Sequel Novel "The End Of Before"
"Satu sayatan mengakhiri Hidupnya, satu dekapan memulai penebusannya."
Satu sayatan dalam di pergelangan tangan menjadi titik terakhir bagi Elowen Valerio. Baginya, kematian adalah satu-satunya jalan keluar dari jeratan cinta terlarangnya. Setelah Setahun pelarian bersama Jeff Feel-Lizzie tak cukup membasuh lukanya.
Namun, takdir berkata lain saat Ezzra Velasquez, seorang pria yang sedang menjalani hukuman sebagai pelayan hotel, menemukannya bersimbah darah.
Ezzra menyadari Elowen adalah labirin berbahaya. Dan Elowen sendiri merasa
menghadapi kenyataan bahwa maut jauh lebih ramah daripada Pria Bernama Ezzra Velasquez.
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#26
Malam merayap semakin dalam di lorong-lorong rumah sakit yang sunyi. Di dalam ruang VIP tempat Elowen dirawat, aroma obat-obatan bercampur dengan ketegangan yang belum surut.
Elowen baru saja kembali memejamkan mata setelah dosis obat penahan sakitnya ditambah, setidaknya itulah yang dikira oleh orang-orang di sekelilingnya.
Di sudut ruangan, Mommy Vivian tertidur lelap di sofa panjang, wajahnya tampak sangat lelah setelah berjam-jam menangisi kondisi putrinya. Namun, di sisi lain tempat tidur, suasana jauh dari kata tenang. Ezzra masih setia duduk di kursi samping ranjang, menatap jemari Elowen yang pucat.
Keheningan itu pecah ketika seorang wanita dengan langkah ringan namun aura yang tak menentu mendekatinya. Kimberly Valerio, istri dari Felix, berdiri di sana dengan gaun sutra hitamnya yang kontras dengan kulit putih pucatnya.
Kimberly dikenal sebagai sosok yang elegan namun memiliki sisi impulsif yang seringkali membuat Felix geleng-geleng kepala. Malam ini, matanya berkilat dengan kegilaan yang samar.
"Hey..." bisik Kimberly, suaranya terdengar tajam di tengah sunyinya ruangan.
Ezzra mendongak, matanya yang merah karena kurang tidur menatap kakak ipar Elowen itu. "Ya?"
Kimberly melipat tangannya di dada, mencondongkan tubuh ke arah Ezzra dengan senyum miring yang sedikit mengerikan. "Aku tahu kau yang menyembunyikan Jeff, Ezzra. Jangan berpura-pura di depanku. Katakan padaku di mana bajingan itu berada. Aku ingin memberinya satu pukulan telak yang belum sempat diberikan Felix."
Ezzra mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu?"
"Aku ingin bagian menusuk paru-parunya," lanjut Kimberly tanpa ekspresi, seolah sedang membicarakan menu makan malam. "Aku ingin dia merasa sesak setiap kali bernapas, sama seperti sesaknya perasaan Elowen sekarang. Katakan padaku, Ezzra. Aku bisa membantumu menghilangkan jejaknya."
Ezzra tertegun sejenak. Ia menyimpulkan satu hal: kakak ipar Elowen ini benar-benar memiliki sisi gelap yang sedikit... gila. Pikirannya ternyata jauh lebih sadis dari dugaannya. Namun, Ezzra hanya bisa mendesah frustrasi.
"Demi Tuhan, Kimberly, jika aku tahu di mana bajingan itu berada, dia sudah mati sekarang. Aku tidak akan membuang waktu untuk menahannya tanpa menyiksanya sendiri," jawab Ezzra jujur.
Kimberly menyipitkan matanya, tampak tidak percaya. Ia mendengus pelan, lalu duduk di kursi seberang Ezzra. "Kau payah sekali kalau begitu. Padahal aku sudah merencanakan banyak hal."
Ia terdiam sejenak, lalu tiba-tiba raut wajahnya berubah menjadi serius, namun dengan nada yang aneh. "Dengar, Ezzra. Jika kau tidak segera menyerahkan Jeff padaku, aku tidak akan pernah mau merestui putrimu bersanding dengan putraku di masa depan."
Ezzra melongo. "Apa? Kau ingin menjodohkan anak-anak yang bahkan belum ada? Di saat seperti ini?"
"Tentu saja!" sahut Kimberly dengan nada yang sedikit lebih keras. "Apa kau tidak ingin berbesan denganku? Elowen dan aku adalah sahabat baik. Kami sudah berjanji sejak lama, siapa pun yang punya anak lebih dulu, kami akan menjodohkan mereka agar ikatan keluarga ini tidak terputus. Jadi, kau harus bekerja keras untuk mendapatkan restuku."
Ezzra terdiam, tidak tahu harus merespons apa pada logika gila Kimberly. Ia menatap Elowen, bersiap untuk mengusir Kimberly agar tidak mengganggu istirahat adiknya. Namun, pemandangan di depannya membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.
Mata Elowen sudah terbuka. Dan ia menangis tanpa suara.
"El? Kau bangun?" suara Ezzra bergetar. Ia segera meraih tangan Elowen.
Ternyata suara berisik Kimberly telah membangunkannya—atau mungkin, Elowen memang tidak pernah benar-benar tertidur. Ia mendengar setiap kata, termasuk pembicaraan tentang anak-anak di masa depan. Kata "anak" seolah menjadi sembilu yang menyayat lukanya yang masih basah.
Elowen menggerakkan tangannya yang lemah, perlahan menyentuh perutnya yang kini terasa kosong dan nyeri. "Aku tidak tahu dia ada di sini..." ucapnya lirih. Suaranya serak, hancur oleh duka yang mendalam.
Ezzra menitikkan air mata. Melihat Elowen menyentuh perutnya adalah pemandangan paling menyakitkan yang pernah ia saksikan.
"Rasanya tidak adil," bisik Elowen lagi, air matanya mengalir deras membasahi bantal. "Aku baru melakukannya dua kali... dan ternyata malam itu, dia sudah hadir di antara kita. Dan aku sama sekali tidak mengetahuinya. Maafkan aku, Ezzra! Maafkan aku!"
"Tidak, El... jangan minta maaf," Ezzra sesenggukan, ia mencium punggung tangan Elowen berkali-kali. "Ini bukan salahmu. Ini karena si brengsek Jeff. Jangan salahkan dirimu sendiri, Sayang."
"Aku sudah berusaha melindunginya," lirih Elowen lagi, suaranya kian menghilang ditelan isak tangis. "Saat Jeff memukulku, aku memeluk perutku erat-erat. Aku tidak tahu kenapa aku melakukannya, instingku hanya ingin melindungi bagian itu. Tapi mungkin... mungkin dia memang tidak ingin ada di antara kita. Mungkin dia tahu betapa kacaunya dunia ini jika dia lahir."
"Jangan bicara begitu, El! Kumohon..." Ezzra membenamkan wajahnya di tepian ranjang, bahunya berguncang hebat.
Di tengah suasana yang sangat emosional itu, Kimberly justru tetap berdiri di sana dengan ekspresi yang sulit dibaca. Bukannya mundur untuk memberi ruang, ia justru kembali bersuara dengan nada yang datar namun menuntut.
"Jadi, kira-kira menurut kalian, anak yang pergi itu perempuan atau laki-laki?" tanya Kimberly tiba-tiba.
Ezzra mendongak dengan tatapan tajam, hampir saja ia membentak Kimberly karena pertanyaannya yang sangat sensitif di saat seperti ini. Namun, sebelum amarahnya meledak, terdengar suara deheman dari arah sofa.
Mommy Vivian ternyata sudah terbangun sejak tadi. Ia berdiri dengan wajah yang sembab namun tetap mencoba tegar. Ia berjalan mendekat dan merangkul bahu menantunya itu.
"Sayang... Kimberly... ayo kita keluar sebentar. Biarkan Ezzra dan Elowen bicara," ajak Vivian lembut namun tegas.
Kimberly mengerucutkan bibirnya. "Tapi Mom, aku belum selesai membahas rencana perjodohan masa depan—"
"Kimberly, sekarang bukan waktunya," potong Vivian halus. Ia menatap Ezzra dengan tatapan penuh pengertian, seolah menitipkan putrinya sejenak pada pria itu.
Vivian menuntun Kimberly keluar dari ruangan. Kimberly masih sempat menoleh ke arah Ezzra dan memberikan isyarat dua jari ke arah matanya, lalu menunjuk ke arah Ezzra—sebuah tanda bahwa ia tetap mengawasi soal Jeff dan janji masa depan itu.
Begitu pintu tertutup, ruangan kembali sunyi. Hanya tersisa isakan pelan Elowen dan napas berat Ezzra.
"Ezzra..." panggil Elowen pelan.
"Iya, Sayang? Aku di sini."
"Jangan biarkan Jeff mati dengan mudah," bisik Elowen. Tatapannya yang semula kosong kini berubah menjadi tajam dan dingin. "Dia tidak hanya menyakitiku. Dia membunuh seseorang yang bahkan belum sempat melihat dunia. Dia membunuh sebagian dari dirimu dan diriku."
Ezzra menggenggam tangan Elowen lebih erat, memberikan janji yang paling gelap yang pernah ia buat. "Dia tidak akan mati dengan mudah, El. Aku bersumpah. Dia akan memohon untuk mati, tapi aku tidak akan mengabulkannya sampai dia merasakan setiap inci rasa sakit yang kau rasakan."
Malam itu, di dalam ruang perawatan yang tenang, benih dendam yang baru telah tumbuh. Kehilangan itu tidak membuat Elowen menjadi lemah selamanya; sebaliknya, itu melahirkan sisi gelap yang baru, sebuah sisi yang hanya bisa dipahami oleh Ezzra.
Dan sementara Jeff masih membusuk di kegelapan sel misteriusnya, ia tidak tahu bahwa ancaman terbesar baginya bukan lagi hanya polisi atau kemarahan Ezzra, melainkan dinginnya hati seorang ibu yang baru saja kehilangan anaknya.
biasanya si laki yg dibikin babak belur di ceritamu kak....
poor elowen...