(SEASON 2)
Dengan Inti Emas Iblis di Dantian-nya, Shen Yuan kini meninggalkan benua kelahirannya. Ia melangkah menembus Gerbang Lintas Benua menuju jantung peradaban Sembilan Cakrawala, siap membawa badai darah mematikan bagi para dewa palsu yang pernah merenggut segalanya darinya. Perburuan yang sesungguhnya baru saja dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keangkuhan
Arena Nomor Empat yang terbuat dari batu giok merah itu mendadak hening layaknya sebuah pekuburan.
Gao Lei, penguasa Kawasan Barat Murid Luar yang ditakuti, terbatuk keras hingga memuntahkan gumpalan darah di tepi arena. Ia mencoba menopang tubuhnya dengan pedang panjangnya, namun tangannya gemetar hebat. Rasa sakit yang merobek isi perutnya membuat pandangannya berkunang-kunang.
Di seberangnya, pemuda berjubah abu-abu lusuh itu berdiri dengan tenang. Posturnya tidak lagi bungkuk. Meski ia tidak memancarkan seberkas pun hawa murni, aura penindasan yang keluar dari tatapan mata hitam pekatnya terasa lebih mencekik daripada pedang yang terhunus.
"Bangun," suara Shen Yuan datar, menggema tanpa ampun. "Bukankah kau ingin mematahkan setiap tulang di tubuhku di depan para Penatua?"
Kata-kata itu laksana tamparan besi yang mendarat tepat di wajah Gao Lei. Di bawah sana, ribuan Murid Luar yang menonton pertarungan ini terbelalak tak percaya. Antek-antek Gao Lei yang sebelumnya bersorak-sorai kini membisu, nyali mereka ciut melihat pemimpin mereka dipermalukan hanya dalam satu tendangan.
"K-Kau... Keparat kotor...!"
Urat-urat di dahi Gao Lei menonjol karena amarah dan rasa malu yang membakar kewarasannya. Diperhatikan oleh para Penatua Sekte Dalam dan Tuan Muda Pertama, ia tidak mungkin menyerah. Jika ia kalah di sini, masa depannya di Kuil Dewa Perak akan tamat!
Gao Lei merogoh ke balik jubahnya dengan tangan bergetar, menarik keluar sebuah pil berwarna merah darah yang memancarkan bau amis yang tajam.
"Pil Pembakar Nadi!" seru salah seorang murid di bawah arena. "Itu adalah pil terlarang yang bisa memaksakan kekuatan seseorang menembus Ranah Pembukaan Nadi untuk sementara waktu, tapi akan merusak fondasi penggunanya!"
Gao Lei tidak peduli. Ia menelan pil itu bulat-bulat.
Bummmmm!
Seketika itu juga, kulit Gao Lei memerah seperti udang rebus. Hawa murni yang sangat buas dan tidak stabil meledak dari Dantian-nya, menerobos paksa jalur nadinya, dan meluap ke luar tubuhnya membentuk aura merah yang bergejolak.
Ia telah menembus batas Ranah Pembukaan Nadi Lapisan Pertama secara paksa!
"AKU AKAN MEMBUNUHMU!" raung Gao Lei dengan mata yang memutih.
Ia menerjang maju. Kecepatannya meningkat dua kali lipat. Pedangnya yang dilapisi oleh hawa murni pembukaan nadi menebas udara, menciptakan tiga bilah angin tajam yang melesat dari jarak lima tombak, mengincar leher, jantung, dan kaki Shen Yuan secara bersamaan.
"Mati!"
Melihat serangan jarak jauh yang mematikan itu, para Penatua di tribun kehormatan sedikit mengangguk. "Gao Lei cukup nekat mengorbankan fondasinya demi kemenangan. Setidaknya dia memiliki tekad yang keras. Pemuda tanpa hawa murni itu tidak akan bisa menghindari serangan jarak jauh."
Namun, di atas arena, Shen Yuan hanya mendengus dingin.
"Membakar nadi untuk kekuatan palsu? Menyedihkan."
Shen Yuan tidak mundur sejengkal pun. Ia tidak bisa menggunakan hawa murni iblisnya untuk menangkis, namun Tubuh Emas Gelap-nya yang telah mencapai Penyempurnaan Tanpa Celah jauh melampaui serangan Lapisan Pertama Pembukaan Nadi.
Shen Yuan hanya menyilangkan kedua lengannya di depan wajah, membiarkan tubuhnya menjadi tameng!
Traanggg! Traanggg! Traanggg!
Tiga bilah angin hawa murni itu menghantam lengan dan dada Shen Yuan. Suara benturan logam terdengar nyaring, memercikkan bunga api. Jubah abu-abu Shen Yuan robek di bagian lengan, memperlihatkan kulit perunggunya.
Namun, yang membuat seluruh pelataran menahan napas adalah... tidak ada setetes darah pun yang mengalir! Kulit pemuda itu hanya menyisakan garis putih samar yang langsung menghilang di detik berikutnya!
"Mustahil!" Penatua Wu yang duduk di samping Bai Chen terbelalak, sampai-sampai ia meremas pegangan kursinya hingga retak. "Menahan serangan Pembukaan Nadi dengan daging telanjang?! Bahkan seekor Badak Besi pun akan terluka! Pemuda ini... fisik fananya telah mencapai batas legenda kuno!"
Di atas arena, Gao Lei membeku. Pedangnya bergetar. Serangan pamungkasnya bahkan tidak mampu menggores kulit lawannya!
"Sudah selesai?" Shen Yuan menurunkan lengannya. Tatapannya menembus kewarasan Gao Lei.
Shen Yuan menghentakkan kaki kanannya.
Baaam! Lantai giok merah di bawah kakinya retak. Tubuh Shen Yuan melesat ke depan bagaikan batu godam raksasa, murni dari daya ledak ototnya. Tanpa menggunakan Langkah Bayangan Hantu, kecepatan fisiknya sudah cukup untuk membuat Gao Lei tidak bisa bereaksi.
Dalam sekejap mata, Shen Yuan telah berada tepat di depan wajah Gao Lei. Tangan kiri Shen Yuan melesat bagai cakar elang, langsung mencengkeram leher Gao Lei dan mengangkat tubuh pemuda jangkung itu ke udara!
"Ukh... l-lepaskan..." Gao Lei memberontak, memukulkan gagang pedangnya ke lengan Shen Yuan, namun rasanya seperti memukul tiang baja.
"Aku selalu menepati kata-kataku," bisik Shen Yuan sedingin es purbakala. "Tadi aku memintamu untuk bangun agar tulangmu bisa dipatahkan."
Krek!
Tangan kanan Shen Yuan menebas dengan cepat ke arah siku kanan Gao Lei. Suara tulang yang patah terdengar renyah. Pedang panjang itu terlepas dan jatuh berdenting ke lantai arena.
"Aaaaarrrghhh!" Gao Lei menjerit histeris.
Namun itu baru permulaan. Shen Yuan memutar tubuhnya, melepaskan cengkeramannya dari leher Gao Lei sejenak, hanya untuk menangkap pergelangan kaki kiri pemuda itu yang sedang jatuh.
Dengan satu ayunan brutal, Shen Yuan membanting tubuh Gao Lei ke atas permukaan giok merah!
Bummmmm! Kraaaak!
Tulang rusuk dan tulang paha Gao Lei hancur bersamaan saat tubuhnya menghantam lantai keras tersebut. Darah segar menyembur dari mulutnya bagai air mancur. Hawa murni yang ia paksakan dengan pil seketika buyar, membuatnya kembali menjadi fana yang cacat dan sekarat.
Shen Yuan tidak membunuhnya. Ia berdiri di atas tubuh Gao Lei yang kejang-kejang, meletakkan ujung sepatunya di atas pergelangan tangan kiri Gao Lei yang masih utuh.
"Ini untuk kesombonganmu di tambang," ucap Shen Yuan datar, lalu menekan kakinya tanpa ampun.
Kraaassshhh!
Tulang tangan terakhir Gao Lei hancur lebur menjadi serpihan. Sang penguasa Kawasan Barat Murid Luar kini tidak lebih dari onggokan daging yang merintih dalam genangan darahnya sendiri. Seluruh tulangnya telah dipatahkan tepat seperti yang dijanjikan.
Keheningan mutlak menyelimuti Arena Nomor Empat. Ribuan Murid Luar menelan ludah dengan wajah pucat pasi. Tidak ada satu pun yang bersorak. Kekejaman dan dominasi mutlak yang ditunjukkan oleh pemuda tanpa nama itu benar-benar menanamkan teror di hati mereka.
Wasit arena yang berada di pinggir panggung sampai tergagap saat mengumumkan hasilnya. "P-Pemenang... Mo Yuan!"
Mendengar pengumuman itu, Shen Yuan berbalik perlahan dan berjalan menuruni tangga arena, meninggalkan Gao Lei yang merintih meregang nyawa. Langkahnya tetap tenang, sedikit bungkuk, kembali menyamar sebagai pemuda fana yang kelelahan.
Namun, di atas tribun kehormatan, sepasang mata tajam terus mengikuti kepergiannya.
"Menarik... sangat menarik," Bai Chen, sang Tuan Muda Inti Emas, memutar-mutar cangkir arak di tangannya. Ia menatap sosok Shen Yuan dengan senyum yang dipenuhi perhitungan licik. "Penatua Wu, lihatlah kekuatan fisik semut itu. Ia murni mengandalkan ketangguhan daging tanpa setitik pun hawa murni."
Penatua Wu mengangguk setuju. "Benar, Tuan Muda Bai. Anak itu pasti mengonsumsi tanaman roh penempa tulang tingkat tinggi di alam liar karena suatu keberuntungan, namun tidak memiliki bakat untuk membuka nadinya. Ia cacat secara kultivasi, namun memiliki tubuh sekeras monster."
"Cacat atau tidak, anjing yang kebal pukulan adalah anjing yang sangat berguna," Bai Chen menyeringai, matanya memancarkan keserakahan. "Paman Bai Luo sedang mencari beberapa 'Kuali Darah' yang memiliki kekuatan jasmani luar biasa untuk praktik ilmunya di Puncak Neraka Es. Kurasa... pemuda bernama Mo Yuan ini adalah bahan baku yang sangat sempurna."
Penatua Wu tersenyum penuh arti. "Pilihan yang sangat cerdas, Tuan Muda. Jika ia berhasil masuk ke dalam sepuluh besar dan menjadi Murid Dalam, saya akan segera menempatkannya di bawah pengawasan Anda."
"Pastikan dia masuk," perintah Bai Chen dengan santai. "Biarkan dia merasa bangga sebentar sebelum kita menguliti tubuh kebanggaannya itu."
Di bawah pelataran yang ramai, Shen Yuan menyusup ke dalam kerumunan, berjalan menjauhi arena.
Kesadaran spiritualnya yang tajam menangkap setiap kata yang diucapkan oleh Bai Chen di atas tribun sana. Di balik helaian rambutnya yang jatuh menutupi wajah, seulas senyum iblis yang sangat mematikan terukir.
"Kuali Darah? Praktik ilmu?" batin Shen Yuan, menahan tawa buas yang bergejolak di dalam dadanya. "Bai Chen, keponakan tersayang Bai Luo... rupanya kau sendirilah yang akan membukakan pintu rumah pamanmu untukku. Jangan salahkan aku jika kuali yang kau bawa pulang ini akan memasak seluruh sektemu hidup-hidup."
Sayembara Darah Murid Luar terus berlanjut. Panggung-panggung pertarungan lainnya bergantian memercikkan darah. Namun, bagi sang Iblis Penelan Surga, panggung sandiwara ini telah selesai. Ia hanya perlu menunggu hingga gelar "Murid Dalam" resmi jatuh ke tangannya, dan perburuan atas nyawa sang Pelindung Bintang Tujuh akan segera dimulai.