aja." "Gak gimana gimana. Paling ketahuan
"Rese lo."
"Lo yang lebih rese."
ya?" "Memang lo gak ada lagi suka cewek lain
"Li nyuruh gue selingkuh?"
"Ya enggaklah. Awas aja lo selingkuh. Ingat lo itu udah minta gue ke papa."
"Terus ngapain nanya cewek lain?"
"Ya heran aja. Lo kan banyak yang suka tuh. Masa lo gak ada suka mereka satupun. Gue gak lihat selama ini lo lagi dekat sama
Cewek."
"Gue lebih suka nyari masalah sama lo ketimbang dekat sama cewek lain, Langit." Bumi menatap netra Langit. Cewek itu terdiam.
"Kenapa harus gue?"
"Karena bakal jodoh kali," Bumi jawab ngasal. Padahal entah dia hanya suka bersama Langit saja. Walaupun dia welcome dan ramah pada semua cewek.
"Gue serius nih."
"Gue juga serius. Lagian lo. Udah tahu kita nikah. Ngapain pakai repot nanya orang lain segala. Dari kemarin fokus gue ya cuma lo."
"Tapi kan kita nikahnya karena kejadian waktu itu. Di antara kita juga gak ada perasaan Bumi."
Bumi terdiam.
"Gimana kita jalaninya? Sampai sekarang kita masih musuh yang terjebak dalam pernikahan."
"Lo mau tahu caranya?"
Langit tidak mengangguk atau menggeleng. Bumi mencondongkan wajahnya
Pada Langit dan menatap lekat bola mata bening itu.
"Jatuh cinta Langit. Gue akan buat lo cinta gue, bisiknya. Suara Bumi berat. Langit menelan salivanya. Jantungnya berdetak cepat.
Jatuh cinta.
***