NovelToon NovelToon
Antara Pagar Dan Detak Jantung

Antara Pagar Dan Detak Jantung

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Persahabatan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Dalgichigo

Varendra Malik Atmadja, seorang arsitek muda yang tampan, ramah, dan sangat telaten, baru saja pindah ke Blok C-17. Sebagai penganut paham "tetangga adalah saudara", Malik bertekad untuk menjalin hubungan baik dengan seluruh penghuni kompleks.

Namun, rencananya membentur tembok tinggi setinggi pagar Blok C-18.

Di sanalah tinggal Vanya Ayudia Paramitha, seorang Game Developer yang lebih suka berinteraksi dengan baris kode daripada manusia. Baginya, ketenangan adalah segalanya, dan tetangga baru yang terlalu ramah seperti Malik adalah gangguan sinyal bagi kedamaian hidupnya.

Awalnya, Malik hanya berniat memberikan camilan sebagai tanda perkenalan. Tapi, setiap sapaan Malik dibalas dengan debuman pintu, dan setiap perhatiannya dianggap sebagai gangguan oleh Ayu.

Lalu, bagaimana jika sebuah paket yang salah alamat dan aroma masakan dari dapur Malik perlahan mulai meruntuhkan pertahanan Ayu? Bisakah Malik merancang fondasi cinta di hati gadis yang bahkan enggan membuka pintu rumahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dalgichigo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Es Kul Kul

Jika Griya Visual adalah panggung drama, maka Pak Bambang adalah sutradara yang tidak diundang tapi selalu ada di lokasi syuting. Di usianya yang ke-46, Pak RT satu ini punya dua misi hidup yaitu memastikan iuran sampah lancar dan memastikan dia tahu siapa gebetan baru anak-anak muda di bloknya.

Sore itu di pos ronda depan Blok C, Pak Bambang sedang duduk tegak sambil memegang daftar absen ronda. Matanya yang tajam di balik kacamata bacanya sedang memindai ke arah rumah Malik.

"Ned! Juned!" panggil Pak Bambang saat melihat Juned lewat mau ke warung. "Itu si Malik beneran mau nikahin si Ayu? Bapak liat kemarin dia bawa rantang lagi. Udah lapor Bapak belum?"

Juned berhenti, membenarkan letak kacamata hitamnya. "Duh Pak RT, mon kareh Malik ngerteh dhibik (Duh Pak RT, kalau urusan Malik, tau sendiri). Lagian kan cuma ngasih makan, Pak, bukan ngasih mahar."

"Ah, kamu mah dibelain terus temennya! Bapak ini cuma mau jaga ketertiban asmara di komplek ini," sahut Pak Bambang sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit.

Tiba-tiba, Sarah lewat sambil menenteng ring light dan sekantong bakso aci pedas. Mendengar omongan Pak RT, Sarah langsung berhenti. Rem mulutnya? Tentu saja blong total.

"Duh elah, Pak Bambang! Urusan Malik mah aman, Pak. Yang nggak aman tuh urusan Bapak! Tadi saya liat Bu RT lagi ngomel di depan rumah gara-gara Bapak lupa bayar tagihan air, mending Bapak urusin itu dulu deh daripada ngurusin rantang orang. Bapak mah kepo banget, udah kayak admin lambe turah komplek!" cerocos Sarah tanpa titik koma.

Pak Bambang langsung berdiri, wajahnya merah padam. "Heh, Sarah! Kamu kalau ngomong jangan sembarangan ya! Bapak ini RT, harus tahu dinamika warga! Kamu juga, itu konten makan-makan mulu, suara kamu teriak-teriak 'Mantul' kedengeran sampai rumah Bapak tahu!"

"Ya emang mantul Pak! Nih, coba liat baksonya, glowing kayak muka Bapak pas liat janda di blok sebelah!" balas Sarah sambil lari terbirit-birit sebelum kena lempar daftar absen.

Di sudut lain pos ronda, Kula hanya bisa menepuk jidat melihat keributan itu. Kula sebenarnya punya misi rahasia: dia sedang naksir berat sama anak sulung Pak Bambang.

"Eh, Es Kul Kul! Ngapain lu bengong di situ? Mau nungguin anak Pak RT lewat ya?" ledek Sarah yang tiba-tiba sudah ada di samping Kula.

"Kul! Sini lu! Jangan kabur-kabur mulu kayak maling ayam," panggil Pak Bambang telak.

Kula berhenti, menghela napas pasrah. "Kenapa lagi, Pak RT? Saya mau ke perpustakaan ini, beneran."

"Perpustakaan apa mau tebar pesona depan rumah saya? Bapak nanya ya, lu itu kapan tamatnya? Udah semester berapa? Perasaan dari zaman Malik masih jadi asisten arsitek sampe sekarang udah jadi kontraktor kaya, lu masih aja pake almamater yang sama. Kuliah apa jagain kampus, Kul?" semprot Pak Bambang tanpa ampun.

Kula menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Lagi proses, Pak. Skripsi itu butuh ketenangan, butuh dukungan... dari anak Bapak juga kalau boleh," gumam Kula di kalimat terakhir dengan suara super pelan.

"Apa?! Ngomong apa lu barusan?" Pak Bambang menyipitkan mata.

"Enggak, Pak! Maksudnya dukungan doa dari warga komplek!" seru Kula panik.

Tepat saat itu, Sarah dengan kamera vlog yang masih menyala. Dia baru saja selesai mereview "Cilok Mercon Bu RT" dan telinganya langsung tegak mendengar keributan.

"Waduh, Pak RT! Si Es Kul Kul lagi disidang ya? Lagian Bapak nanyain tamat mulu, ntar kalau dia tamat, pengangguran komplek nambah satu dong, Pak!" celetuk Sarah sambil tertawa lepas.

Sarah beralih ke Kula, menepuk bahu cowok itu keras-keras. "Eh, Kul, lu mending bantu gue aja jadi kameramen kalau lu emang nggak tamat-tamat. Daripada lu nongkrong di depan rumah Pak RT mulu, emang di situ ada bagi-bagi kuota gratis?"

Sarah benar-benar tidak tahu kalau alasan Kula betah di depan rumah Pak RT bukan karena Wi-Fi gratis, melainkan karena bunga komplek yang ada di dalam rumah itu. Kula hanya bisa meringis, tidak berani jujur pada Sarah karena mulut Sarah lebih bahaya daripada toa masjid.

"Dih, dia mah mana mau bantuin gue. Dia kan lagi fokus... fokus belajar," bela Kula asal.

Tiba-tiba, suasana makin ramai dengan kedatangan Vino. Fotografer Medan itu datang bukan membawa kamera, melainkan membawa piring kosong.

"Bah! Kudengar ada yang lagi bahas skripsi ya? Berat kali kurasa topik kalian sore ini," ucap Vino santai sambil duduk di sebelah Pak Bambang.

"Ngapain kau ke sini, Vin? Bawa piring segala lagi," tanya Pak Bambang curiga.

"Tadi kutengok di story si Sarah, katanya dia lagi review Cilok Bu RT yang gratis buat tester. Mana barangnya? Masih ada?" mata Vino langsung berbinar mencari-cari sisa cilok di tas Sarah.

"Dih, si Vino! Dimana ada gratisan, di situ ada lu ya! Lu dapet duit dari Malik buat foto proyek dikemanain?!" seru Sarah sewot.

"Uang itu untuk ditabung, Sarah. Kalau ada yang gratis, kenapa harus beli? Itu prinsip ekonomi orang Medan yang sukses!" jawab Vino tanpa malu. "Eh, Es kul Kul, kau jangan mau ditanyain tamat kuliah terus. Bilang sama Pak RT, skripsi kau itu terhambat gara-gara kau terlalu sibuk memotret bunga di teras rumah beliau. Ya kan?"

Vino menyenggol lengan Kula sambil mengedipkan sebelah mata. Kula hampir saja jantungan. Vino memang pengincar gratisan, tapi matanya sebagai fotografer terlalu tajam untuk tidak menyadari ke mana arah lensa kamera Kula sering membidik secara diam-diam.

"Lah! Ngapain kamu potret bunga rumah saya?!" Pak Bambang langsung berdiri.

"Enggak, Pak! Itu... buat tugas Biologi! Iya, Biologi!" Kula langsung lari terbirit-birit meninggalkan pos ronda sebelum Pak Bambang mengeluarkan jurus interogasi lebih lanjut.

Sarah hanya bengong sambil mengunyah sisa ciloknya. "Tugas Biologi? Dia kan anak Teknik?"

"Sudahlah, Sarah. Makan saja cilok kau itu. Kau pun satu, mulut tak ada remnya," ledek Vino sambil sukses mencomot cilok terakhir dari plastik Sarah tanpa izin.

"VINO!!! BALIKIN CILOK GUE!!!"

Sore di Griya Visual kembali ditutup dengan kejar-kejaran antara Sarah dan Vino, sementara Pak Bambang masih sibuk mencatat di buku RT-nya "Kula - Teknik Mesin - Fokus Biologi.

Di balik statusnya sebagai mahasiswa Teknik Mesin sebenarnya Kula punya identitas rahasia yang hanya diketahui oleh dinding rumahnya dan para pelanggan tetap katering "Ci Yose".

Gaya Kula boleh saja terlihat cuek dengan kaos oversized dan headset yang selalu menggantung di leher, tapi kalau sudah di rumah, Kula adalah definisi nyata dari "Anak Mami".

Pukul sepuluh pagi, saat suasana komplek mulai tenang karena para pemuda lain sudah berangkat kerja, di dapur rumah Blok B-05 sedang terjadi pemandangan yang kontras.

"Mami... bungkusin yang rapi dong, nanti kalau tumpah Kula yang dimarahin tante-tante arisan," rengek Kula sambil menyandarkan kepalanya di bahu sang mami yang sedang sibuk mengepak nasi kotak.

"Iya, Sayang. Sabar dong, ini Mami lagi kasih stiker biar cantik. Kamu itu kalau mau berangkat manja dulu, nanti di luar sok cool lagi," ledek Maminya sambil mencubit gemas pipi Kula.

"Ih Mami! Nanti kalau ada si Sarah lewat liat pipi Kula merah gimana? Jatuh harga diri Kula sebagai cowok teknik," gerutu Kula, tapi tangannya tetap asyik mengambil sisa kerupuk udang dari toples Maminya.

Bagi Kula, Mami adalah segalanya. Sejak papanya sering dinas luar kota, Kula jadi asisten pribadi sekaligus "bayi besar" kesayangan. Dia tidak keberatan disuruh mengupas bawang atau mencuci piring, asalkan setelah itu dia bisa dapet puk-puk di kepala atau uang jajan tambahan buat beli sparepart motor.

Tugas harian Kula dimulai. Dengan motor matic-nya yang dipasangi keranjang besar di bagian belakang, Kula siap menjelajahi Griya Visual sebagai kurir katering.

"Paketan! Katering Mami datang!" seru Kula saat berhenti di depan rumah Hani.

Hani keluar dengan daster batiknya yang tetap terlihat modis. "Eh, Kula! Tepat waktu banget. Mami kamu masak rendang ya hari ini? Baunya sampai teras."

"Iya, Tan. Rendang spesial pakai cinta dari Mami buat Tante," jawab Kula dengan nada sopan yang sangat kontras dengan saat dia berdebat dengan Sarah di pos ronda.

"Pinter banget mulutnya! Nih, buat kamu jajan," Hani memberikan tips yang langsung diterima Kula dengan cengiran lebar.

Misi terakhir hari itu adalah Mengantar pesanan nasi tumpeng mini ke rumah Pak RT. Jantung Kula berdegup kencang. Ini adalah kesempatan emas sekaligus ujian nyali.

Saat Kula sedang menurunkan pesanan dengan sangat hati-hati Sarah tiba-tiba muncul dari balik pohon mangga.

"WADUH! KITA LIAT SIAPA INI?! Es Kul Kul ternyata merangkap jadi abang ojol makanan!" teriak Sarah tepat di samping telinga Kula.

"Astagfirullah, Sarah! Bisa nggak sih lu munculnya pake salam?!" Kula hampir saja menjatuhkan tumpeng mininya.

"Dih, kok lu rapi amat, Kul? Wangi lagi. Lu mau nganter katering apa mau lamaran?" Sarah mendekat, hidungnya mengendus-endus. "Bau parfum lu bukan bau oli, tapi bau bedak bayi ya? Hahaha!"

"Berisik lu! Ini strategi marketing!" balas Kula panik.

Tepat saat itu, pintu rumah Pak RT terbuka. Bukan Pak Bambang yang keluar, melainkan Zahra, anak sulung Pak RT yang selama ini diincar Kula. Zahra keluar dengan kaos putih simpel dan senyum yang membuat dunia Kula berhenti berputar sejenak.

"Eh, Kula ya? Makasih ya udah dianterin. Kata Papa taruh di meja teras aja," ucap Zahra lembut.

Kula mendadak kaku. "I-iya, Kak Zahra. Sama-sama. Salam buat Papa... eh maksudnya, selamat menikmati masakannya Mami."

Sarah yang melihat pemandangan itu langsung menyipitkan mata. Radarnya mulai berputar liar. "Ooooh... jadi ini alasan lu jadi kurir prioritas ke Blok A? Wah, bocoran nih buat konten gue besok: 'Sisi Manis Kurir Katering Kompleks'!"

"Sarah! Jangan macem-macem lu!" seru Kula sambil buru-buru naik ke motornya, wajahnya sudah merah padam sampai ke telinga.

Dari kejauhan, Vino yang sedang berjalan jalan melihat insiden itu. "Bah! Kasihan kali si Kula itu. Sudah jadi kurir maminya, jadi bahan bulian si Sarah pula. Tapi ya sudahlah, yang penting nanti katering sisa arisannya pasti dikasih ke aku secara gratis."

Griya Visual memang ajaib. Di sana, seorang mahasiswa Teknik Mesin bisa jadi anak mami yang paling manis, asalkan tidak ada Sarah yang membawa kamera di dekatnya.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Dalgichigo: siaapp💪
total 1 replies
Jumi Saddah
👍👍👍👍👍👍👍🌹🌹🌹🌹
Dalgichigo: 🫰🏻🫰🏻🫰🏻
total 1 replies
Juli Idyawati
menarik ceritanya
Dalgichigo: Makasihh Kak Juli <3, jangan lupa lanjutin baca ya, karena ceritanya bakal makin menarik nihh
balas
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!